Beautiful Heart Peaceful Mind (2 Traditions, 2 Masters, 1 Event)

Untuk Post kali ini ijinkan gue menggunakan bahasa yang lebih baku. hehehe…

Hari/Tanggal: Minggu, 20 Maret 2011, Tempat: Central Park lantai 17, Jakarta Barat.

Penulis Buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya (Membuka Pintu Hati), Superpower Mindfulness, Hidup Senang Mati Tenang

Ajahn Brahm

Kalau saya mendengar nama itu, yang saya bayangkan adalah sesosok pria bule, tanpa rambut, berjubah kuning, dengan senyum menawan dan lucu. Siapakah beliau? Ya, ia adalah Ajahn Brahm, seorang Bhiksu kelahiran London, Inggris, dengan nama lahir Peter Betts, yang menyelesaikan kuliahnya di Cambridge University, Australia jurusan Teori Fisika dan semacamnya, dan di umur 23 tahun, beliau memutuskan untuk menjadi Bhiksu hutan di Thailand dengan Guru beliau yang dikenal dengan nama Ajahn Chah Bodhinyana Mahathera. Kini Ajahn Brahm  merupakan kepala dari sebuah vihara di Serpentine, Australia Barat,  Spiritual Director of the Buddhist Fellowship Singapura, Spiritual Director of the Buddhist Society of Western Australia. Beliau berfokus untuk kemajuan Buddhism di negara-negara barat.

Pertama kali saya mengenal guru yang dikenal dengan nama Ajahn Brahm ini, adalah ketika saya berulang tahun yang ke 25, dua orang sahabat saya dari jaman sekolah, dengan indahnya memberikan saya kado sebuah buku, yang mana saat itu saya tidak tahu buku jenis apakah si cacing itu. Ketika itu judul bukunya adalah “Hore! Guru si Cacing Datang”. Nah loh, saya pikir, kenapa ya mereka memberikan buku cacing-cacingan, dengan adanya rasa penasaran saya yang tinggi, saya langsung melahap buku tersebut setelah pulang ke rumah.

Apa yang saya rasakan ketika membaca kisah ketika Ajahn Brahm Datang ke Indonesia (2009) tersebut? Saya pikir, wah seorang bule dengan latar belakang pendidikan yang tinggi, memilih jalan hidup nya menjadi seorang Bhiksu dan menginspirasikan banyak orang.

Saya jatuh cinta akan kisah-kisah yang beliau paparkan, seperti kisah Dua Bata jelek, kisah Ayam dan Bebek, kisah Marah-marah di lampu merah, masih banyak kisah inspiratif lainnya. Dimana saat itu saya berpikir, benar juga, buat apa marah-marah untuk suatu hal yang tidak dapat kita ubah, buat apa berdebat untuk hal-hal yang tidak penting, buat apa terus memikirkan hal-hal buruk ketika banyak hal-hal lain yang lebih baik. Saya sangat kagum dengan cara beliau memaparkan Dharma tanpa berkesan menggurui dan banyak teori, karena memang yang kita butuhkan saat ini adalah suatu penjelasan yang konkrit dan relevan dengan kehidupan kita sehari-hari.

Tentang bagaimana masa depan kita itu tergantung dari bagaimana kehidupan kita di saat sekarang. Bagaimana kita di kehidupan selanjutnya itu tergantung dari apa yang kita lakukan di kehidupan sekarang, dimana “Karma Does Exist”, dimana segala perbuatan kita baik atau buruk, kita lah yang akan mewarisinya, karena kita memiliki karma sendiri, lahir dari karma sendiri, berhubungan dengan karma sendiri, terlindung oleh karma sendiri, jadi baik atau buruk kita yang akan mewarisinya.

Tentang empat kebenaran mulia, di mana hidup adalah penderitaan, sebab penderitaan itu sendiri, bagaimana penderitaan itu berakhir, tentang jalan berunsur 8 untuk mengakhiri penderitaan. Jalan berunsur 8? Ya, jalan itu adalah:

1. Pengertian Benar (sammä-ditthi)
2. Pikiran Benar (sammä-sankappa)
3. Ucapan Benar (sammä-väcä)
4. Perbuatan Benar (sammä-kammanta)
5. Pencaharian Benar (sammä-ajiva)
6. Daya-upaya Benar (sammä-väyäma)
7. Perhatian Benar (sammä-sati)
8. Konsentrasi Benar (sammä-samädhi)

Tentang sekte-sekte dalam agama Buddha yang terbagi menjadi MTV, Mahayana, Theravada, dan Vajrayana, kita tidak perlu untuk terus memandang dan berdebat tentang perbedaan setiap sekte, selama dasar-dasar ajaran Buddha yang asli tetap menjadi panutannya.

Guru Buddha tidak ingin umatnya untuk sekedar percaya kepadaNya, karena beliau mengajarkan kita Ehipasiko. Come and See. Datang, Lihat, dan Buktikan. Beliau tidak menginginkan kita untuk mempercayai sesuatu secara membuta, bukan untuk tidak percaya, bukan untuk bersikap skeptis, bukan untuk menolak segala ajaran, bukan begitu. Dalam memahami ajaran Buddha, tidak hanya sekedar percaya dan menjalani ritual-ritual karena ‘memang begitu ritualnya’, tapi supaya kita menyadari kebenaran hal tersebut, mengerti ajaran itu memang baik dan berguna bagi kita.

Itu adalah dasar-dasar ajaran Buddha, yang universal (universal dalam arti untuk semua umat manusia apapun agamanya), juga nyata dan relevan dengan kehidupan yang kita jalani, dan Ajahn Brahm menyampaikan ajaran-ajaran Buddha secara indah dan mudah dimengerti. Setelah habis membaca hadiah dari sahabat saya, kemudian saya pergi ke toko buku dan langsung membeli buku-buku beliau yang lain, yaitu Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya (Membuka Pintu Hati), dan Hidup Senang Mati Tenang. Setelah selesai baca, apa yang ada di pikiran saya? Ya, semoga Ajahn Brahm kembali datang ke Indonesia, dan saya HARUS hadir mendengar Dhamma yang akan beliau babarkan.

Harapan saya terkabul, Ajahn Brahm akan datang dalam rangka merilis buku barunya Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya ‘2’ dan untuk membabarkan Dharma bersama dengan Yongey Mingyur Rinpoche dari Tibet (Joy of Living, and Joyful Wisdom) yang acaranya diselenggakan oleh Buddhist Fellowship Indonesia, tetapi ternyata tidak mudah untuk saya, karena (mungkin) tidak berjodoh, saya telat memperoleh informasi mengenai kedatangan beliau berdua, saya baru dapat informasi mengenai acara mereka sekitar 2 minggu sebelum acara tanggal 20 Maret 2011, dan ternyata tiketnya sudah sold out semua dari 1 bulan sebelum acara. Di antara rasa berharap dan putus asa, saya post status di Facebook dan Twitter, berharap ada teman yang punya tiket lebih untuk acara tersebut dan bersedia menjual tiketnya untuk saya.

Penulis Buku Joy of Living, dan Joyful Wisdom

Suatu hari, seorang teman kuliah menghubungi saya, bertanya apakah saya masih mencari tiket tersebut, tentu saja saya masih mencarinya. Kemudian dia berkata bahwa temannya mempunyai kenalan penyelenggara acara, namun sayang tiket yang dijual benar-benar sudah habis dan tidak akan dijual kembali karena tempat terbatas, dan dia menawarkan untuk bergabung menjadi anggota paduan suara yang ketika itu masih tersisa beberapa tempat. Jreng…. saya berpikir pasti untuk itu harus ikut latihan, saya harus bekerja pada hari Sabtu, dan kebetulan tempat latihannya cukup jauh dari rumah saya. Berpikir, berpikir, menimbang-nimbang, orangtua saya menyarankan untuk ikut saja, karena saya sangat ingin hadir di Dhammatalk tersebut, mungkin ini memang kesempatan yang harus saya ambil, dan mungkin karma baik sudah saatnya berbuah. Akhirnya saya ambil kesempatan tersebut. Saya izin dari kantor untuk ikut latihan paduan suara, walau tempatnya cukup jauh tidak jadi masalah.

Saya menjadi anggota dadakan di paduan suara Buddhist Reborn (Vihara Theravada Buddha Sasana) featuring Budhist Fellowship Indonesia (BFI, BFI-E), latihan tiga lagu secara instan dan cepat, baiknya adalah ketika anggota-anggota paduan suara menyambut dengan hangat kehadiran saya dan membantu latihan lagu-lagu tersebut sehingga di hari itu juga saya sudah mengerti ketiga lagunya.

Hari H,

tanggal 20 Maret 2011, “Beautiful Heart Peaceful Mind” by Ajahn Brahm and Yongey Mingyur Rinpoche, 2 traditions, 2 masters, 1 event. Semua panitia dan hadirin terlihat sangat antusias dan tertib mengikuti Dharmatalk yang berlangsung di Central Park dari jam 1 siang –  6 sore.

Pembukaan acara kami paduan suara membawakan lagu Mari Melangkah yang diciptakan oleh Irvyn Wongso (Wakil Ketua acara ini, dari BFI-E).

Mari Melangkah by Irvyn Wongso

Pertama Yongey Mingyur Rinpoche yang memberikan Dharmatalk, dipandu oleh Bapak Ponijan Liaw, dengan sedikit humor yang santai. Beliau mengajarkan bahwa jangan terlalu tegang  menghadapi suatu masalah, dan jangan juga terlalu santai, hadapi dengan wajar  dengan begitu kita pun dapat berpikir dengan wajar. Rinpoche juga menceritakan kisah seorang temannya yang seorang pemain saham, bahwa hidup ini seperti Pasar Saham, kadang naik kadang turun, bayangkan jika kehidupan ini datar-datar saja, maka tidak ada keuntungan yang akan didapat. Dan sebaliknya, if you lose one thing, try to get another one. Letting go isn’t same as giving up. You can let it go, but don’t give up. We still have compassion, wisdom, and skills.

Kita pun diajarkan bagaimana cara masuk ke dalam meditasi, pengaturan pernapasan, fokus pada suara disekitar kita, pada objek meditasi masing-masing. Sesi Mingyur Rinpoche diakhiri dengan blessing, doa yang kita tidak mengerti bahasanya, mungkin Tibet.

Pergantian sesi diisi dengan penampilan paduan suara dengan lagu Beautiful Heart Peaceful Mind yang menjadi tema acara ini, ciptaan Irvyn Wongso.

Buddhist Reborn Choir

Sesi kedua dibawakan oleh Ajahn Brahmavamso, yang disambut begitu meriah oleh semua hadirin. Beliau memaparkan dharma secara ringan, mudah dimengerti, dicampur dengan sedikit humor. Beliau kembali mengajarkan untuk apa marah-marah untuk hal yang jelas-jelas tidak dapat kita ubah, kita dapat menerima hal yang buruk tersebut menjadi baik melalui pikiran kita, menerima, lalu lepaskan. Sehingga kita tidak melekat terlalu lama pada hal-hal itu, baik atau buruk. Begitulah cara melatih kesabaran, harus diprakterkan, saya rasa. Ada beberapa kisah yang beliau sampaikan sudah pernah saya baca dalam buku-bukunya. Sangat inspiratif dan membuat orang-orang awam mengerti dasar-dasar ajaran Buddha. Good, bad, who knows?

Lagu terakhir kami adalah Reason Behind Your Birth, yang kembali diciptakan oleh Irvyn Wongso.

Dengan adanya dua Guru dari dua tradisi yang berbeda, mereka saling mengisi dengan khas masing-masing, dan saling melempar humor dalam sesi tanya jawab. For Rinpoche, Spicy food is his happiness, but to Ajahn Brahm, Spicy food is his suffering. haha… Mereka membuktikan bahwa biarpun agama Buddha terdiri dari berbagai sekte dan aliran, konsep dasar mereka adalah sama, jadi apa yang perlu diperdebatkan? Apa yang jadi masalah? Tidak ada. Karena yang penting adalah, bagaimana kita menjalani kehidupan ini, keindahan hati dan kedamaian pikiran, membawa kita kepada kehidupan yang menyenangkan. Jangan berbuat kejahatan, perbanyak kebajikan, sucikanlah hati dan pikiran.

Pada akhirnya, saya sangat bersyukur bahwa perjuangan saya untuk mendengarkan langsung pembabaran Dharma oleh dua Guru tersebut terbayar dengan sukacita.

Semoga semua kebajikan yang telah kita lakukan dapat membuahkan hasil yang baik bagi kehidupan kita, keluarga kita, dan pelimpahan jasa bagi saudara-saudara kita yang telah tiada.

Semoga kita tidak kehilangan kebahagiaan yang telah kita peroleh.

Semoga mereka tidak kehilangan kebahagiaan yang telah mereka peroleh.

Sabbe Satta Bhavantu Sukitatta

Semoga semua makhluk berbahagia. Saddhu saddhu saddhu

Mau mengenal Dua Guru ini? Check these out:

www.ajahnbrahm.org

www.tergar.org

www.yongey.org

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Her Daily News, Listen and Enjoy. Bookmark the permalink.

5 Responses to Beautiful Heart Peaceful Mind (2 Traditions, 2 Masters, 1 Event)

  1. dr. Miki says:

    Wahhh, pertama2 gue maw bilang… welkomm to blogging world. Sepertinya gue termasuk teman yang blognya sering ga penting itu, hwahahaha!!

    Tulisan lo bagus, Tien… ga semua blogger bisa nulis secara terstruktur dan bagus lho. Kebanyakan melanggar tata bahasa Indo habis2an, jangan tanya yang pake bahasa 4l4y. Tapi kalo lo sampe mikir mau kuliah jurnalistik, gue rasa emang tulisan lo pasti bagus.

    Nah, terus dilanjutkan ya! Nge-blog itu kayak pacaran, mesti dipelihara terus dan rajin update. Sejumlah temen gue gagal untuk memenuhi ini dan meninggalkan blog mereka.

    I’m waiting for other entries, ciaooo!!

    ^___~

  2. Pingback: Waisak, Milik Kita Bersama | hersimplethoughts

  3. Jeremy says:

    Eaaa… setelah hampir setaon(bener ga yak) akhirnya saya tersasar sampai di ujung pasir ini *salah blog bu Tien.. hahahaha…

    wah, wah, ternyata masuk blog yah!! keren banget!

    -Jeremy, org yg ikutan meramaikan bediri di atas panggung padus :P~

  4. Pingback: [Behind The Scene]: 7th Global Conference on Buddhism by JLawren ~ Part 1 | @truetienz

  5. Pingback: [Review] Ajahn Brahm Tour d’Indonesia 2013: Way to Freedom | @truetienz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s