Sebuah Akhir di Dunia Fana, Sebuah Awal di Alam Sana

Dua hari yang lalu gue dapat kabar dukacita, yaitu bokapnya temen kuliah gue (senior imakta) meninggal dunia, karena serangan jantung.

Ternyata hari itu adalah tepat hari ulang tahun bokapnya (gue ga tau umur berapa, ga nanya juga), jadi pas paginya mama temen gue ini tanya sama papanya “Mau minum obat dulu ga? hari ini kan hari ulang tahunmu, jadi nanti kita makan bubur ya, ada Mie juga.” Dan ga lama kemudian mamanya langsung panggil temen gue ini “Cepet turun sini deh, kayaknya papa ada yang ga beres nih.” Tapi, temen gue pikir dia mau siap-siap dulu pakai baju kerja, dan kalau ada yang ga beres dia akan langsung panggil dokter, namun ternyata udah terlambat, ketika dia turun ke kamar ortunya, mata papanya udah membalik, udah ga sadar. Langsung lah dia call ambulans Atmajaya, sayangnya sampai di rumah sakit udah ga bisa diselamatkan lagi. Bahkan beliau belum sempat menyicipi Mie ulangtahunnya…

Penyesalan temen gue ini adalah, karena dia ga sempet bilang apa-apa sama papanya, karena beberapa waktu belakangan ini dia terlalu sibuk dengan kerjaannya, sibuk dengan teman-temannya, sehingga kurang memberikan perhatian yang lebihhh untuk beliau, ketika dua kakaknya pun ga sempet mengucapkan kata-kata terkahir untuk papanya. Itu lah penyesalan mereka, bahkan ketika temen gue pulang sebentar ke rumah dari Rumah duka, dia hanya bisa berkata, “Pa, sorry pa. Pa, sorry pa. Pa, sorry….” Karena memang, dia ga terpikir lagi apa yang bisa dia katakan, selain kata maaf kepada papanya yang udah pergi…

Awalnya keluarga mereka ingin menempatkan di Ruduk Atmajaya, tapi karena alasan tertentu mereka beralih ke Ruduk Santo Yusuf di Gedong Panjang (ingat berita tentang kerusuhan Mei dulu? Ruduk ini sudah direnonasi). Gue dateng ke sana bareng 1 senior gue di kampus, dia yang kasih tau jalan, karena gue ga tau di mana itu Gedong Panjang. Oh Me…gue ga hebat dalam mengenal jalanan kota Jakarta 😦

Kemarin, ketika gue melayat, ga ada orang yang gue kenal kecuali si temen gue ini. Karena temen-temen Imakta gue baru rencana datang malemnya. Kemarin adalah malam kembang, malam terakhir sebelum dikremasi atau dikubur. Temen gue terlihat mencoba tegar dan tabah menghadapai ini semua, dia cerita ke gue tanpa air mata, katanya air mata dia udah terkuras kemarin, dan karena ini memang jalanNya jadi dia harus menerimanya.

Makanya sekarang kita harus lebih perhatian sama orangtua nih, jangan hepi-hepi terus sama temen-temen, tapi hepi-hepi juga sama keluarga, terutama orangtua… 3 hal yang tidak bisa dikembalikan, yaitu Waktu, Ucapan, dan Perbuatan. Perhatikan mereka ketika masih ada waktu, jangan mengucapkan hal-hal yang dapat menyakiti mereka, dan jangan berbuat hal buruk yang dapat merugikan mereka…

May He Rest In Peace

Sabbe Sankhara Annica

Tiada yang kekal, semoga beliau terlahir di alam yang lebih baik, dan berbahagia.

Semoga karma baik yang telah beliau tanam semasa hidupnya, dapat membuahkan terlahir di alam yang baik.

Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan.

Yang tabah ya, temannnn….

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Her Daily News. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s