Anakku Bukan Anakku

Ada seorang ibu-ibu aslinya orang Sunda, yang mau melahirkan anaknya, namun malangnya ibu tersebut ditinggal pergi sama suaminya yang kawin lagi sama perempuan lain. Ironis ya. Itu suami bener-bener ga punya hati, ga punya jiwa, karena meninggalkan istrinya dan anaknya seperti itu. Ini cerita nyata yang terjadi di Jambi.

Tepatnya kemarin, ibu ini akan melahirkan dan dia tidak punya biaya untuk merawat bayinya, jadi sepakat sama seorang Wanita yang ingin sekali punya bayi, akan memberikan anaknya pada wanita ini, untuk diadopsi.

Wanita ini sudah bertahun-tahun menikah tapi tidak mau punya anak, karena dia takut melahirkan, namun dia ingin sekali punya anak yang bisa dia rawat, dia didik, dan dia lindungi. Ini aneh ya, karena berdasarkan kodratnya, wanita sewajarnya untuk mengandung dan melahirkan anak, tapi rasa takut mengalahkan itu semua dan dia memutuskan untuk adopsi anak daripada melahirkan sendiri.

Dan saat itu tiba, dia memang mengenal ibu muda ini, dan sepakat bahwa dia akan merawat dan membesarkan bayinya. Aturan pertama jika ingin mengadopsi anak yang baru saja dilahirkan adalah, tidak memberikan waktu si Bayi dan sang Ibu untuk berpelukan, ataupun memberikan ASI pertamanya, karena yang sering terjadi, adopsi tersebut gagal, karena sang Ibu berubah pikiran dan tidak jadi memberikan hak asuh kepada pihak lain yang telah sepakat sebelumnya, ya, ikatan batin ibu bekerja.  Jadi yang gue pernah denger, begitu sudah keluar dari rahim, langsung dipisahkan dari ibunya. Ini adalah kisah yang sangat tragis, ironis, dan menyedihkan menurut gue. Parah!

3 hari kemudian rencananya si Ibu akan kembali ke kampung nya di Jawa, dan anak ini akan tetap di Jambi bersama orangtua barunya. Ya, mereka tidak pernah saling bertemu bahkan untuk merasakan kehangatan dari Ibu. Gue sedih banget denger kisah anak ini.

Takdir dan nasib setiap orang berbeda-beda. Mungkin ada sebagian orang yang mengutuki orangtua yang memberikan anaknya kepada orang lain untuk dirawat dan dibesarkan, tapi menurut gue, kita ga sepantasnya mengutuk mereka yang tidak mampu merawat anaknya, karena ini pun bukan keinginan mereka, dia hanya mengoper hak asuh. Beda halnya kalau dia ‘membuang’ anaknya ke pinggir jalan atau bak sampah, ini baru pantas diteriaki! Tapi tidak dengan ibu ini, dia memberikan hak asuh kepada keluarga lain untuk membantunya merawat sang anak. Ini udah jalanNya, bahwa anak ini dilahirkan untuk berjodoh dengan orangtuanya yang lain. Bahwa anak ini memiliki jalan nasib dan karma yang dia bawa dari kehidupan lampaunya, dari manapun asalnya anak ini, dia berhak untuk hidup, berhak untuk dibesarkan, berhak untuk dirawat, untuk mendapatkan pendidikan.

Gue meyakini bahwa sang anak dilahirkan oleh siapapun, bagaimana nanti dia dirawat, itu sepenuhnya adalah jalan yang dia miliki, seandainya dia bisa dia memilih…

Good, bad, who knows.

Tidak ada orangtua yang tidak mencintai anaknya, jadi walaupun berat harus berpisah dan merelakan anaknya untuk diasuh sama orang lain, gue yakin bahwa cinta sang ibu tidak akan pernah berhenti, dan anak ini tetap dia lindungi melalui doa-doanya.

Hai Baby Angga, Semoga kamu tumbuh menjadi Pria yang tegar, mandiri, dan baik hatinya ya.

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in In Her Mind. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s