Responsibility

Kali ini gue mau membahas mengenai tanggung jawab, dalam dunia bisnis.

Bisnis dibilang berjalan, jika di sana ada Penjual, dan Pembeli. Jadi, gini ceritanya…

Akhir minggu kemarin, ada anggota keluarga gue yang pesen kue di salah satu toko kue terkemuka di Jakarta Barat. Saudara gue, sebagai pihak Pembeli, memesan 100an box kue untuk dibagikan ke sanak saudara dan teman-teman.

Kue diambil hari Sabtu, tapi beberapa kue ada yang diambil hari Jumat. Kalau begini, logikanya mereka sudah memproduksi kue sejak hari jumat, atau kamis sore. Betul? Mereka menyimpan kue yang telah diproduksi ke dalam lemari pendingin (kulkas ukuran jumbo gua rasa).

Hari Sabtu tiba, dimana kue-kue tersebut kami jemput dan selanjutnya akan kami distribusikan untuk sanak saudara dan teman-teman. Kami pun bertanya sama mbak penjaga tokonya “Apakah perlu disimpan dalam kulkas?” Jawaban mbaknya adalah, “Gak Perlu kok”.

Jadi hari sabtu kita membagi-bagikan kue tersebut, tapi sayangnya, hari terlanjur sudah makin malam dan tidak memungkinkan untuk mengantar kue lagi, jadi acara kirim mengirim kami lanjutkan hari Minggu pagi.

Apa yang terjadi setelahnya sungguh mengejutkan. Bagusnya, ada beberapa teman dan saudara yang memberikan laporan, kami sangat kaget dan maluuuu banget! Kue-kue yang kami bagikan hari Sabtu dan Minggu, semuanya basi! Terasa asam di lidah, bahkan ada yang bulukan alias jamuran.

What the….

Saudara gue sebagai pembeli, merasa sangat kecewa atas kejadian ini, emosi juga. Dia berencana nyamperin toko kue itu untuk komplain kenapa kue-kue nya bisa sampai basi begitu. Tapi niat ini dihalangi oleh nyokap. Kenapa? Karena, nyokap gue ga mau terjadi keributan di toko kue itu, karena biasanya orang yang komplain ujung-ujungnya bisa emosi dan malah tidak ada penyelesaian. Jadi, nyokap gue berinisiatif untuk membantu mereka.

Nyokap menelpon ke toko kue itu, menceritakan semuanya dengan jujur dan lengkap. Nyokap ngomong sama manager toko tersebut, dan meminta mereka memikirkan bagaimana jalan keluarnya, karena atas kejadian ini bukan hanya saudara gue yang merasa malu, melainkan toko kue tersebut yang sesungguhnya paling Malu karena kue-kuenya kan kita pesan sama mereka.

Beberapa menit kemudian, sang manager menelepon nyokap gue, dan memberikan jalan keluar.

Mereka meminta maaf atas kejadian ini, karena memang makanan yang sudah keluar dari kulkas selama lebih dari 5 jam, jika tidak dimasukkan dalam lemari pendingin, akan basi, dan bisa bulukan. Karena, tidak mengandung bahan pengawet.

Jalan keluarnya, Mereka akan membuat ulang kue-kue tersebut, tentunya hanya kue-kue yang basi yang akan mereka ganti, jadi mereka meminta kita untuk mendata kembali penerima kue yang basi itu, berikut alamat penerima satu-per satu. Mereka menjamin bahwa kue yang dibikin kali ini, selesai produksi akan langsung dikirim ke alamat masing-masing, sebagai tanda permintaan maaf. Mereka pun akan menyertakan kartu permintaan maaf atas kejadian kemarin.

Sebenarnya keluarga gue tahu bahwa toko kue itu bagus kualitasnya, karena mereka tidak menggunakan sedikit pun bahan pengawet. Dibuktikan ketika gue beli roti mereka (jam 21.30 akan diskon 50%), roti mereka tidak akan tahan sampai 2-3 hari. Jadi biasanya, gue kalo beli roti mereka pasti langsung simpan di kulkas, kalo tidak, besoknya ada sedikit bintik-bintik hitam (tanda mulai jamuran).

Inilah yang gue namakan bertanggungjawab, mereka bersedia mengganti rugi dan memproduksi ulang kue-kue tersebut, padahal menurut gue, hal itu tidak sepenuhnya kesalahan mereka, pihak keluarga gue pun ada salah karena tidak simpan di dalam kulkas (tidak cukup tempat), dan tidak membagi pemesanan dalam dua hari (Jadi mereka pun memproduksi dua kali), karena kita tidak kepikiran bahwa kuenya kan rusak secepat itu.

Selain bertanggungjawab, kita pun belajar beberapa hal dari kejadian ini:

  1. Makanan yang sudah keluar dari kulkas, harus disimpan kembali dalam kulkas jika tidak dikonsumsi.
  2. Jika berencana memesan makanan yang tidak tahan lama, dan khawatir waktu pendistribusian tidak memungkinkan dalam 1 hari, upayakan untuk melakukan pemesanan dalam 2 hari. Misalnya, hari pertama produksi 50 dulu, hari kedua produksi sisanya.
  3. Menyelesaikan masalah tanpa emosi. Ada baiknya menghubungi mereka dulu melalui telepon, lihat respon mereka, apakah memberikan respon sopan dan baik, atau berupaya ‘membela diri.’ Penjual yang terlalu ‘membela diri’, akan dibenci pembeli. hehehe..

Nyam nyam nyam…

*elus-elus perut*

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Her Daily News. Bookmark the permalink.

3 Responses to Responsibility

  1. Stephanie says:

    what I like about this post?

    ur wise Mom, Tien 🙂

    Kesabaran, Kebijaksanaan, dan Pengendalian Diri memang sangat dibutuhkan dalam penyelesaian masalah sebesar apapun.. dan selanjutnya tgl menunggu Pertanggungjawaban dari pihak lain..
    My Applause jg buat toko kue tersebut 😉

    PS: I am a new fan of your mother =D

  2. neitneit says:

    ihiiyyy makasih tepiii 🙂 *terharu kejer*

  3. Pingback: Complaint! | @truetienz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s