Waisak, Milik Kita Bersama

Bulan Waisak

Bulan Mei adalah bulan Waisak, dimana para umat Buddha akan merayakan hari Trisuci Waisak, jatuh pada waktu terang bulan (purnama sidhi) untuk memperingati 3 (tiga) peristiwa penting, yaitu pertama, hari kelahiran Pangeran Siddharta di taman Lumbini , kedua, saat petapa Siddharta mencapai pencerahan sempurna diumur ke-35 tahun, dan ketiga adalah saat Buddha Gautama wafat, atau Parinibbana di Kusinara pada usia ke-80.

Waisak juga dikenal dengan sebutan yang berbeda di setiap negara, antara lain (sumber: Wikipedia) :

  • बुद्ध पुर्णिमा/বুদ্ধ পূর্ণিমা Buddha Purnima atau बुद्ध जयंती/বুদ্ধ জয়ন্তী Buddha Jayanti in India, Bangladesh, Nepal.
  • 花祭 (Hanamatsuri), di Jepang
  • 석가 탄신일 Seokka Tanshin-il (Hanja: 釋迦誕身日) di Korea,
  • 佛誕 (Mandarin: Fódàn, Cantonese: Fātdàahn) di China,
  • Phật Đản di Vietnam,
  • ས་ག་ཟླ་བ། Saga Dawa (sa ga zla ba) di Tibet,
  • Visak Bochéa di Khmer,
  • วันวิสาขบูชา Visakah Puja (atau Visakha Bucha) di Thai,
  • Kasone la-pyae Boda nei), lit. “Full Moon Day of Kason,” the second month of the traditional Burmese calendar,
  • ວິຊຂບູຊ Vixakha Bouxa di Lao,
  • Vesak (Wesak) di Sri Lanka dan Malaysia.

Buddha Gautama telah berhasil mencapai pencerahan sempurna. Setelah mengalami berkali-kali kelahiran kembali, berhasil menemukan sebab ketidakbahagiaan dan penderitaan manusia, dimana menyadari bahwa Hidup adalah Dukkha (penderitaan), lalu bagaimanakah mengakhiri penderitaan itu? Adalah dengan tidak terlahir kembali di alam manapun, dengan jalan berunsur 8 yang pernah saya tulis di sini. Berkesadaran bahwa hidup ini tidak terlepas dari perputaran Karma, hukum sebab-akibat yang bekerja, baik atau buruk.

Tentu saja untuk mengakhiri karma kita dan tidak terlahir kembali bukanlah jalan yang mudah, namun setidaknya, percayalah bahwa Perbanyak Kebajikan, Tidak berbuat Jahat, Hati dan Pikiran benar, akan membuat roda kehidupan kita berjalan dengan baik, dan tidak terlahir di alam yang sengsara, karena dengan terlahir di alam manusia, sesungguhnya membuat kita mendapatkan banyak kesempatan untuk berbuat kebaikan dan menanam karma baik. Jadi, menurut saya, terlahir kembali menjadi manusia, merupakan salah satu karma baik kita, jangan sia-siakan itu.

Pikiran yang diisi dengan kasih sayang yang tidak mengikat (metta), dengan kasih sayang (karuna), dengan suka-cita atas keberhasilan orang lain (mudita), dan dengan ketenang-seimbangan (upekkha), akan membawa kita pada kehidupan yang lebih bersahabat.

Semoga Semua Makhluk Berbahagia, adalah doa yang diajarkan Sang Buddha, untuk kebahagiaan semua makhluk, di alam manapun, baik itu Manusia, Hewan, Tumbuhan, maupun para makhluk halus. Melakukan pelimpahan jasa untuk keluarga yang telah tiada, untuk makhluk halus yang sengsara, akan membantu mereka hidup tenang di alamnya masing-masing.

Pencurahan Air Bunga

Pangeran Siddharta Gautama (artinya Tercapailah cita-citanya) adalah pangeran dari Kerajaan Kapilavatthu (daerahnya sekarang Nepal), orangtuanya adalah Raja Shuddhodana dan Ratu Mahamaya. Sang ratu melahirkan di Taman Lumbini, dalam perjalanannya menuju Kota Devadaha tempat tinggal orangtuanya. Kejadian itu terjadi pada hari bulan purnama bulan Vesakha, tahun 623 SM.

Salah satu tradisi yang dijalankan oleh Vihara Ekayana Grha – VEG (baca: Wihara Ekayana Gerha), adalah tradisi Pencurahan Air Bunga pada Pratima (rupang) Bayi Siddharta. Tradisi ini baru saya ketahui ternyata adalah tradisi aliran Mahayana (tradisi Buddhist yang asli dari India, dan telah bercampur dengan kebudayaan China). Di China sana, juga melakukan tradisi ini dalam menyambut hari Waisak.

Minggu 15 Mei 2011, kami umat di VEG membaca paritta suci berbahasa Mandarin (salah satu tradisi mahayana adalah paritta nya pakai Mandarin, kalau Theravada pakai bahasa Pali-berakar dari bahasa Sansekerta), selama kurang lebih 1 jam, kemudian ratusan umat yang sudah berkumpul, mengantri untuk melakukan pencurahan air bunga pada pratima bayi Siddharta. Makna pencurahan air bunga ini adalah sebagai sebuah bentuk penghormatan dan mengingat kelahiran calon Buddha (Yang Tercerahkan), Guru Agung.

Rupang Bayi Siddharta

Rupang Bayi Siddharta

Sumber foto: dari Mr_FiveGoBlog

Pelita Waisak ~ Api Dharma

Senin, 16 Mei 2011

Api Dharma memiliki makna sebagai penerang atas segala kemuraman di kehidupan ini, memberikan cahaya atas segala ketidaktahuan dan kegelapan batin, serta perlahan-lahan menumbuhkan cinta kasih dan welas asih dari dalam diri masing-masing. Suatu kebutuhan yang sangat relevan di dalam kehidupan negeri kita saat ini, yaitu kebutuhan akan cinta kasih.

Segala konflik yang terjadi dalam masyarakat dewasa ini, bukan merupakan kesalahan suatu agama maupun kelompok masyarakat tertentu, tetapi terlebih pada defisit kesadaran masing-masing individu akan pentingnya sikap saling menghargai atas segala perbedaan. Karena, perbedaan itu Indah, seindah warna-warni bunga di taman. Agama menjadi exist, sesungguhnya untuk melindungi manusia dari segala kebencian dan tindak kekejaman, tetapi kini, seringkali kebencian dan kekejaman itu terjadi, malah akibat dari pembelaan terhadap agama itu sendiri. Ini sungguh ironis, sampai ada yang mengatakan, “jika karena agama maka terjadi kekejaman, bukankah lebih baik tidak beragama, dan kekejaman dalam masyarakat itu pun tidak pernah terjadi?” Karna sesungguhnya Agama dan Tuhan-nya tidak perlu dibela, masing-masing memiliki jalannya sendiri yang harus kita hargai, tanpa perlu dicap sesat ataupun menyimpang, itu menurut saya.

Kembali ke topik Api Dharma. Maka dengan simbol ini, diharapkan kita dapat merenungi segala hal yang bersifat negatif sebelumnya, mencari cahaya pembebasan atas segala keburukan tersebut, dan berangsur-angsur pulih dan kembali menemukan jalan terangnya menuju kedamaian, menjadi surplus kesadaran. Kesadaran akan pentingnya kedamaian di kehidupan masyarakat maupun pribadi, serta mengembangkan cinta kasih terhadap semua makhluk hidup, maupun makhluk yang tidak terlihat.

Pindapatta

Selasa, 17 Mei 2011

Sesungguhnya, Pindapatta merupakan suatu kegiatan persembahan makanan kepada para bhante/bhikku, bhikkuni, samanera, dan para petapa. Makanan yang kita persembahkan umumnya adalah makanan tanpa daging, alias vegetarian, buah-buahan, dan makanan kering non daging juga boleh. Namun di jaman sekarang ini banyak yang kurang tepat dengan memberikan persembahan non-makanan, seperti sabun, pasta&sikat gigi, dan kebutuhan lainnya, dan memasukkan persembahan ke dalam Patta (mangkuk), padahal para Bhikku biasanya menggunakan patta itu sehari-hari untuk makan juga, jadi jika ada yang memasukan sabun-sabun itu pada Patta Bhikku, apakah berarti bhikku memakan sabun? Hehehe… Boleh-boleh saja memberikan persembahan itu, tetapi kiranya jangan dimasukkan dalam patta, tetapi memberikan kepada panitia yang mendampingi para bhikku dan langsung dimasukkan dalam karung. Ini lebih aman dan lebih sopan 🙂

Pindapata di daerah Kota - Jakarta

Pindapata di daerah Kota - Jakarta

Sumber gambar: dari sini

Alms Bowl 'Patta'

Alms Bowl 'Patta'

Jangan lupa, kita juga harus melepaskan alas kaki kala melakukan pindapata, sebagai tanda kerendahan hati dan menghormati para bhikku yang biasanya tidak mengenakan alas kaki saat menerima persembahan.

Sebenarnya apakah makna pindapata? Kita diajarkan untuk berdana dan berderma, pindapata adalah salah satu caranya, yaitu berdana makanan kepada para anggota Sangha (sebutan untuk para bhikku/bhikkuni/murid-murid Buddha). Di sini, bukan anggota Sangha yang ‘perlu’ untuk menerima persembahan makanan, melainkan, kita yang ‘perlu’ untuk memberi persembahan itu. Ada kalanya, kita merasa bahagia setelah memberi, dan itu lah nikmat berdana. Berdana ada banyak cara, seperti dana mata (dengan melihat orang lain dengan kasih), dana tenaga (membantu sesama), dan masih banyak cara berdana lainnya.

Jaman sekarang ini, hasil dari pindapata yang dijalankan, dikumpulkan tidak seluruhnya untuk kepentingan anggota Sangha, karena sebagian besar akan diberikan juga kepada masyarakat yang kurang mampu dalam kegiatan bakti sosial. Contohnya, pindapata yang saya hadiri tanggal 1 Mei 2011 lalu di daerah Stasiun Kota, ada ribuan umat yang datang berbondong-bondong untuk ikut memberikan dana makanan, dan seluruh hasil yang dikumpulkan akan disumbangkan lagi untuk saudara-saudara yang kurang mampu.

Pindapata yang saya ikuti hari ini (Selasa, 17 Mei 2011), menyertakan 19 anggota Sangha, terdiri dari Bhikku dan Bhikkuni yang ada di Vihara Ekayana. Berikut foto yang saya ambil:

Pindapata di Vihara Ekayana Grha

Pindapata di Vihara Ekayana Grha

Umat yang hadir di VEG hari ini ada sekitar 7000 orang, sesuai dengan target yang telah diperkirakan. Panas dong? Pastinya…. Tapi ini tidak menyurutkan tekad umat untuk tetap mengikuti pindapata dan puja bakti (kebaktian).

Oh iya, Gubernur Jakarta, Bapak Fauzi Bowo (alias Bang Foke), bersama isteri dan rombongan, datang ke VEG untuk memberikan selamat hari Waisak dan memberikan kata sambutan. Inti dari ucapan beliau adalah sangat mendukung kegiatan umat Buddha khususnya di Jakarta, yang telah/akan mengadakan kegiatan positif untuk kepentingan bersama, seperti kegiatan donor darah, bakti sosial, dan klinik kesehatan. Siap bang…

Detik-Detik Waisak

Detik-detik waisak tahun ini jatuh pada pukul 18:08 (jam 6 sore lewat 8 menit), puja bakti di VEG dimulai pukul 17:45, biasanya menggunakan bahasa Pali, tapi hari ini paritta nya menggunakan Bahasa Indonesia, hal yang sangat unik bagi saya, setelah bertahun-tahun ikut puja bakti, baru kali ini paritta nya menggunakan Bahasa Indonesia. Cukup baik juga ternyata 🙂 Kala menyambut detik-detik waisak, kami melakukan meditasi, kira-kira 30 menit, lalu dilanjutkan ke:

Pesan Waisak

Telah dikutip langsung dari Sangha Agung Indonesia:

“Semua yang Terkondisi Tidak Abadi,

dengan Eling Berjuanglah untuk Pembebasan”

Setiap bulan Waisak, umat Buddha di seluruh penjuru dunia merayakan kebiasaan religius agung yang kemudian dikenal sebagai hari raya Waisak atau Vesak day. Hari Waisak pada hakikatnya adalah hari kemanusiaan karena berisi kisah siklus hidup manusia unggul bernama Sidharta Gautama dengan dedikasi total terhadap kemanusiaan, alam, dan keharmonisan. Tepat pada tahun 623 sebelum masehi di Taman Lumbini Sidharta lahir; tahun 588 sebelum masehi mencapai pencerahan di Buddhagaya; kemudian tahun 543 sebelum masehi wafat di hutan Sala milik suku Malla, Kusinara.
Waisak menjadi penting untuk terus diperingati karena memiliki nilai transformatif, memberi petunjuk paling manusiawi dalam mengisi kehidupan manusia. Sakyamuni Buddha memahami bahwa kehidupan dengan berbagai isinya merupakan sesuatu yang sementara (anicca), sehingga harus diisi dengan akumulasi perbuatan beradab yang mampu menopang kebahagiaan, kesejahteraan sendiri, dan makhluk lain (M.I.415-419). Kesempurnaan budi dan kejernihan hati membuatnya mampu menyadari bahwa kesementaraan adalah realitas hidup (A.I.286), berkah, peluang, sekaligus kesempatan untuk terus berkarya bukan sebagai ancaman, pemicu ketakutan, hingga terbelenggu, serta menghamba pada hal-hal rendah.
Mampukah kita memiliki kejernihan Buddha dalam menatap kehidupan? Sakyamuni Buddha menegaskan bahwa kejernihan, bahkan ke-Buddha-an bukanlah monopoli milikNya (Saddharmapundarika Sutra II), kejernihan akan datang bila dilatih dan dikondisikan (D.II.100). Salah satu metode yang efektif adalah dengan menghidupkan ”kesadaran” (D.II.290) yang dalam terminologi Jawa disebut ”eling”. Karakteristik ”eling” adalah jernih, waspada, sadar, laksana cermin jernih, mampu melihat sesuatu sebagaimana adanya. Kapasitas untuk terus ”eling” terhadap sesuatu yang terjadi di dalam diri dan lingkungan akan menuntun manusia untuk berjumpa dengan segala sesuatu dalam kondisi yang paling alamiah dan murni. Eling yang terasah adalah gerbang pengetahuan, penembusan realitas, gerbang kepedulian terhadap sesama, pemusnah pandangan salah (ditthasava) dan kebodohan (avijjasava) (D.II.91). Dalam hal ini bisa disimpulkan bahwa elingadalah gerbang pembebasan.
Menghadapi jebakan modernitas yang penuh dengan nuansa egoisme, individualisme, ketidakpedulian terhadap alam dan sesama, mengejar kenikmatan tanpa nurani, pengetahuan tanpa karakter, maka ”eling” menjadi alternatif sekaligus solusi yang prospektif dan relevan. Terjadinya defisit integritas dan kepedulian tersebut sebenarnya disebabkan oleh surplus kegaduhan mental yang tidak pernah tertangani secara tuntas sehingga membajak kejernihan manusia (bodhicitta) menjadi kekacauan.
Dalam mengatasinya, manusia cenderung berlindung dan terjebak pada ”pengalihan” terhadap hal-hal menyenangkan dan menenangkan yang bersifat sementara sehingga tidak pernah mencapai kebahagiaan sejati atau pembebasan. Akumulasi kegaduhan mental inilah sejatinya yang menjadi aktor utama penyebab ketidakbahagiaan dan pendorong perilaku negatif manusia sebagaimana diuraikan dalam kitab Tri Svabhava Nirdesa Sastra karya Vasubandhu seorang Dharma master Yogacara. Pikiran atau berbagai tindakan akan “tercetak” dalam gudang kesadaran yang terkumpul membentuk karakter manusia.
Dalam ajaran tentang eling atau meditasi vipassana bhavana (D.II.290-315), kebahagiaan atau pembebasan adalah hal yang sangat sederhana. Seseorang yang mampu untuk sekadar eling, menyadari segala sesuatu yang ada di dalam dan di luar diri dalam konteks ”kekinian” maka segala kegaduhan mental penyebab derita akan luruh dan tidak memiliki kekuatan. Hanya dengan eling, mengamati secara awas, bukan dengan menghakimi, memusuhi, menekan, maka pembebasan akan muncul dengan sendirinya. Pembebasan justru hadir manakala kita dapat berdamai dengan segala negativitas yang kita miliki maupun dengan berbagai kondisi yang ada. Melatih eling secara bersama akan menjadi sebuah kegiatan yang sangat efektif dan menyenangkan. Eling secara kolektif atau sosial ini sangat dianjurkan oleh guru Buddha sebagai sebuah bentuk perlindungan sosial (sangha) berupa komunitas orang-orang yang berkualitas secara spiritual (M.I.37). Tergerak oleh semangat pembebasan kolektif inilah, banyak bermunculan gerakan buddhis dunia yang terus berupaya menyelamatkan bumi dan segala isinya melalui berbagai program kegiatan riil, hal ini merupakan manifestasi dari energi pembebasan eling dalam sebuah organisasi pergerakan.
Dalam kontek Indonesia, semangat pembebasan melalui eling harus terus kita kobarkan bersama. Sikap sadar atau eling sosial akan mampu menangkap derita atau masalah sosial dan bereaksi spontan dengan belas kasih yang produktif dan solutif. Kita akan melihat masih adanya keterbelakangan, kemiskinan, kebodohan, maupun ketidakadilan secara jernih. Sebagai umat Buddha, kita terus aktif membantu pembebasan sosial tersebut tanpa mengedepankan sikap kecurigaan yang justru kontraproduktif. Umat dengan profesi bisnis memiliki landasan moral dan kepedulian sosial yang tinggi; yang menempuh jalur karir di pemerintahan eling dan amanah; sebagai pendidik mampu menciptakan generasi yang unggul melalui sikap keteladanan; sebagai petani ikut serta elingmembantu pelestarian alam; sebagai generasi muda eling memperkaya diri dengan ilmu dan nilai. Sikap eling kolektif ini akan bekerja sinergis sehingga pembebasan sosial mampu terwujud.
Bila kita cermati realitas sejarah, rekam jejak agama Buddha di Nusantara selalu bercirikan semangat pembebasan sosial. Pada pertengahan abad 7, kerajaan Ho-ling atau Kalingga di Jawa dihormati sebagai pusat peradaban Buddhis yang mampu mengangkat harkat dan martabat bangsanya. Peziarah Hui-Ning dari China yang berguru pada biarawan Kalingga bernama Jnanabhadra, menyatakan bahwa kehidupan masyarakat Kalingga tertata dengan baik, sinergis, adil, makmur karena rakyat berpadu dengan pemerintah mengusung nilai-nilai pembebasan dari kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan.
Semangat pembebasan sosial juga dapat kita lihat dari prasasti Talang Tuo, pada tahun 684 Masehi atau tahun 606 Saka, Raja Buddhis Kedatuan Sriwijaya, Dapunta Hyang Jaya Naga atau Sri Jayanasa membangun taman atau kebun Sriketra untuk rakyat di Talang Tuo dekat bukit Siguntang. Tekad atau pranidhana pembangunan taman atau kebun Sriketra didesikasikan sebagai pembebasan rakyat dari kemiskinan, keterbelakangan, sehingga diharapkan secara setapak demi setapak akan mampu mencapai kesejahteraan, kebahagiaan materi, peningkatan moral, dan akhirnya mencapai pembebasan dari semua derita. Dalam prasasti Talang Tuo jelas ditekankan pentingnya eling, atau samadhi sebagai jalan penghantar pembebasan, pencerahan mencapai anuttarabhisamyaksambodhisebagaimana petikan prasasti Talang Tuo berbahasa Melayu Kuno berikut: ”… tahu di samicranya cilpakala parawis samadhitacinta tmu ya prajnya smreti medhawi punarapi dhairyyamani mahasattwa … awacana tmu ya anuttarabhisamyaksam vodhi …”.
Ajaran Buddha yang sangat aplikatif di Sriwijaya kemudian menarik perhatian peziarah I-Ching sehingga berkunjung dan memperdalam ilmu keagamaan di Sriwijaya selama 3 kali pada tahun 671Masehi, 685-689 Masehi, dan tahun 689-695 Masehi. Berdasarkan catatan I-Ching, sistem pembelajaran agama Buddha di Sriwijaya dimulai dengan pengkajian kitab secara bersama, retreat-retreat Buddhis yang diisi dengan pengamalan ajaran eling dan belas kasih secara bersama; dan aktualisasi nilai Buddhis sebagai pembebas dari derita sosial sebagaimana tercermin dari semangat pranidhana pembangunan taman atau kebun Sriketra oleh Kedatuan Sriwijaya, Dapunta Hyang Jaya Naga. Kebersamaan pengkajian kitab dan retreat Dharma terorganisir, terhimpun yang pola dan sistemnya sama dengan yang berkembang di Madhyadesa India. Dharma centre mirip Madhyadesa dijadikan sebagai pusat kajian, penelitian pemikiran, maupun praktek Dharma yang bermuara pada pembebasan.
Bercermin dari rekam jejak Buddhis di Kalingga dan Sriwijaya, pola pendekatan praktek Dharma yang mengarah pada pembebasan sosial perlu kita adopsi, bangkitkan, lestarikan. Aspek liturgi, ritus tetap kita lestarikan sebagai sebuah pendekatan namun penekanan pada aspek pembebasan dengan metode elingurgen untuk diarusutamakan. Pengarusutamaan eling dapat dilakukan dengan memfungsikan organisasi keagamaan, wihara, institusi pendidikan yang kita miliki sebagaimana pola Madhyadesa yang dipraktekkan di Sriwijaya. Pola yang dikembangkan difokuskan pada pengkajian kitab, pembudayaan praktek Dharma berupa eling dan belas kasih yang mengarah pada pembebasan sosial. Konsistensi pelaksanaan pola ini akan mampu menjadikan eling sebagai jalan hidup atau menjadi budaya masyarakat. Masyarakat yang memiliki budaya hidup eling atau ”sadar” akan memiliki kapasitas untuk bangkit dan mencapai pembebasan bersama-sama. Hal ini selain akan bermanfaat bagi umat Buddha juga merupakan wujud pengabdian bagi bangsa dan negara. Masyarakat yang mampu eling, menata diri dengan baik akan selalu bermanfaat bagi sesama dan lingkungan alam sehingga menjadi modal dasar bagi pembangunan bangsa menuju bangsa besar dan berperadaban.
Akhirnya, marilah momentum Waisak ini kita jadikan sebagai momentum untuk bangkit, bertransformasi menuju manusia, masyarakat Buddhis yang sadar, eling, sehingga mampu menjadi bagian dari solusi terbebas dan membebaskan.
Sadhu Sadhu Sadhu
Mettacittena,
SANGHA AGUNG INDONESIA
Mahathera Nyanasuryanadi
Ketua Umum

Harapan

Sebagai anak keturunan yang menjalankan tradisi Konghucu, saya tidak pernah memiliki pengetahuan yang cukup mengenai agama Buddha, bahkan sekolah sampai SMU pun di sekolah Katolik, maka saya lebih mengenal ajaran Katolik itu sendiri. Jaman Orba (Orde Baru), tradisi Konghucu digabungkan dalam Agama Buddha, karena Indonesia hanya mengakui 5 agama saat itu, padahal, Konghucu dan Buddha adalah berbeda. Kelenteng dan Vihara pun berbeda.

Tahun-tahun sebelumnya, saya selalu melewati hari waisak dengan begitu saja. Berlalu begitu saja tanpa mengetahui makna waisak itu sendiri. Baru sejak kuliah hingga kini, saya mengetahui arti waisak, memperlajari kisah hidup Buddha Gautama, dan mendapatkan kenyamanan saya di sini.

Dan entah kenapa, waisak kali ini begitu saya tunggu-tunggu, bahkan hingga tulisan ini akan diturunkan, saya masih merasakan kegairahan dan kebahagiaan itu. Di Waisak tahun ini, saya merasa seperti mendapatkan perlindungan di bawah Tenda dikala hujan, seperti mendapatkan air segar dikala panas dan lelah, seperti mendapatkan cahaya baru di lorong yang panjang. Ya, saya merasakan damai di bulan Waisak ini, dan harapan saya, semoga rasa damai ini dapat terus kita rasakan bersama dengan orangtua, keluarga, saudara, dan teman-teman. Yah, walaupun kita tahu, life is suffering, setidaknya kita masih memiliki cara untuk berbahagia. ^^

Selamat Hari Waisak 2555BE/2011

Semoga Semua Makhluk Berbahagia


Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Her Daily News. Bookmark the permalink.

3 Responses to Waisak, Milik Kita Bersama

  1. SaniAgung says:

    waisak itu budha ya gan ?
    situ buddha ? 😉

  2. neitneit says:

    Iya gan, i’m a Buddhist. 🙂

  3. Pingback: Good Karma Is In | @truetienz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s