Becak Vs Bajaj

Gue lahir dan dibesarkan di ibukota kita tersayang, Jekarde (gaya bicara bule, bibir dimajuin, rambut dikibas sedikit), tahun 1985. Saat itu, kendaraan umum yang sering kita jumpai selain Bus dan Angkot, adalah Becak, Bajaj, dan Bemo, yah pokoknya yang beroda tiga sangat hits lah, sebenarnya saat ini juga masih (hits), hanya di beberapa daerah melarang kendaraan jenis ini beroperasi.

Dari TK sampai Kuliah, biasanya gue diantar oleh Bokap atau supir. Anak manja? Mungkin. Tapi gue tidak semanja itu kok, kalau mereka berhalangan, gue kadang naek angkot, becak atau bajaj. Postingan kali ini, gue hanya ingin membahas becak dan bajaj aja.

Dan jujur sejujur-jujurnya, dari sekian banyak jenis transportasi umum di Jakarta, gue paling tidak berani naik kendaraan umum yang namanya BUS KOTA macam bus ijo-putih Kopaja, bus oranye Metromini, dan semacamnya. Bus Kota adalah salah satu kendaraan terawan versi gue. Lupakan Bus Tansjakarta, karena busway belum dibangun kala itu (kalau saat itu sudah dibangun pun, tidak ada busway yang menuju ke Puri Indah, ataupun Green Ville-Tanjung Duren, jadi Sungguh Lupakan). Bukan karena rawan copet dan todong aja, tetapi juga keselamatan diri.

Dari beberapa kali pengalaman gue naik bus umum, gue sangattt Ter-ke-san! Bayangin aja, Penumpang (gue) kudu naik ketika bus BELUM berhenti. Penumpang turun ketika bus juga BELUM berhenti, mereka hanya memperlambat laju tapi tidak menghentikan kendaraannya. Gila kan, jadi kapan bus tersebut berhenti? Mereka bisa berhenti dimana saja dan kapan saja, secara mendadak, sehingga kendaraan-kendaraan dibelakangnya otomatis ikutan rem dadakan, dan ini di Tengah Jalan! Aneh bin ajaib memang kendaraan umum di sini. Giliran harusnya berhenti mereka malah jalan, giliran harusnya jalan mereka malah berhenti. Ya, Salah satu identitas kota Jakarta lah.

Itulah mengapa gue lebih senang naik becak atau bajaj kala itu. Memang cenderung lebih mahal, tapi setidaknya gue tidak perlu diliputi rasa cemas setiap kali menimang-nimang kaki kiri untuk mengambil sikap kuda-kuda turun dari bus tersebut. hahaha….

Gue sering naik becak ketika TK dan Sekolah Dasar, jarak sekolah dan rumah tidak terlalu jauh, tapi berasa lah kalau jalan kaki pulang-pergi. Gue mencintai becak, karena menurut gue becak adalah kendaraan romantis. Dimana letak romantisnya? Kita duduk didalam tempurung becak bagaikan nona-nona bangsawan jaman film silat, atau film-film Shanghai jadul. Keren kann…hahaha… *lupakan kalimat di atas* Lebih romantis lagi kita naik becak ketika hujan turun, mencium aroma hujan dari dalam tempurung becak yang ditutup plastik. Yep, pada dasarnya gue suka wangi tanah basah campur hujan. *kalau menganggap gue aneh, silahkan abaikan juga kalimat gue barusan..hahaha*

Tapi sayangnya, sejak gue SMP, becak sudah tidak beroperasi lagi di sekitar rumah gue. Ga tau di daerah mana aja sekarang yang boleh dilewati oleh becak. Padahal menurut gue, kendaraan ini jauh lebih bersahabat dengan manusia dan lingkungan, dibandingkan Bajaj dan Bus Kota, apalagi sekarang ada istilah Bike to Work, Bike to School, Bike to Grandparent’s House, Bike to Mall, dan sebagainya…hahaha. Iya sih, bukan kita yang mengendarai sepeda, tapi kan intinya Becak itu menggunakan Sepeda untuk beroperasi. hehe… Namun kita harus tahu diri aja mengenai jarak tempuhnya, sebelum dengkul dan betis abang becak menjadi batang pohon :p

becak-indonesia

Becak. Kalau turun hujan, kita buka gulungan plastik di atasnya.

Selama masa kuliah, seringkali gue mempercayai Bajaj yang warna merah, sebagai pegganti Becak yang sudah bermigrasi ke daerah lain. Bajaj adalah salah satu salah satu penolong gue pergi-pulang kuliah kalau bokap lagi ga sempat, sekaligus kendaraan penyumbang polusi udara dan polusi suara yang besar di kota kita ini. Ga percaya? Buktikan aja sendiri. Naik bajaj sama temen, terus ajak temen kamu ini ngobrol. Pasti akan terjadi miskomunikasi di antara kalian. hahaha….

Contohnya, ketika kalian bertanya ke teman: “Udah lapar belum?” Nah, mungkin teman kalian akan menjawabnya dengan pertanyaan juga: “Hah?? Ngomong apa lu?”, padahal kalian duduk bersebelahan. Yah, begitulah kira-kira parahnya polusi suara karena si Bajaj… Dan mungkin, akan lebih baik di dalam bajaj jangan ngobrol, apalagi sama abangnya, kecuali mau kasih tunjuk jalan, karena dijamin ketika sampai tempat tujuan, suara kita habis bis bis… wong teriak-teriak mulu di dalam bajaj. Tapi inilah seninya naek bajaj. Kalau kesel sama abangnya yang ga suka ditawar harga, maki-maki aja abangnya di dalam bajaj, dia ga akan mendengar umpatan kita. Hahahaha…. *jangan ditiru kelakuan ini*

Untungnya kini sudah tercipta Bajaj BBG, bodynya sih Bajaj, dan warnanya Biru atau Hijau, tapi mesinnya menggunakan Bahan Bakar Gas. Tidak ada polusi udara, dan tidak ada polusi suara, karena suara mesinnya cukup halus untuk ukuran Bajaj. Lebih elegan juga, karena jok duduknya relatif lebih empuk dibandingkan bajaj merah (bajaj yang berisik), dan harganya ga beda sama bajaj lama, namun bajaj BBG ini masih terbatas unitnya.

Saat kuliah dulu, gue sering banget menggunakan jasa Bajaj-bajaj ini, tapi ga pernah ada langganan, dan ga bisa hapal muka abangnya, sampai pernah suatu hari, di pangkalan bajaj depan kampus, ada salah satu abang bajaj yang menawarkan BMW-nya (Bajaj Merah Warnanya – Jokes Jadul): “Non, ke greenville, belakang bank mandiri, 6ribu, mau? silahkan naik.” Jahhh… gue kaget aja gitu, kok malah si abang yang inget muka gue. Emang gue sering banget ya naek bajaj yang itu? Ga inget lah. Serem sih sebenernya, tapi sekaligus kagum, secara penumpangnya kan pasti banyak banget, lah kenapa dia bisa inget rumah gue dimana. Trus gue senyum ke abangnya dan bilang, “Gak dulu bang, makasih, hari ini saya dijemput.” begitchu…

Oh iya, jangan terlalu mengharapkan bajaj untuk bisa ngebut, atau anda akan merasa pening mendengar deruan suara putus-asa-nya bajaj ini saat menarik tenaga untuk ngebut. Pokoknya, jangan harap. Hati-hati juga apabila saat naik bajaj anda menemui lampu merah, karena teman gue ada yang ditodong di dalam bajaj saking terbukanya kendaraan tersebut. Ternyata, naik bajaj pun tidak menutup kemungkinan atas rawannya tindak kriminal di kota ini.

Biru-Bajaj BBG. MerahOranye-Bajaj Berisik

Biru-Bajaj BBG. MerahOranye-Bajaj Berisik! Ayo dipilih dipilih dipilih...

Bajaj, beda nasibnya dengan Becak. Bajaj masih sering kita jumpai di hampir seluruh daerah Jakarta. Kecuali beberapa daerah perkantoran, bajaj nampaknya juga tidak boleh beroperasi di sana. Pokoknya, becak dan bajaj sangat membantu untuk jarak tempuh yang tidak terlalu jauh. Pluit-greenville atau Puri Indah-greenville, sudah cukup jauh untuk kendaraan jenis ini. 🙂

Becak Vs Bajaj… Mana yang kau suka?

^__^

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in In Her Mind, Uncategorized. Bookmark the permalink.

3 Responses to Becak Vs Bajaj

  1. Grace says:

    Aaah…gua juga sukaaaa becak. Dulu naik becak pas masih keciiilll banget, itu pun bukan di Jakarta. Bajaj BBG juga gua suka, tapi lebih suka becak.

    Soal ke mana-mana dianter bokap atau supir, menurut gua di Jakarta ini ga bisa dibilang manja sih. Dan bukan cuma di Jakarta aja, tapi di Indonesia lah. Soalnya di Indonesia, selain keamanannya jelek, ada rasisme terhadap suku tertentu. Jadi wajar aja kalau kemudian ada orang-orang yang memilih mengantar-jemput sendiri anaknya atau menyewa supir. Di negara-negara lain memang juga ada tindak kriminal, tapi setidaknya rasisme masih terkendali, ga sampe parah kayaq di Indonesia, apalagi Jakarta. Makanya pergi-pergi sendiri, khususnya buat kaum cewek masih aman.

    • neitneit says:

      hehehehe iya love becak too… sayangnya udah ga pernah keliatan di Jakara 😦 Waktu di Medan gue pernah naik kendaraan jenis kyk becak, tp dia bukan sepeda melainkan motor. jadi cepet jalannya. ga seru, masih lebih seru becak jadul yang pake sepeda 🙂
      betul, di jakarta ini tingkat kriminalitas dan sensitivitas masih relatif tinggi, jadi ga heran kalau banyak orangtua khawatir dan ujung2nya menyewa jasa supir atau mengantarjemput sendiri.

  2. Pingback: Mobilku Bukan Mobilku | hersimplethoughts

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s