CANTABILE 2: From Manga to the Real Concert Hall

Sabtu, 16 Juli 2011

Termasuk salah satu tanggal yang gue tunggu-tunggu di bulan ini. Yap, tentu saja karena ada konsernya Twilite Orchestra, yaitu Cantabile 2. Konser ini adalah lanjutan dari Cantabile I yang diselenggarakan tanggal 27 Januari 2011 lalu. Kenapa namanya Cantabile? Karena ini diangkat dari kisah anime Jepang yang berjudul Nodame Cantabile. Film ini mengangkat tema tentang musik klasik yang sangat kental, sehingga sepanjang film kita akan disuguhi berbagai macam lagu klasik ciptaan composer-composer terkenal dunia jaman dulu.

Sabtu kemarin gue nonton berempat sama sang pacar, koko dan sao2 gue, awalnya kita cuma beli tiket buat berdua aja, tapi ternyata koko dan istrinya pengen liat juga seperti apa orchestra nya om Addie Ms, jadinya kami kembali ke ticket box Ibu Dibjo untuk membeli tiket tambahan, untungnya masih ada tempat tersisa. Karena denger-denger, berita yang sangat tragis, yaitu tiket pelajar sudah habis dalam kurun waktu 3 jam saja sejak dinyatakan tiket dijual.

Ajubile dashyatnya peminat musik klasik, terutama para pelajar, ternyata pelajar masa kini sudah tertarik pada musik klasik, dan menurut gue, hal itu sangatlah bagus. Namun untuk tiket kelas silver-platinum terjual slowly but sure, tidak seperti konser Cantabile I yang tiketnya ludes hanya dalam beberapa hari sejak dijual, iya ga heran sih, karena pada saat itu pembelian bisa melalui website online, sedangkan untuk beli tiket Cantabile 2 ini harus datang ke ticket box office nya, dan kebetulan lokasinya jauh-jauh (dari rumah gue). Kita tuker voucher dulu, baru saat hari H atau H-1 kembali ke Ibu Dibjo untuk menukarkan tiket aslinya. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya pemalsuan tiket.

And here we come…

Pintu aula akan dibuka pukul 19.30, dan konser akan mulai pukul 20.00. Pukul 18.00 kami dijemput, lalu berangkatlah kita berempat menuju TKP (Tempat Kejadian Pengkonseran) di daerah Kemayoran, Jakarta Pusat. Oh tidakkk jalanan macet…akhirnya dengan skill yang ko2 miliki, kami berhasil memotong jalan sehingga ga perlu lewat Tanjung Duren Raya yang macetnya gak-banget itu.

Beruntung sekali, karena kita sampai disana pukul 7 malam, sebelum pintu aula dibuka, namun suasana sudah sangat ramai, ehemm…terlalu ramai. Banyak muka-muka muda terlihat di sana, mungkin mereka adalah para ‘pembeli dalam 3 jam’ tersebut. Selama beberapa menit kami celingak celinguk mencoba mencari muka-muka yang kami kenal, tapi ternyata tidak ada yang kami kenal, baiklah… akhirnya kami lanjutkan dengan ngobrol-ngobrol di depan background besar bertuliskan “Cantabile 2. Twilite Orchestra” yang dijadikan sasaran foto-foto bagi hampir semua penonton yang hadir saat itu. Oh iya, di samping papan besar itu gue sempat melihat ko Levi Gunardi dan keluarganya, dia adalah pianis yang memainkan Rachmaninoff’s Piano Concerto pada Cantabile I, namun kali ini beliau berada di barisan penonton.

Oh iya, biasanya di acara semacam itu ada fotografer acara, dan kami berempat pun diminta berdiri berjejer untuk difoto, so… Smileee… klik! *penasaran hasil fotonya bagus ga yaaa :p*

Ketika gue memasuki lobby Aula Simfonia Jakarta, sudah terlihat dan terasa aura artistik dan elegannya, namun hal tersebut agak tertutupi akibat terlalu membludaknya penonton di lobby kala itu. Tangga menuju aula pun didesign sedemikian elegan dan detail. Selain dilapisi oleh karpet, di setiap tikungan tangga akan ada lukisan atau patung-patung Yunani semacam itu lah, dalam hati cuma bisa “wow…” malu ah kalo wow-wow melulu, nanti dikirain wong ndeso :p

Dan gue baru tercengang-cengang ketika memasuki ruangan Aula nya… Gileee mamennn… Kerennnn bangettt, kemane aje gue selama ini, hari gini baru tau ada aula sekeren ini! Gue akui gue norak saat itu, langsung foto-foto di dalam ruangannya.. haha.. Dan gue langsung mention si dr.Miki bilang bahwa foto yang kita lihat di websitenya adalah sungguh alias ga bohong.

Foto dari website

Foto dari website

Interior aula ini begitu elegan dan mewah wahhh...

Interior aula ini begitu elegan dan mewah wahhh…

Sentuhan marmer dan granit pada tembok, tiang, dan penyangga patung, serta dilengkapi gambar-gambar wajah composer dunia. Artistik luar biasa… Ide nya siapa sih? Keren loh, bener.

Gue duduk di balkon, dan menurut gue, duduk di balkon ‘mungkin’ adalah best view dari keseluruhan tempat duduk. Mengapa? Karena kita bisa lihat dari atas bagaimana lincahnya pianis menekan tuts-tuts pianonya, dan dari atas pula kita bisa melihat seberapa kompaknya para pemain biola dan pemain alat musik lainnya.

Addie Ms, Twilite Orchestra, and 'Woman's Head' -__-

Addie Ms, Twilite Orchestra, and Woman’s Head

Denah

Denah

Pujian di awal untuk konser ini, karena mereka sangat tepat waktu. Pintu aula dibuka tepat pukul 19.30, dan konser benar-benar dimulai pukul 20.00. Jadi kalau ada yang terlambat, harus menunggu sampai lagu selesai dimainkan, dan tentu saja alat komunikasi dan alat perekam lainnya tidak diperbolehkan saat konser berlangsung.

Lampu langsung diredupkan begitu om ‘Chiaki’ Addie Ms akan memasuki panggung orchestra, dan mereka memulai lagu pertama, yang sangat ditunggu-tunggu dan sudah  sering gue dengar sebelumnya, Russlan & Ludmilla Overture by Mikhail Ivanovich Glinka membuat jari tangan gue otomatis ikut bergerak-gerak mengikuti lagunya. Indah sekali permainan mereka.

Bagi pecinta dan penari ballet, pasti tidak asing dengan lagu kedua yaitu Waltz of the Flowers from “The Nutcracker” suite op. 71a by Peter Tchaikovsky. Sao2 gue yang kebetulan seorang dokter gigi merangkap balerina, dia senang sekali dan berkomentar “De, aku pernah ballet pake lagu ini, jadi paling ga asing dengernya. Hehe…” Dan sekali lagi, Twilite Orchestra membawakanya dengan luar biasa cantik.

Yang membuat gue kembali menganga adalah duet piano dan biola dalam Violin Sonata No.5 in F+ Op.24 “Spring” dari Beethoven. Ini adalah salah satu lagu yang gue harapkan dimainkan pada Cantabile I namun tidak terkabulkan, dan baru dimainkan pada Cantabile 2 ini. Makanya gue seneng bangetttt… Oh iya, duet yg indah ini dimainkan oleh Michelle Siswanto (Violin) dan Felisitas Nesca Alma (Piano), permainan mereka begitu menyatu dan emosinya terasa sangat pas, tanpa ada yang lebih menonjol karena keduanya sama-sama bagus.

Nah, ini dia yang ditunggu-tunggu…‘Nodame’ kita telah hadir. Siapa lagi kalau bukan Miss Kazuha Nakahara, orang Jepang yang memainkan Rhapsody in Blue nya Gershwin pada Cantabile I yang lalu. Beliau adalah dosen musik di Universitas Pelita Harapan. Begitu beliau memasuki panggung, tepukan mengalir cukup lama, padahal main aja belom, sampe di suwitin segala, apalagi di bagian penonton pelajar, pasti banyak juga mahasiswa nya miss Kazuha yang hadir dalam acara ini. Hmmm gue termasuk salah satu orang yang ikutan tepuk tangan lama tersebut, soalnya kelihaian beliau memang tidak diragukan lagi. Miss Kazuha memainkan Piano Concerto in G Major Part I, II, and III -nya Maurice Ravel, dan gue menamai permainan beliau dengan sebutan “jurus bayang-bayang” hahaha… serius, tangannya lincah sekali sampe ga keliatan itu tuts nya beneran disentuh atau kaga :p Beliau memainkannya juga sambil merem-merem dan kadang tersenyum ke arah orchestra. Luar biasa… You are amazing, Ms Kazuha 🙂
Oh iya, ada cerita lucu nih, jadi pas Ms Kazuha main, kayaknya semua penonton menahan napas (dan menahan batuk) deh, soalnya ketika ada jeda antara part II dan III, penonton banyak yang batuk-batuk selama beberapa detik dan seperti bersahut-sahutan dr ujung ruangan ke ujung lainnya, Sampe ada beberapa orang yang tertawa menyadari hal ini, termasuk kami berempat. Hahaha… Setelah suasana tenang kembali, baru part III dimulai.

Setelah waktu Intermission sekitar 15 menit, kami kembali ke bangku masing-masing dan mempersiapkan diri untuk mendengarkan lagu terakhir yaitu Symphony No. 9 in E Minor Op.95 “From The New World” part I, II, III, IV -nya Dvorak, keseluruhan lagu ini dimainkan sekitar 30 menit, dan diakhiri dengan megah dan cantik.

Tepuk tangan para penonton tidak habis-habisnya, disertai dengan standing ovation untuk Twilite Orchestra. Kami, terutama gue sangat mengharapkan akan adanya encore dan dimainkan kembali Russlan & Ludmilla Overture, seperti yang mereka lakukan pada Cantabile I dimana Om Addie Ms memberi kejutan dengan kembali ke panggung dan memainkan Romeo&Juliet Suite No.2 (Prokoviev). Namun hal itu tidak terjadi, karena konser benar-benar telah usai dan para pemain perlahan-lahan meninggalkan panggung dan ada beberapa penonton yang naik ke panggung untuk berfoto.

Baiklah, nampaknya kami pun harus lekas turun dari balkon, karena malam semakin larut. Tidak ada foto-foto lagi, karena kami memutuskan langsung jalan untuk cari makan, ya, makanan kami sebelum konser tidak bertahan sampai malam. Hehe… Akhirnya, Bubur Mangga Besar pun menjadi tempat pelampiasan kelaparan kami berempat.

Jika boleh menilai dan memuji, gue mau kasih bintang 5 ^.^ Semoga tiket konser berikutnya bisa sesuai dengan budget calon penonton, sehingga tidak merogoh kantong lebih dalam. Dannn semoga semakin banyak apresiasi dan dukungan dari berbagai pihak untuk kemajuan seni di Indonesia. Bukankah, semakin banyak sponsor maka semakin baik? Hehehe…

Good Job, Twilite Orchestra!!

Gyaboooooo

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Her Daily News, Listen and Enjoy. Bookmark the permalink.

8 Responses to CANTABILE 2: From Manga to the Real Concert Hall

  1. dr. Miki says:

    Serius deh gue ngiler pas baca ne entri, asli kejam bener; cuman dalam 3 jem semua tiket pelajar habis terjual! Emang gak jodoh ama konser yang satu ini, haduhhh! Pingin banget mendengarkan konser di concert hall sungguhan, nggak di tempat jadi2an lantaran Jakarta kagak ada fasilitas buat menampilkan musik2 semacam ini kecuali mall-nya yang makin lama makin buanyaaaakkk!!!

    Moga2 pas konser ketiga bisa dapet tiket, dan gue harap lo juga mau ikutan yaaa… 😀

  2. Dona says:

    setuju banget pas Piano Concerto in G emang pada nahan napas. Saking~~~~ kerennya ^^

  3. Stephanie says:

    tien tien.. gw baca post u ampe nahan napas jg nih hahaha apalg ntn langsung ya.. >.<
    btw tempatnya bagusss yah.. yg foto di web itu, fotografernya emang top sih haha.. kaya di LN.. ga nyangka di Indo tepatnya di Kemayoran ada aula sebagus itu.. jd pgn merit disana.. ahahaha.. :p

    thanks for ur nice post ^^

    • neitneit says:

      Hahaha… iya tepi gue kagum banget sama ruangannya 😀 btw,itu yg punya Pdt Stephen Tong kan? wuidihhh ada yg uda ancang2 mo merit di sana nih:))

  4. Stephanie says:

    entah tien sapa yg punya hihihi.. iya kalo ada budget bole jg sih hahaha.. tp calonnya belom ada gimana dong wkwkwk xD
    ahh gw demen post u tien.. walau gw ga demen classic, tp gw suka penulisan u ahaha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s