Antara Jarak, Waktu, dan Perasaan

Jakarta. Ibukota yang sudah menyatu di diri gue sejak lahir. Kota kelahiran yang menggoreskan banyak kenangan dari gue kecil sampai besar (dalam arti berat badan dewasa).

Jakarta, yang membuat gue dan saudara-saudara mendapatkan julukan anak-kota. Namun apakah besar di Jakarta membuat gue menjadi anak kota yang notabene berpakaian keren, sering bergaul di kelab malam, dan gawol…? Nampaknya tidak begitu. Gue adalah anak kota yang tidak ngota. Pakaian gue tidak keren (gue tidak fashionable, dan hanya berpakaian apa yang nyaman), gue tidak suka berdandan (kecuali jika diwajibkan untuk kondangan), gue belum pernah (catat: belum pernah) sekalipun menginjakkan kaki berukuran 38 ini di club-club tempat anak gaol berkumpul dan clubbing, kecuali ngafe. Sebut aku naif, sebut aku idealis, sebut aku tidak gaol, sebut aku bukan anak Jakarta (memang bukan! Gue anak Mama Papa). Tidak tidak tidak, gue tidak ingin membahas Jakarta dengan seluk beluk dunia malamnya.

Jakarta yang gue kenal sejak kecil adalah kota besar, dengan tingkat keamanan lumayan baik, setidaknya pada saat gue masih naif dan lugu waktu itu. Sampai pada saat gue mulai banyak mengerti tentang bahaya di kota ini, dan berita-berita di televisi yang membuat gue mengernyitkan jidat dan bergidik ngeri, seperti kisah pembunuhan, kecelakaan maut, perampokan, pencurian, hipnotis, dan sebagainya, membuat gue benar-benar harus waspada, dan orangtua menjadi lebih protektif terhadap anak-anaknya. Gue yakin bukan gue doank yang mendaptkan wanti-wanti dari orangtuanya tentang harus hati-hati dan tidak percaya pada siapapun orang yang baru kita kenal. Ini adalah salah satu sisi negatif media sekarang ini, kebanyakan berita kriminalnya sehingga meresahkan sebagian masyarakat. Tidak tidak tidak, gue juga tidak ingin membahas Jakarta dengan tingkat kriminalitasnya.

Gue ingin membahas Jakarta, dengan Lalu Lintasnya (baca: jalanan). Dunia gemerlap, dan kriminalitas, dapat juga kita jumpai di daerah lain di Indonesia, tapi untuk Lalu Lintas? Gue rasa tidak.

Seperti yang kita semua tahu, kota ini terlalu padat kendaraan (dari yang kecil sampai ukuran bagong). Entah pemerintahnya kurang tegas, entah masyarakatnya yang konsumtif, entah keamanan tidak terjamin sehingga masyarakat lebih memilih berkendaraan pribadi. Pokoknya, pertumbuhan kendaraan di kota Jakarta tidak sebanding dengan luas kota Jakarta yang tersedia. Sehingga, ya, Kemacetan menjadi masalah utama di kota ini. (Lupakan masalah Banjir untuk sejenak). Gue tidak bisa membayangkan prediksi pemerintah yang mengatakan bahwa beberapa tahun lagi, ketika kita keluar rumah, akan langsung bertemu dengan kemacetan. Sekarang aja sudah agak begitu, bagaimana 2-3 tahun lagi?

Jika kita membahas skill berkendara di Jakarta, gue akan mengaku sebagai Anak Jakarta! Ahaa…mengapa tidak? Gue dan rekan seJakarta lainnya, sudah dilatih kesabarannya sedemikian rupa di ibukota ini. Sudah pula dilatih skill dari bersepeda, bermotor, dan beroda4, maupun beroda8. Prinsip berkendara di Jekarde adalah ‘Yang Kuat Akan Bertahan’. Niat kita baik, mengalah supaya kendaraan lain bisa lewat, malah disalah-gunakan, kendaraan-kendaraan lain yang dibelakangnya ikut serta lewat sampe berpuluh-puluh kendaraan banyaknya. Jadi ketika gue ‘ngalah’, nampaknya akan menjadi ‘kalah’. Rrrr…

Untungnya, gue menyerap hal positif dari hal ini, selain berlatih kesabaran, yaitu lebih baik ngalah dan kalah untuk sesaat, daripada kendaraan kita yang terancam. Iya, kita memang harus berpikir seperti orang Jawa ‘untungnya…untungnya…untungnya…’ selalulah berpikir positif, kawan 🙂

Gue kasih sedikit formula untuk kota ini, yaitu:

Waktu Tempuh = Kilometer + (Jam Pulang Kantor x 1meter/3menit)

Artinya, waktu tempuh di kota ini, tidak lagi tergantung dari jarak antara tempat awal ke tempat tujuan, tapi juga dipengaruhi oleh faktor Jam-pulang-kantor yang biasanya dimulai pada pukul 4sore – 7malam, dan di saat-saat ini, jangan terlalu berharap bahwa jalanan akan lancar seperti arena balap, karena bisa berkecepatan 40km/jam saja sudah bersyukur.

Seperti pengalaman gue kemarin sore. Sesuatu yang benar-benar bikin gue mengurut dada, perjalanan dari kantor BSD sampai rumah Greenville, biasanya bisa gue lalui dalam waktu 50 menit, tapi kemarin, cukup dilalui dalam waktu Dua jam saja (memang tidak seberapa, tapi tetep aja waktu!). Ouchh… Yang bikin kesel itu, dari BSD sampai pintu tol kebon jeruk hanya butuh waktu 30 menit, sisanya? Terbuang begitu saja di Pintu keluar tol Kebon Jeruk selama 1jam 15 menit! Padahal biasanya, disitu kita hanya butuh waktu 5-10 menit untuk melalui kemacetannya. Macetnya ya gara-gara tidak ada yang mau ngalah, giliran ada yang sok-sok ngalah (baca: gue), malah dimanfaatkan orang lain dengan terus menerus berjalan sehingga menghalangi kendaraan gue untuk bergerak, terjepit diantara motor di depan dan mobil dibelakang dan samping kanan. Perempatan paling absurd. Memang sungguh luar biasa, karena setelah berhasil keluar tol, masih ditunggu oleh kemacetan di Jalan Panjang Kedoya. Oh My God. Entah ada si Komo atau teman-temannya si Komo, jalanan bener-bener kacau, bikin emosi, dan…. sampai sabar lagi. Dan hal tersebut telah merubah mood gue menjadi Bete, sensitif, dan ngantuk. -__-

Ini gue, yang di dalam kendaraan bisa ditemani oleh alunan piano lembut Yiruma dan radio anak muda ‘suara musik terkini’. Sampai terbosan-bosan gue dijalanan, akhirnya mengalihkan pandangan, memperhatikan mereka yang membatalkan puasanya dengan sebotol air mineral dan gorengan, di gerobak pinggir pintu tol, sempat memperhatikan para pejalan kaki yang harus pintar-pintar mencari celah di antara kendaraan agar dia bisa lewat, juga memperhatikan ibu-ibu yang hampir ditabok sama pintu bus umum yang gede itu, karena si abang pembuka pintu tidak melihat ada ibu-ibu didepan pintunya, sempat juga melihat beberapa anak kecil (pengamen) yang meneriaki temannya di ujung jalan dengan kata-kata “ehhh bego luuu..”, entah begitukah ajaran yang mereka dapat di sana? 1 jam 15 menit di depan pintu tol kemarin cukup membuat gue berpikir, kemacetan yang gue hadapi ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka yang harus berjuang di jalanan ibukota untuk sampai ke rumahnya masing-masing, dan anak-anak kecil yang ternyata tidak terpelihara oleh negara, sebagaimana kita ingat dalam UUD’45 pasal 34, karena pemerintah kita lagi sibuk sama urusan Paspor nya Udin-Udin…ups ga nyambung.

Yah, sekacau apapun, tidak akan menyurutkan rasa sayang gue sama tempat kelahiran gue ini.

I Heart You, Dear Jakarta.

Maaf bin maaf jika postingan kali ini sangat menyudutkan Jakarta. Sekali lagi, ini hanyalah ajang curhat.

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Her Daily News, In Her Mind. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s