Uang Bukan Segalanya, Tapi…

Gue sering mendengar istilah ini:

Uang bukan segalanya, tapi tanpa uang segalanya bisa jadi sulit.

Ini bener banget. Uang tidak bisa membeli kebahagiaan, tapi apakah kebahagiaan bisa membeli seluruh kebutuhan hidup kita?

Akhir-akhir ini gue membayangkan kehidupan salah satu orang kantor. Dia berumur sama seperti gue, kelahiran tahun 1985. Dan disaat gue masih culun-culun begini, dia sudah memiliki 6 orang anak. Hooo?! Enam? Dan anaknya yang terakhir baru berumur beberapa bulan. Gue pernah tanya, beda umur anak-anaknya berapa jauh? Dia bilang setahun-setahun. Oh no…jadi setiap tahun wanita ini melahirkan? Mungkin kalau yang lahir sebelum tahun 60an, wajar punya anak 8, 9, 10 bahkan 12. Namun di tahun-tahun sekarang ini, banyak orang lebih memilih ber-Keluarga Berencana saja seperti yang dianjurkan pemerintah kita tercintah..demi apa? Selain karena penduduk negara ini sudah terlalu banyak, juga karena apa-apa sekarang mahal, cingg… Biaya persalinan, susu anak, biaya sekolah, perlengkapan rumah tangga, biaya pengobatan, bahkan Cabai biarpun sudah turun lagi layaknya pasar saham yang naik turun (yang terakhir ini, #curcol).

Namun sejauh mata gue memandang, kehidupan mereka sepertinya bahagia, kalau gue lihat foto-fotonya di komputer, dan suaminya selalu antar jemput bahkan kadang anterin makan siangnya. Yah, bahagia, meskipun seringkali mereka terbentur biaya ini itu dan terpaksa kasbon dulu sama kantor. Apakah penghasilannya dan suami tidak mencukupi semuanya? Entahlah. Gue ga tau apa pekerjaan suaminya sekarang setelah diputus kontraknya dengan perusahaan lain karena masalah UUM (Ujung-Ujungnya Money), dan gue rasa gak etis juga untuk bertanya.

Sekali lagi gue membayangkan, sejauh apa kantor tempatnya bekerja bisa memberikan bantuan pada keluarga besar ini, sementara kontribusinya pada kantor belum bisa diperlihatkan dengan maksimal, secara dia baru bekerja belum genap 3 bulan. Seperti yang kita tahu, 3 bulan pertama adalah masa percobaan setiap kantor untuk para karyawan barunya, apakah dilanjutkan atau dihentikan kerjasama ini. Karena, jika dia diberhentikan karena sudah sering kasbon sama kantor dan pada saat gajian, dia menolak untuk dipotong gajinya atas kasbon tersebut, maka dia harus mencari pekerjaan baru lagi (kita tentu tahu cari kerja sekarang ini sulit).

Memang benar kan, uang bukan bukan segalanya. Namun segalanya bisa jadi sulit karena keterbatasan itu 😦

Jadi, apakah langkah yang terbaik untuk Karyawan ini dan Perusahaan tersebut?

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in In Her Mind. Bookmark the permalink.

2 Responses to Uang Bukan Segalanya, Tapi…

  1. adi_ida says:

    wahhhh susah jg, klo dilihat dari kaca mata profesionalitas harusnya gak di permanen, tp klo di lihat dari kaca mata kemanusiaan kasian jg klo gak di permanen. Solusi tepatnya dari pada kas bon2, mending kasi pinjeman dengan skedul yang pasti dan kasi tau ke dia kalo harus potong gaji, kerja dmana pun klo minjemduit resikonya gt kan hehe =)

  2. neitneit says:

    Iya di, bingung juga kan. Disisi lain kasihan juga liat kebutuhan keluarganya, tapi apa daya ketika dia selalu mengulur2 untuk dipotong gajinya dengan berbagai alasan, yang ada nanti kinerja nya pun tidak maksimal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s