Meet the Police Again and Again…

Nampaknya Sabtu kemarin bukanlah hari yang baik buat gue…setidaknya, ulah ini disebabkan oleh kelalaian dan kebandelan sendiri…

Menilik kembali kisah romantis gue bersama jalanan busway yang berujung jumpa Polisi Lalu Lintas, ternyata gue masih belum kapok melalui jalur busway, di tempat yang berbeda tentunya. Kalau di tempat yang kemarin sudah gue tanamkan baik-baik dalam benak ini agar berhati-hati untuk tidak memutarkan roda mobil di jalur itu selagi tidak ada polisi yang mengijinkannya.

Kali ini, kisah romantis gue terjadi di jalur busway turunan Jembatan Dua yang arah ke Season City. Seperti biasa, gue pulang kerja dari daerah Pantai Indah Kapuk, melalui jalan yang sama setiap kali dari daerah sana. Masalahnya, jalanan kala itu muacetnyaaa yaa demi apa coba, dari PIK sampe Pluit gue butuh waktu 1,5 jam. Sesuatu banget kan? Emang hidup di Jakarta habis di jalan. Jadi berhubung gue ada janji dengan customer, harus cepat-cepat sampai di rumah, jalur busway adalah alternaif yang menggiurkan.

Emang gue akui, gue salah, karena kaga ada yang lewat jalur busway dan hanya gue seorang yang bernyali lewat situ. Bhahaha… Nyali besar berujung sial. Biasanya jalur itu jaraaaang dijaga oleh Pak Polisi, jika kebetulan dijaga pun, kebetulan pula gue tidak melewati busway. Dan Sabtu kemarin betul-betul Not My Day. Ketika gue siap-siap puter balik (mau ke arah jelambar), ada dia yang berseragam coklat rompi hijau terang, tiba-tiba nongol dari tengah jalan menuju jalur busway demi menghentikan mobil gue. Yeah…niat banget memang. “Wah, jodoh emang gak kemana”, dalam hati gue.

Pak Polisi: Ibu, sudah tahu kan ini jalur busway. Harusnya jangan lewat sini dong bu.

Si Malang: Maaf Pak, saya buru-buru banget mau ke dokter. Lihat nih mata saya merah. (Emang bener mata gue lagi merah).

Pak Polisi: Denger ya bu, mau AMBULANCE kek yang lewat sini, tetap akan saya tilang kok.

Si Malang: (Dalam hati) Nyawa orang lu berani tanggung jawab?

Pak Polisi: Saya tilang, ibu ambil SIM nya di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, hari Jumat.

Si Malang: Yaah pak, kelamaan kalo nunggu sampe Jumat.

Pak Polisi: Ya sudah, langsung saja saya denda 500ribu. Ini ada kok pasal-pasalnya.

Si Malang: Mahal banget pak. Kebetulan dompet saya lg ga bawa uang sama sekali (cuma ada 2 ribuan). Emangnya bapak dapat komisi berapa biasanya?

Pak Polisi: Komisi saya ya 50%nya lah.

Si Malang: 250rb?? Enak banget sih pak. Bagi 2 sama saya aja.

Pak Polisi: 125rb? Makin sedikit aja komisi saya. (sempat kepikiran mau tawarin dia isi Pulsa gratis, tapi baru inget, prepaid gue juga lagi kosong)!

Si Malang: Ya udah kalo ga mau, tilang aja deh. Oh iya, nama bapak siapa? Sini dulu STNK saya!

Pak Polisi: Hendri. Hendri. Nih! (Balikin STNK dengan kasar ke telapak tangan gue). Ya udah deh kamu ke ATM dulu ambil duitnya, Saya tunggu disini. Nanti Lewat Jalur Busway Lagi ya.

Si Malang: Bener ya, saya kembali bapak jangan kemana-mana. *kesel*

——–Selang 30 menit——–

Bener-bener NOt My Day….gue berhenti di Pom Bensin sekalian isi bensin dan ambil duit di ATM seadanya. Rencananya mau kasih si Pak Polisi ya seadanya aja, bukan 125ribu seperti percakapan di awal. 30 menit waktu terbuang hanya karena kesalahan bodoh gue, maunya cepat sampai rumah, malah jadi makin lama. Ehhh polisinya udah kaga ada loh waktu gue balik dari ATM, sampe muter 2 kali berharap si polisi itu ada lagi. Kaga ada juga. Mikir, jangan-jangan dia polisi gadungan. *mulai bingung* Waduhhh SIM gue masih di dia… Kaga ada nomer HP bapaknya, kaga tau dia dari kepolisian daerah mana. Untung gue sempat nanya namanya.

Gue menceritakan kejadian ini sama keluarga gue, dan sang Pacar. Semuanya mengomentari gue “Makanyaaaa dompet itu dibiasakan isi duit buat jaga-jaga!!” Hikss hikss… iya, gue ceroboh sekaliiii -__-” *Pelajaran hari ini: Isilah dompetmu, jangan sampe kosong melompong.*

Keesokannya, hari Minggu. Sang pacar temenin gue keliling untuk mencari polisi yang membawa kabur SIM gue itu, dimulai dari pos polisi di depan Citraland Mall. Katanya mereka hanya menjaga di daerah situ aja, ga sampe ke jembatan dua. Oke. Kami cabut berpindah ke pos polisi yang ada di bawah Jembatan Dua, tapi tidak ada orang sama sekali. Akhirnya kami memutuskan bertanya ke Polsek Jembatan Besi. Posisinya tepat di seberang tempat gue ketemu Pak Polisi Hendri. Tapi kata polisi yang di polsek jembatan besi tersebut, tidak ada polisi lalu lintas yang bernama Hendri dan berciri-ciri seperti yang gue gambarkan. Kemudian beliau menganjurkan kami untuk ke Pos polisi yang di perempatan gede Tomang. Pencarian kami berhenti di sini. Ketika ada 1 orang polisi berinisial K, bersedia membantu kami mencari Polisi Hendri ini, bermodalkan telepon Esianya, beliau menghubungi teman-temannya sesama polisi. Namun hari itu tetap tidak berhasil menemukannya. Akhirnya kami meninggalkan nomor telepon dan nama SIM yang disita itu.

Hari Senin, sang Pacar kembali menghubungi Pak polisi K untuk menanyakan hasilnya, tapi ternyata hari itu beliau sedang ada urusan lain sehingga tidak sempat mencari pak Hendri. Baru Selasa siang, pak K menghubungi pacar dan mengatakan bahwa sudah ketemu sama Pak Hendri, dan segera datang ke Pos Polisi Tomang untuk menebusnya. Kebetulan pos polisi itu dekat dengan kantornya pacar, jadi langsung meluncur dan segera menebus SIM gue yang malang itu. Akhirnya SIM gue kembali lagi… Berapa kami bayarnya? Tidak perlu gue tulis disini, yang pasti cukup lah untuk membeli PULSA sebulan.

Huahhh…repot ya kalo udah urusannya sama polisi dan tilang menilang…pake acara SIM gue dibawa kabur segala. Apakah gue kapok lewat jalur busway? Oh…entahlah… Sebetulnya, gue lebih rela kalo gue langsung menebusnya ke kas negara. Tapi, kalo harus sampai 500ribu?? Tentunya gue mengkaji lagi dan lagi…500ribu adalah angka yang sangat besar, mengingat biaya hidup di Jakarta demikian besarnya.

Jadi, kali ini, karena ini memang kesalahan gue (disebut ‘Salah’ hanya karena tertera di UU/Peraturan/Pasal-Pasal kan?), ya sudahlah, relakan duitnya buat siapa saja. Hanya doa gue buat polisi-polisi di Indonesia…janganlah lemah hati terhadap uang, dan tentunya terhadap masyarakat seperti gue. Kalian harusnya dengan tegas mengatakan “Maaf Bu, kami menolak pemberian ibu. Silakan ibu setor langsung ke kas negara.” Nah, biarpun gue salah, tentu gue akan lebih respek terhadap polisi-polisi, dan akan lebih ‘takut’ untuk melanggar lalu lintas. Tapi, selama 26 tahun ini gue hidup di Indonesia, belum pernah bertemu polisi yang seperti itu, jadi yah…gitu deh.

Lucunya lagi, pas sang pacar lagi ketemu pak polisi ini untuk nebus SIM gue, si Pak Hendri sempet-sempetnya nanya ‘kamu udah nikah blum?’, dijawab belum kan sama si pacar. Lalu dibilang lagi, ‘kalau nanti pas hari pernikahan butuh pengawalan dari polisi, bisa hubungi saya.’. Yah pokoknya begitulah intinya…eaaa tetep ya nyari job…

Hummphhh….

Finally I got back my driving license… Special thanks to my Dear… ^^

 

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in In Her Mind, Uncategorized. Bookmark the permalink.

5 Responses to Meet the Police Again and Again…

  1. adi says:

    asllliiiiiii ngakak baca yang terakhir, tetep nawarin job, tukeran no HP gak tuch tin hehehe

  2. neitneit says:

    hahaha…gue ada nomer telponnya, tapi bukan si Pak Hendri, melainkan si Pak ‘K’ yang membantu gue nyari Pak Hendri… mau minta pengawalan ya di?? eaaaa :p

  3. adi says:

    hahhaaa siapa tauuu, kapan2 butuh hehe boleh donk hihihiii…

  4. Ing Marina says:

    yaoloooo… Suka aja post elo yg ini….
    kesempatan.com banget..
    Ahaayy..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s