Buka Mata, Buka Hati, Buka Mata Hati.

AIDS: Acquired Immune Deficiency Syndrome, HIV: Human Immunodeficiency Virus, ODHA: Orang Dengan HIV/AIDS.

Sebagai masyarakat modern yang banyak ditemani internet, teknologi canggih, dan membawa bendera google dalam setiap aktivitas mencari informasi, siapa sih yang ga tahu tentang HIV/AIDS? Penyakit yang mengganggu kekebalan tubuh seseorang, dan dapat berbahaya bagi keselamatannya apabila tidak menjaga kondisi badan dengan sangattttt baik.

Namun sayangnya, ternyata masih ada saja orang-orang yang menganggap ODHA adalah golongan orang yang harus dijauhi. Apakah mereka tidak pernah mendapatkan materi tersebut di sekolah? Apakah mereka tidak pernah membaca artikel di koran dan majalah tentang AIDS? Apakah tidak cukup setiap tanggal 1 Desember kita memperingati hari AIDS sedunia? Untuk apa ada hari peringatannya? Tentu saja, selain untuk memberikan wawasan dan menumbuhkan kesadaran atas bahaya yang dapat disebabkan oleh virus ini, juga  salah satunya untuk memberitahu masyarakat dan dunia bahwa orang-orang yang memiliki HIV dalam tubuhnya tidak perlu dijauhi, malah kita harus menerimanya dengan baik, dengan normal, karena mereka bagian dari masyarakat ini.

Saudara saudari yang budiman, tentunya kita semua tahu bahwa virus HIV dapat menular melalui:

– Darah (Contoh: transfusi, bertukar jarum suntik, jarum suntik narkoba…)

– Cairan Kelamin (Contoh: berhubungan intim berganti-ganti pasangan —> Tidak ada yang tahu apakah orang tersebut mengidap HIV atau tidak)

– Bayi dalam kandungan ibu yang mengidap HIV, namun kini presentasenya tertularnya bisa diperkecil.

Yah, kira-kira begitulah yang kita semua tahu selama ini, jadi HIV/AIDS tidak menular melalui Berjabat tangan, ngobrol asik, maupun berpelukan. Karena mereka tidak menyebar melalui Udara, dan virus ini juga mati jika berada di luar tubuh.

Jadi, kenapalah orangtua murid Don Bosco tersebut takut jika anak-anaknya tertular HIV? Toh mereka anak SD yang dalam pergaulannya hanya sebatas jabatan tangan, bergandengan tangan, dan ngobrol-ngobrol asik. Ga ada donk itu yang namanya tuker-tukeran jarum suntik, maupun seks bebas! Jadi kenapa orangtua murid itu harus TAKUT dan menolak seorang siswi, hanya karena siswi tersebut memiliki orangtua mengidap HIV? Ini agak tidak masuk akal menurut saya. Sama sekali kacau cara pikir dan pandangan itu.

Ada lagi komentar aneh yang saya baca di twitter dan membuat saya berpikir berulang-ulang tentang apa hubungannya penyakit AIDS dan CACAR! Ini saya atau dia yang lagi  mabok?! Pengen ketawa jadinya.

Akun twitter @dtagracia, suatu hari mention ke @fajarjasmin yang merupakan ayah dari siswi yang ditolak tersebut. Ibu Gracia Anindita ini mengatakan dengan sinisnya kepada Pak Fajar: (saya tidak kenal Gracia maupun Pak Fajar, tetapi saya tahu mana yang perlu dibinasakan. Hahaha *tertawa sinis*)

“Gak usah HIV, Anak kena cacar aja orangtua lain takut anaknya ketularan. U’re just too much.”

See?? Apa hubungannya HIV sama Cacar, neng? CACAR itu maksudnya ‘paCAr-paCARan’ ya? Iya, kalau anaknya ketularan main pacar-pacaran sih semua orangtua pasti khawatir -__-” Tapi kalau maksud gracia ini Cacar sejenis Cacar Air yang menular lewat udara sih, jelas BEDA lah non… Cacar itu menular melalui udara, jelas-jelas mudah menular, ngobrol jarak deket aja besoknya bisa numbuh bintik-bintik cacar. Lah HIV?? Situ mau berpelukan kayak boneka Teletubbies juga kagak bakalan nular. Makanya gak heran kalau orang lagi terkena cacar selalu diisolasi, dipingit, diumpetin, supaya gak menular ke orang lain. Lah, orang yang mengidap HIV kan gak usah dipingit segala…

Jadi menurut saya, yang seharusnya jangan ‘too much’ tuh ya masyarakatnya. Tindakan Pak Fajar adalah tindakan yang wajar, apalagi ini menyangkut pendidikan anaknya, yang dibatasi hanya karena orangtuanya mengidap HIV.

Saya tidak mengenal Pak Fajar, juga siapapun dalam kasus ini, saya hanya melihat dari sudut pandang masyarakat awam, yang ‘sedikit tahu’ tentang HIV/AIDS, yang sedikit tahu tentang empati dan simpati, dan sedikit tahu bahwa orangtua akan selalu memperjuangkan hak anaknya, terutama dalam pendidikan.

Maju terus, Pak Fajar!

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Her Daily News, In Her Mind. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s