[Behind The Scene]: 7th Global Conference on Buddhism by JLawren ~ Part 1

Hai!! Postingan kali ini adalah hasil curhat review teman saya, Jeremy Lawrence di acara 7thGCB tanggal 10-11 Desember yang lalu. Ini adalah sedikit cerita di balik layar versi Mr. J. Enjoy!
Oh iya, ini semua murni hasil tulisannya, dan jika ditemukan tanda “–>” dan huruf berwarna-selain-hitam, bisa dipastikan itu adalah tanggapan saya atas tulisan Jeremy. Thank you… 🙂 *Senangnya ada penulis tamu di blog saya…*
Kita mulai yuk!

“Langkah yang paling sulit adalah saat memulai.
ketika sampai, lihatlah kembali seberapa jauh kita telah pergi.
Karena sebenarnya kisah perjalanan paling indah adalah ketika kita sedang berjalan.”

Prolog

Sekitar 2-3 minggu yang lalu, anak-anak Vihara Theravada Buddha Sasana membuka undangan untuk menjadi usher di acara 7th Global Conference on Buddishm (selanjutnya kita sebut 7thGCB). Sebenarnya saya tidak tahu apa itu 7thGCB, kapan dan dimana acara itu akan di laksanakan. Karena saya orang yang sangat ‘Sibuk’ maka saya mau dong jadi volunteer untuk acara gede dan mungkin “Keren”, dengan harapan semua teman-teman vihara akan ikut.

Setelah selang  1 minggu, kemudian ada rapat untuk usher di vihara. Sebenernya saya berharap kenal semua, tapi ketika masuk ternyata kebanyakan yang rapat adalah anggota dari Buddist Fellowsip Indonesia (BFI)/ Buddhist Fellowship Indonesia – Executive (BFI/BFI-E). Which is ga kenal semua, cuma ada tiga atau lima anak dari pemuda, dan rapatnya agak ‘rusuh’ karena debat melulu. Hahaha.

Lalu untuk beberapa minggu kedepan, saya tidak ngapa-ngapain kecuali nongkrong di vihara, berusaha untuk ‘menyibukan’ diri, sambil revisi website pertama saya www.buddhistreborn.org, dan jadi ‘unoffcial’ dokumenter team yang sedang latihan Tari Saman di vihara (merangkap ‘unofficial’ manager, ‘unofficial’ technical support, ‘unofficial’ konsumsi). Pokoknya saya serba ‘unofficial’ banget deh. hahaha…

Tiba-tiba ketika sedang rapat acara di villa Sunter, Sabtu 3 Desember 2011, om Yusuf , Michael Surya dan Erick Nes merekurt saya dari usher ke bagian Security. Yah, bertambah berat lha tugas saya dari modal ‘senyum’ ke ‘tukang pukul’. Which is sama-sama ga tau kedua bagian itu tugasnya apa. Yak, setelah itu saya official  mendeklarasikan diri saya menjadi ‘Jeremy the Security’!  –> Hmm cocok beud Jer….

Kemudian waktupun cepat berlalu, kali ini saya mendapat SMS untuk briefing usher dan security pada hari Minggu, 4 Desember 2011 – dan – ketika saya sampai di vihara, bertemu lah saya dengan nasib perubahan jabatan untuk ke dua kalinya. Saya bertemu ko Arya Vandana – koordinator acara dengan nama kerennya ‘Show Director’ saya direkrut untuk masuk ke teamnya. Sebagai bagian ‘IT’ – lha saya langsung panik ketika tahu bagian IT’nya hanya sendiri! – dan untuk ketiga kalinya saya ga tau job-descnya apa.

Friday, 9 December 2011 – H-1

Waktu pun berlalu kembali, kali ini sudah H-1, cepat sekali. Nah, di sini serunya cerita di mulai. Pertama, sebelum ini ko Arya menawarkan untuk nginep di rumahnya karena bakal pulang malem tapi gak di kasih sama mama, karena sudah kebanyakan nginep, “Emangnya ga punya rumah! Udah pulang malem ajah, ntar di bukain, kalau berangkat pagi juga ntar di bukain” – gitulah kira-kira kata-kata mama, dengan catatan saat itu ga tau pulang jam berapa, berangkat jam berapa. –> 非常虔诚的儿子。。。

Saya ijin dari kantor jam 16.30 dengan alasan gladi resik. Lalu pulang ke rumah untuk ganti baju dan siap-siap sebelum jalan ke Vihara, meeting point kami. Sesuai janji, saya sampai di vihara tepat jam 17.30 untuk ikut dengan Erika Kamaria ke balai Kartini bersama Team Saman. Setelah menunggu kira-kira 30-40 menit akhirnya saya berangkat jam 18.00 sama “Silvi” (nama Yaris silver milik Erika). Dengan personil Erika sebagai pilot, saya sebagai co-pilot, dan tiga penari sekaligus penumpang Jacinda, Liana, dan Jesica Celia. Awalnya sih, saya merasa seneng – siapa sih yang ga seneng satu mobil cowo sendiri di kelilingi 4 bidadari cantik. Hahaha…. –> -__-” dasar lelaki…

Ternyata selama perjalanan, ilmu social engineering saya memang belum lulus quality control. Hampir 1 jam saya cuma ngobrol sama Erika doang yang notabene sudah kenal dari jaman dahulu kala.. dan tiga bidadari di belakang tidur semua kecuali Jacinda yang tetap ‘Online’ di BBM-nya. Kemudian, karena Jakarta kota yang sangat indah dan hari itu adalah Jumat, maka orang-orang sangat menikmati “MACET”nya jalanan ibukota – termasuk kita! Selang 1 jam, akhirnya 3 bidadari di belakang mulai terbangun dari beauty sleeping dan akhirnya kitapun bisa ngobrol dan foto-foto. Harap maklum, saya kan sudah bilang ‘unofficial’ dokumenter, jadi di mobil pun harus didokumentasikan.

Di dalam 'Silvi'

Di dalam 'Silvi'

Karena macetnya ibukota Jakarta tercinta, kita memerlukan waktu 2 jam untuk sampai Balai Kartini. Pukul 20.00 akhirnya semua tim saman sampai! Di sana sudah ada ko Arya dan tim acara – Desy Mariani dan Jessica Arsianti aka ‘Sisi’ – saya pun langsung duduk dan makan, sesuai ekspektasi, pasti disediain makanan. Hahaha..

Tim acara kemudian mulai mempersiapkan slide untuk acara besok, sebenarnya slidenya hanya sedikit tapi harus ngeprint rundown acara dan cue card untuk MC (Master of Ceremony) kita , Dania Karina – baru kenal pertama kali – kemudian di selang waktu saya sempat merekam gladi resik tim Saman H-1. Which is very COOL! Lalu kita lanjut menyiapkan rundown acara dan slide sampai jam 24.00.

Kali ini tim saman hampir semuanya nginep di villa Sunter, kecuali ci Sheila Novelin karena dia habis dari kantor. Lalu saya pulang bersama tim acara, ko Arya. Dengan skill mengemudi ala Fast n Furious, dan didukung dengan mobil Freed’nya yang keren, hanya butuh 30 menit kita sampai di Kelapa Gading.

Saya diantar terakhir, motor saya tinggalkan di vihara biar nginep sajalah, soalnya ga kuat kalau harus ke vihara dulu baru pulang kerumah. Saat itu sudah hari Sabtu pukul 00.38, saya sampai rumah. Dan saya harus siap di jemput jam 4.00 untuk siapin acara karena kemarin orang Kamera, Audio dan Video wall belum siap. Mama keluar di depan kamar dan cuma ngomong “HAH?!” – lalu kunci dikasih pegang biar besok tidak perlu bangunin dia lagi. –> Hahahaaha… ngebayangin ekspresi mama mu Jer, untung bukan anak perempuan, bisa langsung dipingit :p

Saturday, 10 December 2011 – 7thGCB day 1

Yak, alarm berbunyi jam 3.45 pas – sempat matiin tuh trus lanjut mimpi lagi. Hahaha… Dengan kekuatan niat berbuat baik maka bangun lah jam 4.00! Hal pertama yang saya lakukan adalah absen di BBM “Check, ko, Check!”, lalu mandi kilat kemudian sudah ready. Jam 4.30 di jemput ko Arya, tapi ternyata saya orang pertama yang di jemput, jadi kita harus jemput yang lainya.

Sesuai rencana indah kemarin malam, orang pertama yang di jemput tuh Desy, di kost-nya. Lalu ke Sevel (Seven Eleven) untuk pick-up ci Sylvia Febrianti – member team acara yang bantu di hari pertama saja. Nah di Sevel kita beli breakfast yang ujung-ujungnya ga sempat dinikmati di dalam mobil karena berangkat pagi tuh ternyata sangat cepat. Beda dengan kemarin malan yang sangat macet, kali ini hanya perlu 15-20 menit untuk tiba di Balai Kartini pukul 5.20 pagi. Dan Surprise! Peralatan belum siap, jadi kita sarapan dulu, menghabiskan hotdog yang dibeli tadi.

Mungkin ini perasaan saya saja, tapi kayaknya emang sudah merupakan kebiasaan orang Indonesia untuk jadi last minute, akhirnya peralatan untuk basecamp saya selama 2 hari kedepan sudah siap – namanya FOH (Front of House). Di sana saya berinisiatif kenalan sama operator audio dan video wall (Yakobus, Asep, Chandra – bagian video wall dan Toni, Thomas – bagian Audio) untuk bagian lighting saya tidak kenalan, karena memang sudah ada settingan sendiri dan jarang diubah-ubah. Ini pertama kali berdiri di back-seat disertai alat-alat yang super banyak tombolnya. Jujur ga ngerti sama sekali – kasih ke bagian operator saja untuk menghandle alatnya masing-masing. Di sini sempet sih mikir “Mana nih bagian ‘IT’nya?”. Lalu saya keluarkan laptop andalan, Acer 4740G – yang selama ini sudah berjuang bersama selama setahun terakhir (cuih~ melenceng dr topic –> I told u, ini ajang curhatnya) lalu seperti layaknya persentasi biasa, colok audio dan kabel VGA untuk menampilkan gambar ke layar. Tapi sayangnya tidak seperti biasanya, kali ini speaker audionya satu ruangan dan layarnya berukuran 6 x 5 layar plasma yang ada di tengah stage. Langsung lah, keluar muka om Steve Jobs (wallpaper laptop saya saat ini). Kemudian karena waktu yang mendesak, langsung testing audio dan nyobain buka slide di extended desktop. Hahaha.. ternyata orang video wall lebih ngerti kalau tentang nampilin gambar, saya merasa perlu belajar ulang nih. Hehehe…

Akhirnya jam 7.00 semua sudah ready! Walau masih testing dan sedikit belum terbiasa, tapi orang-orang FOH sangat membantu. Dan pintu ke theater pun sudah dibuka, para peserta acara mulai masuk dan jam 8.00 hampir seluruh kursi sudah penuh. Mungkin ada sekitar 700-800 perserta saat itu. Namun acara belum dapat di mulai, karena Drs. Joko Wuryanto sekalu Dirjen Bimas Buddha belum datang. Maklum untuk pembukaan kita perlu ‘ijin’ yang biasanya dilambangkan dengan dipukulnya gong besar di samping stage.

Akhirnya jam 8.15, Drs. Joko Wuryanto datang juga. Lalu dengan aba-aba dari ko Arya maka di mulailah acara 7thGCB ini!

Dibuka oleh sang MC, Dania, dengan baju merah cerah dan high heels merah setinggi 12 cm (–> Cieeee Jeremy, perhatiin bangett 😀) membuka acara dengan video tentang Buddhist Fellowship Indonesia. Di sini sempet deg-degan sih, soalnya pertama kali main ‘freeze’ layar slide kemudian di oper ke video. Dan kali ini lancar-lancar saja karena di bantu oleh crew video wall.

Lalu Dania mempersilakan ko Irvyn Wongso untuk memberikan pidato pembuka dan dilanjutkan oleh pak Dirjen untuk memukul gong sebanyak 3 kali sebagai lambang dimulainya 7thGCB. Akhirnya secara resmi acara ini di mulai.

Kemudian ada beberapa introduction seperti Dr. Ponijan Liaw sebagai moderator dan pembicara pertama oleh Ringu Tulku Rinpoche yang akan membahas tentang “Living Without Fear and Anger”. Nah di sini saya tidak mendengarkan karena sibuk dan masih beradaptasi dengan sistem kerja tim acara yang harus mengunakan walkie talkie di tambah suhu ruangan yang ternyata sangat dingin. Sebenarnya semua pembicara dari 7thGCB bagus, cuma memang ada beberapa yang lebih teoritis atau pembawaanya memiliki ciri khas berbeda-beda.

Ringu Tulku Rinpoche

Ringu Tulku Rinpoche

Karena ada keterlambatan, maka jadwal sedikit berubah. Sesi pertama selesai tanpa tanya jawab, kemudian di potong dengan coffee break selama 30 menit. Di sini saya belum sempat istirahat, karena harus menyiapkan slide introduction selanjutnya di tambah speaker selanjutnya ingin menggunakan laptop di stage untuk presentasi, which is menambah load kerjaan yang bikin semakin pusing, belum sempat nafas, para peserta 7thGCB sudah masuk lagi. Padahal saya ingin ngintip anak-anak tim Saman di back-stage.

Dan acara kembali berjalan pada pukul 9.40 karena adanya delay tadi pagi. Kali ini sesuai perkiraan saya, pembicaranya adalah Mr Danai Chanchaochai dari Thailand – dan dia memang bagus sekali menjadi seorang motivator dan pembicara unggul. Dia membawakan  tentang “To Corrupt or Not-to-Corrupt in Desperate Situations” di sini seluruh perserta tampaknya ter’sihir’ oleh presentasi Mr Danai, mungkin karena dia memang hebat dalam public speaking dan slidenya banyak menggunakan gambar dan video yang menyentuh. Seingat saya salah satu videonya adalah tentang makanan-makanan yang tidak habis, di kumpulkan dan di makan lagi oleh orang miskin. Dan satunya lagi tentang gerakan anti korupsi di Thailand.

Mr Danai Chanchaochai from Thailand

Mr Danai Chanchaochai from Thailand

Kemudian sesi selanjutnya di bawakan oleh Bhante Jayamedho dengan judul “Business Ethics for a More Prosperous and Peaceful World” kontras berbeda dengan pembicara sebelumnya yang menggunakan slide powerpoint, gambar dan video. Bhante Jayamedho lebih menggunakan kertas-kertas notes yang beliau siapkan sebelumnya, sempat beliau berbicara seperti “wah saya tidak semodern anda Mr. Danai, oleh karena itu saya menggunakan kertas saja.” Dengan nada bercanda, Kira-kira seperti itu yang Bhante Jayamedho katakan ketika ia akan memulai sesinya.

Di sini saya sebagai pihak audio sempat khawatir karena Bhante Jayamedho berbicara sangat jauh dari mic jadi suaranya kurang terdengar, walaupun begitu, catatan Bhante Jayamedho sangat lengkap dan to-the-point sehingga sangat berisi dan jelas. Tapi di tengah sesi ko Arya kasih ‘tongkat estafet’ untuk makan siang duluan. Soalnya sesi ini agak lama, kemudian meluncurlah ke lantai dasar untuk makan bareng usher di sana (–> Ho oh, makan bareng saya juga kan ya…haha), karena waktunya agak mepet, maka makan Hokbennya buru-buru banget, Cuma 10 menit dan langsung naik lagi.

Tidak lama kemudian ada sesi Q&A – tidak terduga ada beberapa masalah teknis seperti mic yang tidak menyala dan lamanya usher untuk mengantarkan mic ke peserta. Ini benar-benar di luar dugaan karena saya lebih fokus ke slide dan video wall dari pagi.

Akhirnya setelah sesi tanya jawab selesai, maka para perserta 7thGCB menikmati lunch break selama 1 jam (–> yoww…saat inilah Tien bertemu Reza Gunawan dan ‘ngobrol’ sebentar dengannya, juga kenalan sama reporter Metro Xin Wen, Silvana). Tapi saya memperhatikan beberapa hal unik, seperti usher yang sedang foto-foto, dan ternyata ada Ade Rai ikut dalam acara ini.

oh Ade Rai!!

oh Ade Rai!!

Saat lunch break, sempet sih ‘ngumpet’ ke backstage, mau lihat-lihat persiapan tim Saman. Baru juga foto-foto sebentar, sudah di panggil lagi sama ko Arya untuk bikin slide opening buat Saman. Hahaha.. minimal bisa lihat-lihat lah mereka latihan terus dari tadi, grogi dan deg-degan semua. Di sinilah mulai panik, ternyata slide Saman belum jadi apapun, sekitar 20 menit dengan ilmu hitung-menghitung dan potong lagu, tringgg slidenya siap!

Lalu sesuai rundown acara setelah lunch break ada ‘iklan’ dari sponsor India – untuk nonton film. Dia sih memang niatnya jualan, “Indian Railway Catering & Tourism Corporation” tapi ini dia, videonya lama banget, bikin ngaret 10 menit sendiri untuk videonya doang. –> Tenang Je, jangan emosi gitu.. >.<

Yak, setelah itu performance yang di tunggu-tunggu oleh team saman *lho kok bukan peserta yang menunggu-nungu?* ya iya lha, mereka latihan selama 2 bulan untuk tampil perdana nih. Persiapannya beda banget sama padus Beautiful Heart Peaceful Mind bulan Maret lalu, hehehe… kali ini mereka benar-benar keren banget! Sayangnya saya ga bisa videoin ketika perform, karena tugas di FOH ga bisa ditinggal. Tapi ada hikmahnya sih, jadi bisa nonton full performance di laga perdana mereka. Saat itu sih saya sudah sorak-sorakan sama ko Arya benar-benar mood booster banget setelah slide sukses, langsung anak-anak saman tampil!

Great Performance By Buddhist Reborn Saman Dancers

Great Performance By Buddhist Reborn Saman Dancers

Akhirnya setelah perform Tari Saman, yang kerenn-banget-bangett *gak santai*, mungkin ini sesi 3 yang ditunggu oleh seluruh perserta 7thGCB. “Fostering Peace in Multi-Religious and Multi-Cultural Communities” dibawakan dengan gaya humorisnya yang khas, Ajahn Brahmavamso.

Ajahn Brahmavamso

Ajahn Brahmavamso

Sesi ini saya juga tidak mengikuti sih (–> T.T jadi yang mana donk Jer yang kamu ikutin isi dhamma nya?). Karena saya jalan-jalan keluar ruangan theaternya. Sebelum keluar masih sempat melihat Team Saman mendapatkan tempat di barisan depan setelah tampil. Ya, saya keliling-keliling mencari sedikit udara segar, dan senyum manis usher di lantai dasar. Hahaha..

Singkat saja, kira-kira jam 14.00 lewat masih belum selesai sesi Q&A dengan Ajahn Brahm. Memang sih sesi Ajahn Brahm lebih panjang di banding speaker lainya, sekitar 60 menit belum termasuk bagian tanya –jawabnya. Akhirnya setelah beberapa pertanyaan bertubi-tubi,  akhirnya moderator memotong sesi tanya – jawab untuk coffee break siang hari.

Masih sama seperti sesi break lainya, saya tidak bisa istirahat karena sesi selanjutnya akan ada 3 pembicara sekaligus. Oleh Venerable Guojun Fashi, Ven. Hueiguang dan Ajahn Brahmali. Jujur saja, semua bhikku ini ga ada yang kenal, cuma pernah baca profilenya di web. Kemudian acara kembali di lanjutkan pukul 14.40 topik selanjutnya adalah “Applying the Middle Path in a Life Full of Conflicting Demands” oleh Ven. Guojun Fashi.

Ven. Guo Jun Fa Shi

Ven. Guo Jun Fa Shi

Bhikku ini secara spesial membawa 3 orang pemain musik instrumental, pertamanya sih saya kira mau perform atau gimana gitu. Eh, ternyata di guide untuk relaksasi di iringi musik instrumental yang sangat ‘halus’. Di sini lampu di matikan, sesaat langsung seluruh perserta sekaligus panitia dan usher lainya pun tampaknya ‘hanyut’ terbawa tidur (sebagian besar –> Saya ikutan nih, dan memang sungguh tertidur rileks banget kayak dihipnoterapi hehehe) dan beberapa mungkin benar-benar meditasi.

Dengan Musik Pengantar...Meditasi

Dengan Musik Pengantar...Meditasi

Kemudian di lanjutkan oleh Ven. Hueiguang dengan topik “Managing the Ego & Defilements”. Beliau benar-benar membahas teori gitu, sehingga bahasannya sangat berat. Sehabis relaksasi oleh pembicara sebelumnya, tiba-tiba perut mulai lapar. Kali ini sama, kabur ke lantai dasar untuk makan Hokben lagi. Lagi-lagi ketemu sama Vendi Sidartha dkk, tampaknya jam makan kita sama. Hahahaha…

Ajahn Brahmali

Ajahn Brahmali

Tidak lama, saya kembali ke FOH, untuk check pembicara selanjutnya. Kali ini sesi selanjutnya di bawakan oleh Bhante dari barat juga, Ajahn Brahmali “Making the Law of Kamma Work in Our Favour”. Sebenernya Bhante ini sedikit unik, mungkin karena dia berasal dari Norway, tubuhnya pun memang sangat tinggi dan besar.

Selain itu walau saya tidak konsen pada apa yang beliau bicarakan, tapi sempat moderator, Dr. Po menyela untuk meminta Ajahn Brahmali untuk berbicara sedikit lebih pelan karena translator kesulitan dalam mentranslasi kata-kata yang beliau ucapkan. Dan saya baru sadar saat itu memang dia berbicara sangat cepat.

Setelah sesi dari Ajahn Bhramali, seperti biasa ada tanya-jawab dan kemudian selesailah hari pertama 7thGCB. Yey!! –> Tau derita saya? High heels membuat kami para wanita jadi jalan tertatih-tatih 😦

Untuk hari pertama sebenernya tidak melelahkan sama sekali, mungkin karena masih semangat yang membara nih! Selang kira-kira 1 jam bagian FOH sudah beres-beres dan hilang semua orangnya. Hahaha… mungkin mereka simpan tenaga untuk besok. Saya juga beres-beres dong, sekalian ke back-stage untuk mengambil barang yang tadi pagi ditinggalin. Begh! Ternyata semua usher ngumpul di dressing room, back stage. Jadinya ramai banget, banyak banget goody bag yang tidak di bawa pulang di kumpulkan di dressing room dan beberapa barang  yang ketinggalan juga ditaruh di sana.

Karena sudah capek banget, maka ko Arya memberi isyarat untuk segera jalan, tapi kita tidak pulang malam ini, melainkan mengginap di hotel yang ada tepat di belakang Balai Kartini, Puri Denpasar. –> Oh beneran nginep ya, saya pikir kamu becanda waktu bilang mau nginep.

Day 1 – Night

Yak, ini adalah semalam-manis menginap di hotel berbintang 3 yang bernama Puri Denpasar. Kita ber-5, Arya, Sisi, Erika, Desy dan saya pun membawa barang ke mobil untuk dipindahkan ke hotel.  Yak, sesuai dugaan, kita parkir seharian sangat mahal :        Rp. 18.000,- padahal kalau parkir di hotel kita ga usah bayar sama sekali, hahaha… ya sudalah.

Perjalanan singkat dari balai kartini ke Hotel tidak lebih dari 5 menit. Ya iya lha, orang cuma seberang-seberangan gitu. Sampai di hotel, dengan cuaca yang masih gerimis-gerimis basah (–> ada ya gerimis-gerimis kering?), kita di sambut oleh porter hotel. Di sana pun ada ko Heru dari BFI yang tampaknya sibuk mengurusi akomodasi panitia dan pembicara yang menginap di hotel tersebut. Kitapun di kasih 2 kamar 409 dan 419. Sebenernya sempat terpikir, jarang-jarang ada hotel yang punya lantai 4 yah. Hehehe, tapi bukan masalah kok.

Lalu ketika sampai di lobby, saya langsung melihat Ajahn Bram, Mr Danai Chanchaochai dan beberapa pembicara lainya sedang menunggu untuk berangkat ke Amarin resto. Tampaknya mereka akan berdiskusi sambil dinner dengan para panitia atau di undang untuk sedikit dhamma talk oleh bu Lilian Halim. Yah, gagal lagi, deh foto bareng Ajahn Bram!

Karena buru-buru, kita pun langsung naik ke lantai 4 melalui lift. Sesampainya di lantai 4 kita menuju kamar no 419, dan ketika dibuka ternyata masih ada barangnya. Bingung deh.. takut salah kamar atau kamarnya masih di pakai. Kita tidak jadi masuk ke kamar 419, lanjut deh ke kamar 409. Nah kali ini tampaknya senang sekali lihat ranjang, langsung deh pada loncat ke ranjang semua. Sambil menunggu porter menurunkan barang, kita pun melepas lelah sejenak. Di sini sih sempet kepikiran kalau nomor kamarnya tuh mirip dengan ulang tahunya ko Arya (tgl 19) dan ci Sisi (tgl 9). Hahaha… mungkin Cuma sebuah kebetulan, kebanyakan ingetin hal yang ga penting sih. –> Jerrrr -__-“

Setelah porter selesai, saya dan ko Arya turun lagi ke lobby untuk mencari ko Heru. Yak, memang ternyata kamarnya belum selesai, 419 tuh habis di pakai oleh om Indra Yudosaputro dan satu orang lagi yang namanya belum ‘ringging’ di otak nih alias lupa. Hehehe… jadi deh kita nunggu di kamar 409 dulu. Selama di kamar kita tidur-tiduran secara random gitu, secara kita ber-5 dan hanya ada 1 ranjang.

Lalu tercetuslah ide-ide  untuk keluar makan oleh ci Sisi ke restoran Jepang. Sebelum itu pada gantian mandi. Di sini, ada beberapa kejadian unik. Misal seperti ci Sisi dan Erika yang berusaha untuk menghapus make-up yang super tebal karena abis perform tari Saman. Beh, make-upnya ternyata super tebal dan susah di hapus. Ada lagi seperti tidur kilatnya ko Arya – secara dia cuma tidur 45 menit hari ini – benar-benar tidur lho!

Begh, ternyata mandi di hotel ini nikmat banget. Mandi air hangat, 10 menit saja sudah cukup untuk mengembalikan semangat yang luntur karena cape tadi. Karena mandinya gantian, dan memakan waktu, kali ini sempet-sempetnya saya memperbaiki slide powerpoint Saman, karena tadi belum bener.

Kira-kira jam 20.30, kita semua berangkat untuk makan. Kali ini kita satu mobil, menuju restoran jepang, Guemon, sampai di sana, sebenernya agak mengkhawatirkan lihat kondisi gedungnya yang agak gelap, mungkin restorannya tetap buka tapi gedungnya sudah di matikan lampunya – jadi gelap-gelap gitu, langsung deh recharge duid dolo di ATM untuk persiapan makan mahal nanti. Sampai di resto, kita pun langsung pesen makan. Karena ga tau apa-apa jadi nanya rekomendasi menu dari ko Arya, “Katsu Don”. Ya itu menu makan malam hari ini. Enak sih, Cuma tampaknya kekenyangan, jadi ¼ porsi  saya kasi ke Erika.

Di sini Desy mulai buka kartunya Erika, ternyata seharian Erika makanya banyak banget. Pagi makan Hokben, jam 11 Hokben lagi, jam 13 makan AW 2 porsi. Trus malam ini dia juara makan deh, bisa ngabisin porsinya plus ¼ makanan saya. –> Kayaknya saya dan Erika punya kemiripan 😀 *hobi makan*

Setelah puas makan, foto-foto, dan ngobrol, Kita pun kembali ke hotel, untuk melanjutkan persiapan MC besok. Tapi sempet mampir ke Starbucks dulu untuk menikmati kopi, di sini saya sebenernya sudah kenyang banget. Tapi kapan lagi ngebucks malam-malam – jadi ikutan deh beli Green Tea Latte yg Grande. Duh, salah pesen! Kirain greenteanya yang di blend, tapi ya sudalah, nasi sudah jadi bubur – namanya juga salah pesen jadi ga bisa complain. Di jalan, masih sempat foto-foto kali ini pakai kamera pribadi. Asikk!

Udah kenyanggg!!

Udah kenyanggg!!

Kita kembali ke Hotel Puri Denpasar sekitar jam 23.00, sampai di sana saya dan ko Arya ke kamarnya MC kita, Dania Karina, di lantai 3. Begh! Kamarnya president suite boo- gede banget. Gedenya 2 kali kamar kita di 409. Di sana ada ko Heru dan ci Dania lagi mempersiapkan kata-kata untuk besok. Lalu ada Desy yang ikutan nyusul untuk bantu ngeprint cue card besok.

Di sini saya sempat naik ke lantai 409 untuk mengambil barang – tapi sampai di 409, ci Sisi sudah mau tidur dan saya lupa mau ngapain di kamar. Kayak short memory lost gitu, soalnya otak saya dipaksa kerja dan ga dikasih istirahat terus kali ya –> Alesannn! Sekitar 10 menit berusaha keras mencari barang yang mau di ambil, akhirnya ketemu, ternyata saya mau ambil gunting dan selotip, hahaha.. di sini benar-benar kayak orang bingung. Untung ci Sisi sudah tidur, kalau ga mungkin sudah diketawain lihat saya muter-muter di kamar ga jelas.

Kami pun mengerjakan cue card sampai jam 24.00 – akhirnya semuanya kelar, dan tidur deh. Akhirnya kita dapat kamar di lantai 5. Langsung deh cuci kaki dan tidur karena besok harus bangun pagi lagi. Set alarm jam 6.00 dan setelah pillow talk– langsung blank ketiduran.

to be continued…. 7thGCB Day 2!

~May All Beings Be Well and Happy~

Disclaimer: Some photos on this post are taken from Inge Santoso‘s website, Ricky Osman and Jeremy Lawrence’s photo gallery on facebook. Thanks!
Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Her Daily News. Bookmark the permalink.

One Response to [Behind The Scene]: 7th Global Conference on Buddhism by JLawren ~ Part 1

  1. Pingback: [Behind The Scene]: 7th Global Conference on Buddhism by JLawren ~ Part 2 | @truetienz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s