My Vitamins…

Akhir-akhir ini saya sering memikirikan antara dunia anak-anak dan dunia orang dewasa. Kita hidup bersama di bumi yang sama, di bawah langit yang sama, menghirup udara yang sama, menikmati atmosfir yang sama, namun kenyataannya dunia anak dan dunia orang dewasa kerap kali jauh berbeda.

Anak-anak, seperti yang masih tertanam di pikiran saya, adalah masa-masa yang sangat simple dan tidak perlu banyak pikir. Dimulai dari siklus bayi, saya tidak bisa mengingat sedikitpun ‘pikiran’ saya ketika masih bayi, dan saya jadi curiga ‘apakah bayi bisa berpikir layaknya orang dewasa?’ Namun ternyata…pertanyaan saya ini dijawab sendiri oleh keponakan saya, Aldrich A.Darmawan, 8 bulan. Tidak, dia belum bisa bicara, baru mulai berdiri. Dan dari keponakan saya, saya belajar satu hal, bahwa bayi, mampu menganalisa. 🙂

Suatu hari saya memperhatikan dia sedang melihat secara bergantian Kalender sobek (harian) dan Kipas angin berdiri. Kipas angin itu menghembuskan anginnya hingga mencapai kalender harian yang digantung, sehingga lembar demi lembar ikut bergerak di setiap lapisannya. Aldrich, dengan penasarannya mengamati kedua benda itu berulang-ulang. Kalender, kipas angin. Kalender, kipas angin. Beberapa kali. Hingga pada akhirnya nampaknya dia sudah mengerti bahwa lembaran kalender itu bergerak, karena ditiup oleh kipas angin, dan dia mulai tertawa. Ya, dia tertawa. Mungkinkah dia tertawa karena ‘berhasil’ memecahkan misteri kalender dan kipas? Ataukah dia tertawa karena terhibur? Entahlah, hanya dia yang tahu.

Di lain kesempatan, dengan keponakan saya yang lain, Aurelia. Ketika itu dia masih berusia 5-6 bulan *sekarang sudah 4 tahun*, kami pergi ke sebuah restauran chinese food, Aurel adalah tipe anak yang senang-memperhatikan-orang-lain. Dia akan memperhatikan setiap gerak-gerik pelayan restauran yang melayani kami, meletakkan sayur di meja, merapihkan posisi piring dan gelas, dia memperhatikan dengan seksama dan terus-menerus sampai pelayan tersebut selesai mengatur meja, dan menyapa Aurelia, sedikit sapaan lalu keponakan saya tertawa senang sekali. Nah… Sebegitu mudahnya seorang anak untuk bisa tertawa, untuk terhibur.

Cukup memberi mereka sesuatu yang ‘baru’, dan mereka akan senang sekali…

Sebagai salah satu individu yang sudah memasuki dunia orang dewasa, saya harus sering-sering bergaul dengan keponakan-keponakan, karena mereka-adalah-vitamin-untuk-jiwa-saya, dan bertemu dengan mereka, benar-benar menghilangkan kepenatan saya. Sayang, 3 keponakan saya tidak tinggal di Jakarta, dan kami hanya bisa menyapa lewat telepon.

Helen-Wendy-Heltien Darmawan Alena-Aurelia-Tristan

Helen-Wendy-Heltien ++ Alena-Aurelia-Tristan

Aurel n Her Mom

Aurel n Her Mom

Aldrich with his dad

Aldrich with His Dad

They’re truly my vitamins….

 

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in In Her Mind. Bookmark the permalink.

One Response to My Vitamins…

  1. fams says:

    Trully ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s