Sekali Sentil, Jakarta Lumpuh

Kemarin bukan hari yang menyenangkan bagi sebagian orang…

Bisa dimulai dari, Gue…

Kemarin gue kerja di rumah, alias tidak ke kantor maupun ke toko. Karena ada beberapa pekerjaan orangtua yang harus gue bantu. Menjelang pukul 12 siang, lampu di ruang kerja gue mendadak berkedut-kedut. Ga asik banget, bikin pusink. Jadinya gue matikan saklarnya.

Beberapa menit kemudian, ‘prettt. Byarrr’ ‘tettretretretretret’ kira-kira begitulah bunyi listrik di rumah gue, ga tau asal suara dari mana. Dari barang elektronik, atau dari tiang listrik depan rumah? Yang pasti suaranya sempat bikin nyokap gue panik, dan gue cuma celingak celinguk bertanya-tanya, “Suara apaan tuh?”.

Setelah kita kroscek ke depan rumah, ternyata tiang listrik depan rumah gue sudah keluarg asap. Hiii… serem bett! Sampai mobil yang parkir di dekat tiang listrik itu langsung dipindahkan posisinya. Takutnya ada apa-apa malah kena mobil.

Dengan sigap, bokap gue langsung telepon orang PLN, dan selama menunggu orang PLN datang, kami tidak berani menaikkan listrik di rumah, takut konslet. Dan tak berapa lama, petugas PLN datang dan memperbaiki yang bermasalah. Hiaaaa gue ga ngerti masalah kelistrikan >.<

Setidaknya masalah ini selesai, dan gue bisa melanjutkan pekerjaan. Setelah keadaan listrik kembali normal, orangtua gue pergi ke proyek, jadi gue sendirian di rumah. Sampai…kejadian yang lain muncul.

Sekitar pukul 14.15 awan mendadak gelappppp banget bangettt. Udah mirip jam 6 sore. Padahal sebelumnya, cuaca bisa dibilang terang, dan terik. Sungguh cuaca akhir-akhir ini lebih mirip suasana hati seseorang, bisa berubah drastis. Bisa tiba-tiba bete. Yak, mungkin ini yang sedang dirasakan Sang Cuaca kemarin siang.

Siang itu, mendadak semua orang mengganti status di BBM, dan Twitter dengan kondisi cuaca di lokasi masing-masing. Tak terkecuali, gue… Karena memang cuaca kemarin tidak biasa, dan sangat ekstrim malah. Dari berbagai daerah di Jakarta, hampir semua daerah mengalaminya, ada yang di Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Pusat, dan lainnya. Hujan besar, lebih menjurus ke Hujan Badai, mendadak menghempas kota ini, meluluhlantakkan pohon-pohon, billboard, bahkan kanopi jembatan penyeberangan (depan halte busway dekat Season City) yang terbang jatuh ke jalanan dan menghalangi kendaraan yang lewat. Bisa ditebak, hal tersebut langsung bikin macet jalanan.

Bahkan gue sempat baca di VIVAnews, ada salah satu orang yang tewas akibat kejadian kemarin, akibat tertimpa kontainer di tempatnya bekerja, karena kontainer tersebut jatuh tertiup angin kencang. Ada lagi, sebuah truk yang hancur karena tertimpa billboard di tol Tomang-Tangerang. Tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan ini. Jadi bisa kita bayangkan, bagaimana hebatnya hujan badai kemarin.

Headline News

Headline News

Dan rumah gue tidak luput dari kekejaman hujan badai kemarin, karena ternyata, akibat angin yang luar biasa itu, telah merobohkan pohon rindang di samping rumah gue (baca: pohon milik tetangga), dan patahan besar pohon itu menyambangi kanopi rumah gue dengan santainya.

Biarkan dia berbaring...

Biarkan dia berbaring...

Foto ini diambil dari lantai 2 rumah gue, dan entah bagaimana caranya memindahkan patahan besar itu, mengingat cukup berbahaya kalau orang berdiri di atasnya, belum tahu sekuat apakah kanopi itu untuk menopang berat tubuh seseorang. *Butuh kerjasama sama tetangga ini mah*

Masalah masih berlanjut ketika hujan sudah pergi. Ya, Hujan itu seperti Cinta. Selalu pergi dengan meninggalkan jejak. Damn, jejak yang ditinggalkan oleh hujan badai tersebut adalah… Tak lain dan tak bukan, tentu saja Kemacetan, dan banyak pohon tumbang, papan-papan terjatuh di tanah, dan juga Banjir. Banjir memang tidak terlalu merajai, karena kemacetan adalah juaranya kemarin sore. Orangtua gue berhasil sampai rumah setelah menerobos kemacetan dan banjir di beberapa titik, dalam perjalanannya dari Ciledug ke Greenville, juga berkat keahlian bokap gue melewati jalan tikus. Berhasil lah mereka tiba di rumah dengan ngedumel-dumel ‘Jakarta Macet Total’. Dan untuk meredakan kekesalan mereka, gue menyiapkan roti panggang dan kopi untuk bokap, juga susu untuk nyokap. Hahaha…

Nyokap gue bilang, “Dek, untung kamu hari ini kerjanya di rumah, ga ke BSD atau ke PIK, kalo gak, hmmph, kamu bisa berjam-jam di jalan.” Bener juga ya mam… >.<

Dan hal ini tentu saja sangat berdampak bagi yang punya hajatan kemarin malam. Teman kampus gue, kemarin mengadakan resepsi pernikahan di Nafiri Convention Hall, Central Park Mall. Tidak bisa dipungkiri, kemacetan kemarin sore berdampak bagi tamu-tamu yang hendak menghadiri resepsi tersebut. Bahkan ada teman gue yang udah sampai di tengah jalan langsung putar arah lagi dan pulang, ga jadi kondangan, karena jalanan sangat sulit dilalui. Kebetulan lokasinya tidak jauh dari rumah, jadi gue tetap datang, ditemani orangtua (*nasib pacar sedang tidak di Jakarta*). Hanya saja, sepanjang jalan dari Greenville ke Tanjung Duren, ternyata buanyakkk pohon tumbang juga, bahkan patahanya besar-besar, karena di Grenville dan tanjung duren memang banyak pohon-pohon rindang. Entah berapa ribu pohon yang tumbang di seantero ibukota >.<

Sampai pagi ini ketika gue akan berangkat kerja, pohon-pohon tumbang di Tanjung Duren belum juga dibereskan, masih tergeletak sama seperti tadi malam, dan sedikit menyebabkan kemacetan di jembatan Kali Sekertaris tadi pagi.

Ya, Jakarta Lumpuh, karena sentilan hujan badai.

Ini ceritaku, Apa ceritamu? :p

*Denger-denger nih, ada temen gue yang pulang jalan kaki dari Senayan sampe Slipi, karena saking macetnya. hahaha..* Bagi teman-teman yang ingin tahu cerita versi lainnya, ada teman gue, dr.Miki, dengan kisah di kantornya.

Salam Basah,

-NeitNeit-

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Her Daily News, In Her Mind. Bookmark the permalink.

6 Responses to Sekali Sentil, Jakarta Lumpuh

  1. id@ says:

    hahaa, rumah kena ambruk pohon juga ya
    Yang anehnya pas uda ujan dan macet bapak2 yang biasa pake baju kuning stabilo itu ilang dan gak tau ngumpet dimana -__-

    • neitneit says:

      Hahaha iya bahkan rumah gw kena imbasnya.
      Weitsss si baju kuning (atau hijau) stabilo itu memang selalu menghilang ditelan bumi kalau cuaca lagi hujan. Gak sopan emang,.. -__-“

  2. stephanie says:

    uhuk2.. ehem2..
    kyna sy kenal org yg jalan kaki itu tien..
    salam yah buat dia.. :p

  3. neitneit says:

    Tepiiiii, ada salam dari Stephanieeee….
    hahahahaahaha…. >.<

  4. stephanie says:

    uhuk uhuk.. ehem2..
    salam yah tien buat si pejalan kaki itu..
    wkwkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s