(Semoga) Bukan Basa Basi

Ada satu topik yang sangat umum dan terkesan membosankan, namun biarpun membosankan tetap juga dijadikan topik di berbagai acara. Apa lagi kalau bukan… C.I.N.T.A

Gue tidak mengatakan bahwa cinta adalah hal yang membosankan, karena menurut gue  cinta bentuknya bulat (siapa bilang cinta itu bentuknya hati lop lop?), dia selalu berputar, kadang merasa bahagia karena cinta, kadang menderita karenanya, namun kita tidak pernah keluar dari lingkaran itu.

Mari kita belajar Bahasa Indonesia tingkat SMU dan sederajat, yaitu tentang Premis:

Premis Umum: Cinta itu buta

Premis Khusus: Menikah berdasar pada cinta

Kesimpulan: Pernikahan adalah suatu hal yang buta.

Hahahaha…. Just kidding, saudaraku… Gue belum menikah, dan tidak tahu bagaimana rasanya membina suatu rumah tangga, namun yang gue sering dengar, menikah itu tidak semudah dan seromantis yang diceritakan di dalam novel dan buku cerita anak-anak, maupun drama-drama seri Korea yang berisi pangeran ganteng dan putri cantik yang hidup bahagia selama-lamanya. Gue setuju. Tidak mudah, namun BISA diperjuangkan.

Ketika gue jatuh cinta (lagi) dengan seseorang, ada yang namanya setrum-setrum di jantung, atau bahasa kerennya Chemistry. Merasa selalu senang, nampaknya semua yang ada di sekeliling gue semuanya indah, bahkan orang yang gue anggap sering jutek, terlihat bagaikan anak manis bagi gue. Ya, saat jatuh cinta, apapun terasa indah. Demi gunung dan laut, demi bulan bintang dan matahari, demi galaksi dan isinya, semua kalah indah dibandingkan dirinya. Eaaa..

Berpikir lagi, (dan lagi). Apakah saat menyukai seseorang, gue benar-benar berbahagia karena ‘dia’? Setelah ditelusuri lebih lanjut, dan gue coba memandang dari sudut pandang yang berbeda, pernahkah terpikir bahwa saat kita jatuh cinta, sebenarnya kita sedang mencintai diri sendiri? Menikmati getaran-getaran aneh di jantung (yang tadi kerennya chemistry), menikmati setiap bentuk bayangan,dan impian yang tercipta, intinya kita menikmati rasa jatuh cinta yang disebabkan oleh Orang tersebut. Dan pada akhirnya, kita memutuskan ingin memilikinya, dan (mungkin) bahagia setelah berhasil mendapatkan hatinya.

Lalu, apakah chemistry akan tetap ada setelah lama berlalu? Berdasarkan yang gue alami, chemistry itu hilang dengan sendirinya dan tergantikan dengan hal lain yang lebih penting dari sekedar chemistry, yaitu rasa menyayangi dari kebiasaan-kebiasaan yang muncul dari kebersamaan, merasa ada yang hilang kalau orang-yang-kita-sayangi-tidak-di-sini-bersama-kita. Kemelekatan kah ini namanya? Sayangnya, Iya, ini kemelekatan. Penderitaan lainnya. Namun gue hanya manusia biasa, yang senang menikmati penderitaan.

Dari dulu gue enggan menggunakan istilah kata Cinta untuk mengungkapkan rasa sayang kepada siapapun, karena entah kenapa, menurut gue kata ‘Cinta’ maknanya terkesan terlalu tamak 😦 Jadi gue lebih senang menggantinya dengan istilah Sayang, Menyayangi, atau Kasih, Mengasihi.

Kemarin gue mengikuti Dhammatalk oleh Bhante Kheminda, beliau memaparkan mengenai Cinta Kasih. Dan gue pikirkan lagi semua yang beliau paparkan.

Bhante Kheminda menuturkan ada 3 Cinta dalam istilah Buddhism, yaitu :

–          Tanha Pema (Cinta atas dasar nafsu, atau raga), biasanya cinta romansa pria dan wanita.

–          Philia Pema (Cinta yang tumbuh karena berada dalam atap yang sama, dan sering bersama), biasanya ini adalah cinta terhadap keluarga dan sahabat.

–          Agape Pema (Cinta Kasih), adalah cinta kepada orang lain/makhluk lain atas dasar kemanusiaan dan kasih.

Point pertama dan kedua, adalah cinta yang menimbulkan Kemelekatan. Rasa ingin memiliki, keegoisan, dan keakuan, biasanya dimiliki oleh cinta jenis itu, dan ada 2 kemungkinan, yaitu kebahagiaan, atau penderitaan. Contoh penderitaan: Penderitaan mendalam ketika ditinggalkan oleh orang yang dicintai (meninggal atau berpisah). Contoh lainnya, jika A melihat pasangannya berselingkuh dengan orang lain, dan mereka terlihat bahagia, lantas apakah A akan merelakan pasangannya dengan orang lain, dengan alasan ‘Agar mereka bahagia’? Tentu hal ini sangatttt jarang terjadi kan? Yang ada bisa-bisa si A menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa selingkuhan pasangannya -__-

Sedangkan cinta point ketiga adalah cinta kasih yang cenderung menimbulkan kebahagiaan, contohnya, kita tidak mengenal orang itu, namun dengan cinta kasih kita terhadap mereka, kita mau membantu dan meringankan beban mereka, sehingga mereka merasakan kebahagiaan. Dan bisa kita pastikan juga bahwa cinta kasih orangtua terhadap anaknya adalah cinta kasih paling murni yang tidak ternilai harganya, dan tidak akan bisa digantikan dengan cara apapun.

Namun, bisakah cinta point ketiga ini diberikan untuk mereka di dalam cinta point 1 dan 2? Tentu bisa, memang bisa, dan seharusnya bisa, hanya saja terkadang, karena sifat egois dan ke’aku’an yang kita miliki, sulit untuk memberikan cinta point 3 tersebut. Compassion.

Ada kisah dalam buku Supernova-nya Dee yang berjudul Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. Sang isteri berselingkuh dengan laki-laki lain, dan Sang suami mengetahui hal tersebut, demi melihat kedua orang itu berbahagia, sang suami rela berpisah dengan istrinya. Namun akhirnya sang isteri menyesali perbuatannya, dan tersentuh mengetahui bahwa sang suami sedemikian mengasihinya, sehingga mereka tidak jadi bercerai dan sang isteri memutuskan berpisah dengan selingkuhannya. Dari kisah itu gue belajar (memang sih itu hanyalah sebuah cerita), gue mengambil hikmah bahwa, makna Cinta Kasih sedemikian luasnya, tergantung bagaimana kita ingin menjalani, dan mengembangkannya.

Kalau gue? Gue hanyalah orang biasa yang masih penuh dengan sifat egois dan keakuan yang tinggi. Gue merasa masih melekat dengan cinta yang buta itu. Jadi, belum pantas untuk memberikan ulasan panjang lebar tentang cinta kasih.

Ini hanya rangkuman dari Dhammatalk oleh Bhante Kheminda tadi malam, dan digabung dengan sedikit pemikiran gue. Bhante berkata “Banyak sekali yang berkonsultasi sama saya tentang pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Sedangkan saya kan tidak pernah berumahtangga, sepertinya mereka salah alamat ya konsultasi sama saya. Bisa-bisa saya menyarankan mereka semua untuk menjadi Bhiksu seperti saya ini. Hehehe” Bhante, bisa aja…

May all beings be happy

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

4 Responses to (Semoga) Bukan Basa Basi

  1. stephanie says:

    yups2.. setuju dgn point 3..
    rasa mengasihi dan menyayangi itu memang lebih tulus drpd mencintai.. 😀

  2. neitneit says:

    hehehhe betul, i lop u tep :p

  3. id@ says:

    baru baca dan ini mengenaaaa bgt 😦
    cinta dari dulu deritanya tiada akhir *jadi cut pat kay

    tp emang gt sich tien, cinta kadang lebih mengenai keegoisan seseorang, tp kalau kasih itu mengena kesemua, “kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s