The Amazing New Year’s Concert: From Vienna to Jakarta

Sabtu, 14 Januari 2012

Kalau boleh gue bercerita, Sabtu kemarin adalah hari yang sangat membahagiakan bagi gue. Kenapa? Tentu saja karena sang pacar kembali ke Jakarta setelah pergi berkelana mengelilingi kebon sawit di Kalimantan selama hampir 2 minggu lamanya. Akhirnya…pulang juga. Hahaha…

Hal lainnya yang membuat gue bahagia adalah…karena tepat malam harinya, gue bersama keluarga gue, sang pacar, dan 3 orang teman lainnya nonton konser musik klasik di Aula Simfonia Jakarta. Yessss…. Untuk kedua kalinya gue menginjakkan kaki di gedung yang megah, mewah, dan aduhai itu. Maaf ya lebay, gue emang naksir berat sama artistik dan interior ruangan konser di ASJ.

Gedungnya artistik sekali, kakak...

Aulanya artistik sekali, yah yah yah…

Awalnya gue diajakin sama seorang teman untuk nonton konser ini. Kenapa dia mengajak gue? Karena, di antara teman-teman seperjuangan, hanya kami lah segelintir orang yang gemar menghadiri konser musik klasik. Siapa duluan yang dapat info, saling memberi kabar, antara gue duluan, atau dia yang duluan tahu. Akhirnya, gue mengajak orangtua, pacar, dan koko serta soso untuk ikutan nonton. Maka kami belilah 7 tiket, dan 2 teman gue menyusul beli nya, jadinya kita duduk terpisah.

Kalau jodoh memang gak kemana. Iya, sekitar 1-2 minggu sebelum konser, mendadak koko gue harus ke luar kota untuk urusan pekerjaan, dan terpaksa gue harus mencari orang pengganti, namun ternyata agak sulit mencari orang yang mau ikut nonton musik klasik. Namun, ya, karena jodoh memang gak kemana, kerjaan koko di luar kota dapat diundur, jadi dia bisa ikut nonton.

Konser apa sih?

Oke. Bagi yang masih penasaran ini konser macam apa, akan sedikit gue jelaskan. Dipetik dari buku program sih sebenernya :p

Symphonia Vienna beranggotakan 65 musisi international terpilih dan berkualitas tinggi yang berpengalaman di bidang musik klasik baik sebagai soloist, musisi music chamber, music principal dari berbagai orchestra ternama di Eropa.

Symphonia tidak hanya membawakan repertoar klasik tetapi juga musik dari era baru dan tradisional, jazz, avant-grade, film score, ballet, dan opera dalam international tour.

Symphonia akan menampilkan sebuah komunikasi interaktif kepada pendengar sehingga pendengar dapat merasakan sebuah kehangatan musik itu sendiri. Tradisi dan inovasi ini adalah 2 pilar dari Symphonia.

Pada tour kali ini Symphonia Vienna akan menampilkan principal-principal dari setiap instrument untuk menunjukkan kebolehannya dalam bermusik klasik tingkat tinggi, disertai dengan musikalitas sangat indah yang menjadikan alasan mengapa mereka terpilih menjadi principal dalam Symphonia Vienna dengan harapan para musisi klasik Indonesia dapat menjadikan tolok ukur agar dapat berkembang lebih baik lagi dan menjadikan musik klasik di Indonesia menjadi lebih maju.

Tidak hanya itu saja, diharapkan musik klasik dapat lebih merambah ke individu yang lebih luas dan membuktikan bahwa musik klasik sebenarnya dapat dinikmati oleh semua orang dari berbagai umur dan kalangan.

Mungkin dari para pembaca blog ini, yang tanggal 8 Januari 2012 lalu nonton tayangan di  MetroTV, ada sebuah New Year’s Concert by Vienna Philharmonic Orchestra. Yup, kali ini mereka datang ke Indonesia, namun bukan Philharmonic, melainkan Symphony, mereka akan bermain solo maupun ensemble. Wah… Keren loh!

Vienna Symphonia

Vienna Symphonia

Mereka mendatangkan 15 orang Soloist yang sangat handal di instrument masing-masing, mereka adalah:

Flute : Steffi Mölle

Oboe : Zsolt Kovác

Clarinet : Thomas Orthaber

 Bassoon : Li Shi

 Horn : László Seeman

Trumpet : Helmut Zsaitsits

Trombone : Ivan Horvat

Timpani / Percussion : Stefan Tivadar

Harp : Rama Widi

Concert Master : Jenő Koppándi

Violin II. : Martin Reining

Viola : Attila Kovács

Violoncello : Daniel Baran

Contrabass : Gabor Piukovics

Conductor : Raphael Schluesselberg

Jangan heran di antara nama-nama Soloist (bukan orang Solo yah!) di atas ada seorang Indonesia, karena ya, memang Rama Widi adalah Harpist muda Indonesia yang sudah melanglang buana di dunia orchestra international. Dialah yang membawa para musisi-musisi ini datang ke Indonesia untuk unjuk kebolehan. Sangat membanggakan. Ihiyyy….

Jadi, kita ga usah jauh-jauh ke Vienna untuk mendengarkan musik klasik langsung dari para profesionalnya. Dengan harga tiket yang sangat terjangkau pula! Daripada uangnya buat jalan-jalan ke mall atau belanja yang ga perlu-perlu amat, mendingan di awal tahun ini, sisihkan sedikit uang belanja kita untuk membelanjakan keriangan bagi batin kita. Hahaha… Serius. Kenapa gue bisa berkata demikian? Karena, hasil yang kita dapatkan dari nonton konser musik klasik semacam ini, adalah kedamaian pikiran, apalagi pemain-pemain musiknya ganteng-ganteng beud. Catat: Martin Reining (Violin2), gantengnya gak sante…hihihi, kalo kata sang pacar, macam Josh Groban versi rambut lurus. Hahaha… Sang pacar juga bilang doi ganteng kok :p *curhat*

Oke lanjuttt…

Ada yang lucu dari para soloist itu, jadi nih, ketika mobil kami memasuki gedung Aula Simfonia Jakarta, kami melihat 4 orang bule yang mengenakan tuxedo, keren-keren, lagi pada ngobrol-ngobrol asik sambil ngerokok! Yup, kami langsung tahu itu pasti para soloist yang akan tampil nanti. Apa kesan gue? Mereka low profile sekali yah, bisa gitu nongkrong di dekat pos sambil ngobrol dan merokok! Eaaa, tapi gue bingung, baru tahu kalo pemusik klasik juga hobi merokok. Hahaha…

Gue menyesali 1 hal kemarin, yaitu, gue ketinggalan lagu pertama! Karena sedang menunggu keluarga gue yang belum tiba di lokasi. Hiks hiks… Kata si dr.Miki, lagu pertama dibawakan dengan luar biasa indah T.T Apalagi conductornya, gayanya keren banget begitu memasuki panggung orchestra. Katanya, Mr Raphael ini mirip sama Jack Sparrow :p

Kekesalan gue di awal acara ditambah dengan penempatan group photographer di antara penonton (baca: kami bertujuh), atau memang kami yang salah posisi? Apakah area itu memang untk area photographer dan media? Lah, kan gue beli tiket udah dapat nomor kursinya. Entahlah, yang pasti gue merasa terganggu dengan suara jepretan kamera mereka. Sangat terganggu malah. Gue tidak masalah jika mereka mengambil gambar di saat intermission, namun sayangnya mereka mengambil gambar di tengah lagu sedang dimainkan! Itu apa namanya kalo ga mengganggu? Grrr…

Untungnya dari pihak panitia akhirnya menegur mereka, dan mereka ‘sedikit’ berubah lebih baik. Sempet juga sih ketika ada salah 1 orang yang ambil gambar secara continue, jadi kan bunyinya panjang banget. “jret jret jret jret jret jret jret” Ckckckck… kekesalan gue memuncak dan gue reflek bersuara “Sssst.. berisik!”, hihihi apa yang terjadi? Si photografer itu melirik gue dengan ekor matanya, terkesan tidak senang dengan teguran gue. Lah, lagian situ ambil gambar melulu dari tadi, orang kan jadi terganggu nontonnya.

Oke. Tarik napas. Kembali melihat ke pangggung. Catatan: Kami duduk di balcony. Namun sayangnya menghadap piano, jadi ga bisa melihat tuts-tuts menari dengan leluasa.

Repertoar Yang Dimainkan

Repertoar Yang Dimainkan

Gue memasuki ruangan ketika Rama Widi mulai memainkan Solo Harpa…Legende… Kesan pertama gue, sebagai orang yang awam terhadap alat musik ini, adalah… WOw, pasti harpa nya berat sekali dan harganya mungkin bisa sampai 9 digit @.@ Oh iya, Rama pun memainkannya dengan sangat kerennn. Feelnya berasa.

Ijinkan gue sedikit ambil dari twitternya @ramawidi di situ ada cerita tentang lagu Legende ini. Lagu ini menceritakan tentang seorang ksatria yg pergi ke hutan demi mencari kekasih yg hilang. Sesampainya di hutan sang ksatria bertemu dengan Ratu Peri yang berusaha merayu agar tetap di hutan, menari bersama peri2 hutan lainnya. Lalu sang Ratu memberikan mantra kepada sang ksatria, akan tetapi tidak berhasil, karena besarnya cinta sang ksatria kepada sang kekasih. Terjadi sebuah perseteruan antara Ratu peri dan Ksatria, sampai akhirnya sang ksatria menemukan bahwa kekasihnya sudah menjadi batu. Kesedihan yang sangat mendalam (saat harpa arpegio panjang banget), sang ksatria berubah menjadi kemarahan dan menantang sang Ratu Peri untuk bertarung. Dalam pertarungan tersebut sang peri menghunuskan jarinya ke dada sang ksatria, yang mengakibatkan sang ksatria lumpuh dan mati. Sang kekasih sudah menjadi batu, sang ksatria mati dalam memperjuangkan cintanya, dan sang peri tidak mendapatkan cinta dari sang ksatria.

Eaaaa tragis beud ternyata. Pantesan waktu gue denger permainannya mas Rama, rasanya agak-agak pilu gimanaaa lah gitu. Hehehe…

Kembali gue dibuat tercengang oleh permainan mereka yang membawakan lagu Mozart, Concerto in C, KV 299 2nd movement for flute, harp, and stringquintet. Ini juga kerennnn….secara lagu ini termasuk lagu wajib di playlist laptop gue, jadi udah sering dengar, dan…menurut gue permainan mereka luar biasa bagus, terutama saat Steffi Mölle (flute) yang lagi unjuk kebolehannya. Seandainya gue pria, mungkin akan meleleh hatinya. Hihihi maaf lebay lagi :p

Gue pun tertarik dengan lagu Meditation yang dibawakan oleh Rama Widi dan seorang Violist. Udah seringkali mendengarnya, namun baru kali ini gue merinding disko… Entah kenapa, mungkin karena feelnya pas sekali.

Espanafor. Solo Horn. Jujur sebenarnya gue agak tidak mengerti bahwa Horn dapat dimainkan secara tunggal begitu, namun ya, tidak dipungkiri bahwa gue mengagumi Mr László Seeman dengan permainannya.

Ada lagi penampilan yang memukau, yaitu sang penyanyi soprano bernama Clarentia Prameta yang membawakan Panis Angelicus, diiringi dengan ensemble. Gue terpesona dibuatnya, gak gak gak kuat. Suaranya terdengar jernih dan bening, keren banget. Kalau dari penilaian nyokap gue, Meta kenapa tangannya gak dilipat kedua tangannya di depan perut, seperti yang sering kita lihat kalau orang lagi sariosa. Pasti jadinya lebih bagus. Hahaha… Iya, nyokap gue udah mirip komentator di tipi-tipi :p Tidak lupa, juga hadir di hadapan kami semua, The Singers Chamber Choir dengan lagu Alleluia, mereka yang menjadi pemenang pertama di beberapa lomba choir Natal kemarin. Merinding!

Berbeda dengan permainan solo lainnya, yaitu Timpani, oleh Mr Stefan Tivadar, dengan kemeja lengan pendek warna hitam, beliau hadir di panggung terlihat lebih santai dan siap ‘menerkam’…alat musik di hadapannya. Hehehe… Ini sumpeeee keren bangettttt! Ga perlu ada nada, yang penting dari pukulan, sentuhan, dan ketukan yang diciptakan dapat menghasilkan harmoni yang indah. Gue juga baru tahu bahwa ternyata solo Timpani bisa demikian indahnya.

Dari keseluruhan konser ini, gue paling suka di bagian paling akhir. Apalagi kalau bukan, Lagu Daerah!! Bayangkan, Ampar-Ampar Pisang, Jali-Jali, O Ina Ni Keke, dan Yamko Rambe Yamko, dimainkan secara ensemble klasik! Ini gilaaa kan?! Jenius malah kalo menurut gue. Di arrange oleh Mr Li Shi seorang China yang memegang alat musik Bassoon. Kapan lagi lagu daerah dimainkan dengan nuansa klasik dan terdengar begitu ‘megah’. Kapan lagi lagu daerah dimainkan oleh musisi-musisi klasik international dari Vienna dan sekitarnya. Gue yakin, musik dari Indonesia tidak kalah dengan musik international lainnya, hanya perlu dikemas lebih bagus dan di’marketing’kan lebih luas lagi, gue jamin, musik daerah Indonesia bisa bersanding di luar negeri dengan musik-musik lainnya. Buktinya, gubahan lagu daerah tersebut tidak kehilangan identitas sebagai lagu aslinya, karena nada aslinya tidak bergeser, hanya diberi sentuhan klasikal dan….tadaaaaa…jadilah dia, The Best Ampar-Ampar Pisang & Yamko Rambe Yamko…EVER! Hahaha…

Paling berkesan ketika mereka memainkan Yamko Rambe Yamko, ternyata para soloist itu gokil-gokil semuaanyaaa….parah! Mereka bisa teriak ‘Yamko’ sambil mengangkat alat musik yang dipegangnya, dan beberapa kali membuat tingkah lucu yang membuat seluruh penonton tertawa. Meriah sekali puncak acara yang mereka sajikan. Mereka berhasil menyuguhkan permainan yang sangat baik kepada penonton, membawa kami terhanyut dalam permainannya. Mulai dari termenung, tercenung, menganga, terpesona, ikut bertepuk tangan, dan bahkan tertawa.

Acara ditutup dengan standing ovation untuk Vienna Symphony, tepuk tangan begitu riuhnya tanpa jeda. Membuat sang conductor kembali naik ke panggung dan mereka memainkan Ohne Sorgen nya Josef Strauss. Encore pertama.

Oh ternyata penonton masih belum puas. Tepuk tangan kembali diobral oleh kami semua, tanpa henti, tanpa ampun. Hahahaha… Dan sang conductor kembali naik ke panggung untuk memberikan encore kedua! Mantappp…. Bauern Polka!!

Ehh belum, belum puas juga? Hmmm oke. Tiada tawar menawar lagi untuk encore ketiga ini. Yamko Rambe Yamko kembali mereka mainkan. Dan kembali, penonton dibuat tertawa oleh ulah para pemain yang gokil-gokil itu. Keren!! Fun!! Gue mau nonton lagi kalau mereka tahun depan datang ke Jakarta (dengan catatan harga tiket sama seperti tahun ini) Hahaha…

Oh iya, tidak lupa gue mau memuji akustik di aula ini. Tanpa menggunakan microfon, suara alat musik maupun vocal terdengar amat sangat jernih. Serasa kayak lagi muter CD loh. Seriusan. Bening banget suaranya (asalkan tidak ada suara jepretan kamera!). Eh tapi gue juga penasaran nih, di atas panggung ada 4 alat kecil yang digantung, bentuknya kayak mic kecil gitu sih, tapi gue ga yakin itu mic atau bukan. Gue ga peduli, yang penting suara yang terdengar di ruangan itu adalah real, asli, dan jernih!

Nampaknya, para musisi itu sungguh orang-orang yang menikmati hidup. Bayangkan! 30 menit kemudian, ketika gue keluar dari parkiran, gue melihat mereka semua (semua soloist) sudah berpakaian santai layaknya turis. Pake kaos/kemeja lengan pendek, dan celana pendek, sambil ngobrol-ngobrol dan foto-foto di depan gedung! Di dekat pos satpam tepatnya. Arghh… Lucu sekalii. Pacar gue, ngefans berat sama Mr Helmut Zsaitsits, dan pas melihat mereka di depan pos satpam, sang pacar buka jendela, panggil-panggil Mr Helmut…Huahahaha, namun sayang gak kedengeran, jadinya ya sudahlah, nasib :p Kalo gue sih jelas demennya sama Martin Reining, si violist yang paling ekspresif. –> dengar punya dengar, mereka sedang mau makan malam di Restoran Padang Garuda… wuihh!

After Conzert

After Conzert

Saat itu waktu sudah hampir pukul 11 malam, dan kami sekeluarga memutuskan supper dulu di Imperial Chef, Hayam Wuruk. Karena naga-naga di perut kami sudah sangat kelaparan, jadi harus kami beri ketentraman. Teman gue, si dr.Miki, udah dicariin sama orangtuanya, namun tenang saja, dia aman bersama kami. Hehehe… Selesai makan, langsung kita antar pulang…jam 1 lewat gue baru tiba di rumah, Ahhhh lega rasanya. Mata udah berontak mau tidur.

Konser ini adalah konser yang amat sangat baik sebagai pembuka tahun 2012. Semoga, perkembangan musik klasik di Indonesia semakin meningkat, terutama di kalangan anak muda. Karena apa? Karena musik klasik adalah ‘Ibu’ dari semua musik yang sering kita nikmati jaman sekarang ini. Jangan durhaka ya, anak-anak :p

Okay, bagaimana kalau gue membuat resolusi baru untuk tahun-tahun mendatang? Nonton konser langsung di VIENNA!!! Pasti mantapp sekali, saudara-saudara… Wish me luck then… :p

The Soloist of Symphonia Orchestra

The Soloist of Symphonia Orchestra

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Her Daily News, Listen and Enjoy. Bookmark the permalink.

5 Responses to The Amazing New Year’s Concert: From Vienna to Jakarta

  1. id@ says:

    Terima kasih saya ucapkan kepada ibu Heltien yang telah menshare info concert ini
    new experience and one of the best in early 2012 \(^^)/

    btw itu di foto nya ada terlihat terdakwa photographer bkn ya hehe

  2. michel says:

    nice blog huny, bner itu yg di foto awal ada yg kepalanya nongol botak, salah satu fotografer yg agak mengusik dengan jepret2 n pindah2 posisi… hehehe

  3. Pingback: [Review] Addie MS: The Sounds of Indonesia | @truetienz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s