Bank Bala Bantuan Biri-Biri

Kringgg…

Kringgg…

Beberapa saat telepon genggam papa berdering nyaring…

Kring…

Kring….

“Halo”, sahut papa.

“Selamat Siang. Ini benar dengan Bapak H***** D*******?”, kata suara diujung sana.

“Iya. Dari mana ini?”, balas papa.

“Kami dari bank bla bla bla… ingin menawarkan bla bla bla….”, balas wanita itu dengan lancar tanpa jeda…

Errrr…. Gue yakin, dari sekian banyak penduduk di negara kita tercinta ini, pasti ada yang pernah ditelepon oleh orang bank yang tujuannya, antara menawarkan-kartu-kredit, sampai memberikan pinjaman-tanpa-agunan.

Gue salah satunya yang suka ditawarin via telepon (dan SMS), tapi…belum ada apa-apanya dibandingkan telepon yang diterima papa setiap hari. Bisa ada lebih dari 5 bank yang telepon ke HP papa dan menawarkan produk ini-itu.

Misalnya, sebut saja ‘Bank BalaBantuanBiriBiri’ (ya, daripada gue sebut nama bank-bank yang beken, nanti dikiranya pencemarkan nama baik :p), seorang karyawannya menelpon papa gue dan menawarkan kartu kredit, sedangkan papa sudah punya kartu kredit dari Bank BiriBiri itu, dia dengan sedikit ‘memaksa’ mencoba meminta referensi relasi papa yang lain. Gak sopan! Ya, gak sopan aja menurut gue…

Gue aja paling sebel kalau ada teman/keluarga yang kasih data nomor telepon ke orang lain tanpa seijin/sepengetahuan gue. Nah ini, mereka meminta referensi dari kita, yang artinya, meminta data orang lain tanpa seijin teman/keluarga kita tersebut. Wohooo… Tidak tidak, itu bukan cara kerja gue.

Dan seketika papa gue membalas, “Tidak ada referensi mbak. Terima kasih.”, klik. Langsung ditutup oleh papa.

Papa gue aja udah kesel setengah hidup, pasalnya, ketika waktu menunjukan pukul 8 pagi, telepon genggam papa mulai ramai dengan telepon masuk tanpa nama, yang ketika diangkat seringkali menawarkan produk-produk bank, dari berbagai bank yang berbeda-beda. Intinya sih sama aja, menawarkan kartu kredit, menawarkan kredit tanpa bunga, dan meminta referensi lainnya.

Lalu? Apa solusinya? Ganti nomor? Itu bukan solusi yang baik, karena nomor teleponnya itu digunakan untuk bisnis pula. Apa jadinya kalau papa harus ganti nomor demi menghindari ‘teror’ dari berbagai bank?

Block nomor tidak dikenal? Tidak bijaksana juga, karena nomor telepon yang tanpa nama bukan berarti semuanya dari bank.

Lalu? Harus gimana donk, kalau papa lagi sibuk-sibuknya bekerja dan santai-santai malah diganggu dengan dering HP yang ternyata tujuannya itu lagi-itu lagi!

Ga ada cara lain, kalau sudah begitu, jawaban papa hanya, “maaf ya bu, saya tidak tertarik.” atau “maaf ya pak, saya lagi sibuk. jangan telepon lagi.”, atau, pernah suatu hari papa kesal dengan telepon-telepon ga jelas itu dan ngomelin si penelpon,”Kalian ini, dari bank ini, bank itu, setiaaaap hari telepon mulu nawarin ini itu. Memangnya kalian dapat nomor telepon saya dari mana?? Jangan telepon lagi!!” Beghhhh… Papa gue kalo udah marah, ngeri beud… *jangan macam-macam*

Memang sih, orang yang itu ga berani telepon papa lagi, tapi teman-temannya di bank itu yang lain, dan bank-bank lain, kan gak tahu, dan gak peduli. Pasti lah papa tetep ditelepon…diteror tepatnya >.<

Gini ya, saudara-saudariku terkasih, kalau pun memang kami BUTUH sebuah Kartu Kredit dari bank tertentu, maka kami akan mendatangi sendiri bank tersebut, atau stand pamerannya, atau apapun itu, dan kami akan mengajukannya sendiri, tanpa dipaksa, tanpa dikejar-kejar, dan tanpa direferensi oleh siapapun.

Karena sesungguhnya, upaya mereka untuk mendapatkan nasabah dengan cara seperti itu, malahan akan menjauhkan nasabah tersebut dari bank mereka. Kenapa? Karena, jangankan menawarkan produk, baru mendengar kata pembuka dari ‘bank’ saja, nasabah yang tidak tertarik akan langsung memotong pembicaraan, sebelum mereka selesai menjelaskan. Atau dia dipersilahkan menjelaskan, tapi teleponnya digeletakan begitu saja sampai dia selesai bicara, dan menyadari ternyata dia sedang ngomong sendiri dari tadi. Hehehe…*iya kalo yang ini pernah gue lakukan. hihihi… abisnya gue udah bilang gak mau, tapi dia tetep maksa.* Kalau yang menawarkan sopan dan bicaranya baik-baik saja sih tidak jadi masalah, yang jadi masalah itu yang kaga sopan, alias masih maksa walaupun sudah dibilang tidak tertarik.

Tarik napassss…

Oke, lanjut…

Gue pernah mengalami satu hal yang juga menyebalkan. Ditelepon oleh salah satu bank (ga inget bank apa, aneh namanya), tapi kali ini mereka menawarkan asuransi kesehatan. Asuransi ini kayak cicilan gitu, untuk 1 tahun, setiap bulannya akan dibebankan Rp 120ribu ke rekening kita, dan di akhir tahun, apabila tidak digunakan, uangnya akan dikembalikan full. Namun tanpa bunga apapun (siapa ya yang tertarik?). Lah, opo toh iki.  bla bla bla… pokoknya dia jelaskan panjang lebar. Gue bilang, “Saya sudah ada asuransi yang lain pak, jadi tidak perlu lagi yang ini, Terima kasih ya.”, “Loh, kenapa bu? Sayang sekali loh kalau tidak ikut asuransinya. Toh kalau tidak dipakai uangnya akan dikembalikan semua tanpa potongan.”, “Tapi saya tidak tertarik pak, saya sudah ada asuransi kesehatan.”, “Ibu JANGAN BEGITU DONK, begini saja, saya input dulu data pengajuannya, nanti saya kirim ke alamat ibu ya.”, gila apa ya tu orang?? Maksa beud! Akhirnya gue bentak, “WOI! Saya sudah tolak dengan baik-baik, tapi kenapa kamu masih maksa. Ga pernah belajar etika ya!!”, akhirnya dia bilang, “Ya sudah kalau begitu.” Klik. Langsung ditutup sama dia! Gelo kan?!?! Mana ada orang bank kayak gitu caranya? Tanpa basa-basi, minta-maaf-atas-ketidaknyamanannya, maupun terima kasih. Ga ada sama sekali. Akhirnya gue curiga, jangan-jangan itu salah satu modus penipuan.

Bah! Pokoknya jaman sekarang ini edan deh. Data nasabah dari satu bank bisa melanglang buana ke bank-bank lainnya, ataukah mereka punya database ‘bersama’?? Gue ga ngerti. Pokoknya, yang pasti sangat banyak masyarakat yang merasa terganggu dengan penawaran produk jasa keuangan dengan cara seperti ini. Menelepon calon nasabah dari sabang sampai merauke, setiap hari, berkali-kali, dan akhirnya membuat orang kesal.

Lalu kalau begini, APA JAMINANNYA BAHWA DATA NASABAH AMAN??? Toh buktinya, kita hanya memberi data pada 2-3 bank, namun bank seantero Indonesia bisa telepon dengan leluasa ke HP kita dan menawarkan ini-itu.

Sekali lagi, jika memang kami butuh, kami akan mencari dan mengajukannya, tanpa paksaan. Jadi, ga usah repot-repot ya…

Dan maaf, tulisan ini sama sekali tidak bertujuan untuk menyinggung siapapun, melainkan kritik kepada (siapa ya?) bank/pemerintah, kenapa data nasabah bisa tersebar kemana-mana?!

*Curahan hati seorang anak yang setiap pagi mendengarkan papanya ‘menolak’ orang-orang tidak dikenal*

 

Salam BankBiriBiri,

Neit-Neit

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in In Her Mind. Bookmark the permalink.

One Response to Bank Bala Bantuan Biri-Biri

  1. id@ says:

    iya tuh tien, emang suka maksa tp g tipe kejam “SAYA GAK BERMINAT” langsung akhiri panggilan hehe

    tp sebenernya itu bukan pegawai banknya tp lebih ke marketing yang freelance yang menawarkan itu (yang based on commission), nah klo untuk data itu disebarluaskan itu akalan2 marketing dgn marketing yang laen (jual2an data)

    plus di salah satu bank swasta terbesar di Indo, pas mau apply kartu kredit ada clausal ttg penyebaran informasi kita hehee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s