Gede Prama : Compassion is My Only Presence

Pelajaran yang dapat kita ambil dari blognya Bapak Gede Prama…Idola saya, sekaligus guru spiritual jarak jauh. Hehehe…
Enjoy!
 

Di awal manusia memerlukan tujuan (duniawi: kemajuan, pertumbuhan; surgawi: pembebasan. moksha). namun setelah berjalan jauh ke dalam (Pura Dalem), tujuan tidak diperlukan. Hanya mengalir sempurna dengan setiap putaran kehidupan.

Apakah kebenaran memerlukan perjuangan? Bagi mereka yang di dalamnya ksatria (polisi, tentara, hakim, jaksa, dll) jawabannya Iya. Tapi mereka yang di dalamnya Brahmana (sudah menemukan keheningan di dalam), kebenaran memiliki hukum dan siklusnya sendiri, jadi tidak perlu dicari dan dikejar. —> Orang awam seperti kita, kebanyakan masih memerlukan perjuangan atas kebenaran itu. Ini gimana? 

Soal apakah manusia penguasa dunia, di awal perjalanan banyak manusia yang menyebutnya demikian. Namun bagi yang sudah berjalan jauh ke dalam, sesungguhnya yang menguasai dan yang dikuasai tidak ada.

——————————————————————————————————-

Belajar dan berguru itu baik, tapi ada guru tertinggi (hanya untuk diri anda) yang sudah diciptakan untuk setiap orang. Sayangnya sedikit yang mau mendengar dan belajar dari sana, yakni keseharian kita.

Belajarlah melihat dan mendengar dari kejadian-kejadian keseharian. Mendengar tidak dengan telinga, melihat tidak dengan mata, meraba tidak dengan tangan, melangkah tidak dengan kaki. Di sana engkau akan menemukan guru sejati. —> masih bingung… -__-

Sementara (sekali lagi sementara) bila belum bisa, boleh baca terus tulisan-tulisan saya 🙂

Godaan, cobaan, guncangan bukanlah tanda Tuhan lagi marah, ia pertanda jiwa sedang bertumbuh. Keadaannya mirip amplas yang menghaluskan kayu, atau pisau yang melobangi bambu untuk menjadi seruling.

Tabahlah, sabar, kehidupan sedang membuat anda jadi mulya lewat cobaan-cobaan ini.

——————————————————————————————————

Bagi orang kebanyakan, mimpi hanya bunga tidur. Freud bahkan menyebutnya sampah yang tidak perlu. Tapi di dunia spiritual, ada praktek Dream Yoga (yoga mimpi), artinya mimpi tidak sepenuhnya sampah, mimpi juga lahan latihan spiritual! Tentang pengalaman Anda bermimpi kakek/nenek, ada 2 kemungkinan: beliau mau menyampaikan sesuatu, atau guru di alam sana meminjam tubuh kakek/nenek untuk menyampaikan sesuatu. Saran saya, menjelang tidur coba gambar huruf Om (0ngkara Bali) sebelum tidur tiga kali. Kemudian, jalani mimpi dan kehidupan dengan penuh ketulusan dan keikhlasan. —> Saya tidak pernah mimpi tentang orang yang sudah tiada, melainkan baru-baru ini mimpi buruk tentang orang-orang yang masih ada di sekitar saya. Ini apa maksudnya…

——————————————————————————————————-

Dalam keseharian, cukup Anda banyak berbuat baik. Bila tidak bisa, cukup jangan menyakiti. Ini sederhana sekaligus mendasar. Soal karma orang, ada yang bisa dibelokkan ada yang tidak. Bila aliran karmanya keras sekali, tidak bisa dibendung (misalnya kesalahan yang dilakukan terlalu berat seperti membunuh), amat susah membelokkannya. Bila arus karmanya lemah (hanya kesalahan kecil) dan kita punya hubungan karma yg kuat (sebagai orang tuanya, saudara kandung dll), mungkin bisa dibelokkan. Kembali ke awal, banyak berbuat baik, kalau tidak bisa cukup jangan menyakiti.

——————————————————————————————————-

Ahimsa (non violence alias tanpa kekerasan) memiliki beberapa tingkatan:

1. Tidak menyakiti secara fisik (membunuh binatang, memukul orang, memotong pohon sembarangan dll)
2. Tidak menyakiti dengan kata-kata (kata-kata kasar yang menyakiti, memfitnah, gosip, menyebarkan cerita bohong, dll)
3. Tidak menyakiti dengan pikiran (niat buruk, dendam, iri, dengki, berfikir negatif dll)

Bermodalkan yang tiga ini baru masuk ke tataran Ahimsa yang sesungguhnya:
Loving kindness and compassion (cinta kebajikan dan kasih sayang). Inilah intinya. Bila sampai di sini, tidak ada yang lain tersisa terkecuali 3I : Indah, Indah dan Indah! Puncaknya (bila Anda mau terminologi Hindu) adalah Satchittananda; Ia yang pikirannya senantiasa terserap dalam-dalam pada kebenaran kekinian akan melihat keindahan di mana-mana.

——————————————————————————————————–

Bila seseorang menangis haru mendengar doa “Nammo Avalokiteshvara” kemungkinan besar punya hubungan karma amat kuat dengan garis Guru ini. Silahkan melafalkan doanya kapan saja di mana saja, khususnya dengan niat mengurangi penderitaan para mahluk. Kisah singkatnya begini, Buddha Avalokiteshvara (Buddha kasih sayang) saat mengalami pencerahan berjanji untuk terus-menerus terlahir guna membantu semua mahluk di alam samsara. Kemudian beliau meditasi dalam 1 kalpa yg panjang, setelah terbangun kemudian menemukan jumlah mahluk yg menderita tidak tambah sedikit, kemudian dihinggapi keraguan.

Begitu keraguan muncul, badannya pecah menjadi seribu terlahir di 6 alam (neraka, setan, binatang, manusia, setengah dewa dan dewa). Melihat kenyataan seperti ini, meditasi kembali sehingga bisa memiliki seribu tangan, sembilan muka, muka ke sepuluh diberi kekuatan khusus oleh Buddha Vajrapani, muka ke sebelas diberi kekuatan khusus oleh Buddha Amitaba. sehingga jadilah beliau bertangan seribu bermuka sebelas yang terus menerus menolong, menolong dan…menolong.

Diantara banyak kelahirannya, salah satu yang sangat dikenal terlahir dengan nama Dewi Kwan Im. Saran saya untuk anda, sayangi semua mahluk, jadilah salah satu tangan Buddha Avalokiteshvara di alam ini dengan menyayangi suami, anak-anak, serta semua mahluk tanpa terkecuali. :)

——————————————————————————————————-

Baiklah, ini sedikit yang bisa gue share dari blognya Bapak Gede Prama. Masih banyak banget yang bisa kita pelajari di sana 🙂 Seperti kata seorang teman di status FBnya beberapa waktu yang lalu “Jika tidak bisa mencintai, setidaknya jangan menyakiti…”

\(^.^)/

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in In Her Mind. Bookmark the permalink.

One Response to Gede Prama : Compassion is My Only Presence

  1. id@ says:

    saya bingung bacanya tien -__-”
    setuju kalo tidak bisa mencintai, setidaknya jangan menyakiti – jadi melowwww hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s