Musik: Tentang Beliau, Kami, dan Mereka

Hello March!

Bulan Februari kemarin gue yakin mendapat rapot merah karena jarang ngepost tulisan berguna. Halahhh, emang biasanya tulisan gue berguna? Hahahaha… Dan di bulan Maret ini, gue siap menerima hukuman cambuk karena makin  jarang ngepost. Harap maklum, akhir-akhir ini banyak hal-hal yang harus dikerjakan, bahkan untuk ngibrit ke toilet pun ditunda-tunda terus. #lebay

Dan hari ini, malam ini, udah telat memang, tapi gue ingin mengucapkan “Hello March” kepada man-teman ra-sodara ri-sodari. Sambil mendengarkan Turkish March nya Wolfgang Amadeus Mozart alias Rondo Alla Turca.

A Beginning

Gue ngutang cerita tentang Student Recital St. Cecilia Conservatory of Music ya… Okay gue mau cerita nih, duduk yang manis, siapin cokelat panas, peluk bantal kecil.

Ijinkan gue cerita sedikit tentang latar belakang Cici gue, dan kisah berdirinya Sekolah musik ini ya. Cici gue namanya Helen Darmawan (6 tahun lebih tua dari gue) adalah perintis sekaligus owner dari St. Cecilia Conservatory of Music, Jambi. Gak ada duanya loh di dunia 😀 Cici memulai perkenalannya dengan alat musik piano sejak umur 3 tahun (kalau ga salah), yang hobi ting tang ting tong tuts organ awalnya, lalu bokap membelikan piano, non-stop sampai hari ini. Awalnya belajar privat sama ‘Oma Betty’ (begitu kami memanggilnya) Medaningsih Lesmana di Lembaga Pendidikan Musik Citra Indonesia, Sunrise Garden, sampai cici lulus SMA dan ingin melanjutkan kuliah.

‘Jodoh memang tidak kemana’, adalah istilah yang tepat bagi Ci Helen. Kenapa? Karena saat itu, cici daftar kuliah di Universitas Trisakti, tepat, TEPAT, pada saat kerusuhan Mei 1998 terjadi. Siang harinya, cici ke Trisakti untuk bayar Uang Pangkal kuliah (apa sih istilah ‘uang pangkal’ sekarang?!), di jurusan yang diminatinya ‘Kedokteran’. Setelah cici pulang ke rumah, sore harinya, kami nonton berita, dan semua stasiun televisi sedang menayangkan berita demonstrasi mahasiswa Trisakti yang berakhir ricuh dan terjadi penyerangan oleh aparat kepolisian yang menewaskan beberapa mahasiswa di sana. Gila! Siapa yang ga kaget, tadi kesana masih tenang-tenang aja, sorenya udah ricuh bahkan ada yang meninggal akibat tertembak.

Lalu, sebuah perbincangan di keluarga, dan keputusan lain dibuat. Plan B. Cici membatalkan rencana kuliah Kedokterannya di Trisakti (gue lupa, uang pangkalnya dikembalikan berapa persen, atau hangus semua), dan pindah haluan untuk kuliah jurusan musik. Dan memang dasar jodoh gak kemana, cici mendapatkan beasiswa di NAFA (Nanyang Academy of Fine Arts), Singapore, jadi tanpa ba bi bu, dia menyiapkan segala keperluannya untuk kuliah di sana. Jadilah dia, bye bye Trisakti, hello NAFA. Bye bye Medical, hello Arts. Dadah cece, gue tidur sendirian sejak cici kuliah di Singapore. Beberapa kali gue ke Sg main-main ke kampus cici. Kampus NAFA yang lebih terkesan-dan-terlihat seperti ‘pabrik’ (karena banyak barang-barang macam tanah liat, semen-semen, patung-patung ajaib), daripada sebuah kampus. Dulu sih gitu, harusnya sekarang udah lebih keren. Hehe…

Saat itu di NAFA gak ada program Bachelor, jadi untuk menggenapkan Bachelor of Music nya, cici melanjutkan studinya ke Kansas selama kurang lebih 2 tahun, di Kansas University, USA. Selama cici kuliah di sana, dia jarang pulang, mahal biayanya, hehe… Dia pun selain kuliah juga mengajar, hal yang sama dia lakukan seperti di Singapore. Kuliah, dan mengajar privat. Sayanggggnya, saat acara Graduation, mamapapa gak jadi ke sana, padahal udah direncakan, gue lupa alasannya kenapa, yang pasti cici gue sendirian deh melewatkan Graduation T.T, mungkin teman-temannya yang lain lagi asyik sama keluarganya.

Setelah menyelesaikan studinya di Kansas, cici kembali ke Singapore dan mengajar di sana, kali ini mengajar menjadi guru privat dan kelas. Sibuk lah pokoknya, jadi jarang pulang. Music is her life. Music is her soul. Piano is her bestfriend. Students are her mirror.

Sampai akhirnya, jodohnya tak lain dan tak bukan adalah orang Jambi, maka cici gue pun memilih berkarir di Jambi setelah menyelesaikan kontrak mengajarnya di Singapore.

Intermezzo…

Jangan, jangan tanya kenapa gue tidak mengikuti jejak cici sebagai guru piano, pianis, dan semacamnya. Perbedaan mendasar antara Aku dan Dia adalah, Cici memainkan piano dengan kesadaran sendiri, dan Gue memainkan piano karena ‘Disadarkan’ nyokap. Hahaha… Cici belajar piano sejak umur 2-3 tahun, dan gue baru mengerti baca not balok pada saat kelas 2 SMP, itupun karena nyokap diam-diam mendaftarkan gue les sama Oma Betty.

Sebenernya gue uda diajak les sejak umur 6 tahun, tapi dasar sifat bebel, gue selalu menolak, sampai akhirnya kelas 2 SMP itu ga bisa lagi menghindar dari tajamnya tatapan nyokap. Oke, oke, saya les. See?? Nama kami boleh mirip, tapi kesenangan kami, jelas berbeda. #curcol :p Cici senang bermusik khususnya piano, dan gue senang menulis apa saja. Dan, harapan gue untuk menjadi jurnalis pun pupus karena ditolak mentah-mentah sama orangtua 😦 Tak apa, kadang orangtua ada benernya juga, jam kerja jurnalis sekarang gue tahu, melampaui kerja auditor di tax season. Bisa gak tidur bahkan ya?!

Biarpun gue ga hobi, gue berusaha membangun dan menciptakan hobi berpiano itu sendiri. Gue tetap ikut les, belajar teori musik, latihan di rumah, ikut annual concert, rutin les piano sampai lulus kuliah semester 8. Dan, gue tetap lebih senang menulis daripada bermain piano. Hahahaha… Sampai pada akhirnya gue berhenti les, dan latihan sendiri di rumah, mulai kerja, waktu latihan pun berkurang. Sekarang ya masih latihan tapi gak seefektif dulu lagi.

Apalagi sekarang Oma Betty semakin berumur (wow, dari gue masih kecil sudah memanggil beliau ‘Oma’), sudah tidak mengajar lagi, dan gue termasuk ‘murid-murid terakhir yang diajar’. Oma sekarang lebih banyak istirahat di rumah, dan rutin minum obat karena kondisi jantungnya yang harus lebih dijaga. Opa (suaminya Oma Betty) sudah lebih dulu ke Surga, saat gue umur 15 tahun. Anaknya Oma tinggal di Canada, juga sebagai guru musik, dan Oma sekarang dijaga oleh keponakannya.

Gue sayang banget sama Oma Betty, meskipun tahu gue ga hobi, Oma tetep sabar ngajarin dan membimbing gue, dan Oma yang tahu kegemaran gue ‘menulis’, menempatkan gue sebagai Sekretaris di Organisasi Musik kami. Eits tapi jangan salah, biarpun begitu, gue sangat mencintai musik klasik dan orchestra, gue senang menonton dan senang menikmati 🙂

Oma sering nanyain gimana kabar Helen. Dimana Helen sekarang? Anaknya udah berapa? Sekolah musiknya gimana? Dan diulang tahun Oma tahun lalu, cici kebetulan lagi main ke Jakarta sama anak-anaknya, jadi kita ramai-ramai ke rumah Oma, kumpul sama murid-murid Oma yang masih sering kontak. Biarpun beliau udah berumur, namun ingatannya masih kuat, gak lupa nama-nama kami, gak lupa profesi masing-masing muridnya (ada yang guru musik, ada yang dokter, ada yang akuntan, ada yang design grafis, ada yang design interior, beliau ingat semua), hanya saja geraknya sudah tidak secepat dulu. Fyi, gue ngetik ini sambil menitikkan air mata. Gue jadi kangen gitu sama Oma, pengen ah main ke rumahnya di Sunrise Garden.

Oma lebih dari sekedar guru sih bagi gue, beliau sabar, beliau bisa diajak curhat, beliau suka becanda walaupun kadang jayus, beliau sering bagi kita makanan kecil kalau nunggu belum dijemput, beliau suka ajarin beberapa etika-yang-anak-kecil-gak-ngerti. Hanya satu kekurangannya, beliau dulu-dulu suka ngajak gue ikut agamanya. Huahahaha… Dan gue selalu bilang, “Gak Oma, makasih. Agama ini udah lama di keluarga aku, kan semuanya juga mengajarkan yang baik. hehe…”. Udahannya beliau cuma ngomong, “iya iya.” 😀

Oma Betty and Family

Oma Betty and Family

Foto di atas adalah (duduk): Ko Denny (keponakannya Oma), Oma Betty, Cici n ketiga anaknya, (berdiri): Gue, La Vinna, n Paulina. Ini foto pas ulang tahun Oma tahun lalu. 🙂

From Soekarno Hatta to Sultan Thaha

Kembali ke laptop. Jadi, gue melancong ke Jambi pas tanggal 24-28 Februari yang lalu, tujuannya gak lain dan gak bukan adalah demi mendukung acaranya cici gue di Jambi, Symphony of Hope 2 (yang pertama di tahun 2010): Charity Concert by St. Cecilia Conservatory of Music. Sebenarnya acaranya sendiri berlangsung tanggal 26, namun karena gue pikir sedikit banyak dapat membantu dan mengganggu, jadi gue datang lebih awal.

Naik pesawat Lion Air, yang identik dengan waktu penerbangan delay, namun ternyata tidak kok, sekarang sudah on-time, bahkan belum waktunya boarding sudah dipanggil  untuk boarding. Hehehe… Meskipun setelah duduk di dalam pesawat, baru 1 jam kemudian kami take-off. Sungguh ter-la-lu. Karena mereka antri terbangnya. Tempat terbatas, pesawat yang mau terbang banyak. Jadi ya, dari gue ketiduran, sampai bangun lagi, pesawatnya masih aja berada di atas aspal lapangan terbang Soekarno-Hatta *lap iler*

Pesawat mendarat dengan mulusnya di Bandara Sultan Thaha, sesuai yang tertera di tiket, gue tiba jam 11 siang. Dijemput sama cici n keluarganya, langsung kita menuju ke St. Cecilia, makan siang, dan ngobrol-ngobrol. Cuaca di Jambi ya sebelas-duabelas lah sama Jakarta, panasnya bikin kepala berasap. Huahahaha…

Besoknya tanggal 25, gue anterin Alena (anak pertama cici) ke Matahari demi mencari baju konsernya nanti. Eh buset si cici, udah mepet begini si Ale masih belom dapet baju princessnya. Hahaha… Mana hari itu Matahari panasnya kayak ‘Matahari’ di langit, lantaran AC nya rusak sak sak! Mending kalo cuma ngipas-ngipas, ini keringat gue udah ngucur kayak air kran, sampai mata gue perih kemasukan air keringat, Bayangin sendiri deh kayak apa panasnya. Keponakan gue aja udah ga tahan banget, tapi demi nyari baju buat konsernya, dia rela tahan panasnya. 😀 Alhasil, kami berhasil mendapatkan 2 baju hasil promo Buy 1 get 1 free. Hohoho… Itu baju untuk Alena, baju Aurel mana? Gak usah, karena udah banyakkk bajunya Aurel hibahan Alena yang masih bagus-bagus. Hehe…

Jadi nih, anak-anaknya cici mulai tahun ini udah ikut konser, main Piano 😀 Buah-jatuh-tak-jauh-dari-pohonnya. Huehehehe…

Tanggal 25 sore semua murid berkumpul di aula Kanaan Global School, untuk rehearsal acara esoknya. Selesai jem 7 gitu, tapi semuanya terlihat bersemangat. Begitupun gue. Gak banyak membantu, tapi banyak melihat.

The Recital!

The Concert

The Concert

Pagi ini sungguh diluar dugaan. Kejutan yang amat sangat menyenangkan. Mama papa gue dateng donggg ke Jambi. Surprise abisss pokoknya. Jadi nih jem 7 pagi gue kebangun, koko BBM katanya mau ke airport. Gue nanya ngapain dia ke airport, ternyata lagi anterin mami n papi yang mau ke Jambi demi nonton konsernya cici… Huaaaa…. Langsung melek nih mata. Langsung juga gue toel-toel si cici, bilang mami papi mau dateng. Dia juga langsung seger “hah seriuss? yang bener lu dek?” Langsung seneng banget dia, bangun, mandiin anjing, mandi, beres-beres, tancep ke airport.

Acaranya mulai jam 2 siang, kok siang? Karena ada beberapa muridnya yang lagi ujian di sekolah, jadi pulang konser mereka masih sempat belajar. Gini ya, acara mulai jam 2, dan cici baru  ke salon jem setengah 1. Jadinya gue anterin cici ke salon trus pulang makan siang, dan jem 2 kurang  baru jemput cici di salon. Untung juga Jambi itu kota yang santai, gak pake macet, kemana-mana deket, jadi jam 2 kurang sedikit kami udah tiba di venue.

Susunan acaranya sih padat loh, murid-murid yang tingkat bawah tampil lebih dulu, ada piano, drum, band, gitar klasik, biola, dan vocal. Namun sayangnya beberapa penonton dan anak-anak kecil kurang bisa menjaga ketenangan, jadi keheningan yang diharapkan selama konser tidak terkabulkan. Dan gue tanya cici kenapa pakai Clavinova? Kok gak pakai Piano yang biasanya, katanya sih kendala di pengangkutan, ribet banget kalau bawa Piano, jadi pakai Digital Piano deh sebagai gantinya.

Performance

Performance

Violin Ensemble

Violin Ensemble

Tujuan dari acara ini adalah selain Charity Concert dengan Family Care Indonesia, juga untuk melatih keberanian murid-murid untuk perform di depan umum, dan menumbuhkan rasa percaya diri dalam diri mereka. Tidak dituntut untuk bermain sempurna, karena ini terhitung dalam proses belajar, dimana tampil-sendiri-di-rumah tidak sama dengan tampil-di-depan-orang-banyak, mengundang para orangtua murid agar mereka bangga terhadap anak-anaknya, dan mengenalkan kepada masyarakat tentang sekolah musik St. Cecilia.

Penggalangan dana dilakukan pada saat Choir tampil, menyanyikan beberapa buah lagu syukur dan keagungan Tuhan. Dan saat ini juga, puisi ‘Aku Percaya’ yang gue bikin dibacain… *jrenggg*

Symphony of Hope

Symphony of Hope

Undangan diberikan secara gratis, berjumlah 400 lembar untuk 400 kursi, dan tempat duduk terisi penuh pada sesi pertama. Sayangnya di sesi kedua sudah banyak yang pulang jadi kursi penonton lebih lenggang, karena memang acaranya agak molor sih, dari yang seharusnya selesai dalam 3 jam, ini baru selesai dalam 5 jam. Hehehe… Terlalu banyak yang tampil, jadinya kurang tepat memprediksi waktu.

Konser ditutup pembagian bunga kepada para murid yang tampil, dengan lagu Time to Say Goodbye yang dinyanyikan Nadia, salah satu murid cici. Nice song with a great voice.

Helen & Heltien

Helen 'Mantan-Calon-Dokter' & Heltien

Aku Percaya

Aku pernah terjatuh tak cuma sekali

Namun kubangkit kembali

Aku pernah kecewa

Namun kutetap percaya

 

Karena Dia telah menopangku

Menopangku dengan tandunNya

Membuatku semakin rindu

Ingin terus menyebut namaNya

 

Ijinkan aku bermimpi, Tuhanku

Maukah kau memeluk mimpiku

Dan menjadikannya nyata…

It’s a Monday!

Semalam selesai konser, kami langsung pergi makan kwetiau, sama cici dan anak-anaknya, minus cihu Alan (suami cici, fyi, dia ini Sensei bela diri Aikido) karena lagi beresin lokasi konser dan mengembalikan peralatan-peralatan yang dipinjam, dan Aurel, yang bersikeras mau temenin papinya kerja. It’s so sweet of you, Aurel… Dan ternyata cihu gue masuk angin, jadinya muntah-muntah malamnya pas lagi nurunin barang. Iya lah masuk angin, belom makan gitu sampai malam -__-”

Selesai konser, cici meliburkan dirinya selama 1 minggu, libur mengajar. Jadinya seharian itu mereka sekeluarga ajak kita jalan-jalan. Kita lunch di restoran padang Aroma Cempaka yang uenak tenan rasanya, terus kita lanjut ke Vihara gak-tahu-nama-viharanya, pokoknya kita ke sana, sembayang, trus ngobrol-ngobrol sama engko-engko yang jaga, baru deh jalan pulang. Malemnya? Makan kwetiau lagiiii… Eaaa udah mirip kwetiau deh ini muka gue kayaknya. Huehehehehe… Iya banyangin aja, kwetiau kuah, kwetiau goreng, kwetiau basah/siram, semua jenis kwetiau kita pesen. Kenyangnya poll *khilaff* dan jenis kwetiaunya beda sama yang biasa gue makan di Jakarta, teksturnya dia lebih kasar dan mudah putus, tapi enak 😀

Selesai makan, kita langsung ke Pempek Selamat, bukan, bukan buat makan di tempat kok, tapi buat bawa pulang ke Jakarta, soalnya ini Pempek Selamat termasuk makanan yang Hits buat dijadiin oleh-oleh dari Jambi. Hihi…

From Sultan Thaha to Soekarno-Hatta

Huahhh, Selasa pagi tanggal 28, sedih rasanya mesti dadah-dadahan sama semua yang di Jambi. Pesawat pagi nih, jem 7.40, Lion Air juga, on-time deh pokoknya 😀 Semoga gak cuma pesawat pagi doank yang on-time yah.

Okay then, see you again on Symphony of Hope 3… 

Baru sempat ngeblog: Di Meja Kerja, 5 Maret 2012, pukul 03:05 pagi.

Ditemani kicau burung dan hembusan kipas angin serta gemerisik lembaran kalender yang tertiup. Ditemani tumpukan financial reports yang mengantri untuk diperiksa. Aku. Di sini. Dengan laptopku. Titik air mata. Sedikit renungan. Sedikit lamunan.

[Musik] adalah…

Tentang Beliau: Oma Betty yang sedang santai di rumahnya.

Tentang Kami: Keluarga kami, Keluarga St.Cecilia, dan Orangtua Murid.

Tentang Mereka: Mereka yang tidak kami kenal, dengan bentuk cinta kasih apapun, semoga dapat meringankan beban mereka.

Semoga Semua Hidup Berbahagia

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Her Daily News, In Her Mind. Bookmark the permalink.

One Response to Musik: Tentang Beliau, Kami, dan Mereka

  1. BH says:

    Hi Tien,
    Saya dan adik saya juga murid dari tante Medaningsih Lesmana di sekolah musik YPM Manggarai.

    Senang bisa melihat ibu Medaningsih di foto dan mendengar beliau tetap sehat. Saya ingin kontak dgn ibu Medaningsih dan Aan, mungkin Tien bisa kasih kontak beliau dan Aan melalui email bhutaga at hotmail dot com.

    Terima kasih banyak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s