[Review] All is Well: Tour d’Indonesia 2012: Jakarta

Tanggal 18 Maret 2012 kemarin gue kembali berjumpa dengan Guru favorite gue, Ajahn Brahmavamso, yang dikenal dengan panggilan Ajahn Brahm.

Siapa yang gak kenal beliau, pengarang buku, dan karyanya yang paling terkenal ‘Opening the Door of You Heart’ alias ‘Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya’, *terjemahannya amat sangat gak nyambung ya*. Buku-buku beliau sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia. Jadi ya, beken dong! ๐Ÿ™‚

Kali ini beliau datang ke Indonesia selama 10 hari ke 10 kota (Denpasar, Jakarta, Bandarlampung, Pangkal Pinang, Solo, Temanggung, Surabaya, Balikpapan, Medan, dan Cikarang), dalam rangka launching buku ‘Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3’, komik ‘Kangarooguru’, dan animasi ‘Si Cacing dan Komplotan Kesayangannya’. Gue termasuk kolektor buku-bukunya Ajahn Brahm, hampir semua bukunya gue beli dan baca. Jadi gak heranlah waktu acara di JCC kemarin gue membeli buku-buku terbarunya, untuk kembali memberi asupan gizi ke jiwa. Huehehhe

Minus Superpower Mindfulness

Minus Superpower Mindfulness

Gue jadi teringat kisah gue tahun lalu, di mana gue kehabisan tiket buat ikutan dhammatalk nya Ajahn Brahm dan Yongey Mingyur Rinpoche, dan dengan segala tekad akhirnya berhasil mengikuti acaranya. Tahun ini, gue malah dengan mulus bisa mendapatkan tiketnya. Kali ini gue mendapatkan informasinya lebih cepat, acara bulan Maret, dan gue udah dapat info di bulan Januari, maka tanpa mengulur waktu gue langsung forward info itu ke teman-teman. Karena gue yakin banyak teman gue yang tertarik.

Dan benar, banyak yang mau beli tiketnya, titip gue, sekalian karena gue akan melakukan pemesanan. Senanggg, karena masih banyak tiket yang available jadi gue dan teman-teman bisa mendapatkan tiketnya dengan mudah.

Yuk man temann....

Yuk man temann....

Acara jem 1 siang dan gue nyampe telat-telat dikit sih, acara belum dimulai, tapi tempat duduk udah banyak yang terisi. Jadi nostalgia waktu wisuda dulu, kan ruangannya sama, dengan keramaian yang sama. Eaaa… Dan jadi inget om David Foster, kan pernah konser di ruangan itu juga. Huahahaha buset lebay abis ni penulis :p

Dhammatalk kali ini dibuka dengan penampilan gitar akustik yang dimainkan dengan ringan, fun, dan kerennn beudd… Adalah Jubing Kristianto sang World Class Acoustic Guitarist. Di acara itu disebutin apa aja achievement nya tapi gue ga inget gitu, banyak banget soalnya, yang pasti sih masuk rekor dunia.

Ajahn Brahm baru mulai dhammatalk jam 2. Haduuu gue udah ga sabar, soalnya jem 4 gue udah mesti cabut lantaran malamnya ada kondangan. Dan seperti biasa, beliau mampu membangkitkan suasana menjadi lebih ceria dengan gaya berceritanya yang santai dan lucu.

Dimulai dengan ceritanya tentang wanita muda Indonesia yang menulis surat untunya, wanita di surat itu menulis bahwa dia tidak menyukai Ajahn Brahm karena menulis buku dengan judul ‘si Cacing dan Kotoran Kesayangannya’ yang menurut wanita itu judul tersebut terlalu kasar dan menjijikan, jadi dia enggan untuk membaca bukunya Ajahn. Siapa sangka bahwa dalam sebuah acara (atau lomba) yang diadakan oleh Kick Andy (dan sekarang Ajahn Brahm tahu apa itu Kick Andy! Haha…), wanita ini memenangkan hadiah, dan hadiahnya adalah… Buku si Cacing. Dia berencana membuang buku itu, tapi pas buka bukunya, eh ada tandatangan Andy Noya, jadi dia enggan membuangnya, dan akhirnya mencoba untuk membacanya saja. Lalu Ajahn melanjutkan, “And after she read that book, she said she likes me. Hehehe…” ๐Ÿ™‚

Ternyata beberapa minggu yang lalu sebelum acara ini berlangsung, ibunda Ajahn Brahm meninggal dunia, karena sudah beberapa tahun menderita Alzheimer. Pihak Ehipasiko Foundation udah khawatir aja, karena dikira acara ini akan diundur karena kepergian ibunda beliau, namun ternyata kekhawatiran mereka tidak terbukti. Beberapa jam setelah pihak mereka menerima berita bahwa ibunda Ajahn meninggal, Ajahn Brahm mengirim email ke Bapak Handaka (Ehipasiko Foundation), bahwa tiket pesawat untuk kedatangannya ke Indonesia sudah beres dan sampai jumpa di Denpasar, bla bla bla… Pak Handaka pun seketika menjadi bingung, antara harus senang karena acara tetap sesuai jadwal atau simpati pada Ajahn atas ibundanya.

Dalam penuturan Ajahn Brahm, saat itu ketika mendapat kabar bahwa ibundanya meninggal, beliau tidak merasa kesedihan, malah merasa tenang atas kedamaian ibunya kini. Tidak perlu menderita lagi atas sakitnya, tidak perlu hidup dalam kekosongan karena tidak mengenal siapapun di sekitarnya. Beliau mengerti bahwa suatu saat hal ini akan terjadi, suatu saat ibunya akan meninggal, maka dengan kedamaian hati beliau melepas ibunya. Ini luar biasa sih menurut gue, karena tidak ada lagi kemelekatan (salah satu kotoran-kesayangannya-si-cacing, yaitu sifat ‘melekat’).ย  All is Well, beliau sudah tenang sekarang, dan semoga dengan karma baik yang dimiliki dapat membuatnya terlahir di alam yang lebih baik. Yang menjadi pertanyaan gue sekarang adalah bagaimana-menyikapi-kepergian-mendadak-orang-yang-dicintai? Masihkah kita bisa bersikap seolah-olah All is Well? *masih gak ada jawabannya* Anicca, nothing last forever.

Beliau juga menuturkan tentang perlunya sikap tenang dan tidak mudah panik. Karena seringkali apa yang kita khawatirkan tidak benar-benar terjadi. Ini bener juga sih menurut gue, karena pernah mengalaminya. Gue pernah beberapa kali memikirkan sulitnya sebuah keadaan atau pekerjaan yang harus dilakukan, namun kalau cuma dipikirkan tapi gak dikerjakan, malah jadi sulit beneran. Beda kalau kita kerjakan dan nikmati setiap prosesnya, ternyata tidak sesulit itu. Dan pada akhirnya, yess All is Well ๐Ÿ™‚

Dan yang paling gue ingat… Be 70%, so we can learn more, grow more, not too depressed, and not too satisfied. Intinya sih kita diajak untuk selalu rendah hati dan selalu ingin belajar, tidak cepat merasa puas (namun tidak serakah).

Masih ada beberapa kisah lagi yang beliau sampaikan dengan santai dan ringan, namun waktu 1 jam benar-benar gak cukup. Acara dilanjutkan dengan lelang 4 buah lukisan. Lukisan wajah Ajahn Brahm! *Mirip banget kayak asli sumpedeee…* Hasil dari lelang ini disumbangkan untuk dana pendidikan anak-anak asuh. Kaget sih gue, total dari 4 lukisan itu bisa mencapai Rp 200’an juta (atau lebih). Banyak #horangkayah di Jakarta ๐Ÿ˜€ Terlepas dari pro kontra teman-teman atas acara lelang itu, gue no comment, kan tujuannya positif, dan yang penting enjoy the dhammatalk!

Masih ada sesi terakhir, yaitu sesi tanya jawab. Namun sayang, kereta kencana udah dateng, jadi sebelum sesi ini selesai, gue dan pacar pulang duluan, karena kita ada kondangan malemnya (Iya, Robert&Inge’s Wedding!!)

Acara kali ini cukup menarik sih, tapi entah kenapa kurang ‘greget’. Mungkin kurang lama durasinya (1 jam dhammatalk, 1 jam tanya jawab), atau karena gue nya yang ngacir duluan sebelum acara selesai…Hehehe…

Yang pasti, kalau tahun depan beliau datang lagi ke Jakarta, gue ingin ajak orangtua untuk ‘berkenalan’ dengan Ajahn Brahm. Hihihi…

All is Well. Atas semua yang telah terjadi, Terima Kasih. Atas semua yang akan terjadi, Baiklah.

Salam Meta,

~Tien~

 

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Her Daily News, In Her Mind. Bookmark the permalink.

2 Responses to [Review] All is Well: Tour d’Indonesia 2012: Jakarta

  1. Pingback: 2013 nya, Kakak… | @truetienz

  2. Pingback: [Review] Ajahn Brahm Tour d’Indonesia 2013: Way to Freedom | @truetienz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s