Good Karma Is In

Jika ditanya sedikit kisah tentang gue dan bokap, gue akan mengatakan bahwa di antara banyaknya kisah kebersamaan kami, kemarin adalah salah satu kenangan yang terindah. Salah satu hari indah yang tertanam di alam bawah sadar gue.

Kemarin. Hari Minggu, tanggal 22 April 2012.

Bokap menemani gue mengikuti acara Pindapatta di kawasan Kota Tua Jakarta. Dimulai ketika sehari sebelumnya tiba-tiba bokap bilang “Besok papi mau ikut ke Kota Tua donk, Dek.” dan langsung kusambut, “OKEHH! Jadi, temenku gak usah jemput aku ya besok pagi.” “Iya, besok kamu sama papi aja.” *ketik-ketik BBM ke cici senior bahwa gue dianterin bokap besok pagi*

Dan paginya, jam 4 subuh alarm handphone kami udah berdengung mengganggu kedamaian telinga, jadi gue buru-buru mematikan alarmnya, dan melanjutkan tidur…zzz zzz zzz…

5 menit…

10 menit…

15 menit….

“DEK!! Kamu mau pergi gak sih?? Papi udah siapin sarapan kamu masih tidur! Katanya mau pergi jem setengah 5, jem segini masih molor”, Papi gue ngomel dari depan pintu kamar…

*Dan gue bangun dengan langkah gontai melambai meraba tembok, cium-cium pintu, melata, sampai ke meja makan.*

“Makan dulu nih telur rebus sama susunya”, kata bokap. “Iya pap, tengkyu..”

*Makan dengan kushyuk dan damai*

Tak lama nyokap bangun ikutan sarapan… Dan gue mandi serta beres-beres secepat kilat. Wushhh…. 15 menit kemudian, kira-kira jam 5 kurang gitu gue dan bokap baru berangkat ke Kota. Loh…nyokap? Tak lain dan tak bukan melanjutkan tidurnya yang terinterupsi pimpinan, lahh gue pikir nyokap mau ikutan ternyata cuma isi-isi perut lanjut bobo lagi. Hahaha…

Jam 5.15 kami tiba di gedung Fatahilah, parkir di situ aja karena masih sepiiii, masih gelap, dan cuma keliatan panitia-panitia yang sedang bersiap. Gue dan bokap bergandengan tangan menyusuri area Bar dan gang-gang yang menjual pernak-pernik, hiasan, dan tattoo… Masih gelap, namun para pedagang sudah mulai membuka dagangannya, (atau bahkan mereka buka 24 jam).

Kalau boleh jujur, sampai umur segini gue belum pernah jalan menyusuri area itu, mungkin waktu SD atau SMP pernah studytour ke museum Fatahilah dan museum lainnya, tapi itu kan yang dinikmati bagian ‘dalam’ bangunan, bukan bagian luarnya. Jadi, kemarin bisa terbilang merupakan pengalaman pertama gue menyusuri jalan itu. Hehehe…

Gue dan bokap jalan kaki menyusuri trotoar, sampai menemukan antrian yang sudah dimulai di sepanjang jalan menuju Stasiun Kota, Gajah Mada, Lindeteves, dan lainnya. Inilah untungnya datang ke’Pagi’an, jadi antrinya masih di area seberang Museum Fatahilah, area awal dimulainya Pindapatta.

Menunggu cukup lama sampai akhirnya jam 6 pun tiba, matahari sudah mulai muncul malu-malu tapi mau, acara ini dibuka oleh Gubernur DKI, Bapak Fauzi Bowo yang beken dengan panggilan Foke, diikuti dengan pelepasan rangkaian balon terbang (haduuu towel-towel photographer yang kesiangan dateng :p). Tak dipungkiri memang, dengan adanya acara ini membuat kawasan Kota hari Minggu kemarin benar-benar padat dan macet, karena kendaraan yang ingin melintas menjadi terhalang oleh ribuan masyarakat umat Buddhist yang ingin berdana kepada para anggota Sangha.

Hasil dari Pindapatta ini bukan untuk konsumsi para anggota Sangha, melainkan untuk dilanjutkan ke kegiatan Bakti Sosial bagi orang-orang yang membutuhkannya. Dan tentu saja, barang-barang-non-makanan (odol, sikat gigi, sabun) tidak boleh diberikan ke dalam Patta (mangkuk) Bhante, karena Patta biasanya mereka gunakan untuk makan (sudah pernah gue bahas di sini).

Total Bhante ada sekitar 35 orang gitu, dan…persediaan dana makanan yang gue bawa gak cukuppp cobaaa :p :p Gue pikir hanya sekitar 25 orang, ternyata lebih. Jadi ya sebelum barisan bhante selesai, gue sudah mundur dari antrian supaya orang yang di belakang gue bisa leluasa.

Gue dan bokap kembali ke area museum Fatahilah, ke parkiran sih tepatnya πŸ˜€ Dari bisik-bisik tetangga selama perjalanan di lapangan museum, masyarakat yang non-Buddhist mengira hari itu adalah hari Waisak, dan mereka ada yang ngobrol di telepon sambil bilang, “Lu mau kesini lewat mana ya? Lagi ada acara Waisak nih, rame banget di depan, kendaraan gak bisa lewat.” Dalam hati gue pengen komentar, bukan, ini belom Waisak, ini acara dalam rangka menyambut Waisaknya… hehehe… Intinya kan dia mau kabarin temannya bahwa jalanan di kota saat itu tidak bisa dilewati.

Jam 6.40 kami cabut dari sana, dan bokap ngajak gue Advanced Breakfast (Sarapan Lanjutan?!) Hahaha… Kami menuju ke kawasan Pancoran, semacam Pasar gitu, di gang sempit kanan kiri ada yang jualan sayur, buah, bakmie, cakwe, bahkan roda kursi… *entah kenapa ada yang jualan roda ditengah-tengah penjual makanan*

Dan kami berhenti di sebuah kedai sederhana yang menjual Pie Oh! Ini dia Pie Oh kesukaan bokap gue, hanya buka pagi, dan jam 8 atau 9 pagi sudah tutup toko karena sudah ludes dibeli orang. Paling enak Pie Oh kuah Tauco, rasanya gurih, sedap, yaaa maknyus lah. Kedai ini menjadi satu dengan Kedai Kopi Tek Kie (Tek Kie Kopitiam), yang cukup terkenal dengan kopinya yang top markotop… *kenapa gue jadi semacam om Bondan!?*

Kami menghabiskan kuah dalam hening… Hening karena gue ingin menyimpan kenangan itu sebagai salah satu kenangan yang terindah, dan hening karena kesibukan gue menikmati Pie Oh :p Entah makanan menjadi enak karena suasana hati kami sedang bagus, entah makanan menjadi enak karena memang-enak-dari-sononya, entah makanan menjadi enak karena lagi-lapar? Dan kelihatannya semua alasan itu benar! Hahaha…

Jam 8 kami melanjutkan perjalanan mencari telur kampung, tadinya mau ke Pasar Kaget di Green Garden eh tapi gak buka, jadinya ke Pasar Kedoya, mereka jual dengan harga 1300/butir. Lebih murah daripada toko tetangga di deket rumah… :p

Jam setengah 9 akhirnya kami sampai di rumahh… Seneng banget ya rasanyaaaa, hari Minggu, yang biasanya jem 9 baru bangun dengan berat badan hati, hari itu sebelum jam 9 bahkan sudah keliling kota! Dating with Daddy πŸ˜€ πŸ˜€

Dan bahkan ketika tak ada satu gambarpun yang dapat merekatkan sebuah ingatan,

kenangan tentang saat itu, sesungguhnya sudah terselamatkan dan direkam di dalam sini.

Tak terlihat, namun Ada.

April 2012

Pindapatta with Daddy

Breakfast with Daddy

I thought it was A Good Kamma… *bersyukur jungkir balik*

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Her Daily News, In Her Mind. Bookmark the permalink.

3 Responses to Good Karma Is In

  1. Dee says:

    Bless Indeed,Kita masih mempunyai kesempatan untuk berdana kepada sangha dan menyambut kedatangan Waisak di Indonesia.

    makan di
    Pi O warung kopi Tak Kie
    Jl. Pintu Besar Selatan III 4-6
    (Samping Gloria) kah ?

    Kalo bisa mungkin dikurangin makan Pi Oh , Pi Oh itu adalah kura2 softshell turtle yg sudah akan punah, yg mithologynya menpunyai effect pengobatan.

    Saya sih tidak melarang anda dan ayahmu makan Pi Oh, tetapi dgn menanam karma kebaikkan untuk memperingati hari waisak, ada baiknya juga dgn menanam karma baik dgn mengembangkan cinta kasih Metta, Karuna.kepada makluk hidup yg tidak beruntung yg menjadi Pi Oh.

    Maaf kalo ada kata2 yg tidak berkenan. just for sharing. Peace.

    • neitneit says:

      Dear Dee..
      thanks for visiting my blog… πŸ˜€
      iya, kamu bener tentang Pie Oh, bahkan ketika kita lagi sarapan itu, papaku jg berkomentar sama spt kamu, hehehe…
      Thanks lagi atas sarannya, sangat bisa kami kurangi tentunya πŸ˜‰

  2. Pingback: 2013 nya, Kakak… | @truetienz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s