Marketing Surga…Perlukah?

Topik ini sudah bertahun-tahun bersarang di kepala saya tanpa tahu harus diapakan. Harus disalurkan bagaimana caranya. Karena yang saya tahu, ini adalah topik yang cukup sensitif bagi sebagian orang di dalam masyarakat kita.

Saya juga menuangkan tulisan ini bukan untuk tujuan yang menyesatkan atau menyalahkan pihak-pihak tertentu. Karena saya hanya merasa, pikiran saya, lama kelamaan bisa menjadi luber karena tidak bisa disalurkan, karena dia akan terus terisi terisi terisi…

Bermula dari ketika saya berumur awal 20-an saat itu, kuliah semester 6, mungkin ada beberapa teman yang mengetahui cerita ini (pernah saya bahas sekilas di postingan saya yang lalu-lalu).

Jadi ceritanya penyakit maag saya kambuh, disertai dengan muntah-muntah, sampai keluar itu cairan lambung kuning-kuning gak keren, dan dengan kepala pusing jika bergeser sedikiiiitt saja. Akhirnya orangtua membawa saya ke rumah sakit swasta di daerah Kebon Jeruk, itu yang paling dekat dengan rumah saya.

Dan atas kejadian itu, maka saya diharuskan menginap di rumah sakit selama beberapa hari untuk menjalani segala macam test, sampai test USG (dan teman-teman menyangka saya hamil -__-), akhirnya diketahuilah bahwa saya menderita maag akut, asam lambung yang amat sangat tinggi dan membentuk busa-busa cair di dalam lambung saya. Tak ayal, esoknya saya langsung dirujuk untuk dilakukan Gastrocopy, Endoscopy, dan semacamnya. Saya tidak banyak tahu tentang ilmu kedokteran. Intinya, mereka memasukan selang ke dalam rongga mulut saja dan selang itu berjalan-jalan melintasi kerongkongan, tenggorokan, sampai ke tempat tujuan yaitu Lambung. Mereka menyedot busa-busa yang terbentuk itu dan mengeluarkannya dari tubuh saya. Sungguh bukan pengalaman yang menyenangkan, mengingat selang itu dimasukan ke mulut saya dalam keadaan sadar, yang artinya tubuh saya secara reflek langsung uek-uek menolak benda asing yang berniat masuk tersebut. Dan suster-suster yang menjaga saya akhirnya memberikan suntikan obat tidur agar saya tidak meronta-ronta lagi. Hukss… Gitu kek dari tadi, kan saya tidak perlu tersiksa…

Ini sedikit perjalanan saya di rumah sakit saat itu, dan setelah saya siuman, semuanya terasa seperti mimpi, suara papa saya seperti jauh, dan mata saya memandang samar-samar seperti kayak orang setengah tidur setengah sadar. Ternyata begitulah efek obat bius.

Dan di sinilah cerita ini berawal. Besok paginya, ada serombongan pen-Doa. Mereka adalah orang-orang yang menjalankan tugas sosial untuk mendoakan orang yang sedang sakit. Pertama mereka mendatangi tetangga di sebelah ranjang saya, wanita muda itu sedang dirawat karena ada Kista dalam rahimnya, dan kebetulan dia adalah seorang Kristiani. Mereka minta ijin untuk mendoakan dan akhirnya mereka berdoa bersama.

Setelah dari tempat wanita muda tersebut, rombongan itu menghampiri saya. Saya sendirian ketika itu, keluarga belum datang, suster langganan (teman mama) juga belum kelihatan orangnya. Rombongan itu dikepalai oleh seorang ibu-ibu sekitar umur 40-an. Awalnya dia menanyakan apa agama saya, dan saya jawab “Buddha, tante”. Dia pun berkata “Gak apa-apa yah tante doakan supaya kamu lekas sembuh. Tapi kamu percaya Tuhan kan?” “Iya percaya kok, gpp tante, makasih loh udah mau doain saya :)”. Dan dia berkata lagi, “Kamu ikuti kata-kata tante yah.”. “Iya tante…”, saya masih merasa senang-senang aja secara ada yang mau doain.

“Tuhan.” Katanya…

“Tuhan.” Sambungku…

“(……………..*intinya doa buat kesembuhan saya*)” dan sebisa yang bisa saya tangkap artinya, saya ikutilah.

Sampai pada suatu titik kata-katanya mulai aneh…

” Tuhan, saya berjanji jika saya sembuh nanti saya akan mengikutiMu, ajaranMu, dan akan rajin ke Gereja, dllllll…”, saya lupa…

Seketika saya terdiam, masih dengan mata tertutup, dan rasanya ingin menangis… Merasa dibohongi, merasa dibodohi, merasa dijebak! Beginikah cara marketing mereka agar mendapatkan umat? Beginikah cara ‘jualan’ mereka agar ada pembeli yang ‘terpaksa’ membeli, bukan karena ‘kebutuhan’ untuk membeli?

Dan tante itu berkata lagi, “Nah, kita udah selesai berdoa sama Tuhan buat kesembuhan kamu. Kamu inget ya kalo sembuh nanti rajin ke Gereja, baca alkitab,dll. Inget loh, kamu udah ucapin janji kamu sendiri sama Tuhan, bukan sama saya!!”

Ya ampun…si tante kayaknya lagi mabok, jelas-jelas tadi dia sendiri yang mengucap janji dan saya terdiam. Jadi saya tidak merasa janji dengan siapa-siapa. Tapi karena saya masih memegang prinsip ‘harus-sopan-sama-orang-tua’, jadi saya senyum-senyum aja, dan ketika tante dan rombongannya pamit pergi, saya hanya bergeming.

Hal ini sudah berlalu bertahun-tahun yang lalu, namun kenangan akan tindakan si tante benar-benar tidak akan saya lupakan. Karena jujur saja, perbuatan tersebut, tanpa dia sadari telah mencoreng dirinya sendiri, dan mencoreng agama yang dibawanya.

Karena menurut saya dulu, sekarang, dan (mungkin) nanti, Tuhanku, Tuhanmu, tuhanku, tuhanmu, tidak ada yang perlu dipasarkan, dimarketingkan, dengan cara-cara yang memaksa. Karena agama itu adalah kebutuhan, namanya juga kepercayaan. Boleh percaya boleh tidak, boleh percaya dengan yang satu, dengan yang lain, atau dengan kesemuanya. Ini secara utuh adalah pilihan masing-masing orang, tanpa perlu dijebak untuk berjanji dan semacamnya.

Saya tidak salah jika mengatakan bahwa tante tersebut melanggar isi UUD’45 pasal 29. Karena dia secara halus namun memaksa agar saya mengubah keyakinan dan kepercayaan. Oh tante, saya yakin kok semua ajaran agama pada dasarnya adalah baik, jadi marilah kita saling menghargai dan menghormati. Tidak perlu capek-capek mengajak saya dengan jebakan batman seperti itu.

Itu kisah kira-kira 6 tahun yang lalu…

Berikut ini adalah kisah 2 hari yang lalu…

Seorang wanita muda, mungkin seumur dengan saya, datang ke rumah saya. Saat itu mama saya sedang belanja sayur di depan rumah, dan dia datang tiba-tiba membawa beberapa buku bacaan agamanya.

Dan lagi-lagi. Itu pasti Marketing Surga!

Dia melihat mama saya dan menyapa, mama pun menyapanya kembali.

Seketika wanita itu bertanya, “Maaf tante, tante agamanya apa?”. “Saya Buddha. Ada apa ya?”, kata mama. “Ohhh, OMA saya juga Buddha loh tante.” –> Dalam hati mama ‘Ooh, jadi maksudnya anak muda ini, agama Buddha adalah jaman OMA nya, jaman sekarang udah gak IN. Gitu kali yah?! Hehe dan saya hanya ketawa-ketawa ketika mama cerita itu saat makan malam.

“Gini tante, saya mau kasih buku dari Gereja saya, dibaca aja tante, bagus kok bacaannya.” Kata si wanita muda. “Sorry, tante ini matanya udah gak awas, dikasih buku apapun juga gak bakal dibaca. Lagipula, semua ajaran tante tahu kok bagus, sama aja lagi.”

“Gak apa-apa tante, kasih siapa aja yang mau baca.” Kata si wanita muda setengah memaksa. Akhirnya mama bilang ke penjaga rumah saya, “Sun, bukunya kamu terima aja, kamu baca-baca kalo kerjaan udah beres.”, setelah itu wanita muda itu baru pamit pergi dan menyambangi rumah lainnya.

Jadi, apakah saya yang terlalu kuper? Apakah sekarang memang jamannya Marketing Surga begitu ya? Saya pikir semua ajaran mengajarkan yang baik untuk kehidupan di bumi dan di alam lain nantinya. Gak ada yang salah memang ingin mengajak orang lain untuk berbuat baik dan berada di jalan yang benar, namun yang jadi masalah adalah jika ada pihak-pihak tertentu yang mulai memaksa dan menjelek-jelekkan kepercayaan lain.

Yah, siapalah saya di bumi ini. Tahu apalah saya tentang keagamaan dan ketuhanan. Saya hanyalah bocah tengik yang berusaha menuangkan uneg-uneg yang bertahun-tahun berenang liar di dalam pikiran sendiri, dan mungkin tulisan ini akan menghadirkan sebuah kontroversi.

Marketing Surga…Perlukah?

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in In Her Mind. Bookmark the permalink.

6 Responses to Marketing Surga…Perlukah?

  1. mikisensei says:

    Wah, caranya nggak etis sama sekali 😦 Nggak heran sih jadi kena damprat kanan kiri kalo kek gitu caranya.
    Gue rasa sih oke2 aja kalo lo protes, gimanapun dikau juga dikerjain dalam posisi ini 🙂

  2. Marina says:

    Walaaah, setuju Tieen…
    Cara ky gitu tu bener2 mencoreng agama sdri..
    Semua agama adl sama baiknya, tinggal manusianya aja gmn ngejalaninnya..
    Bikin malu gw aja.. X_X

  3. Stephanie says:

    hahaha gw ama marketing saksi ****va aja uda empet, apalagi kalo gw di posisi u tien :p
    maafkanlah mereka tien, krn mereka tidak tau apa yg mereka perbuat 😀

    • neitneit says:

      hihihi iya skrg macem2 ya cara orang. Eh iya dulu juga ada loh temen gw yg suka dtg kerumah trus bawain majalah agama dia gitu, tp anehnya… dia gak merayakan Natal. Jrenggg,,,, gw langsung serem T.T

  4. khilafah says:

    saudaraku ini adalah pelajaran yang sangat berharga yang saya dapat, tien semoga kamu membuka hati dan fikiranmu untuk lebih mengenal tuhan yang telah menciptakan langit, bumi dan semesta alam termasuk kita manusia, tidak bermaksud memojokkan pendapatmu…semoga tuhanMu berkenan atas ketulusanmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s