[Sharing] Vesak Trip

Kali ini gue mau sharing tentang acara Waisak yang gue jalani tahun ini.

Berbeda dari tahun-tahun yang lalu, tahun ini gue bersama jeung @tiwiniew dan keluarganya melancong ke Jogja. Bermula dari bincang-bincang iseng kami kala kebaktian di vihara setiap minggunya, kami selalu berangan-angan kayaknya-seru-nih-waisakan-di-borobudur. Namun, dulu itu kita masih kuliah, trus mulai kerja, sibuk, masih banyak lembur, jadinya Waisak yang selalu jatuh antara bulan April-Mei, pasti kita gak bisa kemana-mana karena kerjaan mengantri sangat panjang.

Dan ternyata keinginan kami baru tercapai tahun ini, pas bulan Desember-Januari yang lalu kami mulai mencari tiket pesawat dan hotel. Waisaknya masih bulan Mei, tapi semuanya sudah rampung dari bulan Januari. Yeay!!

Ini adalah kedua kalinya gue berkunjung ke Jogja, dimana yang pertama adalah ketika retreat SMU beberapa tahun silam, namun dulu nginepnya di daerah Kaliurang yang dinginnya super itu. Sekarang kami nginep di daerah Dagen, dekat kawasan Malioboro jantungnya Jogja.

Hari pertama kami tiba pukul 1 siang, langsung menyerbu restoran Gudeg Yu Djum. Cabangnya ada di mana-mana, namun kami menuju ke tempatnya yang ada di dalam gang sempit gitu, tapi ternyata ketika masuk ke sana, restorannya ruameee bett, gak dapet tempet duduk, jadinya pesan bungkus aja untuk makan di hotel nanti.

Gudeg Yu Djum

Gudeg Yu Djum

Live Music! Keroncong :D

Live Music! Keroncong 😀

Sampai di Hotel Jentra Dagen, kami langsung check-in sesuai voucher travel yang sudah kami pesan sebelumnya. Sambil menunggu kamar yang belum siap, kami numpang duduk di restoran hotel untuk makan siang 🙂 Karena gak enak hati, akhirnya kami pesan minuman. Menunggu….menunggu…menungg…Mana Minumannyaaaa?!?! Masa setengah jem lebih pesan lemon tea aja belum muncul-muncul juga? -__-”

Kamar ready, kita beres-beres dulu dan melanjutkan acara belanja… :p Berhubung acara di Borobudurnya masih besok, jadi hari pertama kami banyak waktu luang, jadinya ya  untuk beli oleh-oleh saja. Kita menuju ke Beringharjo, sebuah pasar batik yang beken di sana. Kanan, kiri, depan, belakang, semua isinya Batikkkk semua! Dengan kemampuan tawar menawar level advanced, baju-baju dan tas dapat ditawar lumayan jadi jauh lebih murah. Gue tidak belanja banyak, hanya beli untuk keluarga, karena pelit bawa tasnya kecil dan tanpa bagasi, daripada repot sendiri mendingan menikmati acara jalan-jalannya saja. Hihi…

Setelah puas belanja di Beringharjo, kami menyambangi Mirota Batik. Iyaaa di sini juga jualnya Batik sampai ke sudut-sudut, namun harga pas gak bisa ditawar, karena ini bukan pasar, tapi lebih seperti Supermarket batik gitu deh. Harganya memang lebih mahal, namun kelihatannya kualitasnya lebih tinggi.

Welcomeee!!

Welcomeee!!

Mirota Batik! Hati-hati katanya banyak copet!

Bukak…hihihi

in Mirota

in Mirota

Jangan lupa untuk selalu waspada atas barang bawaan kita, karena….hal seperti ini bisa saja terjadi:

Tas Mama nya Tiwi jadi korban!

Tas Mama nya Tiwi jadi korban!

Namun memang karma baik masih melindunginya, tas yang disilet kurang ‘dalam’ memotong kain dalamnya, sehingga tangan si pencopet tidak muat untuk mengambil dompet atau apapun yang ada di dalam tas tersebut, padahal amplop duitnya juga udah ikutan terpotong loh. Ckckck… Kami gak yakin sih kejadian ini terjadi di Beringharjo atau Mirota, karena tante baru nyadar tasnya terpotong ketika kami sudah sampai di hotel malam harinya.

Kata orang-orang, malam pertama begitu menggoda. Tapi tidak buat gue, malam pertama di hotel benar-benar sulit untuk bisa terlelap, padahal besoknya harus bangun pagi untuk bersiap ke Candi Mendut. Grasak grusuk, badan bolak-balik, sret srat sret, sampai jam setengah 4 pagi masih juga tidur ayam. Inilah gue, gak bisa tidur di tempat asing, mau sebagus apapun -__-”

Setel alarm jam 5 pagi, dan gue baru mulai beres-beres jam 6. Jam 8 baru jalan ke Candi Mendut (kami menyewa mobil selama di sana), ternyata jaraknya jauh juga, dan kami harus melanjutkan perjalanan ke Candi Mendut naik Andong, karena banyak jalan yang ditutup.

Masyarakat Berbondong Menuju Candi Mendut

Masyarakat Berbondong Menuju Candi Mendut

Pada hari minggu kuturut ayah ke kotaaa... *nyanyik*

Pada hari minggu kuturut ayah ke kotaaa… *nyanyik*

Detik-detik waisak tahun ini jatuh pada pukul 10.34.49 pagi, dan acara diacakan di Candi Mendut, para Bhikku dari berbagai negara dan aliran berkumpul disana untuk meditasi bersama.

Candi di Mendut

Candi di Mendut

Meditation

Meditation

:)

🙂

Berhubung kami sampai di sana jam 9, suasana di Candi Mendut sudah sangat padat dan ramai oleh umat, bahkan untuk berjalan pun aku sulit. Hehe… Dan jangan harap untuk dapat tempat duduk di area depan yang masih ada sepakernya, karena kami dialihkan ke area belakang Candi, dimana suasana sangat tidak kondusif. Bukan karena panas nya cuaca, namun terlebih karena kami yang duduk di area belakang sama sekali tidak tahu menahu apa yang sedang terjadi di altar depan, acara sudah sampai mana juga tidak tahu. Bahkan di area belakang itu, banyak umat-umat yang malah makan nasi bungkus lah, merokok lah, ngobrol berisik lah, intinya satu, karena tidak ada speaker dan panitia yang menjaga di bagian tersebut, jadi kami seperti rombongan terbuang. Hiksss…!

Akhirnya, daripada duduk-duduk gak jelas kayak gitu, kami memutuskan untuk berpindah tempat, alias jalan-jalan, alias mobile. Gue dan Tiwi berencana naik ke Candi tersebut, namun saat itu tidak diperbolehkan karena bhikku-bhikku akan segera naik ke sana, jadi umat yang ingin naik ditahan dulu. Dengan camera yang dibawa, gue berhasil mengabadikan beberapa kegiatan menjelang detik-detik waisak tersebut, dan berhasil mengikuti meditasi berdiri (sebentar banget tapinya…) karena memang tidak ada tempat duduk yang tersisa.

Fyi, cuaca pagi-siang hari itu panasnya zuper sekali, kalo kata Mario Teguh :p Panasnya sangat menyengat dan membuat kulit kami belang, karena gue lupa bawa sunblock dengan Spf tinggi, jadinya kulitku yang malang itu berubah warna menjadi lebih eksotis sekali sekarang kini… >.<

Acara selanjutnya adalah prosesi dari Candi Mendut menuju ke Candi Borobudur. Namun kami tidak ikut rombongan prosesi itu, kami malah naik mobil duluan menuju ke Borobudur, karena gue kan belum pernah nih ke Borobudur, jadi pengen foto-foto dulu di sana. Hehe…

Akhirnya!! Tien sampai juga di Candi Borobudur.

One Step Closer....

One Step Closer….

 

Akhirnyaa.... *norakk*

Akhirnyaa…. *norakk*

Hahhhh ternyata teriknya siang itu, merupakan pertanda bahwa akan turun hujan pada sore harinya, karena ketika menjelang pukul setengah 4 sore, langit mendadak menjadi gelap, mendung, dan angin begitu sejuk. Hadu, bahkan rombongan prosesi belum juga sampai, mungkinkah mereka kehujanan di tengah jalan nanti?

Dan pertanyaan gue terjawab, Iya. Mereka kehujanan. Namun itu tidak menyurutkan semangat mereka dalam menjalani prosesi tersebut, para bhikku dan rombongan tiba di Candi Borobudur dalam keadaan setengah basah.

Altar yang amat panjang di pelataran CAndi Borobudur

Altar yang amat panjang di pelataran Candi Borobudur

Rombongan tiba

Rombongan tiba

Ada banyak barang-barang prosesi, gue gak inget apa aja, yang pasti ada Air, Bunga, Pelita, dan Dupa…, yang tentu saja masing-masing barang tersebut memiliki maknanya, lalu dilanjutkan dengan bendera RI dan bendera Walubi. Buanyakkk banget deng yang ikut prosesinya.

Acara dimulai dengan menyelakan lilin dan dupa di atas Altar dan mulai memulai acara ini dengan membacakan Namakaragatta, satu-satunya paritta yang tidak asing dan paling universal di antara paritta lain yang dari berbagai aliran.

Pukul 4 acara ini selesai untuk sementara, dan akan dilanjutkan kembali pukul 6 malam nanti. Acara Pradaksina, yang sudah sangat gue tunggu-tunggu. Namun hujan semakin deras, dan kami memutuskan naik ke mobil dan cari makan dulu ke kota. Perjalanan ke kota cukup jauh, dan karena waktu sudah demikian tanggung dan hujan yang belum juga reda (kami baru tiba di restoran jam 6 kurang), maka dengan berattt hati kami tidak kembali ke Borobudur untuk mengikuti Pradaksina. Hikss…Huaaaa… Ini satu-satunya hal yang sangat disayangkan yang tidak kami lakukan di sana.

Semoga di tahun-tahun berikutnya gue bisa kembali ke sana pada saat Waisak dan bisa mengikuti Pradaksina 🙂

Besok sudah saatnya pulang ke Jakarta, dan gue akan membawa itu semua menjadi salah satu kenangan terbaik.

Dan gue tidak akan lupa bahwa… Tiwi ternyata mengingat jelas film-film kungfu jaman Yoko dan Bibi Lung.

Gue akan selalu ingat bahwa… Papanya Tiwi ngeFans berart sama buah Pepaya!

Gue juga akan selalu ingat bahwa… MamaPapa nya Tiwi memiliki sifat humor yang sangat baik, yang untungnya banyak menurun ke anaknya itu!! Bhahahaha…

Dan gue juga akan selalu ingat bahwa… ii-nya Tiwi, hobi banget jalan-jalan padahal umurnya sudah 66 tahun.

Selamat Waisak 2556 Buddhist Era/2012. Semoga Semua Hidup Berbahagia.

^___________^

 

 

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Her Daily News. Bookmark the permalink.

2 Responses to [Sharing] Vesak Trip

  1. Pingback: 2013 nya, Kakak… | @truetienz

  2. Pingback: Bhinekka = Beautiful | @truetienz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s