Bandung Lautan Makanan

Ihiyy!

Liburan sudah selesai, dan gue ingin berbagi di sini. Berbagi cerita aja yah, soalnya kalau berbagi makanan udah abis semua :p

Jadi nih beberapa hari kemarin gue, pacar, koko n keluarganya, juga teman-teman (formasi liburan Bali di Agustus lalu), memilih liburan ke Bandung. Orang-orang yang stay di Jakarta pasti berteriak HORE karena jalanan menjadi lengang dan tidak kusut, berbeda halnya dengan orang-orang daerah yang kedatangan tamu dari Jakarta mungkin mereka berteriak Macetttt oiii, dan para pedagang dengan bersemangat menyambut para Jakartans, siap menerima pendapatan berkali-kali lipat di beberapa hari ke depan.

Gue membaca koran, di sana memuat berita yang berisi padatnya jalanan menuju Bandung, mungkin demikian juga yang ke Puncak dan Bogor. Perjalanan dari Jakarta jam 8 pagi dan tiba di Bandung jam 2 siang, 6 jam di jalan merupakan hal yang lazim jika kita pergi bertepatan dengan hari libur nasional seperti kemarin. Kami menginap 2 malam, pulang Sabtu sore, supaya hari Minggu-nya bisa beristirahat di rumah.

Hal pertama yang kami lakukan begitu tiba di Bandung adalah makan siang, laper beutt! Akhirnya Ayam Kesatriaan di Pasir Kaliki (kalo gak salah inget) adalah pilihan yang tepat siang itu. Sambalnya yang pedas membuat napsu makan gue meningkat dan teh hangat ikut membakar rasa pedas yang mampir di lidah. Nyesss…

Setelah makan siang kami menuju ke factory outlet Bali Heaven, di sini cukup lama dan beli beberapa potong pakaian, harga barang-barang yang dijual bervariasi, ada yang murah dan mahal juga. Setelah itu kami ke Cascade dan Heritage, banyak pilihan bahan-bahan scrap book yang bagus di sana, tapi gak keburu beli, ahh sayang banget, padahal lagi punya banyak ide nih >.<

Setelah dari FO kami check in hotel dan Aldrich sudah saatnya tidur, jadi Al ditemani suster, dan kami tinggal sebentar untuk dinner.

Kami dinner di Cafe Motzen Steak & Ale di Jl. Bukit Raya Dago Pakar Timur No.21, Dago Pakar (Dago Atas), dengan design yang minimalis serba kayu, suasana remang-remang, dan ada live acoustic band yang ciamik membuat tempat itu cukup cozy, hanya saja bau rokok yang menyengat itu cukup mengganggu kenikmatan makan malam kami. Di cafe tersebut tidak ada tempat yang Bebas Rokok, karena semua tamu Bebas Merokok.

Sehabis makan di Motzen, kami lanjut makan ke warung nasi Ce’Mar, nah di sini menjual sayur rumahan, sederhana namun enak, ada sop daging + wortel, bakwan goreng, rendang, ayam kecap, telor goreng, dan banyak pilihan menu lainnya. Kami makan di tenda orange sederhana gitu, jam menunjukan pukul  23, Malam Jumat, dan warung itu memilih saluran Trans7, di mana sedang memutar acara ‘(Masih) Dunia Lain’…Kenyang sudah perut kami.

Sampai ke hotel langsung tepar semua…

Besoknya gue bangun cukup pagi dan nontonin Aldrich berenang sama papinya. Al ini hobi banget berenang, meskipun kedinginan tetap semangat main air. Sampai 10 menit berlalu, akhirnya Al selesai berenang dan kami sarapan. Sarapan kedua kami adalah Mie Kocok, dan mampir di Kartika Sari beli beberapa makanan khasnya.

Acara hari itu adalah main ke Kampung Gajah di Jl. Sersan Bajuri KM 3,8 masih searah dengan Kampung Daun, ada banyak permainan outbound di sana, untuk anak-anak dan remaja, jumlahnya ada sekitar 23 permainan. HTM saat hari libur adalah Rp 20.000 per orang (belum termasuk mobil), namun jika ingin mengikuti permainannya (beli tiket terusan) harga yang dibrandol amat sangat mahal menurut gue, yaitu Rp 200.000 per orang di hari libur, dan Rp 150.000 di hari biasa, belum lagi permainan-permainan lepas yang perlu bayar lagi. Permainannya tidak terlalu ‘Wah’. Suasana dan tempatnya cukup bagus (sayang toiletnya kotor), juga banyak jajanan yang enak dan unik, namun jika dilihat dari arena permainannya, terutama mainan anak-anak, sangat tidak sesuai dengan harganya. Ketika kami datang pun turun hujan deras, akhirnya kami hanya duduk-duduk ngobrol dan beli jajanan, ketika hujan reda baru bisa keliling melihat beberapa permainan. Untung gak jadi main, kalo gak rugi banget, udah tiketnya mahal, hujan pula.

Dari Kampung Gajah, kami ke Vihara Vipassana Graha di Lembang. Suasana saat itu masih hujan dan vihara cukup sepi karena sedang tidak ada kegiatan. Hanya terlihat beberapa pengunjung yang sembayang dan berdoa di sana. Sayangnya gue gak ikut masuk ke Vihara karena hari itu pakai celana pendek, kayaknya gak sopan ya, jadi gue tunggu di mobil deh.

Setelah dari Vipassana Graha kami kembali menyusuri Factory Outlet. Rumah Mode adalah pilihan kami hari itu. Ruameenyaaa busett, yang parkir plat B semua. Gue dan pacar gak beli apa-apa di sini, karena sudah terlalu ramai dan gak semangat belanja, jadi sambil menunggu yang lain, akhirnya kami beli cemilan aja dan duduk-duduk di teras depan sampai menjelang malam.

Malam harinya Aldrich tidur duluan di hotel dan kami lanjut dinner di Paskal Food Market, di sini semacam food court dengan berbagai pilihan makanan, dari sunda, sate, soto, kwotie, bakut, sampai pasta-pasta. Semua yang kami pesan enak-enak makanannya, harganya pun terjangkau. Ada live band dan kolam koin juga 🙂

Lautan Makanan *pingsan*

Lautan Makanan *pingsan*

Dipilih dipilih dipilih

Dipilih dipilih dipilih

At night

At night

sumber foto: klik

Sebelum ke Paskal Food Market, kami sempat mampir beli Bola Ubi dulu, ini nih kesukaan sao2 gue. Dari awal sesampainya di Bandung, dia udah berencana makan bola ubi. Iya enak banget sih, tetapi setelahnya harus minum yang banyakkkk 🙂

Sesampainya di hotel sudah bisa ditebak, semuanya langsung tepar dan kedinginan, karena udara hari itu memang sangat dingin karena habis hujan seharian. Uh…

Hari terakhir liburan di Bandung dimulai dengan sarapan nasi kuning, pagi-pagi temannya koko udah sengaja pergi beli ke tempat langganannya (dia pernah pindah tugas kerja ke Bandung beberapa bulan), dan bungkus untuk kami semua. Nasi kuningnya enak dan sangat menyempurnakan pagi kami *persediaan di perut cukup sampai sore* hahaha…

Hari itu rute kami adalah ke Nike Factory Outlet, toko ini baru dibuka (atau baru renovasi?!), banyak bunga papan di depannya, masih bau cat, dan yang pasti Ramai!! Belum terlalu banya pilihan untuk baju-baju nya, namun untuk display sepatunya cukup banyak dan lagi diskon, yang harganya 1juta’an, setelah diskon jadi 800-900ribuan. *kalo buat gue masih aja mahal apalagi jarang olahraga* :p

Selepas dari Nike, kami menuju Prima Rasa, dengan Rasanya yang Prima, ia mampu menjadi pesaing bisnis Kartika Sari. Ini masalah tergantung selera masyarakat. Kalau pribadi, gue lebih suka Prima Rasa karena rasa kuenya tidak terlalu manis. Di sini kami beli banyak untuk oleh-oleh keluarga di rumah. Dan karena kue ini hanya tahan beberapa hari saja, maka kami sengaja belinya sesaat sebelum pulang ke Jakarta.

Habis ini kemana? Kami cari makan dulu sebelum pulang. Mencari Cafe Lantera di Jl. Terusan Ranca Kendal no.8 Dago Atas, ternyata tidak semudah yang kami bayangkan, bahkan dengan bantuan GPS sekalipun, entah sepertinya belum terdata lengkap. Jalanannya menanjak dan berbelok-belok, dan ternyata di daerah tersebut masih buanyak cafe-cafe yang unik, termasuk Waroeng Kopi. Cafe Lantera ini pas di sebelahnya Waroeng Kopi.

Tempatnya terbuka dan cukup unik, dengan design bebatuan serta kayu-kayu membuat suasana tradisional dan jadul begitu kental di sini. Dengan alam terbuka sebagai pemandangan dan AC alami yang sepoi-sepoi, membuat cafe ini tidak membutuhkan pendingin ruangan. Hemat biaya kan. Harga makanannya pun sangat terjangkau dan Pizza tungku yang menjadi andalannya pun tidak mahal dan rasanya enak 🙂 Kalau untuk makanan lain yang kami pesan biasa saja rasanya, jadi nilai rata-rata dari kami 7/10. 😀

Setelah kenyang dengan makan siang menjelang sore itu, tepat pukul 4 kami jalan menuju Jakarta. Jam 8.30 malam kami sudah sampai di jalanan Jakarta, sempat 1 jam tertahan di rest area karena kami semua (terutama yang nyetir) merasa ngantuk, jadi istirahat dulu di Starbucks, dan supaya Aldrich bisa minum susu dulu, kasian kalau dia minum di mobil takutnya mabok. Kelakuan Al akhir-akhir ini memang menjadi hiburan kami semua, banyak hal iseng yang lagi hobi dia lakukan, dan gue jadi terngiang-ngiang lagunya Barney, Pororo, dan Chiro gara-gara dia suka banget denger lagu-lagunya.

Aldrich di Kampung Gajah

Aldrich di Kampung Gajah

Sesampainya di Jakarta kami mampir dulu di Taman Anggrek, supaya baby Al bisa istirahat duluan, dan turunin barang-barang bawaan. Lalu rute selanjutnya mengantar sang Pacar pulang ke rumahnya di kawasan Senen, cukup jauh dari rumah gue. Ternyata belum selesai sampai di situ, karena kami harus ke Pantai Indah Kapuk dulu mampir ke rumah teman koko untuk ambil titipan barang-barang yang dititip dari Bandung lantaran mobil kami tidak muat untuk membawa semua barang. Masih ngobrol-ngobrol sampai akhirnya mami bbm dan nanya kami udah sampai di mana, upss… Mari pulanggg, mami udah masak di rumah. Laper beratt…

Ahhh memang gak ada tempat yang lebih nyaman dari rumah sendiri 🙂 Hore besoknya masih hari Minggu jadi bisa istirahat di rumah (dan beresin kamar yang ‘ya-tuhan-gak-tega-liatnya’ berantakan banget).

Thanks Yaya n family, Friends, Dear…

Next trip…?

Motzen Cafe

Motzen Cafe

Tidak pernah cukup kata

untuk bersyukur atas nama kebersamaan

Setiap kamu adalah unik

dan setiap kamu, menjadikan setiap kami berbeda

Baik untuk dikenang

Sudikah selalu ingat kami?

Bandung Lautan Makanan,

Mei 2012

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Her Daily News. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s