Kopi dan Segala Kejutannya

Oke. Mungkin judul gue di atas terkesan sangat lebay. Kopi menjadi salah satu warisan andalan nenek moyang kita, yang dimulai sejak jaman penjajahan Belanda. Iya sih, secara tidak langsung kita juga harus berterima kasih oleh sang penjajah yang telah meninggalkan jejak cukup baik bagi bangsa ini, yaitu berkembangnya Perkebunan Kopi.

Memang bukan Indonesia saja yang memiliki perkebunan kopi, karena aslinya tanaman ini berasa dari benua Afrika, dan dibudidayakan di benua lainnya, termasuk Asia. Negara tetangga seperti Vietnam juga terkenal kopinya. Bahkan tante gue yang jalan-jalan ke sana membawakan oleh-oleh kopi Vietnam yang sangat ‘keras’ jika dibandingkan dengan kopi yang ada di Indonesia. *Ca elah, kayak gue ngerti banyak aja tentang kopi* In My Sotoy Opinion, of course :p Jangan ajak gue membahas jenis-jenis kopi saat ini, karena pengetahuan gue hanya sebatas seperti anak TK mengenal angka dan huruf.

Begitu pesatnya perkembangan kopi di abad modern ini, membuat para pecinta kopi dan pekerja keras (baca: kopi sebagai penghilang kantuk di kala kerja dan belajar), berbondong-bondong meminum kopi sebagai minuman  wajib setiap harinya. Okay, tidak dipungkiri bahwa kandungan kafein dalam kopi dapat membuat orang yang rutin mengkonsumsinya menjadi ‘lebih’ dari sekedar rutin, alias ketagihan.

Kita tahu bahwa sesuatu yang berlebihan, adalah tidak bagus, apapun itu. Bahkan rasa mencintai yang terlalu berlebih juga tidak baik bagi kesehatan mental *eaaa curcol* Ada tante gue yang lain, dia adalah pecinta kopi. Jenis apapun, pokoknya judulnya Kopi. Kalau dalam satu hari tidak mengkonsumsi minuman tersebut, dia akan merasakan pusing-pusing dan tidak konsen bekerja. Jadi setiap hari pasti minum kopi. Dan menurut gue, dan diakui pula olehnya, bahwa dia sudah kecanduan kopi.

Tidak berbeda dengan papa gue, beliau setiap pagi dan sore hari, pasti minum kopi. Pagi hari minum kopi hitam dicampur susu kental, siang atau sorenya minum kopi diaduk dengan creamer yang dijual sachet. Bahkan malam hari, ketika belum-bisa-tidur, beliau iseng minum kopi. Lah, setahu gue kan kopi itu penghilang kantuk, kok papa yang lagi-berusaha-tidur malah minum kopi? Entahlah, itu rahasia Ilahi. Hanya papa yang bisa merasakan mengapa minum kopi dapat membuatnya terlelap, alih-alih terjaga.

Gue pribadi adalah penikmat kopi yang on-off. On 1 hari, off 2 hari. Bahasa awamnya, gue minum kopi 3 hari sekali. Bahkan bisa lebih. Pada dasarnya gue sangat menyukai wangi kopi, apalagi rasanya. Namun sayangnya, tubuh gue sejak kecil ‘menolak’ secara terang-terangan sang hitam manis, Kopi. Hati aja kalau ditolak sama gebetan sakitnya minta ampun, *eh* Cerita sedikit, dulu pernah ketika masih sekolah, iseng-iseng menu sarapan gue tambah dengan secangkir kopi susu yang biasa suka papa bikin, jadi gue bereksperimen sendiri. Beberapa seruput dan tegukan gue nikmati sampai hampir ditetes terakhir.

Sampai sesuatu dalam tubuh gue bergejolak. Tidak salah lagi. Maag gue jungkir balik di dalam sana. Perihnya minta ampun, gue merengek. Mendadak kepala jadi pusing dan mual, tapi gak bisa muntah. Mual aja gitu. Dan tahukah kalian, bahwa gara-gara insiden itu gue harus ijin tidak masuk sekolah selama 2 hari, disertai dengan demam pada malam harinya. Lebay. Sungguh lebay efek yang diberikan kopi kepada gue. Gue menyukainya, tapi ‘tubuh’ ini menolak. Gue berhenti minum kopi selama beberapa tahun, namun diselingi sedikit dengan kopi-kopi ‘mahal’ jaman sekarang yang tersebar di seluruh pelosok negeri ini.

Warung kopi macam Starbucks dan Coffee Bean, memang menjual produk kopi dari yang masih berbentuk biji, sampai yang sudah tersedia dalam gelas siap diminum, sesuai pesanan kita. Inilah yang gue maksud perkembangan pesat biji kopi, tetap hits dari jaman nenek moyang sampai jaman kita sekarang, bahkan lebih maju lagi dengan perpaduan kopi dengan cream, blended ice, caramel, bahkan dengan tambahan chocolate chips. Kopi tidak hanya bisa dinikmati panas-panas dan pahit/manis, namun juga dingin-dingin asoy. Orang-orang semakin kreatif, ketika ide muncul membuat sebuah kondisi minum-kopi-sambil-duduk-kongkow-kongkow, maka dibuatlah sebuah cafe atau kedai mungil dengan alunan musik ringan, pokoknya dibuat situasi senyaman mungkin bagi si penikmat kopi, sampai orang-orang rela membeli minuman itu dengan harga yang relatif lebih mahal, jika dibandingkan dengan kopi tubruk biasanya.

Bukan, ini bukan milik Mr.Bean, kawan

Bukan, ini bukan milik Mr.Bean, kawan

Gue tidak terlalu suka minum di kedai kopi tersebut, kecuali diajak oleh teman, dan mengetahui kelemahan tubuh ini terhadap kopi, gue selalu ‘berbagi’ jika ingin mengkonsumsinya. Cukup beberapa teguk dan mampu menggenapkan rasa kangen gue akan cita rasa kopi. Bukan karena gue pelit, saudara-saudara, bukan! 😀

Sampai pagi ini papa gue menawarkan, “Dek, mau minum kopi?”. Gue menjawab penuh semangat, “Mau, pap. Mau!”. Melupakan penolakan yang sebelumnya sudah pernah gue alami, pagi ini rasa rindu gue meningkat, sebabnya papa gue meracik kopi dari mesin pembuat kopi yang wanginya menyebar ke seluruh area pantry rumah gue. GIMANA GAK NGILER?? Hihihi…

O Kopi Ohhh

O Kopi Ohhh

Okay, dan maag gue mulai berdemonstrasi ketika dalam perjalanan ke kantor. Perut gue terasa mual, kepala pusing-pusing, dan pundak pegal-pegal. Tupai saja tidak jatuh ke lubang yang sama, kok gue bisa-bisanya melakukan kesalahan yang sama?

Menurut gue ini bukan tentang Kesalahan-yang-terulang, melainkan ketidakmampuan diri menahan keinginan. Itu saja. Sesederhana itu. Dan tidak ada penyesalan. Ibarat kata sudah terlanjur cinta, sakit pun kurindukan. Eaaa! Postingan gue kali ini kok jadi nyerempet  kegalauan ya?! *maapkeun*

Dan akankah gue berhenti minum kopi? Tidak! Gue tetap akan meminumnya dengan komposisi 1 hari on, 2 hari off. Mungkin ini jalan terbaik yang bisa kami sepakati saat ini, ya, antara Aku dan Kopi.

Biarkan aku menikmati sarimu dalam waktu yang tak tentu

Jangan mencari aku, biar aku yang mencarimu

Karena aku tak akan sanggup menolak

kala menangkap aroma yang kau bawa

 

Seperti kasih sayang yang Ia bawa dan tawarkan

Membuat hati ini ingin terus mencicipi Pahit dan Manis sifatnya

Bahkan membuatku mulai mencandu perhatiannya

 

Ijinkan aku membalut aroma yang kau bawa

ke dalam setiap rongga pernapasanku

Menghirup…merasakan hidup…

dan kutahu itu tak akan pernah cukup

 

Juni 2012

Enjoying Coffee is just like enjoying Love... Ada Pahit ada Manis :p

*ketiga gambar di atas, diambil dari Yahoo badabadoo….* Thank you!
Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in In Her Mind. Bookmark the permalink.

2 Responses to Kopi dan Segala Kejutannya

  1. cher says:

    bhuakakakakakakkk..najiiiissssssssss…!!! ngakak gua baca puisi ‘kopi oh kopi on off’
    however, nice share as always, dear! *bearhug*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s