Untuk Daerah Khusus Ibukota, Saya Memilih.

Kemarin adalah hari yang ditunggu-tunggu warga Jakarta, yaitu libur! Pemilihan Umum Kepala Daerah, alias Pemilukada, Pilkada, alias mencari Gubernur yang baru untuk kota ini.

Keluarga gue sudah mendapatkan kartu pemilih sejak minggu lalu, dan kami mendapatkan nomor urut muda, yaitu 5,6,7. Itu hanya nomor urut di daftar pemilih, karena sebenarnya jam nyoblos nya bebas dari jam tujuh pagi sampai jam satu siang.

Gue bangun pagi-pagi lantaran ingin ke TPS (Tempat Pemungutan Suara) bareng sama orangtua, soalnya mereka flight ke Jambi jam 8.45 pagi itu. Namun ternyata waktu sangat mepet sehingga mereka gak jadi ke TPS, melainkan langsung menuju bandara Soekarno-Hatta. Sayang sekali ya, 2 kertas suara sudah terbuang karena tidak digunakan. Semoga sih gak disalahgunakan oleh oknum-oknum yang tidak jujur. Dan jadilah gue sendirian ke TPS jam 8 pagi.

Suasana masih sangat sepi, hanya diramaikan oleh om-om pengurus RT/RW dan hansip-hansip. Bahkan ada tetangga gue yang memanfaatkan event tersebut untuk memasarkan produk kesehatan, semacam papan kayu berjari-jari yang bisa digunakan untuk kesehatan kaki. Dia memajang barangnya di samping TPS, jadi orang yang lalu lalang bisa melihatnya. Bisaaa aja. Selain itu, ada juga 2 orang photographer dadakan yang entah dari mana, mengambil gambar suasana Pilkada di lingkungan rumah gue.

Di tempat itu gue lihat ada 1 team yang terdiri dari sekitar 5 orang, berbaju kotak-kotak Jokowi-Basuki yang memakai tali nametag di lehernya. Menurut gue, itu adalah team pemantau dari pasangan cagub cawagub nomor tiga, yang beken dengan kemeja kotak-kotaknya. Karena memang yang gue dengar dari berita, Jokowi-Basuki memang mengirim team pemantau ke TPS-TPS seluruh Jakarta. Cagub-cawagub lain mungkin juga mengirimkan team pemantaunya, namun karena tidak ada ciri khas seperti bajunya Jokowi, jadi kita-kita gak tau. Iya kan. Hehehe…

Setelah menentukan pilihan, gue coblos, dan mencelupkan jari ke tinta yang tersedia, gue berjalan ringan keluar TPS. Ah, gue tahu pasangan yang gue pilih tidak akan menang, apalagi masuk dalam dua besar untuk putaran kedua, namun gue tetap bangga memilih pasangan ini.

Faisal Basri – Biem Benyamin. Pasangan nomor lima. Adalah calon independen yang lolos verifikasi untuk masuk sebagai calon gubernur Jakarta periode 2012-2017. Tanpa embel-embel partai di belakang namanya, beliau berhasil maju masuk dalam daftar 6 calon gubernur yang akan dilempar ke masyarakat untuk dipilih.

Kenapa gue tertarik untuk memilih nomor 5?

Give Me 5ive

Give Me 5ive

Pertama, beliau bukan berasal dari partai, bukan dicalonkan oleh partainya, yang berarti dukungannya benar-benar berasal dari warga yang memang ingin memilihnya. Dan kalau menang, beliau (mudah-mudahan) tidak terus-terusan memenuhi kepentingan Partainya, melainkan kepentingan Warga yang memang mendukungnya. Yang gue bangga, calon independen ini berhasil mengalahkan calon lain yang berasal dari partai besar. Ini suatu sinyal yang baik menurut gue.

Kedua, beliau rela menjual rumahnya untuk dijadikan modal kampanye dan logistik lain-lainnya, karena menyadari bahwa tanpa partai, tiada pula kucuran dana dari manapun, selain dari aset pribadi, sumbangan dari sukarelawan tim suksesnya, pokoknya serba minim.

Ketiga, dalam debat cagub di tvOne beberapa waktu lalu, gue melihat beliau sebagai sosok yang rendah hati, tidak ngomong besar, berbicara dengan tenang seperti bapak guru. Ya, gue menyukai caranya berbicara. Gue suka ketika Bapak Faisal bilang begini di debat cagub “Menolak  pembangunan jalan tol, melainkan membuat jalan-jalan alternatif agar kalau terjadi kemacetan kita tidak stuck seperti sekarang ini.” Lanjutnya ketika ditanya mengenai transportasi umum, “Kalau jalan layang (untuk kendaraan pribadi) bisa kita bangun, kenapa perlintasan kereta api tidak bisa kita bangun?!” Gue memang selalu menggunakan kendaraan pribadi, tapi menurut gue, jawaban-jawaban beliau bisa gue terima. Hehehe.. Dan beliau sebagai ‘anak Jakarta’, menurut gue cukup pas dan ‘kenal’ untuk memimpin Jakarta.

Keempat, gue menyukai kerendahan hatinya. Ketika pagi ini gue nonton berita di Metro Pagi, beliau hadir sebagai narasumber, membahas mengenai tanggapannya atas pilkada yang dilaksanakan kemarin. Beliau tampil dengan kemeja lengan digulung, celana bahan, dan teteup loh, Sandal Gunung.

http://www.metrotvnews.com/read/newsprograms/2012/07/12/13247/347/Jakarta-Inginkan-Perubahan

Kelima, (sementara ini) beliau tidak mengalihkan pendukung-pendukungnya untuk memilih antara di antara dua besar calon lain, jika ada pilkada putaran dua nanti. Dalam wawancaranya kemarin sore dengan radio Elshinta, si penyiar bertanya “Jika ada putaran kedua nanti, anda ingin pendukung-pendukung anda berpihak ke calon yang mana antara Bang Foke dan Jokowi?”, dan beliau menjawab “Itu seutuhnya pilihan mereka (pendukungnya) saja, kan mereka sudah dewasa dapat memutuskan sendiri ingin mendukung yang mana. Jadi saya tidak menghimbau mereka untuk memilih siapa, itu terserah mereka saja.” Dan menurut gue, itu Keren. Dan hal itu pun diungkapkannya lagi dalam wawancaranya di Metro Pagi.

Keenam, sebenarnya gue sedang mencari sumber yang cukup terpercaya mengenai misinya untuk menumpas  ormas anarki berkedok agama, katanya sih beliau adalah satu-satunya cagub yang berani mengutarakan hal itu, namun sampai sekarang gue belum menemukan sumbernya, jadi masing ngambang. Jika memang benar, gue dukung sekaleee…

Sebagai calon independen, beliau berhasil menerobos kepercayaan masyarakat, termasuk gue. Gue memang tidak yakin 100% beliau akan berhasil memimpin Jakarta dengan mulus dalam 5 tahun ke depan, namun setidaknya, gue lebih menyukai pasangan ini, dibandingkan calon lainnya yang berdiri dengan kibaran bendera partai.

Mungkin ada yang bertanya kenapa gue tidak memilih Jokowi-Basuki, karena dengar-dengar warga keturunan Tionghoa banyak menyumbangkan suaranya untuk mereka.

Pertama, gue  ilfeel sejak kemunculannya di Mata Najwa dalam epidode Laga Ibukota. Ketika mbak Najwa bertanya “Kenapa anda mengajukan diri setelah sebelumnya anda menyatakan tidak akan mengajukan diri sebagai cagub Jakarta? Kenapa berubah?” Apa jawabannya, saudara? Jawabnya “Awalnya memang tidak tertarik, namun setelah dipanggil ketua umum dan diberi tugas negara untuk menjadi calon DKI1, tidak ada jawaban yang lain. Menghindar dengan cara apa saya? Saya jawab saya siap.” Jiahhhhh….jawabannya kok gitu! Disuruh partai. Disuruh Ibu Mega, disuruh Pak Prabowo?? Ternyata mbak Najwa berpikiran sama dengan gue, “Jadi karena semata-mata dipilih oleh partai? Apakah anda tidak takut jika nanti rakyat menilai anda disetir oleh partai?” Gue sangat mengakui sepak terjangnya di kota yang dipimpinnya, tidak diragukan lagi. Namun tetap saja, ada hal-hal yang gak sreg di hati gue. Eaaa…

Dan gue juga tidak suka ketika Jokowi terkesan meremehkan Jakarta, ketika mbak Najwa membandingkan luas kota Solo dengan kota Jakarta. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi. Seolah-olah kedua kota ini sama aja. Cuma jawab “Itu bisa diselesaikan.” -___- Ilfeel abis. Lahh, jelas berbeda. Terlebih lagi, Jokowi kan masih mengabdi menjadi walikota di kota Solo. Masa bakti nya belum selesai, dan dia mau meninggalkan tugasnya di sana untuk mengejar DKI1? No…gue gak suka cara kerja begini. Tapi ya kalau masyarakat Solo sendiri sudah merelakan, dan malah mendukung, terserah deh. Cuma gue merasa beliau tidak tuntas saja menjalankan amanat rakyat Solo.

Sama seperti pendapat om Piring, misalkan Jokowi tidak menjanjikan bahwa dalam kampanyenya tidak akan ada baliho, tidak akan ada spanduk, tidak akan ada iklan, mungkin gue masih bisa terima. Masalahnya, ketika di Mata Najwa beliau menjanjikan itu semua, namun pada kenyatannya spanduk-spanduk dan iklannya ada di mana-mana. Gimana mau menjalankan janji-janjinya nanti ketika sudah jadi gubernur? Ketika belum jadi gubernur saja sudah beberapa kali tidak sesuai antara perkataan dengan tindakan nyatanya. Kita lihat saja nanti, semoga gue salah, dan semoga beliau bisa menjadikan Jakarta kita lebih baik dan lebih tertata, karena hasilnya belum final.

Jadi yah, beginilah gue. Sebagai salah satu yang pemilih yang memiliki suara minoritas, tentu saja tetap bangga dengan pilihan gue. Kata seorang teman di twitter, “Calon independen bisa meraih 5% saja sudah termasuk populer.”

Siapa pilihanmu? Tentu saja itu hakmu. Siapa pilihanku? Tentu saja itu hakku.

Dan gue telah memilih untuk DKI1, nomor Lima.

Bagaimana di putaran kedua nanti dengan kadar ilfeel yang gue miliki atas kedua calon besar yang tersisa? Entahlah… Namun menurut gue, dengan pengalaman yang pernah mereka lakukan di kota-kota terdahulu yang mereka pimpin, mungkin akan lebih baik jika kotak-kotak yang akan terpilih, daripada gue menyia-nyiakan kertas suara yang tersedia, bukan? Demi Jakarta.

Siap untuk putaran Kedua?

Siap untuk putaran Kedua?

Baca juga: Blognya Pandji ‘Jakarta Untuk Warga’ (Bikin gue terharu)

Ini juga: Blognya om Piring ‘Review Awam: Pilkada DKI, Takut Kumis, dan Underdog’ (Bikin gue ingin ber hi5 sama om Piring).

Wasalam!

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Her Daily News, In Her Mind. Bookmark the permalink.

3 Responses to Untuk Daerah Khusus Ibukota, Saya Memilih.

  1. Pingback: Tanggal 11 Juli… | Cher's Blog

  2. Pingback: Jakarta, I was careless | Cher's Blog

  3. Pingback: Jakarta, I’ve been careless | Cher's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s