MOS: Ketika Kita Bertemu

Masa Orientasi Siswa, yang dikenal dengan sebutan MOS, sebelumnya namanya Penataran P4 kayak tempat parkir ketika gue SMP, gue sendiri lupa sih kepanjangan P4 itu apa.

MOS yang gue inget ketika SMU dulu, lebih banyak bertujuan buat ngerjain anak baru, alih-alih memberikan pengenalan mengenai sekolahnya. Disuruh ikat rambut warna-warni sesuai tanggal (tanggal 12 berarti harus ikat rambut 12 kunciran, dan begitulah untungnya MOS tidak pernah di akhir bulan), disuruh bawa tas yang terbuat dari karung goni (okay, ini memang membuat siswa baru menjadi gatal-gatal kreatif), pakai kaos kaki kanan dan kiri dengan warna yang berbeda, dan setelah pulang sekolah disuruh ke Mall terdekat dan foto-foto di eskalator dan di atas panggung, dan besok harus dikumpulkan hasil cetakan fotonya.

Biarpun ada hal-hal yang bikin kita, gue, sebagai anak baru, menjadi malu dan harga dirinya agak terinjak-injak ketika berjalan di mall dengan berpakaian dan dandanan yang ajaib, nyatanya hal itu membuat gue menjadi bersahabat dengan beberapa teman seperjuangan kala itu, dan persahabatan kami terus tejalin sampai hari ini, ketika kami tidak lagi di kota dan negara yang sama, ketika dari kami sudah ada yang memomong anak.

Gue ingat sore itu, gue dan beberapa anak baru naik angkot ramai-ramai menyerbu Puri Indah Mall, dengan kuncir 12, tas selempang karung goni, kaos kaki belang-belang, karton nama di dada, disertai dengan muka lusuh dan berkeringat. Kami ke mall tersebut  hanya demi foto-foto di eskalator dan di atas panggung. Dan secara kami ramai-ramai (5-8 orang itu ramai kan?), tidak peduli lagi lah diliatin orang-orang. Yang penting tugas selesai.

Tidak hanya untuk mendekatkan sesama angkatan, sebenarnya acara seperti ini pun dapat mendekatkan junior dengan seniornya, meskipun kadang geli aja gitu ngeliat kakak kelas yang kelakukannya sok galak padahal gak jelas apa yang diocehin. Dan sebagai anak baru kita cuma bisa nunduk dan diam, daripada kena hukum dipanggil ke lapangan dan disuruh joget-joget ga jelas (keadaan jadi berbeda ketika gue ikut ospek di kampus, itu kapan-kapan aja gue ceritanya ya). Hehehe… Dan ajang ini juga lebih tepat disebut ajang balas dendam sang senior, karena dulu mereka juga dikerjain begitu. Ini namanya lingkaran setan. Gak akan pernah berhenti kalau semuanya menganggap ini tradisi dan ingin balas dendam turun temurun. Pokoknya jaman dulu itu senioritas sangat berlaku dan didewa-dewakan. Dan untungnya, gue ini semacam senior baik hati yang gak pernah ikut-ikutan ngerjain adik kelas yang minta tandatangan. Buat apa? Lucu-lucuan? Keren-kerenan? Toh masa depan seseorang tidak tergantung dari seberapa keren ketika dia menjadi seorang senior. Iya kan?

Dan entah sejak beberapa tahun yang lalu, sepertinya acara seperti itu sudah dihapuskan, karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan  dan digantikan benar-benar menjadi acara pengenalan sekolah. Mungkin semacam seminar atau wisata keliling sekolah untuk menjelaskan kegiatan-kegiatan di sekolah dan segala fasilitas yang tersedia untuk murid-murid, dan senior-senior lah yang mendapat jatah untuk memberi petunjuk untuk junior-juniornya. Hal seperti inilah yang selalu gue bayangkan tentang orientasi siswa di sekolah. Namun ya tentu saja tidak semua sekolah acaranya sama, kembali lagi tergantung kebijakan masing-masing.

Ketika Masa Orientasi Siswa berakhir, lega rasanya. Selamat datang di dunia SMU, selamat memutar otak, dan yang gue suka dari sekolah kala itu adalah, kita bebas menentukan ingin duduk sama siapa. Dan gue senang ketika mendapatkan teman sebangku sama si ini, si itu, kadang tukeran sama yang ini, itu. Pacaran. Patah hati. Kecewa. Senang. Ketawa-ketawa. Nangis. Berantem karena belain temen. bersalaman dan berpelukan ketika hari kelulusan. Semua itu mengisi hari-hari gue ketika SMA dulu.

Dan ketika gue duduk di meja kerja hari ini. Memandangi anak-anak sekolah yang lewat di depan toko, sambil ketawa-ketawa, memegang minuman dingin di plastik, sesekali menyeruput, ngobrol, nabok pundak temannya. Blarr… Seketika pandangan itu melemparkan gue ke 12 tahun yang lalu. Gue pernah berada dalam situasi seperti itu. Memegang minuman dingin di plastik. Menabok pundak teman gue dan berteriak di kupingnya, dan teman gue akan balas menabok pundak gue, atau sesekali menempelkan minuman dingin di tangannya ke pipi atau jidat gue.

Semua itu memang hanya menjadi kenangan, ketika beberapa dari kami sudah sibuk dengan dunia keIbuannya. Sudah sibuk dengan rumahtangga dan karirnya. Dan kami hanya dapat bertemu dan bertukar cerita sesekali saja dalam beberapa bulan, bahkan tahun. Semua sudah berbeda. Semua sudah berubah. Hanya kenangan yang tidak pernah berubah. Ketika perasaan bisa terkikis dan menghambar, dengan membangkitkan sedikit kenangan dapat melambungkan kembali perasaan rindu diantara kami, dan akhirnya salah satu dari kami akan kirim pesan singkat… “Heiii, ketemuan yuk. Kapan sempat?”

Dan tulisan ini untuk sahabat-sahabat gue, dimanapun kamu semua berada. Kamu. Iya, kamu. Siapa lagi?

🙂

Tut Wuri Handayani

Tut Wuri Handayani

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in In Her Mind. Bookmark the permalink.

2 Responses to MOS: Ketika Kita Bertemu

  1. id@ says:

    ayooo cerita saat kuliah POLMA

    ketemua ma ko2 incent hahhaaa

  2. neitneit says:

    Hahahahaha males banget inget2 fans gue yg satu itu :p Dulu pernah gak sengaja ketemu dia di Puri Mall, ternyata gayanya masih belagu. Udah bawaan orok ya kayaknya. Bhakakakaka…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s