[01.45] Ocehan Tengah Malam

Betapa gue hidup di kota yang penuh hiruk pikuk, kota yang terbilang sangat sibuk, dengan tingkat kemiskinan yang katanya (dan nyatanya) masih memprihatinkan, namun…memiliki masyarakat dengan tingkat konsumtif yang sangat tinggi, ya masyarakat kelas menengah dan menengah ke atas, dan mungkin gue ada di antaranya.

Gue termasuk golongan masyarakat menengah yang memiliki penghasilan cukup untuk shopping dan makan di mall, namun tidak-berani-berfoya-foya-dengan-simpanan-yang-ada, karena belum termasuk golongan konglomerat. Pun termasuk golongan yang cukup bisa untuk ikutan midnite sale di mall, hanya untuk sekedar membeli ‘kebutuhan’ dengan harga suring (super miring), bukan untuk memborong barang-barang yang sebenarnya tidak perlu, dan yang terpenting adalah untuk memantau seperti apakah gaya hidup konsumeritas masyarakat modern yang hidup di kota besar ini.

Jakarta Convention Center

Contoh kecil kemakmuran masyarakat kita, dapat dilihat melalui satu daerah beken di Jakarta, yaitu daerah Senayan. Jakarta Convention Center. Gedung yang selalu menjadi tempat exhibition terkemuka di kota ini, gedung yang sering menjadi saksi kelulusan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai universitas, gedung yang beken dijadikan sebagai tempat manggung artis-artis lokal dan internaional yang mengadakan konser di Jakarta.

Dan kemarin, adalah untuk yang keratusan (?) kalinya Jakarta Wedding Festival diadakan di sana. Gue dan pacar datang ke acara tersebut dengan tujuan mencari paket jalan-jalan romantis setelah nikah nanti (kalau ada yang alergi mendegar kata: honeymoon). Wow sungguh wow, bahwa gue bertemu banyak teman di sana. Ternyata banyak yang sedang mempersiapkan pernikahan, ada juga yang sedang jaga pameran. Dan tidak kalah wow juga, ratusan vendor berlomba-lomba menawarkan jasa-jasa dan produknya kepada para calon mempelai, termasuk kepada kami. Di sini gue melihat bahwa perkembangan bisnis ‘anak muda’ masa kini, berkiblat pada pesta pernikahan (iya, karena gue sedang ada di sarangnya)!

Sebut saja perkembangan dunia photography di kalangan muda-mudi, bermodalkan kamera canggih, skill pengambilan gambar, software, dan skill edit foto, seseorang bisa membuka usaha Jasa Foto dan Video prewed maupun wedding day. Gak usah jauh-jauh, sepupu gue sendiri sudah mulai merambahi dunia ini sejak tahun lalu. Karena menurutnya, bisnis ini memang banyak saingan, namun seru, dan gampang-gampang susah. Mereka yang memiliki modal lebih besar, bisa membeli kamera yang lebih canggih serta upgrade ini itu, ikut pameran di berbagai event, ditambah intangible asset yang berupa…kreativitas, keberanian, dan jadilah mereka…Wirausahawan. Dan tentu saja, pasangan-pasangan muda menjadi target pasar utamanya.

Setelah lelah berkeliling arena pameran yang dibagi dalam 3 ruangan besar tersebut, dan setelah ngeDeal paket jalan-jalan yang kami minati, gue melihat jam tangan dan…jreng jreng…jem 21.00! Memang itu hari Sabtu, dan memang jam sembilan malam belumlah ‘malam’ kalau itu weekend. Yang jadi masalah adalah… Satu, JCC sedang mengadakan dua pameran besar yaitu pameran wedding dan furniture. Dua, di Gelora Bung Karno jam sembilan nanti akan diselenggarakan pertandingan sepakbola persahabatan antara Indonesia dan Valencia. Tiga, ini yang tidak kalah penting, Mall Senayan City sedang mengadakan midnite sale sampai jam 12 malam. Mau jadi apa jalanan Senayan saat itu?! Dan gue masih harus ke Senayan City menyusul keluarga gue yang sudah lebih dulu tiba dari jam delapan.

Senayan City

Keluar parkiran sudah terlihat tanda-tanda kemacetan. Perasaan gue udah mulai gak enak, sepanjang jalan keluar diem aja. Pun pacar. Kami kira itu hanya macet lampu merah, jadi tenang-tenang saja. Mulai gusar setelah melewati lampu merah, ternyata masih juga macet, di depan Plaza Senayan. Sudah tahu sih ini pasti macetnya bersumber dari Senayan City, namun tetap berkeras hati menuju mall tersebut. Mobil kami benar-benar jalan seperti siput. Jangankan 10km/jam, hanya sedikit gas tidak mengubah jarum berpindah dari titik nol km/jam. Begitu kacau dan semrawutnya jalanan Senayan sabtu malam kemarin. Hampir menyerah untuk cari parkir sendiri, kami meminta untuk valet parking saja. Ternyata valet pun penuh, mungkin antara tempat khusus valet nya penuh, atau supirnya tidak kunjung datang karena terjadi kemacetan dashyat di basement.

Akhirnya mobil kami (dan atas saran gue juga -__-) turun ke basement melalui terowongan gitu, demi apaaaa kemacetan sudah dimulai dari tengah terowongan. Bagoosss…dan kami terjebak di sana. Gak bisa mundur (mundur, posisi mobil nungging, itu bukan solusi yang bagus, ditambah lagi sudah ada mobil lain yang masuk ke terowongan itu). Ini penderitaan massal banget deh. Kami dengan muka lemas dan pucat, memaki keputusan kami sendiri untuk tidak langsung pulang saja dari JCC tadi. Bayangkan, dari JCC ke Senayan City 1 jam, dan antri menunggu parkiran 45 menit sa..sa..saja… Benar-benar masuk ke mall jam 11 malam kurang sedikit. Jadi waktu kami hanya satu jam sampai waktu tutup mall. Niat banget yah! Haha…

Gue belum makan dari siang, akhirnya kami makan dulu di foodcourt dan setelahnya menyusul mereka di Debenhams, yang mana…memang diskonnya gede sih. Kasur Serta yang dari harga 42 juta diskon sampe 16 juta (bayangkan modalnya jadi berapa duit? Untungnya berapa kali lipat tuh kalo harga normal). Karena sudah berjuang sedemikian beratnya untuk sampai ke mall ini, maka kami memutuskan beli keperluan untuk di rumah, yaitu…Keset! Yoiiii keset buat kaki itu. Yang bahannya elastis, cepat menyerap air, mudah dicuci. Diskon cukup kaget, dari ratusan ribu jadi puluhan ribu, maka jadilah gue beli beberapa dan langsung membayarnya di kasir, untung kasirnya lagi sepi jadi gak perlu antri kayak cari parkir tadi.

Sebenarnya orangtua gue juga tidak ada tujuan untuk membeli apapun, dan benar, mereka memang tidak membeli satu barangpun. Mereka ikut ke Senayan City karena diajak oleh koko gue dan mertuanya, mereka mau beli koper, karena koper yang mereka punya udah pada jebol, jadi saatnya beli yang baru. Dan memang, diskonnya yang lebih dari 50% membuat harga koper yang mahal jadi jauh lebih murah. Kalau ada ‘kebutuhan’ yang harganya mahal, memang lebih baik dibeli saat ada sale gede-gedean seperti itu. Namun jika hanya ‘keinginan’ dan gak perlu-perlu amat, lebih baik mikir-mikir lagi. Gini logikanya, tidak ada diskon, kita tidak belanja apapun, ada diskon, kadang barang-barang yang tidak terlalu penting pun kita beli demi memenuhi syarat memperoleh diskon atau voucher tambahan, pada akhirnya kita malah mengeluarkan uang lebih besar daripada potongan diskon yang kita harapkan pada awalnya. Jadi, belanjalah sesuai kebutuhan, bukan keinginan.

Apalagi mengingat ramenya suasana di mall saat itu, melebihi keramaian pada siang hari, padahal waktu sudah menunjukkan hampir jam 12 malam. Kereta labu saja udah selesai beroperasi.

Suasana malam semakin meriah dengan adanya live band yang keren, dan gue seperti berada di ‘club’ karena lagunya jedang jedung. Bikin pusing, iya. Tapi kalau diperhatikan seksama, emang keren sih band nya… Cici gue dan anaknya pun, betah berlama-lama nonton di depan panggung.

Gue pun baru tahu bahwa Senayan City mengadakan Sahur in the Mall. Jadi beberapa merk makanan di foodcourt yang ikut berpartisipasi, buka sampai jam empat pagi. Wow… Dan ternyata juga, mall ini berniat masuk MURI dengan beraktivitas selama 38 jam non stop, disertai dengan midnite sale nya yang heboh tersebut.

Ocehan Tengah Malam

Pertanyaannya adalah…Listrik apa kabar, pak? Bukannya sekarang lagi gencar untuk hemat energi, hemat listrik? Ini kok kesannya (dan memang) malah pemborosan ya? 🙂 Bukannya Indonesia masih belom bebas dari subsidi listrik? Jadi sebenarnya mall-mall juga memakai subsidi listrik dong? Berarti…ini benar pemborosan kan, demi masuk MURI? Yakin lo? Kenapa juga rekor yang dicatat yang seperti ini? Maknanya apa? So what? Oh iya, siapa gue, apa hak gue, toh mereka juga yang bayar listrik. hahaha… *sewot* (Boros bensin pula dari JCC ke Senci dua jam…gak lagi deh kayak gitu kalo gak urgent. Kapok!)

Jadi, inilah yang gue maksud pada paragraf pertama dan kedua tadi. Masyarakat Jakarta memiliki tingkat konsumtif yang sangattt tinggi, di samping itu kita juga tahu bahwa di setiap sisi, sudut kota Jakarta, kita selalu melihat orang-orang dibawah garis kemiskinan yang tidur di kolong jembatan, di lampu merah, di trotoar, bahkan di gerobak sampah.

Di satu sisi ada rakyat kedinginan karena udara malam, di sisi lain ada yang kedinginan karena suhu AC di mall terlalu rendah. Di satu sisi ada yang kepanasan karena teriknya matahari siang, di sisi lain ada yang ‘panas’ karena berusaha kabur dari kasus korupsinya. Kita hidup di negara yang sama, melihat awan yang sama, disinari matahari yang sama, terguyur hujan yang sama, namun selaput antara setiap lapisan, tidak tertembus. Ini nyata.

Pemerintah boleh bangga persentase angka kemiskinan di kota ini menurun, namun jika angka kemiskinan itu menurun karena semakin banyaknya pendatang, apakah bisa dipastikan juga bahwa jumlah orang yang dalam kemiskinan itu juga menurun? Belum tentu, bisa jadi jumlah orang miskin meningkat!

Jadi, gue sebagai orang Jakarta harusnya khawatir dengan tingkat kemiskinan yang masih besar, atau bangga karena masyarakatnya keren-keren bisa shopping pagi-pagi buta di mall elit?

🙂

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Her Daily News, In Her Mind. Bookmark the permalink.

2 Responses to [01.45] Ocehan Tengah Malam

  1. stephanie says:

    haha knp gw bacanya jd ikutan “panas” yaaa.. wkwkwk :p
    gw bs merasakan tien betapa penatnya u di basement itu..
    kalo naek kopaja sih langsung aja turun y tien :p
    eniwei, di senayan jam kerja aja macettt tien..
    masi ingetkan kalo gw dulu jalan kaki? :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s