Ketika Kenangan Memang Hantu Di Sudut Pikir

Terdapat suatu situasi dimana kita tidak bisa melupakan orang-orang di masa lalu yang sedikit banyak pernah menyakiti hati kita. Sebut saja teman sekolah, mantan pacar, sahabat masa kecil, bahkan guru/dosen, dan lainnya.

Bukan untuk melupakan orang tersebut, melainkan melupakan ‘perbuatan-perbuatan’ dan perkataan yang cukup menyakitkan di hati.

Tidak juga bermaksud mendendam, hanya saja ingatan itu bisa terlintas dan wara wiri di kala kita sedang berdiam, atau sedang melakukan sesuatu yang ‘mirip’ pernah kita lakukan di masa lalu dengan orang-orang tersebut. Misalnya makan di restoran ini dengan si A, berdebat karena membahas hal tertentu dengan si B, yang secara tidak langsung namun nyata, kenangan tersebut sekelibat hadir. Baik hal-hal menyenangkan, maupun hal yang tidak menyenangkan.

Kenangan itu hanyalah Hantu di Sudut Pikir, kata penulis favorit saya, Dee Lestari. Ya, memang begitulah keadannya. Kenangan menyedihkan hanya akan terus menyakiti kita ketika kita kembali mengingatnya dan kembali merasakan sakitnya, meskipun hal tersebut sudah berlangsung lama. Ada sebagian orang yang masih merasakan pedihnya, tapi ada juga yang sudah sembuh hatinya.

Namun bagaimana? Bagaimana ketika kita ingin melupakan perbuatan dan perkataan mereka, nyatanya hal tersebut hanya membuat kita kembali teringat? Kalau itu saya, maka saya coba menerima ingatan tersebut, mengingatnya kembali, merasakan sakitnya. Membuka luka untuk menutupnya. Selamanya. Mungkin dengan begitu, memaafkan menjadi lebih mudah. Hanya mencoba berdamai dengan hati sendiri. Dengan perasaan sendiri.

Karena, Ingatan/Kenangan itu adalah milik kita. Tidak ada lagi hubungannya kita dengan orang-itu-saat-itu. Ketika kita hanya memiliki waktu berdua, antara otak/pikiran dengan kenangan tersebut, maka yang bisa kita lakukan adalah memaafkan dan menghentikannya. Jangan ijinkan pikiran kita yang menyiksa hati kita sendiri. Bukan hanya memaafkan orang tersebut, namun juga memaafkan diri sendiri.

Tidak untuk melupakan orang itu serta kenangan menyedihkannya, karena itu hanya akan membuat kenangan tersebut semakin senang bersemayam di pikiran dan akhir-akhirnya menyakiti hati. Melainkan memaafkan. Dengan memaafkan, kita tidak perlu berupaya keras untuk melupakan, dan ketika kita tidak sengaja teringat kembali, maka rasa sakit hati dan kepedihan tidak lagi mampu melukai hati kita. Dan pada akhirnya, memaafkan ternyata lebih mudah daripada kita terus dongkol di dalam hati tanpa bisa berbuat apa-apa dan membalas dendam (Bagus kalau bisa dibalas, kalau kesempatan balas dendam sudah hilang? Mau apa?).

Mungkin saya terlihat sok tahu, namun saya pernah berada di dalamnya. Dan memang, memaafkan dari dalam hati, lebih ringan rasanya daripada terus mengingat-ingat yang pada akhirnya membuat kita jelek-jelekin orang lain atau hati dongkol, serta keinginan-keinginan negatif lainnya bermunculan dari dalam diri. Itu lebih mengerikan.

Oh ya, sang waktu juga tidak pernah melupakan janjinya untuk terus berjalan, dan dia juga mampu membantu menyembuhkan hati yang terluka. Memaafkan, kapanpun kita mau, kapanpun kita siap, memaafkan tidak memberi batasan waktu.

Cheers!

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in In Her Mind, Uncategorized. Bookmark the permalink.

5 Responses to Ketika Kenangan Memang Hantu Di Sudut Pikir

  1. Icha says:

    hanya waktu Tien yg akan menyembuhkan segala luka, sulit jika memikirkannya tapi akan lebih mudah jika dijalani dengan hati dan pikiran yg positif ^^ Nice Posts Tien 😀

  2. Id@ says:

    Post yg satu ini asleeeee puitis bgt kata2nya
    Mendalam bener tuch sich kenangan hahahaa

  3. Pingback: Kesekian Kalinya | @truetienz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s