Sebuah Laci Dan Potongan Masa

Kalau kita baca judulnya, mungkin ini ide cerita Doraemon yang punya laci ajaib bisa pergi ke masa lalu dan masa depan, tapi ini bukan. Ini adalah sebuah laci yang hanya bisa membawa gue ke masa lampau saja.

Jam satu dini hari malam tadi, gue dihadapkan pada situasi yang menyebalkan dan membosankan. Entah mengapa beberapa hari ini gue dilanda susah tidur. Tidur ya mungkin tidur, tapi tidak nyenyak. Merem ya merem, tapi ternyata masih sadar.Setahu gue, kalau kita memaksakan diri kita untuk tidur, maka kita akan jauh dari kata tidur itu sendiri. Yang ada malah menjadi kesal sendiri karena tidak tidur juga.

Akhirnya gue memutuskan bangun dari ranjang dan mengambil sebuah kunci laci di salah satu sudut kamar gue. Entah mengapa gue tertarik untuk membuka laci yang terkunci itu, padahal sudah lama gue tidak melihat-lihat apa saja yang ada di dalamnya. For your info, laci meja gue terkunci bukan karena menyimpan banyak duit, melainkan karena menyimpan bukti ke-Alay-an gue beberapa tahun silam…

Gue membongkar laci itu dalam waktu sekitar 30 menit. Membuang sampah-sampah, tumpukan kertas, bon-bon dari jaman 2008…Gue tau kenapa laci gue susah dibuka. Ternyata banyak kertas gak berguna yang gue selipkan asal-asalan selalu… Alasannya, supaya kalau memerlukan bon-bon itu lagi gue tahu ke mana harus mencari. Tapi kalau dilihat-lihat dengan keadaan yang ada, kebiasaan menyimpan bon hanya akan membuat gundukan gunung di kamar dan ‘mengingatkan’ kita betapa borosnya kita beberapa tahun yang telah lalu. Lah, yang disimpan bon belanjaan, bukannya bukti setor gajian ke Bank. Kalau ditotal bon-bon itu semua, gue rasa cukup buat modal kawin.

Di antara bon-bon yang menggunung tersebut, ternyata di laci itu menyimpan kenangan lainnya. Kenangan gue bersama teman-teman, mantan gebetan, mantan pacar, juga Sang Pacar kini… Di antaranya ada kartu ucapan ulangtahun, hadiah-hadiah berukuran kecil, KHS (Kartu Hasil Studi) kuliah, bla…bla..bla…sampai di sudut laci itu ada dua buah buku yang tidak tertulis sampai habis. Hanya terisi sekitar seperempat buku masing-masingnya.

Tentu saja membuka buku itu artinya membuka kembali segala kenangan yang sudah bersemayam cukup lama di laci tersebut. Gue ingat tulisan gue dulu jaman sekolah, lebih rapih daripada tulisan yang sekarang gue miliki…hehehe Ini adalah salah satu efek samping penggunaan komputer dan mesin tik dalam jangka waktu lama, tulisan tangan menjadi tidak terasah.

Dan perasaan yang muncul macam-macam…ada rasa senang, rasa kecewa, dan rasa malu. Rasa senang karena gue memiliki ‘harta karun’ jaman SMP, rasa kecewa kepada diri sendiri karena dari kata-kata yang gue tulis dulu, ada yang ngomongin-teman-gue-dengan-kalimat-menyakitkan, ada juga yang menggambarkan betapa sombong dan angkuhnya gue saat itu 😦 Ihhh kalo gue jadi orang lain yang baca, mungkin rasanya pengen-tonjok-si-Heltien…Sombong abis! Huhuhu…

Juga Rasa malu, karena ternyata oh-dulu-gue-seAlay-itu-ya…bacanya sendiri gue pengen tenggelam di dasar laut…di dasar lautpun gue kayaknya bakal diketawain sama ubur-ubur! Ahhh pokoknya Alay to the max. Jadi gue memaklumi jika ada anak Alay jaman sekarang (biarpun ‘mungkin’ mereka melebihi gue :p), karena setiap manusia akan melewati masa-masa Alay seperti itu. Jadi inilah siklusnya: Bayi-Balita-AnakKecil-praRemaja-Alay-Remaja-Dewasa-Tua. Karena menurut gue, Alay ternyata bukanlah sifat, melainkan suatu Siklus kehidupan. Muahahahaha…

Yang aneh dari diary gue itu adalah…gue tidak menemukan satupun cerita ketika gue pacaran, yang ada adalah cerita ketika gue lagi menggebet orang lain. Padahal salah satu diary tersebut diberikan oleh mantan pacar, tapi tidak ada satu lembarpun cerita tentang dirinya, melainkan kisah gue setelah kami putus. Tapi ternyata menulis diary bukan keahlian dan kegemaran gue, karena dari tanggal yang tertera itu hanya bertahan tidak sampai satu tahun, dan setelahnya gue diamkan sampai saat ini berlabuh di laci itu…bersama dengan ratusan lembar kosong.

Gue mendapatkan diri gue merindu sesuatu, gak tahu apa. Mungkin rindu masa sekolah. Mungkin rindu teman-teman. Mungkin rindu sesuatu yang sudah pernah gue hancurkan (dan gue bersyukur tidak menemukan kepingan apapun-itu). Mungkin rindu ‘perasaan’ rindu itu sendiri. Ahhh benar-benar 30 menit yang Galau pisan.

Setelah menutup kembali laci itu dan bertatapan dengan cermin. Gue menertawakan diri sendiri. Betapa culunnya tulisan-tulisan dalam diary itu. Gue sempat menitikkan air mata ketika melihat tulisan Sang Pacar 5 tahun yang lalu, juga tulisan teman-teman di kartu ucapan yang pernah mereka berikan dulu. Doa yang mereka cantumkan di kartu 11 tahun yang lalu, sangat manjur buat penyemangat gue sekarang. Tidak penting teman yang menulis masih ingat atau tidak, yang penting itu sangat berguna bagi gue 🙂 Ternyata itulah gunanya Kartu Ucapan dibandingkan dengan ucapan virtual lewat SMS atau BBM atau Fesbuk atau socmed apapun. Bisa kita baca ulang-ulang-ulang dan membaca tulisan tangan teman-teman kita. Itu adalah kenangan yang indah. Beneran.

Okay…setelah Laci Ajaib, akankah ada Baling-baling Bambu? 🙂

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Her Daily News, In Her Mind. Bookmark the permalink.

One Response to Sebuah Laci Dan Potongan Masa

  1. Pingback: Kesekian Kalinya | @truetienz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s