Micheltien’s Story…

Boleh di buffer sambil baca cerita di bawah ini…Hahaha…

Pebruari 2005-Mei 2006

Awal pertama kali gue mengenal pria ini. Kurus (sekarang jadi lebih lebar), putih, cukup tinggi, dan berkacamata. Sekilas tidak nampak ada yang istimewa darinya. Universitas Tarumanagara (Ingat, bukan Tarumanegara *masyarakat salah mengira nama kampus gue*). Kenal karena satu kelas di Mata kuliah Pemeriksaan Akutansi II, atau beken dengan nama Audit II.

Dia kemana-mana selalu bersama seorang temannya, teman dari kecil yang selalu satu sekolah dan satu kampus. Sudah seperti anak kembar karena gak terpisahkan. Gue di kampus juga ada beberapa teman yang selalu bersama-sama, tapi gak selengket mereka. Hehehe…

Kami (Gue, mereka, dan beberapa teman gue) selesai kuliah sering makan bareng di foodcourt kampus. Ngobrol ngalor ngidul. Temannya ini bawel dan lucu (dengan kata lain, menurut penilaian kami dia agak pecicilan), kadang gue dan temannya juga telpon-telponan, dari bahas tugas, sampai ngomongin usaha sampingannya bisnis warnet.

Dan gue tahu, dia sedang ‘mengincar’ salah satu teman yang sering bareng gue itu, biarpun dia gak pernah bilang, tapi gue tahu. Kenapa? Hmmm pertama, teman gue ini cantik, kedua, wanita ini baik hati, dan ketiga, dari caranya melihat teman gue beda aja gitu, jadi cukup hanya menyimpulkan dalam hati. Dan baru terbukti beberapa bulan setelahnya, dia mengajak teman gue pergi nonton berdua, dan lucunya… Ditolak :p

Teman gue cerita tentang cowok ini di salah satu mata kuliah kami yang lain, dimana dosennya killer abis, kami duduk di pojok belakang kelas. Dan….didampratlah kami oleh dosen wanita yang katanya killer karena belum menemukan jodohnya -__- *dasar mahasiswa tukang gosip*, ditegur karena ngobrol saat jam kuliah dan dicatat nama dan NIM kami, itu sama sekali gak keren.
Habislah…. Gue dan teman gue ini tidak lulus mata kuliah yang berjudul “Standar dan Analisa Laporan Keuangan”. Me..ma..lu..kan. Gak lulus mata kuliah gara-gara ngomongin cowok.

Juni 2006-Nopember 2006

Ketika di mata kuliah tersebut kami berdua gak lulus, ternyata di kelas yang lain, di mata kuliah yang sama, dengan dosen yang berbeda, ada yang gak lulus juga. Yaitu…si cowok berkacamata dan temannya itu. Tapi kasusnya berbeda, mereka gak lulus karena gak ikutan ‘nyawer’. Okelah, gue gak perlu jelaskan secara gamblang, intinya di kampus itu ada Satu orang dosen yang dikenal “bisa-lulus-asal-ada-fulus”. Dan mereka berdua gak tahu, gak ikutan, dan akhirnya gak lulus. Bukan gosip loh, karena gue semester sebelumnya pernah dapat dosen itu juga ๐Ÿ˜€

Ya sudah lah ya. Saat itu, gak lulus ya gak lulus. Gak berupaya nyari dosennya dan minta bukti kenapa gak lulus. Jadi ya kita semua ngulang mata kuliah tersebut.

Gue adalah salah satu anggota organisasi akademik di kampus (namanya IMAKTA ‘Ikatan Mahasiswa Akutansi Tarumanagara’), salah satu jobdesc IMAKTA adalah membantu mahasiswa mengisi jadwal kuliahnya setiap semester (sebutannya KRRS). Dan kami sebagai panitia pengisian KRRS, mendapat privilege untuk mengisi duluan sebelum mahasiswa lain isi. Jadi, kemungkinan mendapatkan kelas yang kami inginkan lebih besar karena kelasnya belum penuh, jadwal kuliah pun menjadi cakep.

Pagi itu, gue mengisi jadwal kuliah dan mencari kelas mata kuliah SAK yang jam sore menjelang malam (karena setahu gue kelas sore itu, dosennya gak-sekejam-dosen-siang). Sebelumnya kami berempat (gue, teman gue, cowok kacamata, dan temannya) sudah janjian untuk sekelas bareng, jadi gue mengisi jadwal yang sudah kami sepakati. Mereka mengisi sesuai nomor antriannya, dan beruntung kelasnya belum penuh, jadi kami bisa sekelas. Mungkin karena kelas sore menjelang malam, jadi sedikit peminatnya.

Mata kuliah SAK ini lumayan banyak tugasnya, dan sebagai tugas akhir kami diminta untuk menyusun sebuah laporan keuangan berikut detail-detail dan ratio-rationya. Jadi tugasnya itu setebal skripsi, berisi banyak tulisan dan angka-angka, dan harus pakai laporan keuangan beberapa perusahaan (yang datanya bisa beli di ‘Pojok BEJ’ kampus gue). Ini adalah tugas kelompok. Bisa 4-5 orang. Dan pas deh, isi kelompok kami ya kami berempat.

Kami jadi semakin sering ngobrol bareng, teman gue dan temannya si cowok kacamata juga biasa-biasa saja, gak kelihatan ada kesan pernah-mencoba-pedekate.

Selesai jam kuliah, si cowok kacamata dan temannya sering main kerumah gue (ternyata mereka ke kampus selalu berdua, karena naik motor boncengan dan rumahnya berdekatan…oh twins), buat maen sama keponakan gue yang baru 5 bulan saat itu.

Sekitar bulan Oktober, mereka mengajak kami (gue dan 3 sahabat di kampus yang sering bareng) jalan dan makan, karena selama berteman kami hanya bertemu di kampus, gak pernah di luar itu. Malam minggu pula. Semuanya jomblo pula. Jadi seru juga kami bisa jalan ramai-ramai, naik satu mobil sempit-sempitan di belakang.

Siang harinya ketika kami akan pergi, gue baru dapat kabar bahwa ada undangan nikah senior IMAKTA malam hari dan undangannya dititipkan ke teman gue. Baguss…gue udah punya janji dan baru dikasih tahu ada undangan. Akhirnya gue ganti baju yang bisa buat kondangan sekaligus buat jalan.

Kami makan siang bareng di Puri Indah Mall, dan sorenya ke the Golf Pantai Indah Kapuk untuk mengucap selamat ke pengantin. Teman-teman gue gak ada yang mau turun dari mobil, karena tidak kenal dan juga pakaiannya sangat santai. Akhirnya si cowok kacamata yang turun dan temenin gue ke dalam tempat pesta, karena hari itu hanya dia yang pakaiannya lumayan rapi. Canggung. Masa berdua doank. Tapi ya sudahlah, toh sebentar saja, kan yang lain nunggu di mobil.

Di pesta itu ketemu beberapa teman IMAKTA yang lain, mereka senyum-senyum aneh lihat gue datang sama cowok-entah-siapa, dan ketemulah gue dengan salah satu sahabat gue di IMAKTA yang ternyata adalah…teman sekolahnya si cowok kacamata. Dia nampak kaget. Errr…dia pun memberikan senyuman-penuh-arti nya ke gue.

Tidak berlama-lama di pesta itu, setelah bersalaman dan ngobrol sama teman-teman sebentar, gue pamit karena ditungguin sama teman-teman di mobil. Berhubung kami semua belum makan malam, jadi setelah dari pesta itu kami pergi ke Pisa Cafe di Menteng. Jauh ya dari PIK larinya ke Menteng -_- Malam minggu itu cukup berkesan, karena jarang-jarang kami bisa pergi bareng. Dan hari-hari lainnya, kami beberapa kali makan-malam bareng. Teman-teman gue yang dari luar Jakarta kost di Tanjung Duren, jadi daerah kami berdekatan. Dan si cowok-cowok ini tinggalnya lumayan jauh di pusat sono, daerah Senen dan Kwitang.

Bulan Nopember, kami sudah harus menyusun tugas laporan keuangan yang akan dianalisa, jadi kami membuat jadwal untuk kerja kelompok di rumah gue, hari Minggu. Hari Sabtu sudah gue konfirmasi ulang, semuanya bilang bisa. Ternyata hari Minggu siangnya, teman gue dan teman si cowok kacamata, mereka berdua tiba-tiba gak bisa.

Akhirnya gue telepon si cowok kacamata, “Pada gak jadi dateng. Gak usah kerja kelompok deh hari ini, ya?”, dia bilang “Oke deh. Jadi gimana? Apa kita pergi aja ke mana gitu?”, gue balas, “Ya boleh juga. Kemana?”, “Hmmm…terserah. Kelapa Gading mau?”, “Ok.”

Dan begitulah, hari itu pertama kalinya gue pergi berdua saja sama cowok kacamata ini. Lebih banyak cerita tentang dia dan tentang gue. Kita nonton dan dinner di Mall Kelapa Gading. Masih belum ada yang istimewa. Hanya melihat dia sebagai orang yang menyenangkan. Tapi gak tahu apa yang dia nilai tentang gue saat itu. Gak tahu, Gak perlu tahu, dan Gak ingin tahu ๐Ÿ™‚

Pokoknya tanpa banyak waktu berselang sejak pergi itu, dia menyampaikan perasaannya ke gue. Okeh, hal ini gak perlu gue ceritain ya, biar kami aja yang menyimpannya… *Eaa,silahkan muntah* Kami makin sering lunch bertiga di kampus, bareng temannya itu tentunya :p

Selama beberapa waktu gue membiarkannya mendekat, gue ingin menilai, dan gue mengijinkannya main ke rumah dan ngobrol sama bokap. Karena gue ingin pacaran untuk yang terakhir kali, mau pacaran untuk menjadikannya suami, bukan untuk menjadikan mantan pacar. Gue jalani dengan santai, biarpun chemistry mulai bermunculan, tapi karena gue ingin serius, maka gue mengenalkannya dulu ke keluarga sebelum gue lanjutkan.

Dan dalam tenggang waktu itu, gue mencari-cari info tentang dia, ke sahabat gue di IMAKTA yang teman sekolahnya dulu “Ei prit, sih ini gimana sih orangnya?”, dan dia cuma senyum-senyum bilang ke gue, “Gue tahu pasti suatu saat lu bakal nanya hal ini ke gue. Hehehe… Hmmm Gue kasih tau yang selama ini gue tau aja yah selama satu sekolah..bla..bla..bla…” Ya, manusia selalu ada kejelekan dan kebaikannya kan. Dan gue berterima kasih sama sahabat gue ini, setidaknya gue tahu apa yang kurang baik tentang dirinya dan gue bisa antisipasi sebelumnya.

Sampai suatu malam gue nanya ke bokap, “Pap, menurut papi dia orangnya gimana? Kalau aku pacaran sama dia boleh ga?”, bokap bilang “Yah, papi setuju aja kalo kamu mau pacaran sama dia. Keliatanya orangnya cukup oke.” Setelah mendapat persertujuan dari bokap dan nyokap, gue baru terima dia jadi pacar. Hehe…

Si Cupid gagal mengarahkan panahnya ke teman-teman kami, malah nyasarnya ke kami. Sekian.

Dan keluarganya pun menerima gue dengan baik, jadi semuanya lancar-lancar saja :p

21 Nopember 2006-22 Januari 2012 kami pacaran…Tanpa istirahat. Tanpa jeda. Tanpa Kit-Kat. Ada senang, ada kesal, tapi itu wajar kan?!

23 Januari 2012-28 September 2012 kami bertunangan…sambil menyiapkan pernikahan…deg..deg..deg..

29 September 2012 (imlek bulan 8 tanggal 14), hari ini kami Nikah oiii! *pakai TOA*

Semoga pernikahan ini menjadikan kami lebih dewasa, dapat saling menjaga dan melindungi. Semoga jodoh kami bertemu di titik ini, hari ini, atas berkat dari Yang Maha Agung dan Maha Esa, atas karma baik yang kami miliki, agar dapat menjalani hari-hari kehidupan kami selanjutnya dengan baik, dan sabar atas segala sesuatu yang mungkin terjadi nanti. Semoga sanak keluarga dan leluhur kami berbahagia. Semoga semua makhluk berbahagia.

Sadhu…sadhu…sadhu…

MichelTien - Mana Kacamatanya?

MichelTien – Mana Kacamatanya?

“Kubahagia…
Kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada, di antara miliaran manusia
Dan kubisa, dengan radarku menemukanmu”
(Perahu Kertas. Dee)

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Her Daily News, In Her Mind. Bookmark the permalink.

9 Responses to Micheltien’s Story…

  1. yulei says:

    simple story, ga berbelit2, but so SWEET and inspiring! 6 years of relationships well done guys!,hope u two always hold each other hands..always and forever….

  2. id@ says:

    CONGRATS buat atien n miceeee

  3. Stephanie says:

    I think one of the cupids disguised as ur ‘killer’ dosen.. :p
    Congrats MichelTien.. ๐Ÿ™‚
    Semoga ada produser buku/pelem ั‡ฤŸ lewat dimari yah ๐Ÿ˜€ hahaha

    • neitneit says:

      Thanks ya Teppp… haduu iya tuh kyknya gw harus say thank you juga ke dosen killer itu :p
      Btw, mau dong kalo ada produser film, kali aja gue jadi the Next Dee Lestari huahahaha

  4. ceee! I’m so happy for youu! ๐Ÿ™‚
    walopun kita ga pernah ketemu di dunia nyata, lewat blogs n twitter aja, nevertheless your happiness is absolutely my happiness too :’)
    may you be well and happy always โค

  5. Pingback: 2013 nya, Kakak… | @truetienz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s