[Review] The Casual Vacancy: Dari Dunia Sihir, Kembali Ke Dunia Muggle

Bagi pecinta novel Harry Potter, dapat kembali menikmati dunia baru yang ditulis oleh J.K. Rowling. Namun sebelumnya, saya ingin mengingatkan bahwa novel ini ditujukan untuk pembaca dewasa, karena di dalam ceritanya memuat beberapa adegan kekerasan dalam keluarga, dan perilaku seksual di bawah umur.

Tentunya Rowling telah menanggalkan segala pernak-pernik sihir di dalam buku terbarunya ini, dan memberikan pembaca sebuah napas yang baru.
Saat membaca buku ini, tidak jarang saya merasakan emosi yang tokoh-tokohnya rasakan. Terutama kemarahan dan kekesalan. “Welcome to Muggle World, Everyone!” Mungkin itu adalah kata-kata pembuka dari Rowling.

Dan begitulah Rowling, seperti yang kita ‘kenal’ melalui buku-buku sebelumnya, selalu lihai bermain kata, mendeskripsikan keadaan, lingkungan, dan wajah tokoh-tokohnya. Sehingga otak dan pikiran saya pun ikut bekerja, emosi saya ikut bermain, jadi tidak sekedar membaca novel. Itulah kegilaan yang saya nikmati bersama buku ini. Beliau mampu mengajak pembacanya berkhayal dan berimajinasi sendiri berdasarkan yang kita baca, bahkan tak jarang saya tambah-tambahkan sendiri.

Tidak ada tokoh sentral dalam novel ini. Adapun, tokohnya sudah di-non-aktifkan oleh Rowling, dalam artian adalah Bapak Barry Fairbrother yang hampir selalu disebut-sebut sepanjang buku, diceritakan meninggal dunia hanya dalam waktu beberapa-lembar-awal novel tersebut. Namun, memang dari situlah cerita bermula dan konflik perebutan kekuasaan terjadi.

Awal-awal membaca bukunya, saya butuh konsentrasi tinggi karena sangat banyak tokoh-tokoh yang ditampilkan. Salah ingat atau lupa nama tokohnya, beda pula sifatnya, kasus yang dia hadapi dan lingkungan keluarganya. Saya sempat merasa bosan selama hampir seperempat buku, dan baru mulai menikmatinya ketika konflik mulai bergulir dan saya mulai terbawa emosi saat membaca, sehingga bagaikan candu ingin terus lanjut. Dan di buku ini menurut saya tidak ada puncak konflik, melainkan konflik berjalan datar dan pelan, namun tetap terasa ketegangan yang terjadi. Itulah hebatnya Rowling, sepertinya beliau ingin mengingatkan pembaca bahwa buku ini sangatlah manusiawi, layaknya kehidupan yang sering dihadapi oleh orang banyak.

Dan saya sangat kagum karena seluruh aspek kehidupan manusia, Rowling masukan di dalam buku ini tanpa terkesan ‘maksa’, dan dengan porsi yang cukup. Didominasi oleh aspek politik, dan diikuti dengan aspek keluarga, persahabatan remaja, sosial, kriminalitas, sampai etika profesi.

Aspek terbesar di buku ini memang tentang politik, namun kisah-kisah yang sering menggelitik para pembaca (dalam hal ini, termasuk saya) adalah para remajanya. Merekalah yang menghidupkan cerita di novel ini, mungkin karena Remaja kebayakan sifat dan jiwanya ‘semau-gue’, jadi apa yang mereka lakukan cenderung menarik perhatian. Dari hal-hal kecil yang mereka anggap biasa saja dan tidak berbahaya, justru malah membuat konflik semakin ruwet. Banyak pula kata-kata kasar di dalam buku ini, sehingga kita yang terbiasa berbahasa halus (eaaa), akan geleng-geleng kepala karenanya.

Dan nilai yang bisa dipetik dari buku ini adalah Sikap baik/buruk seseorang, dapat berdampak baik/buruk pula bagi orang lain secara sadar/tidak, jadi hati-hati melangkah.

Saya tidak ingin spoiler di postingan ini, karena saya hanya ingin berbagi sensasi yang saya rasakan ketika membacanya. Dan jika ingin sedikit sinopsisnya, akan saya berikan sesuai yang tertera di novelnya saja ya, supaya kalian yang ingin membelinya ada sedikit bayangan.

NOVEL BESAR TENTANG SEBUAH KOTA KECIL

Ketika Barry Fairbrother meninggal di usianya yang baru awal 40-an, penduduk kota Pagford sangat terkejut.

Dari luar, Pagford terlihat seperti kota kecil yang damai khas Inggris, dengan Alun-alun, jalanan berbatu, dan biara kuno.

Tetapi, di balik wajah nan indah itu, tersembunyi perang yang berkecamuk. Si kaya melawan si miskin, remaja melawan orangtua, guru melawan murid. Pagford tidak seindah yang terlihat dari luar.

Dan kursi kosong yang ditinggalkan Barry di jajaran Dewan Kota menjadi pemicu perang terdashyat yang pernah terjadi di kota kecil itu. Siapakah yang akan menang dalam pemilihan anggota dewan yang dikotori oleh nafsu, penipuan, dan pengungkapan rahasia-rahasia tak terduga ini?

Silakan membeli The Casual Vacancy di toko buku terdekat, dan selamat datang di Kota Pagford 🙂

Casual Vacancy

Casual Vacancy

Casual Vacancy - Buka Baju

Casual Vacancy – Buka Baju

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in In Her Mind. Bookmark the permalink.

3 Responses to [Review] The Casual Vacancy: Dari Dunia Sihir, Kembali Ke Dunia Muggle

  1. Aw, ada yang buka baju di sini *tutup mata.
    Review yang spot on by the way. Congrats

  2. Alfian says:

    Wah, menarik sekali 😀

    Saya juga coba nulis reviewnya The Casual Vacancy:
    http://alfiandaniear.blogspot.com/2012/12/the-casual-vacancy-wujud-baru-sihir-j-k.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s