Normal Tidak Selamanya Benar

Standard. Normal. Itu adalah kata-kata ajaib dan seakan bisa menetralkan segala hal.
Kenapa ini begini? Ya karena sudah standardnya begini.
Kenapa itu begitu? Ya karena normalnya seperti itu.
Namun sungguh, jawaban seperti itu sangat tidak memuaskan.

Apa itu standard?
Apa itu normal?
Apakah standard adalah sebatas garis atas dan bawah, karena mereka selalu menyebutnya di bawah standard, di atas standard. Apakah standard itu semacam rumah bertingkat yang dipisah oleh tangga, jadi bisa disebut atas dan bawah?
Apakah normal adalah segala yang dianggap benar / sering dilakukan oleh orang-orang, padahal hal tersebut belum tentu benar?

“Pak, kalau mau cepat ya harus bayar.”
“Memang ada peraturannya begitu pak?”
“Ya disini normalnya begitu. Kalau kamu mau cepat bayar dulu agar diproses.”

Yah, itulah normal bagi mereka. Tapi kita tahu itu salah. Namun bagi mereka, itu normal. Dan karena normal, maka kesalahan itu dapat diluluskan menjadi suatu kebenaran.
Inilah corak yang sering kita temui di kehidupan sehari-hari.

Apakah standard dan normal yang dianut oleh banyak orang, berarti itu suatu kebenaran absolut? Belum tentu. Apakah sesuatu yang diluar standard dan tidak normal berarti itu sesuatu kesalahan? Belum tentu juga.

Ah, kita menjadi normal di kelompok orang-orang yang berpikir serupa seperti kita.
Namun kita akan menjadi tidak normal di dalam kelompok yang memiliki cara pandang berbeda dengan kita.
Contohnya, saya akan menjadi tidak normal di antara geng cantik di sekolah yang berpakaian modis dan hobi dandan. Namun saya akan ‘merasa’ normal dengan berkumpul sesama pecinta buku di sekolah. Ya karena itulah saya, itulah kenyamanan saya.

Jadi, menurut saya memandang sesuatu hal normal, sesuai standard atau tidak, dilihat dulu lingkungannya. Tidak berada di lingkungan tertentu, bukan berarti kita tidak normal. Perbedaan itu tidak salah. Sah-sah saja. Jadi, kenapa harus takut menjadi berbeda?

Selamat Malam ๐Ÿ™‚
NeitNeit

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in In Her Mind. Bookmark the permalink.

5 Responses to Normal Tidak Selamanya Benar

  1. Contohnya, saya akan menjadi tidak normal di antara geng cantik di sekolah yang berpakaian modis dan hobi dandan. Namun saya akan โ€˜merasaโ€™ normal dengan berkumpul sesama pecinta buku di sekolah. Ya karena itulah saya, itulah kenyamanan saya.

    Retweet ;p

    Sebenernya lagi mikirin hal yang sama ce, cuma dalam konteks yang lebih sempit ๐Ÿ™‚

    • neitneit says:

      Hahaha… kalo konteks kamu yg kyk gmn Maya?

      • hmmm.. kalo lingkungan masih suka judgmental sama cewek yang single di umur 20an. Haha ๐Ÿ˜›

        Kayaknya takut bener kalo ada anggota keluarga yang emang pilihan hidupnya jadi single (temporarily or permanently). Dibilang gak laku dan pemilih (kayak barang aja, laku ga laku =p) dan parahnya banyak yang menikah ya buat status aja, biar ga dicap cewek gak laku.

        Standarnya cewek umur 20an harus uda married, tapi standar atau normalnya begitu, bukan berarti pukul rata sama semua orang kan? ๐Ÿ™‚

        I believe everyone has their own path, their own destiny and purpose to be fulfilled. And their own karmic chain of course ๐Ÿ˜‰

  2. neitneit says:

    Betull. emang rata-rata wanita umur 20an udah banyak yang married, tp bukan berarti semua wanita umur segituan HARUS married, ya kan? Normal dan standard di kehidupan sehari2 seringnya dipatok oleh ‘kebiasaaan’ dan ‘kebanyakan’, sehingga jika ada org yg diluar kebiasaan mereka jadi kesannya salah, padahal yang namanya Pilihan hidup, itu kan gak pernah salah. Namanya juga pilihan. Hehehe…
    Apalagi kalo married karena dikejar umur, itu sih bahaya apalagi kalau gak yakin banget sama pasangannya.

    Tp skrg udah semakin modern May, mungkin orang yang berpikiran begitu akan semakin berkurang ๐Ÿ™‚

  3. Hanna says:

    Biar lebih cepet bayar lebih mahal???? Ini ngomongin pegawai negeri, ya? Hah, gajinya buat apa? ๐Ÿ˜ฆ
    Post yang bagus ๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s