[Cerkat – Cerita Singkat] Mungkin Nanti

Ruangan itu serba putih. Gordyn bernuansa krem, seprai putih, ranjang putih, meja panjang putih di sisi bawah jendela, kulkas mini di sudut meja panjang yang juga berwarna putih. Di sudut lainnya terdapat mesin penanda jantung. Belum aktif, namun akan segera diaktifkan dan disambungkan ke tubuh pasien. Terasa sangat dingin, bukan hanya karena pendingin ruangan, bukan hanya itu sudah lewat tengah malam. Namun karena aura yang tercipta di ruangan itu sendiri sudah dingin. Warna merah menjadi sangat kontras di ruangan itu. Merah…karena Darah.

Suster memakai baju biru, topi putih. Berwajah ceria menyapa pasien yang baru saja datang. Bertanya mengenai beberapa hal yang akan diinformasikan lagi ke dokter. Oh ya, belum ada dokter di sana. Mereka sudah menghubunginya namun belum tiba. Untung saja rumahnya tidak jauh dari rumah sakit itu.

Tidak banyak yang bisa dia lakukan sepanjang perjalanan dari rumahnya sampai ke rumah sakit, ke UGD, sampai di kamar tindakan. Dia ingat, ketika turun dari mobil langsung didudukan di kursi roda. Karena dia sungguh tidak sanggup berjalan. Dan dia takut kalau dia berjalan maka akan terjadi hal yang lebih berbahaya. Mukanya sangat pucat, badannya lemas, sekujur tubuhnya sakit. Sakit di dalam.

“Ya, pasiennya yang tadi telepon baru saja sampai. Sekarang menuju ke kamar tindakan. Ya, ya, baru saja dari UGD.”, seorang suster di UGD menerima telepon dari ruangan lain. Ah, ya tentu saja orangtuanya sudah menelepon sejak dari rumah bahwa mereka sedang dalam perjalanan ke rumah sakit dan harap segera ditangani.

“Selamat pagi, Ibu. Apa yang ibu rasakan sekarang ini? Makan malam terakhir jam berapa?”, suster yang lebih muda menghampirinya dan menanyakan dengan ramah beberapa pertanyaan yang perlu. “Dokternya sudah dihubungi, sebentar lagi sampai. Ditunggu ya, Ibu.”

Dia hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Setidaknya dia sudah ada di rumah sakit. Tidak perlu takut lagi. Tidak ada yang perlu ditakuti lagi, kecuali perasaan takut itu sendiri.

“Ibu, maaf ya saya mau memasang jarum di tangan Ibu, supaya nanti dokter anestesi bisa langsung memasukan obat biusnya. Tidak sakit kok, jarumnya kecil.” Dia kembali mengangguk, dan berbagai pikiran menyeruak dan beradu di otaknya. Dia menjadi pusing. Suster bilang, “Ibu tidur saja dulu sembari menunggu dokter datang ya. Saya tinggal dulu ya, ibu. Kalau ada apa-apa tekan ini saja.” ucap suster itu sambil mengangkat sebuah kabel yang diujungnya ada tombol. Tombol untuk memanggil perawat jika memerlukan bantuan. “Baik sus, makasih ya.”, ujar pasien itu tersenyum dan mencoba menenangkan pikirannya.

Selang satu jam kemudian dokter datang. Sempat tanya jawab sedikit antara dokter dan pasiennya, dan dokter memberikan beberapa pesan yang harus dilakukan seusai operasi. Tak berapa lama dokter anestesi pun datang, dan bergurau sebentar lalu meminta ijin menyuntikan obat bius ke tubuh si pasien.

Dia mendengar dokter memberikan sedikit arahan ke pasien, dan pasien masih bisa menjawab “Baik, dok.” Samar-samar suara dokter itu menjadi jauh…jauh…suara suster terdengar sangat pelan. Sampai akhirnya tidak ada lagi suara yang didengar, tidak ada lagi pikiran yang kusut, karena dia sudah tertidur pulas. Pulas sekali.

Setengah jam kemudian dia sadar, pengaruh obat biusnya sudah hilang. Namun dia merasakan dirinya begitu lemas, pusink, dan mual. “Operasinya sudah selesai ya, Ibu. Ini bukan operasi besar, jadi tindakannya sebentar dan gak lama biusnya. Mual ya? Begitulah efek obat bius. Beberapa jam lagi akan hilang rasa mualnya”, kata suster itu dengan ramah. Ada 2 orang suster yang bertugas malam itu. Semuanya ramah dan ceria. Mungkin sikap itulah yang harus mereka tunjukan kepada pasien, agar pasien-pasien tidak merasa takut berada di ruang tindakan, dan agar pasien merasa nyaman.

Dokter yang tadi menanganinya ternyata langsung pulang setelah operasi selesai. Mungkin ingin melanjutkan istirahatnya yang tertunda karena panggilan dadakan dari rumah sakit tadi.

Setelah keluarganya mengurus administrasi, pasien tersebut diijinkan pulang. Sudah 6 jam dia berada di rumah sakit. Rasanya waktu begitu cepat. Beberapa jam yang lalu dia kesakitan luar biasa, dan sekarang dia sudah merasa jauh lebih baik. Ada yang tertinggal, namun dia tahu memang harus ditinggal di rumah sakit itu. Dia meninggalkan perasaannya di sana, terus menatap ke depan dan tahu keadaan yang lebih baik akan datang.

Sesampainya di rumah, dia mengirimkan pesan singkat ke dokter untuk mengucapkan terima kasih dan janji ketemu lagi minggu depan untuk pemeriksaan.

Bunga itu layu
Bahkan sebelum dia sempat berkembang
Inilah kesedihannya
Setelah sesaat dibiarkan melayang

Menari dalam kepasrahan
Tertawa dalam bayangan lalu
Ketika yang terbaik adalah merelakan
Ia tahu tak akan semudah itu

Ia mencintai yang tak terlihat
Dan menawarkan yang Ia rasakan
Namun terus tak akan terlihat
Jadi Ia hanya mendoakan

Selalu ada harga yang dibayar
Untuk yang dicinta, bukan mengiba
Maka Ia tetap yakin dan bersabar
Hingga saatnya tiba.

051212

Note:
– Ini Cerita Singkat (kalau ga bisa dimasukan kategori Cerpen) gue yang ke… ah lupa, yang pasti ini cerpen pertama yang ada di blog ini. Cerpen yang dulu-dulu gue simpan dalam buku tulis, yang sudah entah kemana -.-
– Open story banget menurut gue (eh, emangnya ada open story?!). Jadi terserah pembaca ingin menempatkan pasien itu sedang sakit apa, selanjutnya bagaimana. Hehehe

Thanks for reading!

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s