Teman Adalah Taman Kita

Pernah gak lo punya teman akrab waktu kecil (konteks: di sekolah), teman dekat, di sekolah bareng, ke WC bareng, pulang sekolah bareng, pelajaran tambahan bareng, udah pulang ke rumah masing-masing pun akan dilanjutkan lewat sesi telpon-telponan sampe beberapa jam, apalagi saat itu kita masih suka pakai telepon abodemen rumah, jadi orangtua akan cuap cuap ngomel kalo kita telepon lama-lama buat ngobrol gak penting.

Dan gue ada. Gue pernah punya teman seperti itu ketika sekolah dulu. Alasan gue rajin masuk sekolah, selain adanya pelajaran gebetan, juga karena ada teman gue ini. Mungkin ini bisa dinamakan soulmate di sekolah, mungkin kalau dia cowo akan gue jadikan pacar. Errrr…. perumpamaan gue agak menyeramkan. Ganti deh. Mungkin di kehidupan lampau kami ini adik-kakak. Nah ini lebih bagus kan perumpamaannya. Hehehe…

Sekarang masing-masing dari teman-teman gue ini sudah punya kehidupan sendiri. Hampir semuanya sudah berkeluarga, ada yang tetap di Jakarta, ada pula yang menetap di luar negeri. Hanya dalam beberapa bulan sekali kami baru bertemu kembali. Bahkan, kadang kami hanya bertemu di pesta nikahan teman. :p Jadi sehari-hari kami hanya nanya kabar dan berkomunikasi lewat handphone.

Teman-teman ini adalah mereka yang gue kenal dari SMP-SMU. Dan dengan segala kekurangan yang gue miliki, gue bersyukur bisa memiliki mereka sebagai sahabat. Ada yang bilang bahwa sanak saudara, adalah keluarga yang tidak bisa kita pilih. Namun sahabat, adalah keluarga yang kita pilih sendiri. Gue gak pernah pilih-pilih teman (kecuali orang yang bener-bener gak-sopan, gak mau gue pilih jadi teman hehehe), melainkan perasaan yang memilih teman. Kalau udah merasa ‘klop’ dan cocok, dan mereka pun merasa demikian maka persabatan bisa terjalin. Yah mirip lah sama orang pacaran. Kalau klop dan cocok kan hubungannya langgeng, tapi kalau putus selalu alasannya “kami sudah tidak cocok lagi.” :p

Biarpun ada teman gue yang waktu SD-SMP deket banget kayak lem super, dan ketika SMU kami menjadi gak deket lagi, bukan berarti gue melupakan mereka. Mereka tetap menjadi bagian di hati gue, karena bagaimanapun kehidupan gue di sekolah pernah diisi bersama dengan teman-teman ini.  Dari belajar bareng, sampe nyontek bareng. Dari ketawa bareng, sampe nangis bareng. Dari mantan gebetan sampe mantan pacar, gue juga harus berterimakasih karena dari mereka gue tahu yang namanya patah hati. Gue tahu bagaimana caranya melupakan (dengan mencari yang baru, tentu saja! :p) Dan gue tahu bagaimana caranya agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Kesalahan dalam menjalin hubungan, kesalahan yang membuat-gebetan-kabur-sebelum-gue-dekati. Haha..

Pokoknya, postingan gue kali ini adalah ungkapan terimakasih dan syukur gue karena sudah dipertemukan dengan para sahabat, lalu teman-tapi-bukan-teman, guru-guru, mantan pacar, dan semuanya di masa sekolah gue dulu. Karena masa sekolah adalah masa Tempa (ulangan, ulangan mendadak, tugas-tugas, sampe urusan hati). Menempa sebuah pribadi agar lebih siap menjalani hari-hari ketika dewasa kelak. Dan Teman adalah Taman Kita, tempat kita bisa bermain, bisa menangis, tertawa, belajar, ya semuanya di Taman itu 🙂

Hihihi… ^^

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in In Her Mind. Bookmark the permalink.

One Response to Teman Adalah Taman Kita

  1. Hanna says:

    Kasih link post ini ke mereka ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s