Duduk Diam

Duduk diam
di luar hujan

Sendiri duduk diam
di luar awan hitam

Kembali berdiam
merasa bodoh sendiri

Sambil terdiam kubergumam
Akulah si keledai

Memahami…
keledai sekalipun tak begini
tahu lubang mana yang harus dihindari
agar tidak terjatuh lagi

Menangis dalam diam
di luar hujan

Menangis duduk diam
di luar angin menusuk tulang

Kembali menangis dalam diam
Aku tak seharusnya begini

Sambil menangis kubergumam
Ini yang terakhir.
Yang sudah terjadi ya terjadilah.
Ini sungguh yang terakhir.

Kumohon.
Entah kepada siapa kumemohon
Oh, kepada diri sendiri yang sudah begitu bodoh
Aku memohon jangan ulangi kesalahan yang sama

Demi apa kau bersujud
setiap hari
setiap waktu
dan mungkin, setiap orang lain melihat…

Jika sikap tak ubah seekor ular siap mematok
jika isi hati tak ubah kumpulan debu tak tersapu
jika logika dikarat oleh asamnya pikiran
jika cerminanmu tidak seperti sujud yang kau berikan setiap hari.

Kumemohon sekali lagi.
Ini yang terakhir.

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in In Her Mind. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s