[Mendadak Banjir] Kisah Gerobak Sayur Tanpa Sayuran

Selamat datang di Laut Jakarta Raya. Silakan pasang pelampung anda dan kacamata renang, jangan lupa tabung oksigen untuk bernapas. Oh ya, kacamata renang tidak terlalu perlu di laut ini karena anda tidak akan melihat apa-apa di dalam airnya kecuali warna cokelat, dan cokelat, yaiksss…

Sekilas, itulah intro yang menggambarkan kondisi Jakarta Raya beberapa hari ini, setidaknya sejak hari Kamis 17 Januari 2013 yang lalu. Banjir hebat melanda sebagian besar wilayah Jakarta dimulai sejak subuh ketika orang-orang masih terlelap dalam dekapan kasurnya.

Jam 6 pagi gue terbangun karena suara alarm handphone, sambil menikmati suara guyur hujan yang…bikin badan makin lengket sama kasur. Kayaknya pengen banget gitu meringkuk di dalam selimut lagi, dan lagi. Jam 6.15 gue bangkit dari ranjang dan melihat suami masih tertidur pulas, bersiap menyiapkan sarapan dan bekal makan siang suami. Gue ‘penasaran’ hujan semalam suntuk, apakah sudah menimbulkan efek di lingkungan rumah kami, sebelumnya gue sudah lihat timeline twitter dan TMC Polda Metrojaya sudah melaporkan sudah banyak daerah yang terendam banjir minimal 30 cm, bahkan ada yang lebih dari 1 meter dan tidak dapat dilalui kendaraan apapun. Gue pun melangkahkan kaki ke balkon rumah, dan terkejutlah ketika ternyata banjir udah hampir setinggi ban mobil Yaris gue.

Keluarga gue belum ada yang bangun saat itu, jadi gue kembali ke kamar dan membangunkan suami untuk pindahin mobil Yaris ke pintu samping. Rumah gue posisinya hook, jadi ada pintu depan dan pintu samping. Tanah di pintu samping jauh lebih tinggi daripada pintu depan, jadi gue meyakini bahwa dipindahkan ke samping tidak akan kebanjiran. Begitu juga dengan mobil truk Dyna baru yang belum sempat dioperasikan kantor diparkir di depan rumah, suami memindahkannya ke pintu samping. Namanya truk, pastilah aman dari banjir, pikir kami saat itu.

Kebetulan gue dan suami sedang nginep di rumah orangtua gue, dan rencananya malam harinya ini kami mau nginep di rumah mertua, siapa sangka bahwa ketika bangun pagi kami terjebak gak bisa kemana-mana. Suami pun ijin gak masuk kantor.

Jam 7 pagi orangtua gue bangun dan terkejut melihat air sudah tinggi di depan rumah. Tapi masih jauh untuk bisa mencapai rumah ini, karena 10 tahun yang lalu sudah ditinggikan sekitar 50cm agar lebih tinggi dari jalanan sebagai antisipasi terhadap banjir. Rumah gue ini pernah kebanjiran ketika tahun 1996 dan 2002, sehingga tahun 2003 kami renovasi rumah. Tahun 2007 banjir kembali melanda Jakarta, dan rumah gue sudah tidak kebanjiran karena sudah ditinggikan.

Dan ternyata, banjir di akhir tahun Naga ini merupakan banjir terparah seumur hidup gue, karena rumah yang sudah ditinggikan pun tidak lagi dapat menahan air agar tidak masuk ke dalam rumah. Air pertama kali naik dari kamar mandi bawah tangga, merembes masuk dari saluran pembuangan dan kloset. Hanya dalam beberapa jam, air meningkat sangat cepat. Jam 1 siang air sudah mulai masuk dari kamar mandi bawah tangga, dan dapur kotor (posisi dapur kotor lebih rendah daripada ruang tamu). Jam 3 siang, air masuk dari kamar mandi orangtua gue. Jam 4-5 sore air dari luar sudah sampai teras rumah. Jam 7 malam, air sudah sampai tangga teras terakhir dan sejajar dengan pintu masuk utama. Jam 8 malam, air dari luar mulai masuk ruang tamu. Jam 9 malam, air dari luar dan air dari kamar mandi bawah tangga berkolaborasi menyampurkan airnya memenuhi pelosok ruang tamu dan dapur rumah gue. Luar biasa.

Mobil gue dan truk yang diparkir di pintu samping udah tamat riwayatnya. Suami dan sepupu gue cepat-cepat menyelamatkan barang-barang yang ada di dalam mobil. Air sudah sampai setengah pintu mobil tingginya. Kumpulan compact disc, buku-buku, sepatu-sepatu, cepat dikeluarkan meskipun sudah sempat terendam air. Bahkan suami harus merelakan sepatunya hilang sebelah. Hehehe… Lampu mobil pun masuk air.

Bokap, suami, dan sepupu gue yang ada di rumah saat itu, mengantisipasi mobil-mobil yang ada di parkiran dalam rumah agar banjir tidak masuk ke mobil. Dengan bantuan abang tukang bangunan seberang rumah, mereka ramai-ramai mengganjal ban mobil dengan batu bata supaya posisi mobil menjadi lebih tinggi. Hal tersebut cukup membantu, air tetap masuk ke dalam mobil namun hanya sampai karpet dasar gak sampai kena jok dan lain sebagainya.

Nyokap gue berkomentar, “Kalo banjir yang dipikirin harta benda, itulah manusia.” Hahaha bener banget mam. Tapi gue uda pasrahhh bener deh sama mobil kalo emang harus terendam ya mau gimana lagi? Yang penting kami udah berusaha menyelamatkan mobil-mobil, dan aki juga sudah dicopot dari mobilnya jadi mendingan lah. Tadinya gue udah super duper pasrah lantaran gue membaca polis asuransi mobil Yaris yang baru gue perpanjang tidak mengcover bencana alam banjir. Yahhh, mau bayar berapa ini ke bengkelnya. Tapi ternyata ketika bokap baca ulang, ternyata gue salah baca pasal. Asuransinya mencover kecelakaan, kehilangan, juga kebanjiran. Ahhh leganya…

Yarisku Malang Nasibmu

Yarisku Malang Nasibmu…ini masih pagi, besoknya gue uda ga berani foto *sakit hati*

Sejak siang hari gue dan bokap udah naik-naikin barang yang ada di laci-laci dan lemari bawah, sebagai upaya preventive loh, bukan sebagai ‘harapan’ supaya banjir lebih tinggi. Tapi emang untung banget kami sudah menyelamatkan semua surat-surat dan segala macam barang karena air memang benar-benar semakin tinggi.

Listrik sudah dipadamkan oleh PLN sejak pukul 11 siang. Air bersih pun hanya tersisa yang ada di bak penampungan. Okelah mulai detik itu, harus berhemat memakai air. Asisten rumah tangga membantu kami masak di dapur dengan kaki harus merobok banjir selutut +__+ gak banget kan. Tapi apa daya? Kami bisa kelaparan karena tidak ada delivery service makanan. Haha…

Kami tidur dalam kegelapan, hanya dengan sedikit cahaya dari senter yang kadang-kadang dinyalakan. Bersyukur rumah kami 2 lantai kami semua istirahat di lantai atas. Dalam suasana hening begitu, suara sedikitpun jadi terdengar. Gue bisa mendengar suara desiran air yang bergerak mengikuti angin, ataupun suara hujan yang kembali turun deras dan menyentuh air banjir. Suara orang-orang di luar sana tertawa dan berteriak. Tapi dari semua suara yang ada, gue paling tidak suka suara sirine pemadam kebakaran yang nguing-nguing sepanjang jalan nun jauh di sana. Gue jadi semakin tidak bisa tidur, jam 3 pagi pun gue masih terjaga. Dan setelah itu rasanya gue baru bisa tidur pulas. Dan yah, hemat-hematlah memakai handphone karena gak bisa charge baterai. Kalau gak perlu, dimatikan saja handphone nya. Telepon rumah juga sudah putus dari tadi siang, mungkin kabel-kabel telkom juga korslet dan rusak terkena dampak banjir. Oh, bahkan banyak sambungan provider handphone yang juga tidak berjalan dengan baik. Jadi berkomunikasi dengan keluarga di tempat lain jadi terganggu.

Huh Jakarta benar-benar lumpuh!

Besok paginya gue bangun jam 6.30. Bokap sudah bangun duluan dan kembali menaikkan barang-barang yang mulai hampir ikut terendam. Kecipak kecipuk pik puk pik puk… Duh airnya semakin tinggi, pagi itu airnya sudah sampai sepergelangan kaki ada sekitar 10-15cm di dalam ruang tamu. Bukannya makin surut malah semakin naik. Kami sarapan di lantai 2, bersyukur karena toko roti Shianies dengan harga yang masih wajar tetap menjual roti di pagi hari dengan menggunakan gerobak.

Oh iya, mau marah ga sih, kalo lagi banjir-banjir begini, kita melihat tetangga seberang rumah dengan santainya melempar satu KANTONG PLASTIK ISI SAMPAH ke luar rumah. Gak punya otak sungguh, udah banjir begini masih ditambah-tambah dengan buang sampah begitu caranya. Rasanya pengen gue jambak-jambak trus gue jeduk-jedukin kepalanya dan gue lelepin kepalanya ke dalam air banjir itu. Uhhh EMOSI!! Gak mikir. Jahat. Gak heran Jakarta begini keadaannya kalo banyak warga punya otak kayak dia. *tarik napas, Tien… huhh hahh huhh hahh*

Oke. Lanjut.

Jam 11 siang koko gue datang ke rumah dengan merobok banjir (setelah di tengah jalan perahu karet yang ditumpanginya bocor). Dengan badannya yang tinggi saja air sudah sampai seperutnya, bisa dibayangkan banjirnya cukup parah. Dia datang dengan mobil Hardtop (ban besar dan mobilnya tinggi, benar-benar sangat membantu) yang dikemudikan mertuanya, lalu berhenti di belakang Kwetiau Seroja Greenville yang saat itu sudah banjir namun masih dapat dilalui mobil tersebut. Koko gue datang ke rumah membawa segalon air dan beberapa bungkus mie instan, untuk stok karena asisten rumah tangga gue tidak ikut mengungsi.

Koko menjemput kami di rumah dan kami sudah menyiapkan barang-barang yang akan dibawa untuk ngungsi, tidak lupa juga membawa BAJU PESTA, karena besoknya (hari Sabtu), sepupu gue akan menikah di salah satu hotel di daerah Kuningan. Iya, acara kawinannya tetap akan dilangsungkan loh meskipun dimana-mana Jakarta banjir.

Kloter Pertama

Kloter Pertama

Oke, jadi kurang lebih sejam lamanya kami menunggu gerobak-gerobak atau perahu karet yang lewat untuk membawa kami keluar dari rumah sampai ke belakang kwetiau Seroja. Akhirnya ada sebuah gerobak sayur yang lewat yang didorong oleh 5 orang dan kami menawar harga. Jadi lah dengan kesepakatan Rp 70rb sekali jalan, dan karena kami ada 6 orang jadi si gerobak sayur ini harus bolak-balik sekali lagi, jadi totalnya 140rb.

Kloter Kedua

Kloter Kedua (yang kursi merah)

Sedari pagi banyak gerobak-gerobak dan perahu karet yang mondar-mandir membawa warga yang mau dievakuasi. Mobil-mobil kelelep, terendam, dan rumah-rumah yang kebanjiran dari yang sebetis, sampai setinggi kira-kira 2 meter di ruko deretan bank Mandiri-Seroja Baru (karena jarak papan nama dengan batas air hanya setinggi 30-40cm saja sisanya). Abang-abang yang dorong gerobak sampai bilang “Ini kami udah melayang nih di air, udah ga napak lagi kakinya. Dalem banget.” Dan ternyata kami salah jalan! Harusnya gak perlu lewat ruko itu. Gue udah serem kecebur dan barang bawaan jadi basah, namun untung kami sampai di belakang kwetiau Seroja dengan aman. Sedikit jalan kaki merobok banjir juga karena kami salah turun.

Pemandangan paling memilukan adalah ketika gue melihat sepasang Oma-Opa yang hanya berdua saja naik di atas gerobak dorong. Oma duduk di kursi plastik yang diikat diatas gerobak, dan Opa hanya dapat berbaring di papan gerobak tersebut karena nampaknya Opa ga bisa bangun 😦 Ini sedih banget lihatnya. Kami papasan di jalan, gue melihat mata Oma dan Opa berusaha mau menyapa “Semoga baik-baik semua ya, Opa dan Oma.” Tapi gak ada suara yang keluar dari bibir gue. Gue hanya bisa menyapa mereka dengan mata dan mengangguk sedikit, entah mereka melihatnya atau tidak 😦

Sesampainya kami sekeluarga di mobil Hardtop, sudah ada mertua koko dan sao2 gue. Kami mengungsi ke Apartemen Taman Anggrek, tempat tinggal koko. Perjalanan ke Taman Anggrek tidak melalui Tanjung Duren karena jalanan juga banjir tinggi, jadi kami lewat Kepa Duri-Tomang Mas situ, buset jalanannya keringggg ring ringgg… Jadi berasa ‘aneh’, tadi melihat air dimana-mana. Sekarang air sama sekali tak terlihat. Padahal daerah nya sangat berdekatan. Memang struktur jalan dan bangunan di kota ini tidak merata, bahkan di satu daerah yang sama. Contohnya ya daerah rumah gue itu.

Sekitar jam 2 siang kami baru sampai di Taman Anggrek. Wong ndeso, ketemu listrik, ketemu air bersih, dan bisa beli makan di mall. Besok paginya kami bersiap-siap untuk menghadiri pemberkatan nikah sepupu gue di sebuah vihara di kawasan Kuningan, dan setelah itu langsung bertolak ke Hotel Royal Kuningan. Okelah kalo begitu, malam ini kami ngungsinya di hotel. Sangat beryukur bahwa tamu-tamu banyak yang hadir terutama saudara-saudara, dan tamu undangan juga banyak yang tinggal daerah kuningan dan tidak kebanjiran. Gak lagi deh banjir begini dan mengadakan hajatan, deg-deg’annya tingkat tinggi.

Sampai tulisan ini diturunkan, gue masih ngungsi di apartemen koko. Kondisi rumah sudah membaik, hanya saja listrik dan telepon masih belum nyala. Sampai nyokap harus membawa semua persediaan daging dan sayuran dari kulkas untuk dipindahkan ke kulkas koko.

Ini adalah cerita banjir versi gue,
yang merasa banjir kali ini adalah yang terparah,
yang merasa Jokowi hanya dilimpahkan tugas-tugas-sisa-pendahulunya dan tata kota yang buruk,
yang ikutan beli pompa Greenville tapi tetap kebanjiran.

Gue belajar
Bahwa harta benda bisa dicari lagi, tapi kehangatan dan kesatuan keluarga harus kita ciptakan.
Gue belajar
Bahwa orang-orang yang biasanya kita suruh-suruh ini dan itu, di dalam situasi seperti banjir itulah mereka menjadi pahlawan bagi kita.
Gue belajar
Bahwa kendaraan-kendaraan yang biasanya menyebabkan kota ini macet, harus diam karena kalah oleh air dan angkat topi untuk gerobak sampah dan sayur.
Gue belajar
Bahwa apapun kondisinya, kita harus Bersyukur karena tanpa sukarelawan, tanpa tukang roti keliling, mungkin ada banyak keluarga yang harus kelaparan.

Dan semoga…SEMOGA banjir kayak gini gak terjadi lagi.

Be blessed, dear Jakarta.

Semoga orang-orang yang hobinya buang sampah sembarangan segera sadar dan berbalik jadi hobi memunguti sampah, semoga pengembang bangunan tidak hanya sekedar memikirkan keuntungan tapi juga memikirikan dampaknya bagi tata kota dan lingkungan di Jakarta. Semoga juga masyarakat ga mudah terprovokasi atas isu-isu yang menyesatkan dan berpotensi menimbulkan masalah dalam kehidupan sosial.
Dan, semoga gua ga perlu naik-naik gerobak sayur lagi hanya untuk pergi ke kwetiau Seroja! Grrrrr…

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Her Daily News, In Her Mind. Bookmark the permalink.

One Response to [Mendadak Banjir] Kisah Gerobak Sayur Tanpa Sayuran

  1. Pingback: Ini Jakarta. Bukan Venice. | @truetienz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s