Love Was Made For…

mom n dad

mom n dad

Love was made for mom and dad… adalah ketika nyokap harus berjuang melawan sakit gagal ginjalnya dan berkali-kali cuci darah, sehingga berhasil melakukan operasi cangkok ginjal. Semua itu mereka lalui bersama-sama dengan kesabaran dan ketulusan bokap gue yang selalu mendampingi nyokap. Di samping sakit yang pernah dihadapi, nyokap (dan bokap tentunya) ga pernah putus asa untuk terus menjalankan bisnis dan usahanya, serta sering memberikan sharing tentang pengobatan, pengalamannya, serta memberi semangat kepada orang lain yang juga mengalami sakit yang sama.  Hal ini benar-benar memberikan pelajaran yang sangat bermakna tentang semangat dan cinta kasih bagi kami anak-anaknya.

me n mom

me n mom

Love was made for me and mom… adalah ketika gue lahir tanggal 7 Juni 1985, gue tahu nyokap melahirkan gue dengan sekuat tenaganya, lalu ketika gue malas belajar dan diomelin habis-habisan, gue tahu nyokap melakukan itu buat kebaikan gue sendiri. Ketika nyokap mengajari gue bikin kwotie dan berhasil mendapat pujian dari bokap. Ketika gue memandangi nyokap tertidur pulas, gue melihat wajahnya ternyata sudah banyak keriput dan rambutnya muncul putih-putih alias uban.

me n dad

me n dad

Love was made for me and dad… adalah ketika untuk pertama kalinya bokap menemani gue pindapatta di kota. ketika bokap selalu cemberut ketika gue dekat dengan cowok yang dirasa gak cocok dengan nuraninya, iya nurani seorang Ayah. Dan Ketika bokap bilang “waktu masih muda papi sering emosi, kamu masih kecil. Tapi setiap kali peluk kamu, emosi papi langsung bisa reda.” :’)

Cece n Aurel

Cece n Aurel

Love was made for me and my sista… adalah ketika cici sering memainkan piano dan gue berdiri di sampingnya hanya untuk mengaguminya bermain. Ketika cici melanjutkan studi musiknya ke Singapore lalu ke Kansas, gue merasa sendirian di kamar yang biasanya berbagi, gue tahu bahwa gue merindukannya. Bahkan hingga kini, ketika dia menetap di Jambi bersama suami dan anak-anaknya. Rasa kangen ini ga pernah hilang.

Cece, koko, and me + Tristan anak bawang

Cece, koko, and me + Tristan anak bawang

Love was made for me and my brother… adalah ketika koko gue mengajari gue nyetir mobil, bela-belain pulang kerja dia sempatin waktu buat bantuin gue belajar mobil di komplek maupun di jalan raya. Ketika koko seringkali bisa diandalkan dalam hal…mengantar dan menjemput di manapun gue berada, jam berapapun…dia sama seperti bokap gue 🙂 Ketika koko telah menjadi ‘mentor bayangan’ tentang dunia komputerisasi, maupun dunia bisnis…dan ya, ketajaman berpikirnya mirip seperti nyokap gue.

me and beb

me and beb

Love was made for me and him… adalah ketika kami tertawa dan menangis bersama. Ketika gue tertidur dan dia mendaratkan kecupan kilas di kening  gue. Dia pikir gue tidur, tapi tidak :p Ketika tanpa bunga dan tanpa cokelat di hari valentine kemarin, makan malam dengannya tetap terasa manis. Eaaa…

Jadi, Selamat hari kasih sayang ^^

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Her Daily News, In Her Mind. Bookmark the permalink.

One Response to Love Was Made For…

  1. helen says:

    Dede … Sweet abiezz.. Gw ampe nangis bc nya … Luv u sistaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s