Perjalanan Sebuah Jurusan

Sebenernya gue ini lulusan Accounting yang punya jiwa gak accounting-accounting amat. Gue adalah orang yang terlalu cincai. Cincai tau dong ya? Itu loh, temennya capcay *abaikan*. Hehe…
Hitungan-hitungan gue tergolong lamban. IPK semasa gue kuliah rata-rata standar aja, gak sampe cum laude.

Jadi…kalo gitu kenapa dong gue ambil kuliah jurusan accounting? Bukan jurnalistik atau seni yang lain (iya, jurnalistik termasuk jurusan seni kan? Seni menulis. hehehe). Jawabannya adalah…ketika gue SMU, gue pernah ulangan akuntasi dan jawaban gue benar semua sehingga hasilnya 100. Sesederhana itu. Jadi ketika ulangan itu, Neraca gue balance (yang saat itu merupakan anugerah banget bagi gue dan teman-teman sebaya kalo neraca bisa balance), laporan rugi laba bisa bener, dan bisa dapet nilai yang membanggakan.

Dan sejak hari itu, gue tau gue akan memilih kuliah jurusan apa, antara accounting, atau jurnalistik (tetep!). Dan pilihan kedua ditolak mentah-mentah sama orangtua gue. “Nanti kamu kerjanya gimana? Jadi wartawan gitu ya panas-panasan nungguin narasumber? Nanti kamu kenapa-kenapa lagi. Jarang di rumah jadinya.” Dan sebagainya dan seterusnya. Padahal, tekad gue untuk ambil kuliah jurnalistik sangat besar gara-gara keren aja gitu liat para anchor di TV bacain berita. Wohooo… Tapi tetep aja bokap nyokap gue tidak ada lirikan sedikitpun ke jurusan itu. Coret.

Mereka mendorong gue ambil jurusan Design Interior, alasannya supaya bisa melanjutkan usaha mereka di bidang furniture. Tapi kali ini gue yang menolak “Mam, kan aku ga bisa gambar. Gambar aku paling jelek di antara kita bertiga (cici, koko, gue). Mestinya yaya (koko) aja yang disuruh kuliah design. Kuliahnya sih mungkin bakalan pake program komputer, tapi kan dasarnya harus bisa gambar pake tangan :(.” Ya sudah jurusan itu pun kami coret.

Pilihan terkahir datang ketika, sekolah gue termasuk salah satu sekolah yang bekerjasama dengan Untar (Universitas Tarumanagara) untuk penerimaan mahasiswa baru dengan Jalur Penelusuran Prestasi (JPP), jadi cuma perlu fotokopi dan legalisir rapot kelas 1-3, dan murid-murid yang masuk dalam 10 besar di sekolahnya bisa langsung diterima menjadi mahasiswa baru tanpa Tes masuk di grade A, jadi bayar uang pangkalnya kan beda-beda tuh tergantung grade mana hasil tes masuk kita. Saat itu Grade A accounting di Untar adalah 9 juta rupiah. Jurusannya sih boleh apa aja, tapi karena gue sudah menetapkan 2 pilihan (yang mana pilihan pertama sudah batal), jadinya gue masukin pilihan kedua yaitu Accounting. Dalam waktu seminggu, hasilnya diterima, gue dan beberapa teman diterima masuk Untar di jurusan yang berbeda-beda. Baiklah kalau begitu. Saya menjadi mahasiswa Untar, dan keputusan itu sudah bulat.

Ehhh lupa dink, pilihan ke-3 masih ada, yaitu Bina Nusantara alias BINUS. Nah kalo di Binus ini jurusannya SI (Sistem Informatika) kalau ga salah inget. Ini juga udah diterima, tapi masuknya Grade B, uang pangkalnya sampe 15juta gitu deh kira-kira. Kalau ini, gue secara inisiatif emang ga mau lanjutin. Soalnya kalau dibandingin sama Untar, gue tetep bakal pilih Accounting di Untar, Jadi, corett.

Hmmm sebenernya pilihan gue ada 4 sih. Huahahaha… *maruk amat sih* Yang terakhir itu adalah jurusan Pariwisata dan Perhotelan. Ini gue tertarik karena gue pikir keren aja gitu kerja di hotel, gedung bagus, apalagi kalau bisa jadi bagian dari manajemen hotelnya. Gue uda sempet tes masuk juga di UPH, udah diterima juga grade A, tapi mahal, saat itu biaya kuliah dan seragamnya sampai 50juta rupiah saja (gimana yang Grade lainya?!). Buhsetdah… Dan sekali lagi orangtua gue kurang merestui jurusan yang gue minati ini, alasannya “Nanti bingung kerjanya apa. Udahh, kamu udah diterima di Untar, ya Untar aja, Bandingin aja uang pangkal 9 juta sama 50 juta. Bedanya jauh banget kan? Dan nanti lulusan accounting lebih banyak dicari, dan kamu juga bisa bantuin di perusahaan mamipapi. Kalau di Perhotelan, kan ga nyambung sama usaha mamipapi.”

Setelah gue pikir, pikir, timang, timang, gue tetep nekad ambil formulir pendaftaran ulang di UPH, udah dikasih tau batas pembayaran uang pangkalnya. Tapi yaaa, yang keluarin uangnya kan tetep bokap gue. Hahhaa… Kalau bokap udah ga kasih ijin ya percuma gue ambil formulir itu sebenernya. Akhirnya, ada 2 formulir pendaftaran ulang di tangan gue. Ada Untar dan UPH. Gue pikir-pikir, iya juga sih, kalau jurusan accounting setidaknya masih ada hubungannya sama usaha orangtua, dan uang pangkalnya lebih murah. Kalau jurusan perhotelan sama sekali ga nyambung sama usaha mereka, uang pangkalnya berkali-kali lipat lebih mahal (belum lagi uang semesteran kuliahnya), dan kerjaannya belum pasti banyak dicari.

Dan keputusan sudah dibuat. Untar. Disitulah gue akan menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi. Dan disitulah gue bertemu calon suami yang sekarang jadi suami gue *eaaa*. Dan sekarang gue bisa membantu pekerjaan orangtua (meksipun kadang jadi merepotkan :p), dan bisa bekerja di bidang akuntansi dan pajak, dan sempat merasakan kerja jadi auditor (dan kenal sama temen-temen yang asoy *u know who u are*), dan ketahuilah, segala bidang usaha, apapun itu, accounting and finance department akan selalu exist. ๐Ÿ˜€

Jadi, berbahagilah untuk apapun jurusan yang kalian ambil, karena semua hal yang positif (apalagi menuntut ilmu), tidak akan membuat anda Salah Jurusan dalam kehidupan ini ๐Ÿ™‚ Hehehe…

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

17 Responses to Perjalanan Sebuah Jurusan

  1. cher says:

    gue LIKE mostly for the sentence: “(dan kenal sama temen-temen yang asoy *u know who u are*)” gua kannn..gua kannn? *kedip-melet-kecup-basah* nyhahhahahaa..gak penting :)) but nice posting jenk, karena pasti diluar sana banyak juga deh yg labil waktu milih jurusan.. well, count me in! ๐Ÿ˜€ :p

    • neitneit says:

      ahahaha.. yang bagian itu gue salah ketik sih sepertinya :p *cuci muka belepotan iler*

      Kalo lu, emang dulu maunya ambil jurusan apa sebelum nyasar di accounting?

      • cher says:

        Banyak jenkkkkk.. hahaha.. Gue pengennya psikologi, pengen juga ambil sastra,,tp nyok takut ga byk peluang kerjanya๐Ÿ˜€ terus g sempet test arsitektur di binus, tp malah berakhir di akunting.hahaha..

  2. JLawren says:

    Nyaris di Binus yah, nyaris jd kk kelas nih… wkwkwkw… bagus lah ga masuk Binus.. bisa garuk” kepala masuk SI tar…

  3. asd says:

    Mau nanya dong test perhotelan uph susah ga? Apa aj ya yg di test? thx sblumnya ;))

  4. chintya says:

    mau nnya,kalo udah lulus jpp itu apa aja yang di siapin?

    • neitneit says:

      Hai. Dulu aku sblm lulus pengajuannya jrn dr kampusnya yg memang lg buka pendaftaran jpp. Syaratnya kl ga salah kasih legalisir fotokopi rapot kelas 1-3.

  5. grishiella says:

    hi. kamu pertama mau ambil jurnalistik kan? ambil jurnalistik dimana ci? (kalau seandainya jadi) ehehe makasih ya ci

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s