Bhinekka = Beautiful

Mungkin ini telat, tapi selama masih dalam bulan Waisak jadi gak telat-telat amat :p

Happy Vesak 2557 Buddhist Era. May all beings be well, be free from (mental) suffering, be happy.

Mengingat Waisak tahun lalu di Borobudur bersama sahabat gue @tiwiniew, Waisak tahun ini berjalan sangat jauh dari yang gue harapkan 😦 Secara positif, gue ke Vihara H-1 untuk ikut chanting menyalakan Pelita Waisak, dan H-5 untuk penyiraman rupang Bayi Pangeran Siddharta.

Namun sedihnya hari H waisak (versi Indo), gue gak bisa ikut pindapatta dan ga ikut puja bakti waisak, gegara client gue minta ketemuan hari libur itu, di waktu yang bertepatan dengan acara di Vihara. Gue udah berupaya memindahkan jadwalnya, tapi gak cocok sama jadwal dia, jadi dengan terpaksa gue iya’in dan batal pergi ke vihara. Sedih! Dan untuk menghibur diri, gue bilang “Mungkin ini berkah waisak, biar kerjaan yang ini cepet beres.” Hahaha segitunya ya… Think positive itu perlu!

Sebenernya Waisak itu jatuh pada saat Bulan Purnama (capgo), dan di Indonesia dari tahun ke tahun entah kenapa selalu Capgo+1. Di negara lain, udah Waisakan pas hari Capgo, dan kita di Indonesia (selalu) telat. Kenapa ya? Sukanya beda sendiri gitu haha… Mungkin posisi bulannya beda sendiri kali yah? :p Udeh, yang penting kita Waisakan. Gpp lah beda-sendirinya barengan 1 negara sama-sama apapun alirannya, daripada udah 1 negara tapi tanggal hari raya masih beda antar aliran lebih pusing lagi kan ya hehehe 🙂

Ada 1 hal yang mengganggu pikiran gue, yaitu…apalagi kalau bukan soal…TOLERANSI. Gue mendapat sebuah foto dari twitter yang parah banget banget banget, dan sangat gak sopan. Maaf ya kalau gue post foto ini, siapapun yang merasa memiliki foto ini, silakan kontek gue by comment di bawah kalau perlu dicopot fotonya.

oh WHY???

oh WHY???

Gila ya, gue ga kebayang apa yang ada dipikiran wanita itu. Udah bercelana pendek, trus naik-naik ke stupa yang jelas-jelas di bawahnya ada Bhante yang lagi beribadah. Stupid!!
Dia pikir angle nya bagus?? Dia pikir dia keren dengan posisi foto seperti itu? Dia pikir upacara waisak adalah obyek wisata? Dia pikir dia fotografer profesional? Oh no, no, no! Dengan cara fotonya seperti itu saja sudah jelas dia adalah seseorang yang tidak punya etika dan sopan santun, terlepas dari dia itu seorang turis, fotografer, atau apapun sebutannya.

Tahun lalu gue ke Borobudur, gue juga melihat jumlah pengunjung dan fotografer jumlahnya hampir menyaingi umat yang benar-benar bertujuan untuk beribadah. Gue akui tahun lalu gue ke sana juga bawa kamera SLR dan mencuri-curi foto para Bhante ketika mereka sedang bermeditasi, karena gue dan @tiwiniew tidak kebagian tempat duduk di dekat Altar (bahkan untuk lesehan sekalipun), jadinya muter-muter cari objek foto, dan berdiri di balik pohon sehingga dari kejauhan bisa mengambil foto mereka. Namun ya hanya sebatas itu, karena gue lihat ada fotografer (mungkin dari media karena pakai nametag), yang jeprat jepret dari depan panggung tempat para Bhante duduk bersila, dan itu pastinya sangat mengganggu karena suara jepretannya terdengar.

Dari-balik-pohon

Dari-balik-pohon

Namun mungkin karena para Bhante sudah terbiasa meditasi dan bersikap tenang, maka suara-suara kebisingan seperti itu tidak lagi mengganggu mereka. Hanya saja, para umatnya yang menjadi ‘gerah’ dengan hal-hal tersebut. Seperti pepatah yang pernah gue baca ‘Keheningan tidak akan tercipta tanpa adanya kebisingan.’ Jadi ya, dengan berisik itulah kita tahu arti sebuah keheningan dan kedamaian. Semoga saja pepatah itu benar adanya.

Dan gue hanya berharap, semoga “World Statesman Award” yang diperoleh SBY atas kerukunan dan toleransi antar umat beragama di negaranya tidak menjadi sebuah ‘sindiran’ halus, jika kita lihat foto di atas dan mengingat kisah-kisah aliran Ahmadiyah, Gereja-Gereja yang dipaksa tutup atau dilarang beribadah, kekerasan terhadap Rohingya, dan sebagainya.

Kalo kata Marcel Siahaan: Tuhan Memang Satu, kita yang tak sama. Kita memang berbeda, akui saja, sadari saja. Toh itu kenyataannya. Taman Bunga menjadi indah karena banyaknya jenis bunga di sana, Pelangi terbentuk karena gejala optik aneka warnanya yang menjadikannya cantik. Lalu, mengapa di negara ini semuanya harus menjadi ‘buta’ dan menolak perbedaan? Apa bagusnya semua berpakaian putih-putih atau merah-merah, tanpa ada warna lain?

Bahkan ada yang menolak mengucapkan selamat hari raya ke umat agama lain, karena dilarang (entah dilarang oleh siapa!?). Sekejam itukah? Libur Hari Rayanya sih enak banget dinikmati, namun ucapan selamat untuk umat yang merayakan sama sekali tidak terucap. Sedih! Toleransi di Indonesia memang hanya sebagai pemanis mulut, namun hambar pada kenyataannya. *just saying*

Jangan biarkan Bhinekka Tunggal Ika hanya menjadi bayang-bayang masa lalu, karena seharusnya ia tak lekang oleh waktu.

Salam Damai.

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in In Her Mind. Bookmark the permalink.

5 Responses to Bhinekka = Beautiful

  1. @tiwiniew says:

    Hi jeung, gw slalu suka tulisan2 lu tp biasanya ga perna ksh komen klo abis baca hehehe… Tp kali ini gw merasa pgn komen niy… Bbrp hari terakhir ini gw baca bbrp blog org yg nulis ttg gmn chaosnya perayaan waisak di borobudur… Pengalaman gw n jeung tien taon lalu ternyata tetap berulang yah jeung (even getting worse)…hmmm rasanya toleransi itu skrg ini uda makin ngawang2 bentuknya dan ngeliat foto cewe yg naik di stupa itu cukup ngebuktiin sihh… Yah smg ke depannya makin ada kemajuan dr sisi toleransi ini, terutama buat agm yg minoritas *senyumgetir* Eniwei, thanks for writting what’s on ur mind yaaa jeung:)

    • neitneit says:

      hehehe thanks loh ya udah sering mampir dimari jeung :p
      iya taon lalu aja kita udah ngerasa sumpek bener di borobudur, n suasana sakral nya gak dapet banget akibat terlalu ramainya disana. Mudah2an sih orang-orang yang berniat berkunjung ke sana bersikap sopan dan gak seenaknya, terutama kalo lagi ada acara puja bakti.

  2. same here, uda mau pingsan saking kaget & bete nya pas ngeliat foto itu ce 😦

    • rada setuju sih ce ama usulannya Dewi Lestari, kalo perayaannya khusus rohaniwan & umat saja. Atau turisnya dikasi area khusus kalau mau liat, dari jarak yg relatif ga dekat dr acara. Mereka toh cuma mau liat pelepasan lampion aja sebenernya lol

      • neitneit says:

        iya betul sih, emg harusnya mereka dikasih area sendiri supaya yang bener2 niat mau ibadah ga keganggu, Itupun artinya, diperlukan yang namanya tiket masuk yang terbatas untuk brp banyak orang saja. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s