Pentingnya Kerjasama

Gue mau sedikit sharing di sini tentang…kerjasama. Dulu di sekolah kalau lagi kerjain tugas atau ulangan pasti kita sering banget ‘KS’ bahasa gaul kelas gue saat itu, “Eh ntar pas ulangan kita KS yuk.” KS di sini maksudnya adalah KerjaSama, kerjasama. Barengan gitu dong jawabannya? huehehehe…
Sebenernya gak barengan sih jawabannya, cuma kalo jawaban gue begini, jawaban dia begitu, liat bedanya dimana. Kalau ternyata salah satu dari kita yang ‘benar’, ya kita ikutin aja jawabannya, tapi kalo kita tetep keukeuh jawaban kita udah bener ya uda tetep pada jalannya masing-masing. Cuma ya secara-diam-diam-supaya-guru-gak-tahu. Haha…

Dan ternyata kerjasama itu berbeda loh dengan mencontek. Kalau mencontek, kita melihat dan menyalin jawaban teman tanpa persetujuannya, atau langsung nyontek dari buku. Hihihi ini mah pembelaan diri ya namanya, yg namanya ulangan mana boleh sih kerjasama :p

Tapi yang sekarang gue mau bahas adalah kerjasama dalam lingkungan kerja. Kerja+Sama = Kerja bersama-sama, bentuknya jamak, artinya lebih dari 1 orang yang bekerja (dalam suatu proyek). Akhir-akhir ini gue sedang agak prihatin (cie bahasanya udah kayak babeh :)) dengan seorang designer
yang berasal dari negara tetangga kita. Gue ga tau jelas bagaimana sistem bekerja mereka di sana, jadi mungkin beberapa hal yang dia anggap ‘wajar’, menurut gue menjadi tidak wajar dan malah terkesan menyebalkan.

Oh ya, tentu saja perlu diingat bahwa dalam bekerjasama, sifat masing-masing pribadi itu sangat berpengaruh dalam kelancaran proses suatu pekerjaan. Dan tentu saja, sifat yang positif akan membawa situasi kerja menjadi menyenangkan, dan sebaliknya.

Sayangnya, yang team kami hadapi saat ini adalah seseorang yang memiliki sifat kurang positif alias kurang mau bekerjasama. Gue tau dia pintar dan berbakat karena design yang dia bikin menurut gue cukup bagus, namun apakah pintar dan berbakat itu menjadi penting ketika dalam prakteknya dia tidak mau membagi ilmunya kepada orang lain, apalagi orang lain ini adalah mereka-mereka yang akan mewujudkan design yang dia bikin menjadi sebuah bentuk nyata yang bisa disentuh?

Ya memang, dalam proyek ini ada 2 team yang bekerja, team pertama adalah team si designer dan beberapa orang tukangnya, dan team kedua adalah team gue dengan beberapa tukang juga. Sudah dibagi sejak awal pekerjaan masing-masing team, dan kami mulai bekerja. Pada saat pekerjaan akan dimulai, team gue memiliki pertanyan perihal layout dan design dari si designer nya, yang mana pada saat itu gue tidak ada di lokasi, dan kebetulan yang ada di lokasi adalah si designer ini. Jadi agar tidak terjadi kesalahan setelah dikerjakan, maka pekerja gue bertanya langsung ke designernya karena pikirannya saat itu ‘ini kan layout dan gambar dia yang bikin, jadi mumpung ada orangnya di sini langsung ditanyain aja biar jelas.’ Dan ternyata apa jawaban yang pekerja gue dapat saudara-saudara? “Tanya saja sama bos kamu, kita kerja saja masing-masing.”

Grrrrr mau emosi gak sih ditanya baik-baik malah dijawab begitu? Dan dibalas sama pekerja gue “Kan bapak yang bikin gambarnya, ini ukuran pintunya ada yang belum dicantumin, mau ukuran berapa pak?”, dibalas oleh si designer “Ya pakai ukuran standard aja, kamu bisalah kira-kira sendiri.” GILA!! Mungkin dia pintar, tapi dia tidak cukup pintar dalam urusan sosial dan bukan tipe orang yang mampu bekerjasama dengan pihak lain.

Dan yang bikin gue tambah kesal, ketika barang sudah setengah jadi dan dia lihat hasilnya, dia protes. Dia bilang tidak sesuai dengan yang ada di gambar. Padahal tukang gue udah tanya sama dia sejak awal mereka mau turun kerja loh, dan yang dijawab ‘kerja masing-masing’ itu sama dia. Akhirnya team gue mesti ubah beberapa hal.

Gue bilang sama team gue, pokoknya kerjakan sesuai porsi kita dan karena dia bilang ‘masing-masing’, ya udah gak usah tanya apa-apa lagi sama designernya, langsung tanya ke saya atau pemiliknya aja maunya seperti apa. Kita ingin proyek ini cepat selesai, tapi kalau hal-hal kecil seperti itu jadi mengganggu kan jadi mundur-mundur terus.

Dan lainnya dan sebagainya hal-hal kurang menyenangkan akibat dari kurang bisanya orang pintar untuk berbagi dengan yang lainnya. Tulisan ini bukan untuk berkeluh kesah atau menjelekkan pihak lain, namun hanya sebagai pengingat bahwa Kepintaran itu seperti lilin, jika berbagi ke lilin lainnya tidak akan mengurangi kualitas lilin yang utama, malah cahayanya akan semakin terang karena banyak lilin yang menyala.

Dan juga sebagai pengingat bahwa dalam bekerja kita tidak mungkin kerja sendirian, itulah mengapa dalam setiap membuat surat lamaran pekerjaan jika menulis “Senang bekerja dalam team dan memiliki kemampuan kerjasama yang baik” akan lebih dilirik oleh perusahaan.

Sekian, dan salam KS.

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Her Daily News, In Her Mind. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s