Yang Manakah Kamu (dan Aku)?

Di awal bulan ini gue mendapat sebuah pengalaman dan pemahaman baru tentang sifat manusia.

Ada dua jenis manusia yang gue perhatikan.

Pertama, mereka yang dengan mudahnya memaafkan kesalahan/kekhilafan orang lain, dan selalu mengingat hal-hal positif yang pernah dilakukan orang tersebut untuk dirinya.

Kedua, mereka yang dengan mudahnya terpancing emosi sesaat atas kesalahan/kekhilafan orang lain, dan dengan mudah pula melupakan hal-hal positif yang pernah dilakukan orang tersebut untuk dirinya.

Yang manakah dirimu, dan diriku?

Sayangnya, gue menemukan sifat kedua di dalam diri seseorang di sekitar gue. Hanya karena masalah sedikit, dia umbar masalahnya di status media sosialnya dan membuat hubungannya dengan sang partner menjadi semakin buruk, padahal sebelumnya hubungan mereka sangat baik.

Rasa kecewa yang dia rasakan dengan mudah dicerna sebagai sesuatu yang buruk, bukannya dibicarakan dulu secara pribadi dengan sang partner. Alhasil, ternyata dia memang sudah salah sangka dan menyesal kemudian atas kata-katanya di status media sosial. Namun hal tersebut sudah terjadi dan hubungan yang dulunya baik, sekarang sudah sangat berubah.

Orang-orang pun memandang dirinya sebagai seseorang yang emosional dan dia dinilai negatif karena kata-katanya yang kasar.

Sangat disayangkan bahwa hubungan yang baik dapat menjadi buruk dalam sekejap hanya karena kesalahpahaman-yang-tidak-dibicarakan-namun-diungkapkan-dengan-kasar-di-status-mediasosial. Dan dalam hal ini pun, gue dapat menilai bahwa orang ini dengan mudahnya melupakan hal-hal baik yang pernah sang partner lakukan untuknya dan hanya karena salah paham sedikit, dia menghancurkan hubungan yang sudah dibangun cukup lama.

Kalo kata Vicky Prasetyo, Harmonisasi intelektualitas kedua belah pihak tidak dapat dipersunting lagi.

Jadi, jujur dan bicarakanlah baik-baik jika ada masalah dengan orang lain, jangan mengambil kesimpulan sendiri. Karena kalau ternyata kita salah paham, dampaknya jadi panjang dan merugikan kita sendiri pada akhirnya.

Dan mungkin ini sudah jadi jalannya masing-masing, semoga kedepannya lancar untuk semuanya.

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in In Her Mind. Bookmark the permalink.

2 Responses to Yang Manakah Kamu (dan Aku)?

  1. id@ says:

    setuju sich tien, dibicarakan ke orangnya langsung lebih baek dari pada berkoar2 gak jelas.
    Klo gak berkoar koar dengan kata2 yang intelektual sehingga menghasilkan luapan emosi yang elegan (kebawa kamus Bang Vicky)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s