Sebuah Kantor dan Isinya

Gue punya cerita tentang teman-teman di kantor pertama gue dulu, sebuah perusahaan retail rumah tangga yang banyak cabang di mall-mall, perusahaan ini berinisial AH. Gue bukan mau bercerita tentang kantor tersebut, melainkan orang-orang di dalamnya.

Gue tergolong sebentar saja bekerja disana, cuma 4 lamanya. Empat bulan. Sebentar banget kan ya? Namun selama 4 bulan itu gue mengenal orang-orang dengan sifat yang beraneka ragam. Mungkin orang-orang seperti ini juga banyak dijumpai di kantor-kantor seluruh penjuru dunia, yang membuat kita betah dan enjoy di kantor, juga orang-orang yang membuat kita gak tahan lama-lama di kantor.

Sebut saja Yani (nama samaran), wanita ini adalah orang yang cukup dekat dengan gue, makan siang bareng, ngobrolnya nyambung, dan kadang kalau kita melihat sesuatu yang ‘aneh’, dengan tatapan mata kita aja udah bisa ketawa bareng. Seseorang yang pertama kali test dan interview masuk kerja pada hari yang sama dengan gue, tapi dulu karena belum saling kenal jadi ga ngobrol. Setelah masuk dan ternyata kita 1 divisi, baru deh sering ngobrol “ohhh elo tuh yang test bareng gue kan? Gue pikir lo orangnya sombuonggg, soalnya tampang lo rada judes gitu.”, saat makan siang di beberapa hari awal kerja kami, katanya kepada gue. Dan gue cuma bisa melotot ke dia, “Siaul, emang tampang gue segitu juteknya? Haha…”, dia hanya tertawa. Dan begitulah, hari-hari selanjutnya gue dan beberapa teman lainnya selalu makan siang bareng, di satu meja yang sama. Dan gue selalu duduk di sebelah dia. Don’t know why, rasanya sreg aja ngobrol sama Yani ini. Dia lebih tua 4 tahun dari gue. Ya mungkin karena 4 tahun itu ya, kata orang yang percaya fengshui kan katanya bagus, cocok, kaki meja gitu loh. Hahaha.. kalo cowo dijadiin suami, kalo cewe dijadiin sodara. halahh… :p

Teman gue yang lain namanya Connie, hmm nama samaran tentu saja. Ci Connie ini orangnya sabar banget, banget! Udah beberapa tahun dia bekerja di AH ini. Dalam kesabarannya gue menemukan ‘keras’nya sifat dia, entah keras kepala, keras prinsip, atau ego nya yang cukup besar. Hehehe.. Namun untuk sebutan cici Guru, Ci Connie ini sangat sabar, karena gue banyak diajarin sama dia. Berapa kalipun gue bertanya, dia ga pernah marah, malah dengan santainya nyamperin meja gue dengan kursi berodanya. Iya, jarak gue dan dia hanya sebelahan dibatasi partisi pendek. Ci Connie ini salah satu wanita cantik yang pernah gue temui, meskipun saat itu udah hampir berumur 30 tahun, dan belum punya pacar, dia selalu ceria dan mudah diajak ketawa. Lucu orangnya. Dia sering bilang, “Tien, cariin gue pacar donk. Uda umur segini nih belom punya pacar.”, gue bingung, “Ci, temen gue rata-rata seumuran gue, masa iya gue kenalin lo sama berondong?”, dia bilang “Yah, katanya lu punya koko, temennya koko lu aja yang belom punya pacar.” *sambil kedip-kedip lucu* Sekarang gue uda lama ga kontek dia, entah apa kabarnya sekarang. Mudah-mudahan udah ketemu sama jodohnya. Aminnn..

Ada lagi yang baru, namanya Sasha (yup, nama samaran). Wanita ini juga karyawan baru beda 1 bulan masuknya sama gue. Sasha ini orang yang keliatannya lugu, tapi dirinya menyimpan banyak misteri dan comedy secara bersamaan. Gue dan Yani sering terpingkal-pingkal karena si Sasha ini, banyak celotehannya yang sering dia lontarkan dengan spontan namun mengundang tawa kami di meja makan siang. Dan dia ga sadar bahwa celotehannya itu lucu. Secara bersamaan, dia bilang kerja di AH bakal sebentar doang karena dia udah mau nikah dan ga tau masih akan bekerja atau tidak. Sebenarnya gue merasa dia ga akan lama di AH karena ada slek sama seniornya yang sering menyudutkan dia dalam pekerjaan, dan kami sering banget ngeliat dia balik ke mejanya dengan air mata memenuhi pipinya. Kasian sebenernya, tapi memang senior dia itu terkenal judes, cablak, dan galak. Hmmm… *akan dibahas kemudian*
Dia selalu bilang nanti-gue-undang-lo-pada-pas-gue-nikah-ya. Bentar lagi, 1 atau 2 bulan lagi kalo ga salah dia bilang. Sebulan setelahnya dia resign, dan kita sedih dong salah satu temen makan siang bakal berkurang dan sumber celoteh kocaknya uda ga ada lagi di kantor. Yang membuat kita semua bertanya-tanya adalah, setelah hari terakhirnya di kantor, kami ga pernah menerima 1 pesan pun dari dia, baik SMS,telepon,FB (katanya saat itu dia ga punya akun FB) atau apapun. Dia seperti menghilang tiba-tiba tanpa jejak. Oke, jadi Sasha sepertinya hanya teman-makan-siang-setelah-resign-ya-byebye. Tanpa undangan nikah tentu saja.

Kali ini gue mau cerita tentang ci Elsa. Cici ini adalah salah satu senior di AH, kerjanya cekatan dan suaranya lantang. Kalau tertawa, suaranya membahana, “Huahahahahaaaa…” Begitulah kira-kira. Sebenarnya dia sudah pernah resign sebelumnya dengan alasan yang gue ga tau karena saat itu gue belum bergabung di AH. Ketika gue masuk kerja di AH, ci Elsa ini juga bergabung lagi di divisi yang sama dengan gue. Setelah mendengar cerita dari teman-teman senior di kantor, kayaknya emang ci Elsa ini galak, gue bersyukur gak bekerja dalam line yang sama dengan dia. Gue kebagian di bagian Receivable, dan Ci Elsa ini membawahi bagian Payable. Jadi, ga ada alasan bagi gue untuk banyak berhubungan kerjaan sama dia. Sedangkan Sasha, adalah staf yang dipegang ci Elsa ini. Sasha memang kelihatannya orangnya agak kemayu dan lemah lembut, bukan cekatan semacam ci Elsa. Sering kena omel lah Sasha, dan sekalinya diomelin, seisi ruangan bisa melihat ke arah mereka. Tentu saja Sasha nangis, wong dia merasa dipermalukan dengan cara ci Elsa menegurnya. Pernah sekali juga, ci Elsa membanting berkas yang diberikan Sasha, di dalam ruangan meeting. Ketika atasan-atasan ada di ruangan itu juga. Membanting berkas dan membentak Sasha. Sasha cerita itu ketika makan siang. Ga tau juga ya maksudnya apa, tapi ya siapapun gak akan terima diperlakukan seperti itu kan? Gak lama, gue denger kabar katanya ci Elsa dipindahkan ke anak perusahaan lain tapi tetap berada di gedung yang sama, perusahaan berinisial HCI. Mendapatkan tawaran untuk dipindah ke anak perusahaan lainnya, ci Elsa merasa ‘ditendang’, sehingga dia memutuskan resign dari AH maupun HCI (sudah sempat bekerja sekitar 2 minggu). Oh iya, ruangan terasa sepi ketika dia pindah, karena suaranya yang heboh tidak terdengar lagi. Tapi anehnya, pernah suatu hari dia samperin gue dan ajak gue ngobrol tentang les mandarin, dan kegiatan-kegiatan Buddhis. Hah? Tau dari mana dia gue sekarang les mandarin dan suka ikut seminar-seminar Buddhis? Aneh sih, tapi ya gue sambut obrolannya dong, kan gue sama dia ga ada masalah apa-apa. Dan ternyata nyambung, ci Elsa banyak kasih masukan ke gue dan jauuhh dari kata jutek, judes, dan galaknya. Di mana macan yang selama ini berkoar? Entahlah. Tapi ya tetep, suaranya yang lantang membuat ruangan ramai. Untungnya gue membalas obrolan dia dengan agak berbisik, kalo ga semua orang mungkin akan melirik kesal ke arah gue yang membuat suasana ruangan semakin ramai.
Dan lucunya, gue dan ci Elsa resign pada hari yang sama. Dan, keesokannya bener-bener gak sengaja ketemu dia ci Citraland mall lagi cuci mata. Iya, sama-sama ke CL buat cuci mata setelah resign. Oh My, kok bisa berjodoh gitu ya? Dan kita sempet ngobrol panjang kali lebar kali tinggi disana, dia cerita kenapa resign dan uneg-unegnya selama kerja di AH. Oh okay, ternyata benar dugaan gue, dia resign memang karena merasa ‘ditendang’ dipindah ke anak perusahaan lain. Dan kini ketika kami udah ga di AH, kadang kami masih suka say Hi di Facebook. Aneh ya, orang yang terkenal jutek di kantor, ternyata memiliki sifat-sifat tertentu yang kita gak tau kalau gak mengenal dia lebih jauh. Good or bad, really really who knows?

Nah, ada lagi nih…namanya mbak Loli. Dia ini udah senior, ketika gue masuk AH, mbak Loli ini udah 8 tahun kerja disana. Wow… Bisa dibilang dia emaknya gue di bagian Receivable. Orangnya baik, sebenarnya. Tapi entah kenapa semakin lama mengenal dia, kayaknya gue semakin gak klop. Hahaha… Dulu gue sering bawa sarapan ke kantor kalau ga sempat makan di rumah. Dia sering komentar apapun yang gue bawa, ujung-ujungnya ya gue bilang, “Eh mbak Loli mau? Aku bawa dua nih.” Kata gue ketika dia melihat sandwich bikinan nyokap yang gue bawa, karena sebelumnya dia komentar, “Enak nih Heltien makan paginya.”. Dan setelah gue menawari 1 sandwich itu, mbak Loli menerima dengan senang hati. “Thanks ya.” Katanya. Ketika gue mulai makan sandwich gue, mbak Loli beranjak dari mejanya dan melewati bangku gue, dengan spontan dia bilang dengan lantang,”Ihh makanan lo kok kayak bau k**tut ya. Hahaha… Iya gak, Connie?”, celotehnya ke gue sambil mencolek ci Connie yang duduk di sebelah gue. Ci Connie yang mengerti masalahnya, cuekin dia tanpa membalas ocehannya itu. Gak mutu, mungkin. Gue duduk di meja gue dengan lemas dan air mata udah diujung mata. Bukan karena sedih makanan gue dibilang bau kentut (maaf ya guys haha), tapi Kesal dan Menyesal. Kesal karena dia menghina makanan gue, meskipun itu bercanda, dan gue hanya bisa menahan diri ga balas kata-kata dia dengan ‘dasar lo mbak gak tau terimakasih’, karena gimanapun juga dia emak gue di kantor. Dan Menyesal udah kasih makanan gue ke dia. Wong sandwich bikinan nyokap gue enak banget, pake keju dan ham. Daripada gue kasih makanan ke dia lalu dihina dina, mendingan gue habeg sendiri aja ga usah bagi dia. Dan selanjutnya gue cuekin dia, gue ga pernah bagi dia makanan apapun lagi ke dia, gue ajak dia ngomong seperlunya aja. Bahkan sepertinya ibu satu anak itu tidak mengerti alasan gue marah, dan gak ada kata maaf sedikitpun dari mulutnya. Dan dari orang lain gue tahu, dia kalau bercanda memang gak lucu dan menjurus ke menyebalkan. Jadi gue maklumi saja dan ga mau terlalu dekat sama orang seperti ini. Cukup sampai di sini cerita tentang mbak Loli. Hahaha… Maaf loh mbak, gue udah memaafkanmu tapi gue kayaknya ga akan bisa lupa penghinaan lo sama makanan bikinan nyokap gue.

Eh, ada lagi nih temen gue yang unik…namanya Eva, iye nama samaran. Eva sering bilang ke gue kalau maag nya kambuh, tapi dia ga pernah berupaya untuk minum obat ataupun makan yang teratur. Sampai sore-sorenya dia ngeluh, “tuh kan Tien, maag gue kambuh lagi deh.” Nah elo, udah tau ada maag tadi siang makannya pake yang pedes banget. Trus dia cuma nyengir. Capedeh. Dan selama beberapa bulan gue mengenal dia, entah dia berapa kali bilang gini ke gue (dan sampai saat ini sering menjadi bahan renungan buat gue -__-), “Tien, gue gak pengen hidup sampe berumur panjang. Gue cuma pengen bisa dikenang orang sebagai orang baik.” Makan siang di meja kantin, dan di sela-sela obrolan kita, dia ngomong itu lagi, itu lagi. Gak tau kenapa. Hingga gini, gue menemukan dia di FB sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak laki-laki yang cakep banget. Happy for you. Entah ketika kini dia sudah memiliki anak yang unyu begitu, apakah dia masih ingin bercita-cita seperti di atas? Umur itu kan bukan kita yang tentukan, jadi sampai saat itu tiba, memang menjadi orang baik itu penting banget. Seperti sebuah pepatah “Menjadi Orang Penting itu Baik. Namun Jauh Lebih Penting Menjadi Orang Baik.”

Ini nih ada seorang wanita cantik, putih, berambuh hitam panjang sepunggung, dia lebih muda dari gue. Namanya Hildo. Hahaha… Begitu gue biasa memanggilnya disamping nama cantiknya, Hilda. Gue menurunkan beberapa pekerjaan yang dulu diajarkan ci Connie sama gue ke dia, karena gue akan segera resign. Dia anak yang lincah, energik, supel dan menyenangkan. Tipe orang yang mudah berteman dan dekat dengan siapa saja. Setiap hari di jam setengah lima sore, kami akan ketawa bareng, atau kabur ke toilet bareng. Mungkin ini terdengar jahat, tapi setiap hari jam setengah lima sore akan ada OB (Office Boy) yang akan ke meja kami untuk membersihkan tempat sampah. Dan maaf, ada bau-bau dari badannya yang sangat mengganggu konsentrasi gue saat bekerja. Kali pertama dia datang ke tempat gue, mendadak gue kaget dengan sebuah bau yang terlintas dan gue langsung berhenti ngetik, sebelum menyadari darimana bau itu berasal. Dan ternyata bukan hanya gue yang jadi terganggu, di sebelah sana ada Hildo yang juga gak konsen kerjanya. Seketika kami saling menatap dan mengangguk bareng, kami memahami hal yang sama dan terbahak seketika karenanya. Sampai besoknya, kalau udah ada tanda-tanda OB itu datang, gue dan Hildo akan langsung ke toilet untuk kabur sebentar. Jahat ya? Keterlaluan sih gue emang, tapi demi kebaikan bersama (biar si mas gak tersinggung dan gue ga terganggu konsentrasinya) lebih baik kami kabur sebentar kan? Hehehe… Dan Hildo ini beberapa minggu yang lalu nikah, gue datang ke Gerejanya di daerah Tangerang ketika acara hampir selesai dan memberi selamat ke dia dan suaminya, pake acara nyasar di daerah itu sama sekali gak ada di list rencana gue sih -______-

Ada satu lagi yang gak boleh dilupakan, namanya Sinta. Gue harus berterimakasih banget sama Sinta ini, karena dia yang masukin CV gue ke AH. Sinta ini teman gue di tempat les mandarin di Puri Indah, dan ketika gue baru lulus kuliah dan mencari kerja, dia tawarin gue mau ga kerja di kantornya. Wuih mau banget donk, jadinya gue titip CV gue ke dia, dan gak lama langsung dipanggil test dan interview, dan diterima. Awal-awal kerja, gue sering ketemu dan ngobrol sama dia ketika makan siang, namun semakin lama gue merasa dia agak menjauh dari gue. Sering gak nengok kalau gue panggil (atau emang gak denger), sering cuekin gue kalo gue menyapa dia passs di depan mata dia. Kali ini gue bener-bener gak ngerti sih kenapa dia bersikap seperti itu. Dan di minggu terakhir gue mau resign, gue bilang ke dia “Sin, gue mau resign karena diterima kerja jadi Auditor, kerjaan yang gue tunggu-tunggu sebelumnya. Thanks ya Sin karena lo, gue bisa punya pengalaman kerja di sini.” Dan dia cuma menatap gue, trus gue dicuekin lagi loh sama dia. Hmmm kayaknya dia marah sih sama gue, udah-dimasukin-kerja-malah-resign-gitu-aja. Tapi sebelum gue mengajukan resign pun, sikapnya sama gue udah berubah juga dan gue ga ngerti kenapa. Kenapa. Sampai sekarang gue masih ga tau kenapa. 😦

Sebenarnya masih ada beberapa orang lagi yang ingin gue ceritakan, tapi kayaknya hanya mereka-mereka ini yang paling banyak mengisi hari-hari gue di AH, yang paling banyak memberi gue pembelajaran dan peningkatan kualitas diri sebagai seorang fresh graduate saat itu. Terimakasih semuanya, terimakasih.

AH-Home Office
Kawan Lama Group
September-Desember 2007
Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in In Her Mind. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s