Toet Toet Bergembira

Judul di atas sebenarnya merupakan sindiran untuk mereka-mereka yang sering menganggap jalanan adalah milik sendiri, dan Semua Orang harus mengalah kepadanya. Bukankah jalanan milik masyarakat umum? Bukankah jalanan cukup sempit untuk dipepet-pepet suruh minggir? Bukankah orang-orang lain juga memiliki kesibukan dan keterbatasan waktu yang sama?

Tidak usah jauh-jauh, dalam keseharian gue beberapa kali (beberapa kali means lebih dari 2 kali ya) melihat plat mobil mewah RI (angka), yang artinya mobil menteri atau pejabat negara, yang lalu lalang dengan santai lewat jalur TransJakarta alias busway, sementara mobil-mobil kami para rakyat jelata ngantri dengan (tidak) tertib di jalan raya. Kadang dikawal polisi, kadang jalan tanpa pengawalan.
Kalau dikawal polisi, yang mengesalkan adalah ‘toet toet’, ‘toet toet’, #$%^&*& berisik! Gini ya, gue tinggal di sekitaran Tanjung Duren, beberapa kali saat berangkat kerja jam 730, gue pernah 2x berbarengan dengan mobil seorang pejabat negara (doi kayaknya juga tinggal daerah-daerah sini, gue ga inget nomor RI berapa), tau dong ya jalanan tanjung duren kalo pagi hari itu cukup jahanam, penjajah kedamaian banget. Semrawut. Di tengah-tengah kemacetan itu, terdengarlah bunyi klakson paling annoying saat itu ‘toet toet’, ternyata pagi itu mobil RI tersebut dikawal oleh sebuah motor polisi, dan jalanan itu lagi macet-macetnya. Terus? Yah kita diam aja dong di tempat, wong lagi macet. Tapi ternyata, sang polisi dengan pengeras suara berbicara “tolong minggir, tolong minggir, beri jalan, beri jalan.” Grrr! Itu motor pengawal tepat di belakang mobil gue dong. Terus lagi macet dong, terus gue disuruh minggir dong, terus gue mau minggir ke mana dong? Tabrak mobil samping gue gitu supaya mobil RI sekiannya bisa lewat gitu? Ketika gue belum juga minggir, doi kembali toet toet, “Bu, tolong minggir bu, beri jalan.” Gue jelas banget kok itu Ibu yang dimaksud adalah gue.

Haha mau kesel ya rasanya kalo kita sebagai rakyat yang lagi berjuang mengarungi kemacetan di pagi hari demi ke kantor, disuruh minggir kemana tau, dan pejabat-pejabat dengan santainya menerobos semua pagar besi alias rentetan mobil dan motor di jalanan.

Maksud gue gini, mereka mau kerja, gue juga mau kerja. Mereka berangkat kesiangan, gue juga berangkat kesiangan. Mereka ada meeting, gue juga ada meeting dengan klien. Kalo emang mau buru-buru, kenapa gak berangkat lebih pagi saja ketika kemacetan belum terlalu parah? kenapa semua orang di jalanan harus mengalah sama mereka, hanya karena mereka memiliki jabatan di negeri ini? Mereka lewat busway dengan asyiknya, kita lewat busway ditilang. Kalau semua orang ga boleh lewat busway, itu artinya SEMUA! Entah pejabat kek, sekalipun itu presiden. Konsisten dong dengan peraturan. Kalau dibilang aturan di jalanan bisa fleksibel sesuai dengan kondisi lapangan dan keputusan polisi lalu lintas, ya selamanya aturan main di jalanan juga bisa seenaknya difleksibelkan oleh oknum-oknum. ya toh?

Menurut gue yang paling bisa ditolerir untuk mendapatkan hak duluan lewat di jalan raya dalam kemacetan lalu lintas maupun busway adalah Ambulance yang membawa (atau menjemput) orang sakit, mobil jenazah (yang katanya mobil jenazah pamali kalau berhenti-henti terus di jalanan), dan mobil Pemadam Kebakaran. Selebihnya, harus bisa tertib antri di jalanan.

Hidup di Jakarta memang paling penting yang namanya manajemen waktu. Gak mau terlambat? Berangkat pagian. Ada janji meeting selanjutnya setelah meeting pertama, bisa kira-kira dong nyampe dalam berapa lama? 30 menit? 45 menit? 1 jam? Janjiannya jangan mepet-mepet lah. Intinya itu sih supaya bawa kendaraan lebih santai, ga terburu-buru.

Kemarin gue juga dihadapkan dengan penutupan jalan Sementara. Judulnya sih emang sementara, tapi cukup ngeselin. Hari Minggu malam di Bunderan HI, macet lampu merah biasa deh. Lampu hijau. Ga dikasih jalan sama polisi. Sampe lampu merah lagi. Lampu hijau kedua. Masih ga dikasih jalan. Sampe lampu merah lagi. Bener-bener keterlaluan. Dan selang beberapa menit kemudian, baru deh mobil pejabat atau apalah gue ga tau, ada sedan-sedan, ada jeep-jeep, ada kawalan polisi dengan lampu biru nya dan suara toet toetnya bikin berisik. Mereka dengan nyantai jalan di depan kita semua. Iya gue ngerti sih itu jalanan lagi disterilkan supaya ga ada ‘orang awam’ yang ngikutin rombongan. Tapi tolonglah dimengerti bahwa masyarakat, yang jumlahnya jauhhh lebih banyak juga punya kepentingan masing-masing. Mungkin ini terdengar egois, tapi pejabat dan polisi itu seharusnya mengayomi masyarakat, tapi kok sepertinya yang kebanyakan terlihat tidak seperti itu ya? Kalau memang ada tugas-tugas yang harus mereka lakukan untuk kepentingan rakyat banyak, mungkin naik Helikopter bisa menjadi pilihan dan solusi yang baik, tentunya di gedung-gedung yang tinggi layak dibuat Helipad kan? Mereka cepat sampai, tidak perlu macet-macetan, tidak perlu meminta masyarakatnya untuk ‘minggir’ di tengah kemacetan, dan mungkin…rakyat akan lebih respect kepada pejabat negara dan polisi andaikan mereka mau bergabung di tengah kemacetan. Yaa mungkin mereka harus mengejar meeting berikutnya.

Arghhh, kita juga kali! Postingan ini merupakan bentuk rasa kesal karena harus selalu mengalah kepada toet toet lampu biru, Toet Toet Bergembira!

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Her Daily News, In Her Mind. Bookmark the permalink.

2 Responses to Toet Toet Bergembira

  1. Marina says:

    Asik banget kisah yg satu ini..
    Sebagai salah satu (mantan) penduduk Jakarta, sering banget ya ngeliat hal-hal begini di jalan, dari RI gede sampe RI kecil, dari polisi yg bawa rombongan, sampe polisi yang (rasanya) telat apel (pagi atau sore).. haha..

    Keep sharing jeng.. ^^

    • neitneit says:

      iya kalo ga mau ikutan macet ya berangkat pagian donkk, atau pulang maleman, atau naik helikopter sekalian, stidaknya mereka tidak mengganggu kenyamanan berlalu lintas yang aslinya udah ga nyaman ini. Hahaha… Yoo Mar thanks commentnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s