Ini Jakarta. Bukan Venice.

Hujan besar yang melanda Jakarta beberapa hari terakhir ini kembali telah membawa kekacauan. Tentu saja bencana kebanjiran yang menimpa beberapa daerah ‘langganan’ banjir. Daerah rumah gue adalah salah satu perumahan yang rawan banjir. Dan syukur teramat sangat ketika hujan kali ini tidak membawa air sedahsyat tahun lalu ke rumah kami.

Namun tetap saja, gue merasakan miris ketika nonton berita terjadi banjir di Ciledug, Green Garden, Kampung Pulo, dan sejumalah daerah lainnya. Miris karena gue pernah merasakan hal yang sama, gimana repotnya memindahkan barang-barang, upaya menyelamatkan harta benda supaya tidak terndam air, upaya menyelamatkan diri sendiri dengan mengungsi kerumah saudara, bagaimana kebingungan memasak makanan, kebingungan ketika persediaan makanan dan air bersih semakin menipis, rasa sepi dan gelap di malam hari tanpa listrik, ketika handphone habis baterai dan tidak dapat menghubungi pihak lain, berkerumun dengan nyamuk dan gemericik air banjir, gimana repotnya beberes dan bersih-bersih rumah pasca tamu-tak-diundang itu datang. Ya, itu semua tidak keren. Sungguh tidak.

Dan hujan beberapa hari ini belum mencapai puncaknya, karena belum bulan purnama. Besok (tanggal 15 penanggalan lunar) adalah capgo, saatnya air laut pasang karena bulan purnama itu dan berpotensi memicu terjadinya banjir jika hujan lebat sekali lagi terjadi. Amit-amit yah semoga hujannya biasa-biasa aja jangan sampai heboh supaya ga ada banjir-banjiran lagi. Kan pemerintah sedang melalukan modifikasi cuaca untuk siaga banjir (katanya menghabiskan dana Rp 28M untuk metode ini), 20M dari pemprov DKI dan 8M dari BNPB (info dari TV One – gue lagi sambilan nonton berita nih soalnya..hehe) Mudah-mudahan aja berhasil yah.

Semoga banjir di sejumlah daerah itu segera surut, dan para warga bisa kembali kerumah masing-masing dan bersih-bersih rumah. Biasanya kalau abis kebanjiran gitu kuman-kuman penyakit pasti banyak, terutama yang menyerang perut dan kulit, makanya perlu banget kalau abis terkena air banjir gitu langsung dibasuh pakai air yang dicampur Detol dan semacamnya ya (bukan iklan kok ^^), supaya meminimalisir kuman-kuman yang mau menyerang.

Ah iya, hari ini gue pun menerima pesan singkat: “Tin gimana Green Ville bajir gak?”
Me: Gak kok. Aman
Doi: Kok bisa yah? Tumben GV ga banjir.
Me: …

Hah? Seriusan lo? Lo mengharapkan gue selalu kebanjirankah? Makasihloh perhatiannya. Tapi sebenarnya cukup bilang “Tin rumah lo aman kan? Moga-moga ga kena banjir yah”, Gue akan lebih berterima kasih kalo lo pake bahasa macam gini sih. Dalam kalimat tanya nya, tersimpan Doa untuk rumah gue. Sedangkan pertanyaan pertama? hmmm hmmm hmmm… Sampe ga bisa ngomong. Tapi ya sudahlah mungkin maksud dia perhatian kali ya sama gue mau tau gimana keadaan rumah gue, cuma bahasanya aja yang ga enak didenger. *Iya, mungkin gue terlalu sensitif kali ya lantaran beberapa kali kena banjir.* Hehehe…

Baiklah..

Marilah kita buang sampah pada tempatnya. Meskipun slogan ini klise banget, tapi signifikan kok kalau dilakukan secara serempak. Setidaknya lumayan kan aliran air di lingkungan kita gak mampet gara-gara sampah. Kan yang untung kita-kita juga.
Kalau urusan tata kota sih serahkan pada ahlinya deh, gue juga gak ngerti 😀

Karena Jakarta akan tetap menjadi Jakarta. Bukan Venice. Huahahaha…

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Her Daily News, In Her Mind. Bookmark the permalink.

One Response to Ini Jakarta. Bukan Venice.

  1. id@ says:

    Kompleks g kebanjiran hahahaa…. ><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s