Tentang Perokok, Merokok, Dan Saya

Sudah lama gue memendam perasaan (bahasa gue kayak lagi jatuh cinta, memendam!) terhadap Rokok dan sekutunya (asap dan Perokok tentu saja), yaitu perasaan mendendam yang begitu besar.

Waktu kecil gue pernah ‘terbiasa’ dengan bau rokok, karena bokap gue adalah perokok berat pada masa itu. Terkena abu rokok yang masih bara? Pernah. Mencium bau asap rokok? Pernah. Mencium bau rokok di kemeja bokap? Pernah. Membersihkan asbak di rumah? Pernah. Tapi itu dulu… Gue teramat sangat menghargai bokap gue, yang pada tahun 1996-1997 berusaha keras untuk berhenti merokok. Perlahan, tapi pasti. Dimulai dengan mengurangi konsumsi rokok harian, sampai rokok cukup 1 batang per hari, hingga kini hilang sama sekali. Perjuangan seorang perokok berat untuk benar-benar berhenti merokok sangat perlu kita hargai. Alasan bokap gue berhenti rokok tentu saja karena beliau menyayangi kesehatannya dan kesehatan keluarganya. Saat itu gue di kelas 6 SD naik SMP. Gue memperhatikan perjuangan bokap yang serius untuk berhenti merokok, gue kagum, salut, dan terharu. Bahwa, Papi Gue Berhasil!

Tapi, ternyata menjadi perokok pasif tidak berhenti sampai di situ. Kemanapun gue pergi, selalu hampir bertemu atau berpapasan dengan perokok. Paling sebel ketika lagi nunggu mobil di lobby mall, lalu ada orang lalu-lalang sambil merokok dan asapnya ‘mampir’ ke muka kita. Rasanya pengen…$%^&*(*&))£%”^&”&!!! Nyatanya, banyak perokok yang tidak menyadari bahwa keberadaan mereka dengan rokok dan asapnya sungguh mengganggu orang lain, tentunya kita-kita yang tidak merokok. Terima kasih Papi karena sudah gak merokok lagi!

Kalau mereka memang mau merokok, pergilah masuk ke ruangan khusus merokok yang disiapkan di mall atau gedung-gedung. Kalo bisa di udara terbuka pun jangan merokok deh, karena serius itu ganggu banget bagi mereka yang BUKAN PEROKOK. Kalau mereka merokok di ruangan khusus, kan menghirup asap rokoknya mereka-mereka juga SANG PEROKOK, sehingga tidak perlu mengganggu pernapasan kami yang bukan perokok.

Rasanya gue ga perlu lagi menjabarkan apa saja dampak negatif (jangan tanya apa dampak positifnya, karena GAK ADA!) bagi kesehatan perokok pasif, karena untuk hal itu semua orang bisa googling. Dan rasanya gue pun ga perlu menjabarkan apa dampak negatif rokok tersebut bagi si perokok aktif, karena sudah tercantum jelas di setiap kotak rokok dan iklan di media. Intinya, benar kok kata slogan terbaru iklan rokok “Rokok Membunuhmu.” Titik. Singkat. Jelas. Dan jika tidak dihiraukan oleh perokok aktif, sok atuh, merokok aja terus, tapi tolong lah, diruangan khusus kalian aja sendiri atau perlu di lapangan terbuka yang gak ada makhluk hidup nya.

Mungkin ini terdengar egois, tapi coba dipikir aja sendiri egoisan mana: Orang yang tidak merokok, tidak membahayakan kesehatan orang lain, malahan terkena dampak negatif dari rokok (dengan kata lain, gak memberikan efek apapun ke orang lain karena ga merokok). ATAU, Orang yang aktif merokok, membahayakan kesehatan dirinya sendiri dan orang lain bahkan keluarganya sendiri, dan juga terkena dampak negatif dari rokok (kata gampangnya: Dia yang merokok, tapi orang lain kena dampak buruknya). Orang pinter, bisa mikir kan mana yang lebih egois?

Gue bahkan pernah ‘dihukum’ dan dikerjain senior di kampus saat POLMA (semacam Ospek) di kampus gue UNTAR (Universitas Tarumanagara), karena gue menegor senior organisasi yang merokok dengan asiknya di depan barisan gue. Gue kesal sekali dengan kelakuannya yang merokok sembarangan ketika semua orang sedang berbaris rapih, ketika asap rokoknya terhembus ke arah gue. Ternyata teguran gue yang menurut mereka ‘lancang’ dan ‘tidak sopan’, membuat gue dikerjain 2 hari sepanjang polma. Dibentak lah, dicaci maki di lapangan lah, dibawa ke semua ruangan untuk dikerjain lah, tapi karena gue merasa gue ga salah, ya cuek aja. Ketika akhirnya gue harus minta maaf, itu pun gue lakukan supaya teman-teman sekelas polma gak ikutan dikerjain-lebih. Intinya, gue cuma bilang “Saya minta maaf hanya untuk kelancangan saya memanggil kakak itu dengan jentikan jari, tapi saya menolak minta maaf hanya karena menegur dia untuk mematikan rokoknya!” Dan sontak beberapa orang di ruangan itu berdecak kagum (huahahaha.) Bodo amat. Ya, gue segitunya, Gue segitu kesalnya saat itu. Bahkan pacar gue kala itu (kalau pun dia membaca tulisan ini), teman SMA, yang sama-sama menjadi anak baru di kampus, diam seribu bahasa bahkan ga berani menatap wajah gue. Dan beberapa hari kemudian, kami putus! Hahaha…

Tidak semua perokok pasif sebel/tersiksa dengan bau asap rokok, tapi kalo gue bisa susah napas kalau mencium asap rokok, apalagi berada di ruangan yang banyak asap rokoknya, seperti yang gue alami sore tadi di cafe tempat meeting dengan customer. Ketika meeting masih bisa tahan-tahan deh, tapi udahannya ketika di perjalanan pulang, gue merasa mual, kepala pusing, dan bau asap rokok di hidung ini tercium terus bikin gue napasnya bener-bener gak enak, itu baunya udah sampe nempel di hidung, di rambut, di baju, semuanya 😦 *kesel* Waktu kecil dulu ketika bokap gue masih merokok, gue ‘terpaksa’ terbiasa, tapi sekarang gue benar-benar tersiksa mencium asap rokok dalam waktu yang lama, dan ternyata sekarang bokap gue juga jadi benci banget loh sama bau rokok. Kembali ke cafe tadi, gue bingung kenapa smoking area yang berada di lantai 2 adalah indoor dan berAC, bau rokoknya malah nyampe ke lantai 1 yang merupakan area no smoking, ya percuma aja donk, kita yang duduk di lantai 1 tetep aja kecium bau rokok. Kalo ditanya kenapa ga pindah, karena customernya udah ngajakin janjian di cafe itu, kalau gue tiba-tiba pindah restoran kan gak enak, kecuali kalo gue yang tentukan tempatnya dari awal.

Alangkah indahnya kalau rokok itu bisa dihapuskan dari muka bumi ini. Karena, gak ada bagus-bagusnya bagi kesehatan makhluk hidup.

Alangkah indahnya kalau perokok aktif berniat dan berusaha penuh untuk berhenti merokok. Kalau Bokap gue bisa, orang lain pasti juga bisa! Asalkan NIAT!!

Alangkah indahnya kalau oksigen yang kita hirup setiap detik bebas dari asap rokok (dan asap-asap lainnya)…

Tapi masalahnya, mungkinkah itu semua terwujud? Hahaha!!

Selama asap rokok masih terhembus di sekitar gue, selama itu pula gue akan menutup hidung (meskipun gak terlalu efek). Yah abis, gimana lagi coba?!?! 😦 😦 😦

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Her Daily News, In Her Mind. Bookmark the permalink.

3 Responses to Tentang Perokok, Merokok, Dan Saya

  1. cher says:

    wohoooooo..love this one! reblog ya neng :* karena laki gue perokok berat, dan gue mulai batuk2 ringan >.<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s