Kesekian Kalinya

Jika isi penulisan gue lagi-lagi mengenai kenangan, maka mohon dimaklumi. Sesuai judulnya, Kesekian Kalinya (topik kenangan ini gue angkat). Setiap orang pasti memiliki kenangan. Kenangan yang paling indah sampai kenangan yang paling buruk. Kenangan yang ingin dilupakan dan kenangan yang ingin terpatri selamanya. Bersyukurlah kita sebagai manusia yang diberikan anugerah memiliki memory yang begitu besar. Disk tercanggih manapun tidak akan mampu menandingi memory yang kita miliki.

Dan ternyata kita harus berhati-hati oleh yang namanya Kenangan. Karena, kenangan itu selalu hidup, jika tidak ingin dibilang Hantu Di Sudut Pikir (Dee Lestari) . Dia suka bermain-main di dalam pikiran kita. Kenangan identik dengan masa lalu. Kenangan baik atau buruk dapat mempengaruhi kepribadian kita. Kenangan buruk dapat membawa kita menjadi pribadi yang penakut, ataupun menjadi pribadi yang skeptis, juga waspada. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Sebaliknya, kenangan indah dapat membawa kita menjadi pribadi yang periang, ataupun manja. Ter-gan-tung kitanya sendiri.

Rasanya gue sudah sering bilang bahwa gue adalah orang yang senang hidup dalam kenangan. Dan percayakah kalian, kalau gue sedang merasa bosan, merasa terbebani oleh suatu hal, maka kenangan adalah obat dan vitamin gue untuk kembali semangat. Kenangan tentang suatu tempat, kenangan tentang suatu peristiwa, dan kenangan lainnya. Dan kalau boleh gue jujur, ada orang-orang dalam kenangan gue yang menjadi inspirasi gue dalam (kegemaran) menulis, baik itu orang yang baik bagi gue, maupun yang tidak.

Maka jangan heran kalau dalam suatu perjalanan wisata maupun nonton konser musik, gue jarang mengabadikan momen-momen itu, tahu kenapa? Karena gue yakin bahwa momen tersebut akan terekam di dalam otak gue, menjadi sebuah Kenangan, lalu akan gue bikin folder baru di dalam sini. Pokoknya, tersimpan rapih. Bahkan gue merasa sangat sayang apabila waktu-waktu dalam berwisata dan nonton konser tersita beberapa saat untuk mengambil foto. Sesekali boleh lah, tapi itu tidak akan menjadi keharusan bagi gue. Mungkin, pandangan gue ini sangat bertolak belakang dengan prinsip fotografi.

Dari sekian banyak kenangan yang kita punya, jangan sampai kenangan itu menjadi bumerang bagi kita. Karena kita tahu bahwa kenangan itu tidak pernah mati, maka kita harus pandai memposisikan si kenangan itu. Saat Ini adalah yang terpenting, karena Saat Ini akan segera berlalu dan akan ikut menjadi Kenangan juga, maka jangan disia-siakan. Salah satu yang berbahaya adalah kenangan tentang suatu hubungan (percintaan) yang telah berakhir. Menjaga perasaan seseorang yang sedang bersama kita itu penting, karena Ia adalah masa kini. Jangan pernah menghidupkan kenangan yang tidak relevan dengan hubungan saat ini, apalagi membanding-bandingkan dengan sang kenangan. Karena kenangan akan selalu menang. Ya, kenangan-akan-selalu-menang. Jadi hargai yang kita miliki saat ini. Kenangan boleh hidup dalam folder-folder otak kita, dan cukup di situlah dia hidup. Bukan di saat ini.

Dan, gue menyukai kenangan. Dari kenangan itu gue jadi tahu perubahan-perubahan sifat dan kepribadian gue dulu dan sekarang, gue bisa berkaca dari masa lalu, bisa tertawa dan bisa merenung karenanya. Karena kenangan bukan sekedar kenangan, dia adalah pengalaman. Dan seperti yang kita tahu, pengalaman adalah guru terbaik. Maka kenangan juga menjadi tutor yang baik bagi diri gue.

Bagaimana dengan kamu?

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in In Her Mind. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s