Sotoy Bersama Politik

Ketika gue masih SD, ngomongin politik kayaknya sesuatu macam Itu-yang-tak-boleh-disebut-namanya. Mau ngomong tentang suatu partai pun banyak yang bisik-bisik gosipnya. Kalau lagi seru-seru ngomongin suatu hal lalu beralih ke politik, biasanya suara mulai direndahkan agar orang lain tidak mendengar. Ya, ketika gue SD itu sekitar tahun 1991 keatas, dimana politik Indonesia masih dirajai oleh partai tertentu. Biarpun saat itu gue gak ngerti apa yang orang dewasa obrolin, tapi gue menganggap obrolan politik itu obrolan penting dan keren.
Tapi itu dulu. Lain dulu, lain sekarang.

Sekarang orang dimana-mana ngomongin politik, mungkin karena umur gue yang sudah dipenghujung 20an, ketika obrolan boyband dan tugas-tugas sekolah tidak lagi menjadi relevan, obrolan politik menjadi sesuatu yang ‘seru’ dan menyenangkan. Apakah umur gue yang membawa gue ke pembicaraan politik, ataukah politik sekarang mudah dipahami anak-anak muda? *iya, gue kan masih muda* Gue ga tau sih apakah anak SD SMP sekarang juga ngobrolin politik di sela-sela istirahat sekolahnya.

Dari Jokowi sampai Gita Wirjawan, ataupun dari Penyanyi Dangdut sampai Pengacara tak punya acara, semuanya berbondong-bondong meramaikan bursa calon presiden. Dari yang serius, sampai yang cuma jadi dagelan politik. Lucu-lucuan doank. Selalu ada pula yang mengangkat isu agama dan ras, basi sebenernya, itu termasuk black campaign juga sih ya. Entah disengaja atau tidak, tapi hal-hal yang diluar nalar kadang menjadikan pemilihan calon presiden limatahunan ini menjadi ‘menarik’. Orang-orang yang awalnya tidak tertarik tentang dunia politik, tiba-tiba menjadi ‘buka mata’, ingin mengikuti lebih jauh dan lebih rajin nonton berita/baca koran. Ya, setidaknya ini terjadi pada diri gue. Hahaha…

Nyatanya banyak masyarakat yang merasa Indonesia masih ada harapan kalau pemimpin yang dipilihnya adalah orang yang Bisa Kerja, Serius Kerja, dan Mau kerja, bukan malah minta dilayani. Memang sih kita agak-agak trauma mendapatkan pemimpin yang mementingkan dirinya sendiri, awalnya janji ini, hasilnya bertolak belakang. Tetttot…*tanda silang gede* Tapi Gue, senegatif-negatifnya berita yang disuguhi media untuk masyarakat, gue tetap yakin bahwa ada kok pemimpin yang bagus dan berkualitas, hanya saja belum ketemu media yang bisa mengangkat namanya untuk dikenal secara luas.

Dapatkan pemimpin yang beriman, tidak harus seiman. Karena yang seiman belum tentu beriman, tetapi yang beriman sudah pasti seiman. ‘Seiman’ dalam hal menjunjung tinggi kejujuran dan kepentingan rakyat. Karena ketika bekerja, orang akan menilai hasil kerja dan kelakuannya tok 🙂 #hope #indONEsia #vote #forabetterfuture

Love,

NeitNeit

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in In Her Mind and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Sotoy Bersama Politik

  1. JLawren says:

    Sometimes we don’t remember that election is an act of choosing the lesser evil, not the greatest guy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s