Tentang Hamil [bagian 1]

Sejauh ini di blog, saya belum pernah cerita tentang kehamilan saya. Dan sekarang, sudah melewati 7 bulan, bahkan udah mau keluar baby nya baru saya cerita. Kebayang donk sudah berapa lama blog ini tidak terawat. Haha..

Saya dan suami menikah dari September 2012, dan ini adalah kehamilan saya yang ketiga. Saya mengalami 2x keguguran karena janin tidak berkembang. Pertama di Desember 2012, dan yang kedua di Oktober 2013. Selama dua tahun ini, hanya keluarga dan teman dekat saya yang tahu tentang hal ini. Namun kali ini saya mau sharing, untuk berbagi kepada teman-teman yang sedang membaca blog saya, kiranya dapat memberikan semangat dan pengaruh positif untuk selalu percaya, berdoa, dan berusaha untuk mendapatkan keturunan. It worth the wait.

Hamil Pertama
Untuk kehamilan yang pertama, saya dan suami tidak tahu bahwa saya hamil, saat kami honeymoon, sepertinya saya sudah isi, tidak sadar bahwa saat itu saya belum datang mens. Setelah pulang honeymoon baru deh tespack + , lalu cek ke dokter dan dinyatakan saya hamil, sudah mau masuk 5 minggu. Dokter pertama saya adalah dr. Adi di Grha Kedoya. Dokternya baik dan sabar, namun saya tidak puas, karena ketika belum (atau tidak) ada denyut jantung janin, beliau bilang datang lagi minggu depan, datang lagi 2 minggu lagi, dan selalu berulang begitu, sampai usia kehamilan saya harusnya masuk 8 minggu. Saya merasa di-PHP-in sama dokter. Gak terus terang aja gitu kalau memang tidak berkembang. Di minggu ke8 itu saya pergi mencari second opinion, yaitu dr.Robby di RS Family. Gak usah ditanya, ramai sekali antrinya meskipun saya sudah daftar dan datang sesuai jam yang ditentukan, saya tetap harus menunggu 2 jam lamanya. Sabar menunggu. Ketika tiba giliran saya, dokter langsung periksa saya lewat USG atas (di dokter Adi saya selalu USG transvaginal, dengan alasan USG atas tidak/belum kelihatan), hebatnya dr.robby ini, ketika menempelkan alat USG ke perut saya, langsung kelihatan loh kantung janinnya. Memang saya merasakan dr.robby lebih menekan alatnya, kalau dr.Adi hanya seperti ditempelkan saja. Mungkin dr.Adi takut melukai janin kali ya kalau USG nya terlalu ditekan.
Ketika USG, dr.Robby langsung bilang “Sorry to say this, tapi ini sudah dipastikan tidak berkembang. Kamu keguguran. Lihat saja kantung janinnya sudah mulai keriput.” Saya langsung sedih banget ya saat itu, untungnya tidak sampai nangis di ruangan dokter. Suami merangkul saya terus dan mengelus-elus punggung saya, dan dokter pun menyarankan agar dikuret.
Setelah dari RS dan mendapatkan berita sedih itu, saya dan suami mengunjungi Ama dan Engkong (orangtua mami saya) yang kebetulan apartmentnya lumayan dekat dengan RS Family. Saya cerita ke Ama tentang kondisi saya, dan Ama memegang pergelangan tangan saya dan bilang “Iya, ini gak bisa diterusin. Kamu tenang-tenang aja, nanti ada waktunya dia mau keluar sendiri biar dia keluar sendiri. Bukan sengaja dikeluarin.” Itu hari Sabtu, saya inget banget. Malam harinya saya dan suami nonton konser di Aula Simfonia terasa hambar dan konsernya gak memuaskan. Padahal saya yang sedang dilanda kesedihan.

Ternyata yang diomongin Ama benar, hari Rabu nya tengah malam saya dilanda keram perut yang luar biasa sakitnya disertai dengan bleeding (pembalut double pun sudah tembus ke celana tidur saya), ternyata itu yang dinamakan kontraksi. Jam 1 pagi saya ke UGD diantar suami dan orangtua saya, di mobil saya muntah dan keluar darah dari bawah pada saat yang bersamaan. Sampai di RS, saya langsung dibawa ke kamar tindakan dan dijaga oleh para bidan disana. Saya merasa tenang setelah sampai di ruangan itu, dan berselang beberapa menit, Jaringan yang berbentuk gumpalan darah keluar sendiri dari rahim saya. Itu adalah janinnya yang tidak berkembang, namun belum berbentuk. Masih berupa gumpalan. Dokter Adi datang dan saya tetap menjalani kuretase agar lebih yakin bersih di dalam sana. Kami memilih tetap di dr. Adi Grha Kedoya, karena dekat dengan rumah orangtua dan rumah dokternya dekat jadi bisa langsung datang ke RS. Kalau saya ke Family, masih harus menunggu dr.Robby besok jam 7 pagi, jadi demi keamanan diri saya, kami ke Grha Kedoya saja.

Tiga bulan setelah kuretase itu sebenarnya saya sudah boleh hamil lagi, tapi saya dan suami mau santai dulu tidak terburu-buru untuk segera hamil. Kesedihan masih sering saya rasakan, apalagi kalau ada yang iseng (atau kepo) bilang “Tin, lo belom hamil? Gue sama lo marriednya kan deketan?” –> Ini salah satu ‘sahabat’ saya loh yang tega berkata begitu (ketika itu dia sedang hamil anak pertama), dan saya semakin malas curhat tentang kondisi saya. Percuma, toh dia mencap dirinya lebih baik daripada saya. Ada juga omongan “Jangan dijaga-jaga loh, biasanya kalo dijaga malah susah dapatnya.” Yah elus-elus kuping aja deh ya. Mereka tidak tahu apa yang terjadi pada saya, mereka hanya melihat dari kacamata mereka, jadi saya pun tidak merasa perlu menjelaskan apa-apa. Cuek saja dan saya hanya bilang “Doain aja deh, itu kan Jodoh.” Syukurnya keluarga besar saya tidak pernah ada yang kepo, karena mereka cukup mengerti keadaan saya.

Hamil Kedua
Kehamilan saya yang kedua, saya dan suami pun kecolongan lagi. Saya tidak tahu sudah mulai hamil, dan kami bepergian ke Bali. Jalan-jalan ceritanya untuk merayakan 1st Wedding anniversary. Setelah pulang dari Bali baru testpack, dan tahu hamil.

Pergi lagi ke dr.Robby, kali ini sudah mulai praktek di Grand Family. Antrinya? Tetep…2,5 jam saja, kawan. Sabar pula kami menunggu. Dan sampai di dalam ruangan, USG lagi..dan dokter langsung bilang, ini tidak berkembang lagi. Duh…ini saya down sedalam-dalamnya. Saya tanya kenapa sih bisa berulang lagi. Apakah karena saya naik pesawat? Dokter hanya bilang, harusnya segera ke dokter untuk disuntik pengencer darah. Karena pernah mengalami keguguran sebelumnya, jadi dia mengindikasikan bahwa darah saya kental sehingga tubuh saya menolak ketika ada ‘yang baru’ hadir di dalam, yaitu janin, jadi ia tidak memperoleh supply oksigen dan makanan. dr.Robby kasih kami opsi untuk minum obat saja atau langsung dikuret. Namun karena antrian di dr.Robby masih panjang, kami jadi merasa terburu-buru, bergitupun dokternya yang sepertinya ingin segera menyudahi sesi konsultasi.

Akhirnya saya dan suami mencari second opinion, yaitu ke dr. Handi Suryana SPOG di RS Royal Taruma Daan Mogot, sepupu suami merekomendasikan dr. Handi Suryana, karena anak pertamanya ditangani oleh dr.Handi dan sangat puas, pun kalau di SMS atau BBM selalu cepat dibalas dan sabar dalam menjelaskan. Saat saya dan suami konsultasi, beliau langsung USG atas, dan bilang bahwa janin saya tidak berkembang. Beliau juga memberikan opsi untuk dikuret atau minum obat untuk meluluhkan janin, dan plus minusnya jika minum obat. Minum obat tidak menjamin rahim bersih, jadi kalau masih belum bersih ujung-ujungnya pun harus dikuret. Kalau dikuret ya langsung dibersihkan. Enaknya dengan dr.Handi, antriannya tidak terlalu ramai, jadi kita bisa bertanya banyak hal, dan dokter pun menjelaskan dengan lebih detail, bahkan di akhir pertemuan beliau selalu bertanya “Ada yang mau ditanyakan lagi?”. Pertanyaan sederhana, namun menyenangkan ๐Ÿ™‚

Setelah berdiskusi dengan keluarga saya dan keluarga suami, kami memutuskan untuk dikuret saja. Kami memilih di RS PIK (Pantai Indah Kapuk), dr.Handi juga praktek di sana.. Tindakan hanya berlangsung 15 menit, dan saya dibius selama hampir 45 menit. Udahannya masih terasa pusing karena pengaruh obat anestesi.

Keguguran saya yang kedua ini bisa saya hadapi dengan lebih baik daripada yang pertama, karena saya percaya bahwa jodoh kami belum tiba. Tidak ada salahnya lebih lama menunggu untuk bertemu sesuatu yang terbaik. Itu yang selalu saya ucapkan sebelum tidur, dan saya merasa tenang.

Saya dan suami merasa cocok dengan dr. Handi, karena beliau orangnya sabar dan mau menjelaskan dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti, jadi sejak saat itu kami memutuskan akan lanjut konsultasi dengan beliau. Dr.Handi memberikan saya dan suami vitamin-vitamin untuk menjaga kondisi badan, seperti vitamin E dan zat besi.

Seperti dr.Robby, Dr.Handi juga menyarankan saya untuk periksa kekentalan darah, nama bekennya adalah ACA test. Bisa dibaca disini. Untuk cek ACA di lab biayanya cukup mahal, diatas 500ribu, dan ada 2 jenis darah ACA yang saya cek, jadi sekitar 1jutaan. Hasil ACA saya bagus, jauh di bawah angka rujukan, jadi dapat dipastikan bahwa penyebab keguguran berulang saya bukanlah karena kekentalan darah. Karena jika memang kasus kekentalan darah yang terjadi, treatment yang harus dilakukan cukup banyak, seperti suntikan pengencer darah setiap beberapa waktu, dan kondisi yang harus selalu dalam pantauan dokter. Dr.Handi bilang, bahwa saya tenang saja, dengan kondisi tubuh saya ini tetap masih bisa hamil dengan alami, hanya memerlukan kesabaran. Kalau ditanya mengapa berulang, dokterpun tidak bisa menjawab karena itu diluar kuasa manusia. Sebenarnya saya tidak puas dengan jawaban itu, tapi di lain sisi saya juga tidak ingin menantang takdir, dan saya tahu betul dokter pun tidak tahu alasannya. Beliau hanya pesan, kalau nanti hamil lagi harus buru-buru ke dokter untuk diperiksa agar lebih terjaga dari awal terbentuk.

Setiap bulan saya kontrol selalu di USG untuk melihat kondisi telur saya, dan dokter memberikan saran kapan berproduksi sama suami, begitu terus selama beberapa bulan. Saya dan suami diperiksa kondisi semuanya bagus. Namun ada 1-2 bulan dimana kerjaan kami untuk kontrol di proyek lumayan banyak, jadi hampir setiap hari bergelung di proyek yang berdebu dan kotor, dari pagi sampai sore. Sampai dokter pun bilang “Kamu lagi capek sekali ya? Saya lihat telur kamu kecil-kecil dan kurang berkualitas bulan ini. Coba kita lihat lagi di bulan depan, ya.” Ihh dokter tau ajah, lagi sibuk cari duit kelarin proyek dok sampe lupa sama kondisi badan. ๐Ÿ™‚

3-4 bulan berlalu, saya merasa kondisi badan saya baik, namun kok belum hamil juga. Saya jadi kepikiran terus, apakah ada masalah dalam tubuh saya yang tidak saya ketahui. Saya tanya ke dr.Handi, “Dok, kok saya belum hamil juga ya, padahal udah minum vitamin dan rutin berusaha?” Dokter cuma bilang “Ya harus sabar dong bu.” Ah iya, saya serasa ditampar deh. Harusnya mah saya lebih banyak berdoa kalau mau cepat hamil. Dokter kan hanya membantu saja.

Selain berusaha dari segi medis, saya juga berusaha dari segi spiritual. Atas rujukan saudara, saya dan suami pergi ke sebuah klenteng/rumah sembayang di daerah Bandengan dan berdoa kepada Dewi Kwan Im untuk dapat memiliki keturunan. Pergelangan tangan saya dipegang oleh Tetua, dan beliau bilang kandungan saya ‘dingin’, karena setelah keguguran yang dulu kondisinya belum pulih benar, jadi janin sulit nempel dan terbentuk. Jadi disana pun saya diberikan resep obat tradisional/herbal yang bisa dibuatkan di toko obat tradisional. Tetua bilang, obatnya diminum 3 hari sebelum dan 3 hari sesudah mens untuk menjaga kandungan agar sehat dan kuat. Diminum selama maksimal 3x siklus harusnya saya sudah bisa hamil. Dan kami bersyukur sekali, di bulan ke3, saya testpack lagi dan ternyata saya positif hamil. Berusaha secara Medis, Spiritual, dan Tradisional, semuanya memberikan hasil positif ๐Ÿ™‚

“Waiting is sign of true love and trust. Why? Because everyone can say I LOVE YOU but not all can WAIT FOR YOU. – Innah Dellos Angeles

Lanjutan tentang cerita hamil saya, di Bagian II ya ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

Love,

NeitNeit

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Her Daily News and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s