Tentang Hamil (bagian 2)

Beberapa minggu sebelum saya hamil, saya sering bermimpi macam-macam. Dari mimpi pendarahan hebat, mimpi menggendong bayi, sampai mimpi bertemu dengan tante saya yang sudah tiada. Anehnya, di mimpi itu kami tidak bicara, tapi kami seperti bicara dari dalam hati dan beliau berkata “Ii disuruh dateng, liat-liat Tintin.” (gak tahu siapa yang suruh). Tintin is my nickname in my family. Paginya saya terbangun dan ingat mimpi itu. Saya berdoa, dan berharap semoga mimpi itu bukan sesuatu yang buruk.

Awalnya saya belum mau testpack, karena sudah beberapa bulan testpack terus tapi hasilnya selalu negatif. Jadi saya menunda besok, besok, besok, sampai lewat 1 minggu sejak tanggal seharusnya saya dapat mens. Suami bilang saya harus segera testpack, soalnya dia punya perasaan bahwa saya hamil. Akhirnya saya menuruti, dan benar saja memang hasilnya positif. Kami lega sekali, namun tidak mau terlalu senang dulu, jadi kami menyimpannya sampai besok ketika bertemu dokter. Kami belum cerita dulu ke orangtua, karena ingin memastikan dulu ke dokter.

Kami kembali ke dr.Handi Suryana di RS PIK, saat itu langsung melakukan USG Transvaginal. Terlihat sudah terbentuk kantung janinnya, usianya 5 minggu, dan di usia tersebut memang belum terdengar denyut jantung janin. Jadi dokter memberikan saya vitamin folamil genio dan obat penguat janin, mengingat sejarah gagal saya 2x, dua minggu lagi disuruh cek lagi untuk kontrol.

Selama 2 minggu itu, saya rutin minum vitamin dan obat, suami membelikan banyak sayur dan buah-buahan, membatasi saya dalam beraktivitas agar tidak terlalu capek, kalau bisa malah dikamar saja bedrest. Tapi mana betah ya. Kendali nyapu dan ngepel otomatis diambil alih oleh suami (eh tapi emang biasanya banyakan suami sih yang ngepel, saya nyapu doank. hehe) Pokoknya dalam 2 minggu penantian itu, saya terus berdoa mudah-mudahan nanti ke dokter lagi sudah terdengar denyut jantungnya.

Tiba saatnya kami kembali ke dr.Handi untuk memeriksa kehamilan saya, dan syalala… ketika di USG suara, langsung terdengar suara degupan kencang, berirama konstan, dan cepat. 170 denyutnya dan itu normal untuk janin. Itu adalah suara paling indah yang pernah saya dengar. His heartbeats, suddenly melts my heart. 7 minggu usianya. Kami membawa pulang foto USG dengan perasaan lega dan bahagia. Orangtua kami pun senang mendengarnya, dan kami langsung diberi wejangan yang sangat banyak. Jangan ini, jangan itu, hati-hati karena banyak pantangan dalam trimester pertama ini.

Dalam menjalani kehamilan ini, ada beberapa perubahan dalam diri saya. Morning sickness saya rasakan sedikit, mual sepanjang hari namun tidak sampai muntah-muntah, napsu makan doang yang lebay sampai di bulan awal berat badan saya naik 4kg. Amazing. Sejak mulai hamil, saya rutin tidur di rumah Serpong. Memang belum punya asisten RT, tapi gak apa-apa kami pasti bisa jalani dengan baik. Tidak ada keluhan yang berarti selama trimester pertama. Oh ya, saya lebih mudah berkeringat loh. Padahal biasanya saya sulit berkeringat. Jadi merasa lebih sehat aja gitu. Padahal mah emang bawaan orang hamil katanya panas terus ya :p Dan saya juga lebih mudah lelah, terutama jika lagi beraktivitas di dapur, seringkali saya keringat dingin, merasa pusing dan berkunang-kunang sehingga harus berhenti memotong sayur dan cepat-cepat berbaring di sofa. Berbaringan 10-15 menit membuat badan saya relaks dan dapat beraktivitas kembali. Suami melarang saya berlama-lama di dapur, tapi ya mana mungkin..kita mau makan apa? Masa iya beli terus diluar? Jadi saya ganti dengan aktivitas memasak yang ringkas dan cepat jadi saja, untuk urusan cuci piring suami yang lanjutkan. Ketika siang hari saya di rumah sendirian, saya bisa bekerja dan jika merasa lelah saya baringan dulu, nanti kembali lagi ke meja kerja, dan begitu seterusnya. Pokoknya aktivitas bekerja itu tetap wajib dikerjakan, supaya bayi kita pun merasakan semangat mamanya. Hehehe…

Memasuki trimester kedua, dokter menyarankan untuk Babymoon. Kata beliau, “Kondisi kamu lagi enak-enaknya, kalau mau bepergian naik pesawat liburan masih boleh.” Namun, saya dan suami tidak ingin kemana-mana, dengan alasan lebih baik liburan di rumah saja, mengingat dulu kita 2x gagal setelah sebelumnya bepergian naik pesawat (meskipun tidak terbukti secara medis). Lebih baik nanti tunggu baby nya gedean baru ajak dia jalan-jalan. Haha.. Lagipula, mami saya akan segera menjalani operasi bulan Januari nanti, jadi kami merasa lebih tenang jika berada di Jakarta saja bersama keluarga.

Di trismester kedua ini, saya memang merasa lebih ‘bugar’ dan ‘kuat’, tidak lagi merasa mual, tidak lagi berkunang-kunang, namun yang namanya keringetan, tetap ngucur kayak keran. Hehehe.. Saya mulai ikut suami ke proyek cek kerjaan, ketemu customer, bertemu teman-teman, pokoknya benar-benar dibawa santai dan tidak banyak keluhan. Thank you baby, kamu happy kan ikut pergi kerja 🙂 Tidak lupa, sahabat saya memberi pinjaman belly support untuk membantu menahan baby bump saya agar tidak terbawa arus gravitasi, itu sangat membantu loh, semakin besar perut saya, semakin terasa ‘turun’ kalau gak diberi penyangga alias belly support itu. Thanks Tina..

Memasuki trimester ketiga, saya mulai mencicil membeli perlengkapan bayi, dari baby crib, baju-baju, dan mendekor kamar bayi (furniture by Nivada of course :p). Untuk baju rumah saya mendapat pinjaman dari tante saya yang kebetulan anaknya sudah berumur 2 tahun, jadi bajunya bisa saya pinjam dulu untuk beberapa bulan, lumayan kan daripada beli lagi, belum nanti menyimpannya yang bingung, karena di rumah saya tidak ada gudang.
Namun yang paling saya rasakan adalah saat memasuki usia 8 bulan kehamilan, rasanya jalan kaki dan naik tangga membutuhkan tenaga ekstra, bahkan saya sampai ngos-ngosan. Padahal menurut teori (dan dokterpun bilang hal yang sama), di bulan ini saya harus banyak jalan kaki, ataupun menungging agar posisi kepala baby turun ke jalan lahir. Apalagi dari awal saya inginnya lahiran secara normal.

USG dari bulan ke 7 kepala baby masih diatas, jadi saya menungging lah setiap hari pagi dan malam, namun karena kondisi perut yang sudah membesar, menungging menjadi aktivitas yang cukup melelahkan, hanya 5 menit saya bertahan, padahal bagusnya minimal 15 menit. Haha… dicicil dicicil.. Saya sampai ikut kelas senam hamil, untuk mempelajari teknik pernapasan dan teknik agar badan lebih relaks saat hamil besar.

USG 2 minggu kemudian, dan 2 minggu selanjutnya, kondisinya masih sama. Baby sekarang malah melintang. Posisinya horizontal gitu loh, jadi kalau di USG keliatan tu kepalanya di sebelah kiri, kakinya di kanan. Jadi kayak posisi baringan. Dokter bilang kalau sampai waktunya dia masih dalam posisi seperti itu, maka saya harus lahiran cesar ga bisa normal.

Sekarang usia kandungan saya sudah lebih dari 36 minggu, berat baby pun sudah masuk 3kg. Apakah masih memungkinkan baginya untuk muter dan ngunci di panggul saya sebagai jalan lahirnya? Dokter tidak yakin akan hal itu, tapi orangtua kami selalu bilang ajak ngobrol aja baby nya, minta dia muter, pasti kalau waktunya tiba dia mau muter deh. Setiap hari saya dan suami elus-elus dan ajak ngobrol supaya baby mau muter.

Minggu lalu saya keluar sedikit flek, agak panik ya karena saya tahu sekarang bukan waktu yang tepat untuk lahir. Harus lewatin 37 minggu dulu baru sempurna perkembangan paru-parunya. Saya telepon mami saya, beliau bilang itu tanda-tanda, harus cepat ke RS. Saya langsung telepon suami saya yang saat itu masih jam makan siang di kantor. Dia langsung pulang untuk mengantar saya ke RS, saya sudah menyiapkan tas untuk bersalin dari beberapa minggu sebelumnya, jadi bisa langsung berangkat. Tidak lupa saya telepon ke RS dan bicara dengan bidan di ruangan bersalin, menceritakan kondisi saya. Bidan bilang nanti langsung ke ruangan bersalin aja untuk diperiksa dan CTG.

Sesampainya di RS PIK, saya dan suami langsung ke lantai 3 ruang bersalin. Sepi sekali saat itu, hanya saya pasiennya. Suster langsung memasangkan alat CTG ke perut saya, dan selama 30 menit melihat kondisi kontraksi babynya. Dalam 30 menit itu, kontraksi berlangsung secara konstan 10 menit sekali dengan waktu 1-2 menit setiap kontraksinya. Kondisi ini dilaporkan ke dr.Handi, dan dokter menyarankan agar saya disuntik penguat paru-paru untuk janin, karena usianya belum 37 minggu. Suntikan ini untuk berjaga-jaga, jika memang harus lahir sebelum usia 37 minggu, paru-parunya sudah matang dan kuat, namun jika lahirnya sesuai waktu, maka tidak ada efek sampingnya. Suntikan ini dilakukan 2 kali, besoknya saya harus datang lagi ke RS untuk mendapatkan suntikan kedua. Sore harinya dokter kebetulan ada jadwal praktek di RS PIK, jadi saya sekalian dicek dan konsultasi. Setelah diberi suntikan dan obat agar tidak kontraksi, dokter melakukan USG, dilihat kondisinya sudah membaik, jadi saya boleh pulang. Awalnya tadi bidan sempat menyampaikan bahwa dokter suruh rawat inap saja, karena suntikan akan diberikan 2x, namun saya dan suami menolak karena menurut kami sudah diberi obat harusnya tidak masalah jika pulang, dan besok kami akan datang lagi untuk disuntik. Namun dokter berpesan kalau kontraksi terjadi lagi dan perut kencang terus-terusan, atau ada darah lendir yang keluar harus segera di RS.

Besoknya di jam yang sama saya kembali lagi ke RS PIK untuk disuntik yang kedua, dan di CTG ulang. CTG kali ini hasilnya dalam 30 menit hanya 1x kontraksinya, sehingga masih dalam kondisi yang baik dan aman. Jadi setelah mendapatkan suntikan, saya bisa langsung pulang. Dokter bilang datang kontrol lagi sesuai jadwal saja. Baiklah, dok.

Kalau kata sodara saya, itu bisa saja kontraksi palsu. Bisa jadi iya, tapi berhubung ini anak pertama saya belum familiar apa itu kontraksi palsu, apa itu kontraksi beneran. Jadi selagi bisa dicek lebih baik langsung dicek 🙂

Saya dan suami merasa tenang, mudah-mudahan jika memang sudah waktunya untuk lahir, baby dapat lahir dengan baik dan bahagia. I knew i love you before i met you, baby..

Love,

NeitNeit

Advertisements

About neitneit

Call me Tien. It's simple and good enough.
This entry was posted in Her Daily News and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s